
Kehidupan terus berjalan. Begitupun dengan kehidupan Arini. Meski berat dan sakit, dia harus melanjutkan kegiatan seperti biasanya. Pergi bekerja dan kembali pulang ke rumah tanpa aktivitas.
"Pagi bu dokter.. ada titipan bunga juga makanan." Salah satu perawat sekaligus asisten Arini menyodorkan buket bunga dan paper bag di atas meja.
Buket bunga yang begitu cantik selalu datang tiap hari ditemani paper bag berisi makan siang.
"Mmm.. " Arini mengambil buket bunga dan melihat kartu yang menempel di buket itu. Dia membuka kartu yang diselipkan diantara bunga dan cover nya.
Dari orang yang sama. Dia bukan lagi merayu tapi sedang mengungkapkan isi hatinya pada perempuan yang kini menjadi tambatan hatinya. Berharap perempuan itu segera membuka hatinya, untuk menyambut cinta yang datang.
*Mencintaimu yang mustahil
Menjadi cinta yang mungkin
Bahkan dalam harap menjadi nyata
Aku tak akan bosan menunggu
Hatimu yang bisa melihat ku sebagai pria*
Semenjak Edward menyukai Arini, dia hampir tiap hari mengirimkan buket bunga dan makan siang untuk Arini. Apalagi setelah dia tahu sekarang status Arini sudah bercerai. Tidak ada yang menghalangi dirinya untuk pe de ka te. Cuman satu, Edward belum berani mendekatinya langsung karena respon Arini yang masih saja dingin.
Tapi sampai saat ini Arini tak pernah memberikan balasan. Entah lewat pesan ataupun panggilan. Semua pesan yang dikirimkan Edward hanya dibaca dan tak pernah satupun dibalasnya. Ya.. hatinya masih belum bisa move on dengan cepat. Ada rasa takut dan khawatir dirasakan Arini. Untuk saat ini Arini memilih untuk sendiri. Menikah lalu bercerai dalam jangka waktu begitu cepat membuat Arini berpikir dua kali untuk menikah kembali. Hatinya tak mau sakit lagi menerima seseorang yang dia harap jadi imamnya malah mencintai perempuan lain.
"Wah penggemar berat ya bu dokter? Sepertinya bu dokter sebentar lagi akan mengakhiri masa lajang?" Asistennya yang tidak tahu menahu tentang status Arini sebenarnya ikut berbahagia melihat atasannya ada yang naksir berat.
"Kamu.. tau darimana penggemar berat?" Arini kembali meletakkan kertas itu pada tempat semula. Pura-pura tidak tahu dan kembali menggerakkan tangannya ke arah komputer memeriksa data dan file pasien.
__ADS_1
"Ya.. belum pernah sebelumnya ada yang mengirimkan pada bu dokter bunga juga makanan. Ya..paling dari pasien-pasien bu dokter ada juga. Kalau ini hampir tiap hari selalu saja mengirimkan bu dokter bunga dan makanan. Dia mungkin pejuang cinta bu dokter." Ucap asistennya sambil membereskan file-file dalam tumpukan map.
"Memangnya bisa diukur dari itu? Bisa jadi yang mengirimkan bunga cuman kasihan sama tukang bunga yang nganggur terus." Arini menanggapi dengan datar.
"Ah.. ibu.. mana ada bu. Biasanya kalau pria suka sama perempuan dia akan kekeh mengejar. Ya seperti penggemar bu dokter yang satu ini. Ah.. jadi tidak sabar melihat bu dokter menerima cintanya." Asisten nya malah melamun membayangkan atasannya sedang dilamar seseorang seperti di dalam drama-drama romantis yang pernah di tonton nya.
"Kamu kebanyakan nonton drakor. Jadi suka menghayal." Arini berdiri dari kursinya lalu membuka jas putih yang menjadi seragam kebesaran.
Tok
Tok
Tok
"Selamat siang.. " Sapa laki-laki yang melongok dari balik pintu. Dia selalu saja tepat waktu datang di jam makan siang mendatangi Arini. Siapa lagi kalau bukan dokter Kris.
"Wah.. penggemar lagi. Sepertinya nanti saya akan membuatkan daftar list penggemar buat bu dokter." Asisten nya terkekeh sambil menutup mulutnya melihat keadaan atasannya kini didatangi penggemar.
"Dokter mau makan siang?" Dokter Kris masuk ke ruangan lalu bertanya pada Arini apakah dirinya akan makan siang.
"Wah.. telat dokter Kris.. makan dokter Arini sudah terhidang nih!" Asistennya malah yang mendahuluinya menjawab.
Dokter menatap tajam pada buket bunga yang masih teronggok di atas meja.
"Nih buat kamu! Sekalian juga bawa kirimannya! Takutnya ada racun di dalam makanan itu." Hal yang sama seperti sebelumnya dokter Kris membawa buket bunga dan paper bag yang berisi makanan lalu menyerahkannya pada asisten Arini.
"Waduh.. dok.. gak enak nih. Itu kan punya dokter Arini, kok.. " Asistennya menggantung kalimat selanjutnya sambil menatap dokter Arini, meminta persetujuan lewat isyarat mata.
__ADS_1
"Bawa saja!" Dokter Arini tak mau ribut mempermasalahkan persoalan kiriman itu dengan dokter Kris. Dokter Arini memilih berdamai dengan menyerahkan kiriman itu pada asistennya dan menemani makan siang bersama dokter Kris.
"Beneran bu? Waduh.. dengan senang hati menerima kalau begitu." Asisten Arini terlihat sumringah lagi-lagi dia mendapatkan rejeki nomplok makan siang yang lezat yang telah dibuatkan cheff terkenal dari restoran ternama.
Arini dan dokter Kris pun keluar dari ruangan menuju kantin rumah sakit untuk mengisi perutnya makan siang.
Keduanya berjalan memasuki kantin. Kedatangan keduanya yang berbarengan sering kali menyita perhatian pegawai rumah sakit juga tim medis yang kebetulan sedang makan siang juga di kantin itu. Terutama dokter Herman. Hatinya terasa panas melihat keakraban dokter Arini dan saudara tirinya yang menjadi rivalnya. Padahal dokter Herman lebih dulu menyukai Arini dibandingkan dokter Kris yang baru saja bergabung di rumah sakit dan baru kenal dengan dokter Arini. Entah kenapa sejak dulu dirinya sulit mendekati dokter Arini dibandingkan dokter Kris. Apakah karena dirinya bukan anak pemilik rumah sakit? Tentu itu sekarang menjadi alasan yang kuat bagi dokter Herman kenapa selama ini dokter Arini tidak mau di dekatnya. Dia menganggap dokter Arini lebih matrealistis.
Krekk..
Dokter Kris menarik kursi untuk dokter Arini.
"Duduklah!" Dokter Kris menyuruh dokter Arini untuk duduk di kursi yang telah ditariknya.
Arini sebenarnya agak malu melihat dokter Kris memperlakukan dirinya seperti itu. Bukan karena tidak senang, tapi perlakuannya membuat beberapa mata menatapnya sinis.
"Terimakasih." Ucap Arini lalu duduk di kursi itu.
"Sama-sama prinses." Jawab dokter Kris pelan. Dia pun menarik kursi lalu duduk di depan Arini.
Arini pun memulai makan dengan berdoa dan menyantap menu makan siang dengan khusyuk. Begitupun dengan dokter Kris dia menyantap makanan dan sesekali dia sambil membuka layar handphonenya memeriksa pesan masuk.
"Hari ini kamu pulang ke apartemen?" Tanya dokter Kris tiba-tiba penasaran kemana Arini akan pulang. Bukan tanpa sebab dia bertanya seperti itu.
"Tidak. Aku akan pulang ke rumah." Jawab Arini datar.
"Kemarin aku berpapasan dengan perempuan itu." Ucap dokter Kris yang tahu bahwa Renata adalah selingkuhan suami Arini. Dia belum tahu status Arini sekarang. Dia menyangka bahwa Arini masih bersuamikan tetangganya.
__ADS_1
"Mmm... " Jawab Arini tidak merasa kaget malah terlihat biasa saja.