Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Calon ibu


__ADS_3

Arini turun dari pesawat. Sejenak dia melupakan semua masalah dan kekhawatirannya.


Bolehkan aku egois?


Dia membentangkan kedua tangannya seolah merdeka. Ya merdeka dari tekanan dan tuntutan.


Arini duduk di kursi lobi bandara. Belum tahu kemana tujuannya akan pergi. Dia membuka layar handphone membuka aplikasi dimana disana menawarkan wisata yang menyenangkan. Pilihannya tertuju dengan satu desa wisata yang menawarkan keindahan alam dan keramahan penduduknya.


"Gue kesini deh! Mari... let's go." Arini terlihat bersemangat sekali setelah memilih tujuannya untuk berlibur. Untuk pertama kalinya Arini pergi jauh hanya untuk berlibur tanpa terbebani suatu apapun. Agar liburannya tidak terganggu Arini menonaktifkan semua panggilan, terkecuali ibunya sendiri.


Arini segera memesan taxi untuk melanjutkan perjalanan.


Arini membuka kaca lalu melongokkan kepalanya untuk menikmati pemandangan kota ubud Bali. Dihirupnya dalam-dalam semua udara yang berhembus ke wajahnya dan dia berteriak sekencang-kencangnya melepaskan beban pikiran yang selama ini bergelayut dalam kepalanya.


Sopir taxi geleng-geleng kepala melihat kelakuan penumpangnya yang seperti orang tak waras.


"Ah.... " Arini menarik kembali tubuhnya dalam keadaan tenang. Duduk dengan mata tertuju ke depan.


"Anda dari mana?" Tanya sopir pada Arini.


"Jakarta." Jawab Arini.


"Pertama ke Bali?" Tanyanya kembali.


"Mmm." Arini hanya menjawab singkat.


"Kalau anda membutuhkan bantuan untuk diantar, ini kartu nama saya." Sopir taxi yang biasa disewa intern menyodorkan kartu namanya.


"Oh.. iya Terima kasih." Arini menerima kartu itu dan memasukkan ke dalam saku kemejanya.

__ADS_1


"Saya akan mengantar anda ke tempat-tempat bagus yang ada di Bali, jangan sungkan untuk menghubungi saya." Ucapnya dengan ramah.


"Baik. Terima kasih atas tawarannya." Ucap Arini dengan tersenyum. Arini pun turun tepat di depan hotel yang telah di booking.



"Ah... sampai juga aku disini. Haloo.. dunia.. kemana aja kamu? hik. hik hik..." Arini menertawakan dirinya sendiri yang selama ini tidak pernah pergi kemana-mana kecuali rumah ke sekolah, rumah ke rumah sakit. Ya begitu-begitu saja rute nya.


Arini langsung masuk kamar Hotel diantar pelayan. Setelah menutup pintu Arini langsung menuju tempat tidur membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


"Wah... senangnya... sayang sekali.. aku baru kali ini keluar dari pertapaan. ha ha ha... " Arini tertawa lepas. Dia benar-benar jadi dirinya sendiri hari ini. Tanpa terasa dia tertidur di atas ranjang dengan pakaian masih lengkap.


Di lain tempat Andre merenung di dalam apartemen mengkhawatirkan dirinya sendiri. Dia berdiri melangkah masuk ke dalam kamar yang kemarin ditempati Arini. Dia melihat ke arah cermin yang retak dan juga bekas gift yang terlihat berantakan di lantai.


Andre duduk ditepian kasur lalu meraba sprei yang didudukinya. Dua hari dia bertahan dengan Arini dengan segala kelemahannya. Dia tak habis pikir, bahwa Andre bisa melawan penyakit OCD sejauh itu. Demi tanggung jawabnya pada Arini, dia rela mengurusnya sampai detail.


"Ah... kenapa aku kesepian begini ya?" Andre mengehela nafas merasakan ada sesuatu yang hilang dari dirinya. Lantas Andre berdiri melihat ke arah lemari baju. Dia membuka lemari menatap satu persatu baju yang tergantung rapih.


Dibawanya baju itu disimpannya di pangkuannya.


"Maafkan aku Arini. Kamu pasti sangat kecewa." Andre berbicara sendiri.


Kring


Kring


Kring


Suara handphone Andre berbunyi. Diambilnya benda pipih dan Andre menggeser tanda hijau untuk menjawab panggilan.

__ADS_1


"Halo ma." Andre mendahului menyapa ibunya.


"Halo Ndre.. katanya tadi kamu ke rumah umi?" Tanya ibunya yang sudah tahu kedatangan Andre ke rumah mertuanya.


"Iya ma. Sebentar kok." Jawab Andre.


"Kok kamu gak ke rumah mama? Kata papa kamu gak masuk kerja? Kenapa? Arini mana?" Ibunya Andre tak sabar sampai memberondong dengan pertanyaan.


"Mama nanya satu-satu. Andre sampai bingung harus menjawab yang mana dulu." Andre yang sudah tahu kebiasaan ibunya, kadang suka kesal dibuatnya.


"Tinggal jawab apa susahnya. Apa otak kamu keluaran lama sampai tak bisa menghafal pertanyaan mama." Ibunya Andre tak mau kalah dari anaknya yang seperti malas untuk menjawab.


"Aku membawa pekerjaan ke rumah. Badanku agak kurang fit. Terus Arini sibuk bekerja, dia menyuruhku menengok umi gara-gara dia tak sempat menjenguknya. Aku tadi gak sempat ke rumah mama, karena ada tamu di apartemen." Jawab Andre akhirnya menjawab semua pertanyaan ibunya.


"Lho.. kenapa kalian tidak ambil cuti?" Heran ibunya mendengar menantu dan anaknya malah pada sibuk bekerja.


"Iya.. nanti nunggu Arini ma. Mama tahu sendiri dia jadwalnya lebih padat dari aku. Jadi gak bisa dadakan ngambil cuti. Karena ada pasien yang harus ditanganinya tiap hari." Kilah Andre mengarang kebohongan.


"Mmm... begitu ya?" Ibunya Andre percaya begitu saja perkataan anaknya yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Lalu kapan kalian bisa honeymoon?" Ibunya Andre agak cemas, jika keduanya terus sibuk bekerja, kapan bisa mendapatkan momongan.


"Ya gampanglah ma. Nanti kalau sudah saatnya pasti kita honeymoon." Jawab Andre agak malas meladeni pembicaraan ibunya, karena takut kebohongannya diketahui. Apalagi sekarang dia sedang bingung mencari keberadaan Arini.


"Ya sudah.. nanti mama buat suprise. Biar kalian bisa honeymoon." Ucap mama Andre yang antusias dengan rencana surprise nya.


"Eh.. ma... jangan main suprise-suprise deh! Andre gak suka. Nanti bikin hubungan Andre sama Arini salah faham. Kita kan lagi masa penjajakan ma. Aku sama Arini belum bisa seakrab pasangan lain. Kita masih butuh waktu untuk adaptasi." Jawab Andre dengan wajah cemasnya. Dia tahu ibunya termasuk orang yang benar-benar keras jika ada kemauan. Bagaimana kalau sampai ibunya lebih dulu tahu, bahwa Arini sedang tak bersamanya.


"Kenapa sih Ndre.. takut banget sama suprise mama. Kamu tuh udah cukup umur Ndre untuk membina rumah tangga. Mama percaya Arini perempuan baik. Kamu nya saja yang belum move on dari pacar kamu yang bahenol itu. Ayolah Ndre.. tinggalkan perempuan itu! Gak baik punya istri yang dandanannya seksi begitu. Kamu gak bakal tenang Ndre. Mama sarankan kamu ikhlas! Toh mama sama papa menjodohkan kamu sama perempuan baik-baik kok! Bukan hanya semata-mata cantik saja, tapi Arini itu cocok bagi anak-anak kamu Ndre. Cocok bagi seorang ibu." Ucap ibunya Andre yang membaca kegalauan anaknya.

__ADS_1


"Udahlah ma! Kalau mama mau ngomongin itu, Andre tutup telepon aja deh!"


__ADS_2