
"Ah.. Mudah-mudahan Andre nanti bisa datang kesini ya Rin. Mama berharap kamu bisa lebih dekat lagi dengan Andre. Seperti Andre jangan dibiarkan tinggal di apartemen dulu mi. Kalau Andre dan Arini tinggal bersama kita dulu, ada kemungkinan wanita itu takkan menggoda Andre." Ternya Sang mertua sengaja untuk membuat Andre menjauh dari Renata.
"Mmm.. iya. Tapi.. kalau nak Andre nanti malah membenci Arini bagaimana? Saya tidak tahu kalau nak Andre sudah punya pacar. Jadi begitu jeng menjodohkan dengan Arini, saya tidak keberatan. Kalau ceritanya nak Andre mempunyai kekasih, agak sulit nantinya untuk bisa menerima Arini sebagai istrinya." Umi Syarifah mulai cemas dengan kondisi pernikahan anaknya. Untung mertuanya jujur, kalau tidak, Arini kesulitan bagaimana menceritakan kondisi pernikahannya sekarang.
"Namanya juga ikhtiar mi. Saya tak mau Andre terbawa pergaulan tidak benar. Meski memang kami memaksanya untuk menikahi Arini. Saya mohon bantuannya pada Arini juga Umi agar bisa mencegah Andre jatuh ke pelukan wanita itu." Mama nya Andre begitu memelas. Dia memegang tangan Arini seolah meminta pertolongan.
Arini dan umi Syarifah hanya bisa saling menatap tanpa bisa berkomentar.
"Kita sama-sama berdoa saja jeng. Semoga Allah menjaga nak Andre dari godaan di luar sana." Ucap umi Syarifah tulus.
Arini dan mamanya Andre meng aminkan doa umi Syarifah dengan kompak.
"Kalau begitu mama pulang dulu ya Rin. Kamu pasti lelah ingin beristirahat." Ucap mama mertuanya.
"Mama kok cepet-cepet sih?" Tanya Arini berbasa-basi.
"Mama mampir sebentar sebelum pergi ke kantor papa. Tadi papa minta mama ke kantor nya. Gak tau mau apa." ucap ibunya Andre sambil mengusap bahu Arini lembut.
"Ya udah mama pergi dulu ya!" Mertuanya langsung cipika cipiki pada Arini lalu beralih pada besannya.
"Terima kasih jeng sudah mau mampir." Ucap umi Syarifah pada Sang besan.
"Iya sama-sama. Untung mampir jadi saya bisa bertemu Arini." Ucap sang besan terlihat senang.
"Iya alhamdulillah." Umi Syarifah berdiri lalu berjalan mengantarkan besannya sampai halaman ditemani Arini.
__ADS_1
Keduanya pun melambaikan tangan begitu mobil meninggalkan halaman rumahnya.
"Arini.." Umi Syarifah menggandeng anaknya dengan penuh rindu. Dia membawa Arini ke dalam lalu mereka berdua duduk di sofa.
Arini menyandarkan badannya di sofa yang empuk, yang sudah lama dirindukannya.
Umi menatap wajah anaknya, tanpa bertanya apapun. Biarkan nanti anaknya sendiri yang akan bercerita. Dia tak mau dengan pertanyaannya nanti akan membebani Arini.
"Kenapa umi diam saja? Kok oleh-oleh nya tidak dibuka?" Arini melihat ibunya hanya terdiam sambil tersenyum.
"Iya.. umi buka ya!" Umi Syarifah membawa salah satu cemilan yang dibawa Arini dan membukanya. Sepasang netra Arini sedang melihat ibunya yang sedang membuka cemilan. Dia tahu ibunya sedang menyembunyikan banyak penasaran terhadapnya, tapi umi Syarifah yang lemah lembut tahu dia harus berpura-pura tersenyum di hadapan Arini.
"Enak... " Ucapnya setelah mengunyah cemilan itu.
Tak lama kemudian umi Syarifah datang kembali hendak memindahkan cemilan itu ke sebuah wadah.
"Eh.. tidur." Umi Syarifah melihat Arini sudah tertidur di atas sofa. Dia terlihat tenang dalam. tidurnya.
Arini yang memang tidak sulit untuk tidur dimana saja, dia pun mudah tertidur apalagi di sofa rumahnya yang selalu menjadi favorit nya.
Umi Syarifah tersenyum melihat Arini tertidur. Buatnya dia seperti putri kecilnya yang lucu dan menggemaskan. Itulah ibu, meski anaknya sudah beranjak dewasa, di mata ibu, dia tetap seperti anak kecil.
Umi Syarifah pun tak mau menggangu Arini. Dia tahu kebiasaan putrinya yang suka tertidur dimana saja seperti dulu suaminya. Umi Syarifah pun pergi dari ruangan keluarga kembali ke dapur untuk menyiapkan masakan kesukaan putrinya dan untuk menyambut Sang menantu jika nanti dia datang.
Di lain tempat, Andre sibuk mengatur para pegawai juga bahan bangunan yang baru saja datang. Andre jadi tangan kedua dari ibunya Edward untuk mengawasi semua pekerjaan di lapangan.
__ADS_1
"Pak Andre, istirahatlah! Ini sudah waktunya makan siang." Salah satu mandor proyek mengajak Andre untuk mengajaknya makan siang.
"Baik pak." Andre tidak menolak. Mereka pergi bersama ke kantor yang ada di proyek yang bangunnya memang cukup sederhana, yaitu terbuat dari kotak peti kemas yang diubah menjadi kantor sementara.
Rasa panas yang terik membakar kulit, tiba-tiba adem begitu masuk ke dalam kotak besi itu. Meski kantor biru sederhana, tapi di dalamnya dilengkapi AC dan peralatan kantor lainnya.
"Mari pak Andre. Maaf di proyek berbeda dengan kerja kantoran, makanan nya nasi bungkus ala rames." Terang pak Asep mandor proyek yang sudah lama bekerja dengan keluarga Edward.
"Gak pa-pa pak. Kalau lapar, nasi apapun terasa nikmat." Ucap Andre yang sudah beberapa hari ini memang sudah terbiasa menikmati nasi rames jatah makan proyek.
"Iya silahkan pak Andre!" Pak Asep dengan ramah memberikan jatah makan dan dia pun membuka nasi rames padang yang telah dipesan untuk semua pegawai tak terkecuali Andre dan pak Asep.
"Iya Terima kasih." Ucap Andre sambil membawa nasi ramesnya yang berada di piring rotan yang telah disediakan di kantor proyek, agar tak susah harus mencucinya.
Setelah mereka berdoa, lalu keduanya makan dengan lahap nasi jatah kerja.
"Pak Andre apa tidak merasa berat harus kerja di lapangan seperti ini?" Tanya pak Asep yang melihat beberapa hari ini Andre bekerja sampai malam karena mengambil lembur agar mendapatkan uang tambahan.
"Ya.. saya belajar aja pak. Mau bagaimana lagi." Ucap Andre sambil mengunyah makanannya.
"Kenapa tak meminta bu Karina untuk menempatkan pak Andre di kantor saja? Disini capek, sudah panas, pekerjaan nya berat-berat." Pak Asep merasa kasihan, melihat Andre harus berpanas ria. Bahkan sejak bekerja di lapangan kulit Andre pun yang putih bersih kini sudah berubah kecoklatan meski Andre menggunakan perawatan SPF untuk kulit wajah dan tangannya. Tapi terik matahari yang lebih dari 6 jam, membuat kulitnya jadi menggelap.
"Mmm.. Untuk saat ini, saya beruntung masih diberi pekerjaan pak. Kalau di kantoran mungkin sedang tidak ada lowongan. Kalaupun dipaksakan kasihan juga harus menggeser yang lainnya." Ucap Andre yang tahu, bibirnya pasti akan memberikan pekerjaan ringan, kalau tidak karena tekanan dari ayahnya.
"Oh.. begitu. Iya juga sih ya! Ah yang penting sekarang bisa bekerja saja sudah untung ya pak Andre. Seperti saya yang malas buat gunta-ganti, pundah-pindah pekerjaan. Saya udah nyaman bekerja dengan bu Karina sejak dulu. Dia majikan yang baik juga pengertian. Jarang-jarang mempunyai majikan seperti beliau. Anaknya juga pak Edward juga baik. Bahkan saya pernah ditawarin bekerja sebagai asisten nya. Tapi saya menolak. Mending kaya begini saja. Bebas." Ucap pak Asep menghibur Andre yang baru saja bergabung beberapa hari di proyek lapangan.
__ADS_1