Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Jejak


__ADS_3

"Betul. Kami sedang mencari rekan kami. Apa Bli..bisa membantu kami?" Ucap Made.


"Setahu gue, tadi Surya butuh setoran sama bensin. Kayanya dia gak bakal datang lagi ke sini soalnya istrinya tadi mengeluh sakit." Ucap laki-laki ke dua membuka pembicaraan rahasia dengan Surya.


"Ohh.. Bli..tahu dimana rumahnya?" Made berharap dapat petunjuk.


"Aku gak tau. Paling kasih nomornya saja. Kalau ada perlu bisa langsung menghubungi." Jawab laki-laki ke dua.


"Oh.. boleh saya minta Bli?" Made langsung meminta nomor sopir yang bernama Surya.


"Sebentar. aku juga mau save nomor kalian


Takutnya kalian ada apa-apa nanti. Laki-laki itu ternyata lebih waspada dari perkiraan Kris dan Made.


"Baik, ini kartu nama saya Kris langsung memberikan kartu namanya pada laki-laki itu. Laki-laki itu langsung menerima kartu nama itu dan membacanya.


"Anda seorang dokter? Pantesan saja berkeliaran di sekitar sini." Dia Langsung memasukan nomor Kris ke dalam handphonenya lalu mengirimkan nomor Surya sang sopir yang telah membawa Arini.


"Terima kasih Bli. Ini ada sedikit untuk makan siang Bli silahkan bagi-bagi sama teman-temannya!" Kris langsung mengeluarkan uang lembaran merah sebanyak lima untuk sekadar mentraktir bapak-bapak sopir yang sedang nongkrong mencari muatan.


"Wah.. rejeki nomplok! Terima kasih ya pak dokter,semoga rejekinya terus lancar, orang yang dicarinya cepet ketemu." Bapak-bapak yang lainnya begitu senang mendapatkan traktiran.


"Aamiin. Mari Bli!" Ucap Made pamit meninggalkan tempat basecamp. Mereka terlihat menggerumuti temannya yang barusan mendapatkan uang dari Kris. Sungguh kebahagian mereka itu tidaklah mahal. Sedikit rejeki saja mereka sudah sangat bersyukur.

__ADS_1


"Bagaimana bang? Apa abang pulang dulu ke rumah aku? Abang pasti capek kan? Biar nanti setelah istirahat pencarian kita lanjutkan." Made memberi saran pada Kris sepupunya untuk beristirahat dahulu.


"Baiklah. Aku pulang dulu. Aku juga sudah kangen masakan bibi." Adik ayahnya ini memang menyukai hobi memasak tak heran di Bali dia mempunyai beberapa resto yang sudah lama dikelolanya. Made kembali ke parkiran rumah sakit dan membawanya ke rumah.


Kedua orang tua Made sudah mengetahui kedatangan Kris ke Bali, sejak Made tadi buru-buru pulang dari klinik. Kedatangan Kris yang dadakan membuat Made bertukar shift takut Kris menunggu lama. Keduanya memang sudah akrab sejak kecil jadi mereka seperti dia orang sahabat jika bertemu.


"Wah apa kabar nih abang ganteng?" Ayahnya Made menyambut ponakannya yang jarang sekali bertemu.


"Baik paman. Bibi mana paman?" Kris menanyakan adik ayahnya yang satu ini yang tidak terlihat menyambutnya.


"Bibi sedang mandi. Tadi sehabis masak, katanya gak enak menyambut mu dalam keadaan bau masakan, jadi bibimu mandi sambil bersolek. Maklum perempuan kalau bersolek lama." Ayah Made memberitahukan tentang istrinya.


"Ha.. ha.. tapi paman suka kan kalau bibi cantik?" Kris menggoda pamannya.


"Wah.. ini kaya prasmanan aja!" Kris takjub melihat banyaknya masakan yang terhidang di meja.


"Biasa bibimu.. kalau sudah mengeluarkan jurusnya pasti saja keluar semua stok kulkas." Ayahnya Made tertawa renyah menceritakan hobi istrinya yang memang suka memasak.


"Made panggilkan mama! Bilang Kris sudah datang. Jangan terlalu cantik, nanti Kris nanti susah makannya lihat bibinya dandan!" Ayahnya Made menyuruh anaknya memanggilkan ibunya.


Di lain tempat Arini tidak jadi menyewa hotel murah. Selain banyak bule-bule dengan baju minim, Arini tidak suka dengan lingkungannya.


"Pak.. aku gak mau ah disini. Kira-kira ada tempat yang adem yang bisa disewa tapi ya.. tidak terlalu mahal." Ucap Arini pada sopir yang membawanya yang diketahui bernama Surya.

__ADS_1


"Mmm... tapi gak pa-pa tempatnya jauh dari wisata? Ada deket rumah saya vila tidak terlalu besar. Yang punyanya orang Jakarta, tapi vila itu kosong. Malah saya sama istri sering tinggal di sana biar tidak terlalu lama kosong. Kadang anak saya yang nempatin. Kalau nona mau, tinggal aja di sana! Biar nanti saya bilang sama yang punya vilanya. Bagaimana?" Tanya pak Surya menawari Arini tinggal di vila dekat rumahnya.


"Mmm.. bolehlah. Yang penting adem pak. Saya risih tinggal di tempat yang seperti ini." Ucap Arini menggidikkan bahu.


"Sudah bapak kira, pasti nona gak mau di tempat kaya gini. Kalau di Bali mending sewa hotel agak mahal dikit. Kalau yang murah suka dipake prostitusi." Pak Surya sebagai sopir tahu betul seluk beluk kota Bali. Berbagai macam penumpang sudah banyak ditariknya.


"Ayo nona! Sekalian bapak mau pulang. Istri bapak sedang sakit. Jadi bapak tidak bisa lanjut nyopir. Asal ada buat setoran dan bensin saja untuk hari ini. Bapak tidak tenang harus meninggalkan istri di rumah." Pak Surya sudah lega, kini Arini tidak minta keliling ke tempat lain. Biasanya kalau tiris asing kalau tidak cocok, suka lama keliling memilih hotel. Jadi pak Surya agak tenang menarik penumpang sambil pulang.


"Oh.. istri bapak sakit apa?" Tanya Arini.


"Sakit lambung, tapi tak kunjung sembuh. Sudah berobat ke puskesmas tapi tidak ada perubahan. Kata dokter puskesmas harus dibawa ke rumah sakit agar bisa di USG katanya. Tapi bapak belum punya uang untuk membawanya. Maklum saya orang kecil, untuk makan saja sudah untung." Pak Surya mengeluhkan kesulitan ekonominya pada Arini. Jarang-jarang pak Surya berbicara akrab pada orang asing, tapi begitu melihat Arini rasanya seperti seorang saudara saja.


"Maaf Pak. Saya jadi merepotkan bapak!" Arini meminta maaf atas sikapnya yang dianggap merepotkan.


"Ah tidak repot. Sudah dapat muatan saja bapak sudah untung. Tadi bapak tukeran sama teman bapak si Ujang. Harusnya yang narik nona itu si Ujang. Berhubung bapak mau pulang, si Ujang mau memberikan antriannya pada bapak." Ucap pak Surya.


"Oh.. begitu ya pak? Sudah rejeki saya mungkin bertemu bapak. Jadi saya bisa diajak ke tempat bapak sekarang." Arini tersenyum.


Pak Surya melihat dari kaca spion, "Betul nona. Kalau sudah rejeki tidak akan kemana. Eh ngomong-ngomong nona ini asalnya dari mana? Dan namanya siapa?" Tanya pak Surya.


"Nama saya Arini pak. Saya dari Jakarta." Jawab Arini memperkenalkan diri.


"Oh.. dari Jakarta. Bapak namanya Surya. Bapak aslinya bukan orang Bali, tapi dari Jawa Barat non. Datang ke Bali merantau mencari pekerjaan. Eh.. tetep aja jadi kuli. Tapi ya bapak bersyukur disini kalau nyupir agak rame non, tidak seperti di kampung, sepi." Terang pak Surya mengakrabkan diri.

__ADS_1


"Nah udah sampai nih! Maaf rumah bapak munggil."


__ADS_2