
Dokter Kris menyandarkan badannya di kursi kerjanya. Selama dua minggu ini badannya merasa lelah sekali. Badan dan tulangnya terasa pegal dan nyeri. Dan hampir setiap hari pula dia harus mendatangkan tukang pijat untuk merelaksasikan sekujur tubuhnya karena kelelahan di meja operasi.
Dia tak habis pikir, bagaimana Arini bisa menjadi pemecah rekor operasi terbanyak di rumah sakitnya. Dokter Kris yang menggantikan posisi Arini sekarang, seperti ketiban proyek borongan, lelah luar biasa. Sampai-sampai dia tak sempat memikirkan apapun selain operasi dan pekerjaannya sebagai dokter saking sibuknya jadwal operasi.
"Kapan.. dia pulih? Aku kewalahan. Aku ingin angkat tangan untuk menyerah. Gue salut sama kamu Arini. Pantas saja kamu dapat julukan jagal. Rekor MURI harusnya datang ke sini buat nyatat pekerjaan kamu Rin." Dokter Kris bicara sendiri. Dia seolah lupa dan tidak ada kesempatan untuk memikirkan perasaan pada Arini, saking lelah dan capeknya bekerja.
Malam itu dia ingin sekali pulang ke apartemen tapi kaki dan tubuhnya seperti menyerah karena tak ada tenaga untuk pergi. Terpaksa malam itu juga dokter Kris tertidur lagi di ruang kerjanya. Untung ruang kerjanya lengkap, ada bed tempat untuk berbaring juga toilet.
Dokter Damar hanya menggelengkan kepala melihat anak majikannya tertidur dengan baju dinasnya di atas bed di ruang kerjanya. Kadang-kadang dia merasa kasihan, tapi bagaimana lagi karena dokter Arini untu dua bulan ke depan tidak boleh melakukan dulu operasi berhubungan dengan cedera telapak tangannya yang belum benar-benar pulih. Kalaupun dia datang ke rumah sakit dia hanya memeriksa pasien dan hanya visit saja. Kerjaan Arini pun jadi ringan, dan dia bisa pulang lebih awal. Arini mempunyai waktu senggangnya digunakan untuk menikmati diam di rumah tanpa aktivitas apapun.
Di lain tempat Edward sudah masuk kerja. Sejak awal dia memang jarang bekerja terlalu keras, karena penyakit jantung yang di deritanya.
Dia sedang duduk di kursi kebesarannya, tapi sejak masuk ke kantor dia hanya memutar-mutar kursi dan menggigit bolpoin bukan memikirkan pekerjaan malah memikirkan Arini.
Nyonya Karina masuk ke dalam ruangan Edward tanpa mengetuk pintu.
"Mamih.. bikin kaget saja!" Edward yang sedang melamun kaget melihat ibunya sudah masuk ke ruangan tanpa mengetuk pintu.
"Maaf sayang.. lupa mamih." Nyonya Karina tersenyum lalu duduk di depan Edward.
"Ada mih?" Edward melihat ke arah nyonya Karina penasaran dengan kedatangan ibunya di ruangannya. Biasanya kalau tidak penting dia akan mengutus asistennya atau sekertarisnya.
__ADS_1
"Mmm... apa kamu menjanjikan sesuatu npada Andre?" Tanya nyonya Karina menatap serius wajah anaknya yang malah terlihat santai.
"Maksud mamih?" Edward mengerutkan dahi.
"Tadi Andre datang ke ruangan mamih, katanya ingin ditempatkan di kantor karena kamu berjanji pada dia. Mamih belum bisa mengatakan apapun, sebelum mamih menanyakan sama kamu." Nyonya Karina menyandarkan diri di kursi yang berada di depan Edward.
"Mmm... apa dia sudah menceraikannya?" Lirih Edward yang masih terdengar oleh pendengaran ibunya.
"Siapa yang diceraikan?" Mata nyonya Karina menatap tajam pada Edward.
"Mmm.. gimana ya?" Edward bingung untuk menceritakan perihal Arini pada ibunya. Setahu nyonya Karina Arini tidak mempunyai hubungan apapun dengan Andre anak dari kakaknya itu.
"Apa yang sedang kalian sembunyikan dari mamih. Mamih gak suka kalau kalian main rahasia-rahasiaan." Ketus nyonya Karina yang selama ini selalu mengambil asas keterbukaan. Apapun yang dialami dan dilakukan Edward selalu diketahui olehnya.
"Ya tergantung." Nyonya Karina tidak mau asal berjanji.
"Please deh mih. Mamih kan sayang sama Edward?" Edward mengambil jurus memelas untuk membujuk ibunya agar dia setuju dengan syarat yang diajukannya.
"Modus deh.. iya iya. Mamih janji. Memang kapan mamih marah sama kamu Ed?" Tanya nyonya Karina semakin penasaran. Apa yang tengah disembunyikan antara Andre dan Edward.
"Mmm.. mamih kan kemarin hadir di acara pernikahan Andre?" Tanya Edward yang kebetulan tidak ikut hadir karena masih tahap penyembuhan. Dia tidak boleh terlalu lelah dan capek sebelum Edward sembuh betul.
__ADS_1
"Terus?" Nyonya Karina belum mengerti kemana arah pembicaraan Edward saat ini. Apa hubungannya pernikahan Andre dan masalah pekerjaannya.
"Mamih tau, itu adalah pernikahan Andre yang ke dua." Jawab Edward akhirnya harus berterus terang.
Deg.
Jantung nyonya Karina kini seakan berhenti karena kaget. Sekarang giliran dirinya yang dikejutkan dengan pernyataan putranya. Dia yang tidak tahu menahu persoalan keluarga kakaknya itu malah ketinggalan informasi dari Edward.
"Masa iya sih? Terus maksud dengan janji kamu dan perceraian dia, apa Edward? Mamih belum mengerti." Nyonya Karina semakin penasaran dengan rahasia yang diketahui putranya itu.
"Dokter Arini, adalah istri pertama Andre mih." Edward dengan berat hati harus memberitahukan ibunya masalah ini.
"Apa?" Hampir saja jantung nyonya Karina copot mendengar kabar tentang dokter Arini yang ada hubungannya dengan Andre. Nyonya Karina mengusap dadanya dan wajahnya terlihat gelisah.
"Mamih harap tenang! Edward hanya merasa kasihan dengan nasib dokter Arini. Makanya Edward menyuruh Andre untuk menceraikan dokter Arini. Kita tidak bisa menyalahkan Andre mih. Sebelum Andre dijodohkan, Andre sudah punya kekasih. Dia terpaksa menerima perjodohan yang dilakukan om dan tante waktu itu." Terang Edward tak mau ibunya kecewa.
Nyonya Karina hanya diam. Masih mencerna apa yang dikatakan Edward tentang hubungan dokter Arini dan Andre.
"Bahkan sampai saat ini dokter Arini dan ibunya belum tahu kalau Andre sudah menikah lagi. Edward tak ingin melihat Arini sakit hati, sebaiknya Andre mempercepat perceraiannya sebelum Arini tahu tentang pernikahannya. Mamih bisa bayangkan bagaimana jika itu menimpa anak mamih, pasti merasa dikhianati bukan? Makanya Edward menekan Andre untuk segera menyelesaikan urusannya dan menjanjikan dia dengan jabatan. Karena saat ini dia butuh uang mih." Edward menerangkan kenapa dia sampai menekan Andre.
"Kenapa kamu malah menolongnya Edward? Biarkan Andre mengurus masalahnya sendiri tanpa ikut campur kita." Nyonya Karina masih belum mengerti jalan pikiran Edward.
__ADS_1
"Mih.. aku.. menyukai Arini. Mamih juga tahu kan? Kalau Andre tidak buru-buru menceraikan Arini bagaimana Edward bisa mendekati Arinj? Om sama tante masih berharap Andre bisa kembali pada Arini mih. Makanya om sama tante belum berbicara apapun pada Arini dan ibunya. Apakah menurut mamih mereka itu pantas menyakiti Arini seperti itu? Wanita mana yang mau di duakan? Apalagi Andre memang tidak mencintai Arini. Untuk apa pernikahan mereka dipertahankan?" Edward berusaha membuat ibunya mengerti dengan keadaan masalah Arini dan Andre.