
"Sepertinya itu mobil Arini." Umi Syarifah berucap begitu mobil Arini terdengar masuk ke parkiran. Ketiga orang yang sedang berbincang pun menoleh ke luar untuk melihat siapa yang datang. Tadi pagi Arini pamit akan pergi ke apartemen Andre. Dan tak lama kemudian mertuanya datang ke rumahnya.
Ayah dan ibunya Andre ingin menemui Arini dan Ibunya untuk membicarakan tentang pernikahan putra-putrinya dengan baik-baik. Lambat laun berita pernikahan Andre akan sampai juga di telinga mereka. Jadi lebih baik orang tua Andre datang dan berbicara secara baik-baik sebelum mereka tahu. Tanpa diduga Arini malah lebih dulu tahu.
Orang tua mana yang tidak sakit hati melihat nasib pernikahan putrinya dipermainkan seperti itu. Tapi Umi Syarifah berusaha tegar. Mungkin itu sudah takdir Arini. Umi Syarifah pun mengakui bahwa kegagalan perjodohan Arini adalah salah satunya juga ada campur tangan dirinya. Hati ibu itu kini merasa menyesal.
Arini mengerutkan dahi begitu turun dari mobilnya. Mobil mewah yang terparkir lebih dulu seperti milik mertuanya. Dia berdiri sejenak melihat mobil itu dengan pikiran yang tak jelas.
Apa mama sama papa ada di dalam?
Gumam Arini menebak-nebak. Belum juga langkahnya diayun, salah satu art nya mang Edi memanggil Arini.
"Eh neng Arini. Neng ditunggu ibu di dalam!" Rupanya tadi umi Syarifah telah menitipkan pesan pada mang Edi untuk menyuruh Arini segera masuk.
Dengan perasaan dag dig dug Arini pun melangkah dengan menggeret koper masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum." Arini memberi salam dengan pandangan tertuju sekeliling ruang tamu. Mencari sosok yang diduga sudah ada di dalam rumah.
"Waalaikumsalam." Ketiga orang yang sedang di dalam menjawab kompak. Semua mata tertuju pada Arini yang sedari tadi diharapkan kedatangannya.
"Ma.. pa.. " Arini langsung mendekati ayah dan ibunya Andre lalu mencium punggung tangan sebagai rasa hormatnya.
Wajah keduanya terlihat sendu dan sedih melihat perempuan yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.
__ADS_1
"Sini sayang.. duduk sama mama dan papa!" Ibunya Andre sudah mulai berkaca-kaca begitu melihat Arini.
Arini pun duduk di antara keduanya. Tak kuasa untuk menolak. Arini duduk dengan netra melihat ibunya. Ada pesan yang disampaikan mata lewat mata.
Ibunya Andre menggandeng bahu Arini. Berat rasanya ingin menyampaikan apa yang ada dalam hatinya pada Arini. Pastinya akan menyakiti perasaan Arini juga ibunya. Tapi ini harus disampaikan. Karena kalau tidak ini akan menjadi masalah besar di kemudian hari. Demi kebaikan bersama maka kabar pernikahan Andre harus disampaikan secepatnya.
Ayahnya Andre menarik nafas panjang lalu menghembuskan nya perlahan. Sejak kabar hamilnya Renata harga dirinya jatuh gara-gara prilaku anaknya sendiri. Ayahnya Andre tidak bisa lepas tanggungjawab begitu saja melihat pernikahan Andre dan Arini tidak jelas. Meski pahit itu tetap harus diselesaikan.
"Sayang.. mama sama papa sangat sayang sama kamu seperti kami menyayangi anak kami sendiri. Awalnya kami menjodohkan Andre sama kamu karena kami ingin putra kami bisa mendapatkan istri yang baik seperti kamu nak." Ayahnya Andre menghela nafas. Terlihat dari setiap tarikan nafasnya dia begitu berat. Bahkan lebih berat dari pekerjaannya selama ini.
"Mama sama papa.. mau minta maaf sama kamu Arini.. terutama pada umi.. Kami telah gagal mendidik anak kami. Andre tak bisa menjadi suami yang baik buat Arini."
"Kami datang kesini dengan menanggung malu yang besar. Tapi.. bagaimanapun kami adalah orang tua. Dan kami juga yang telah menjodohkan Arini dengan Andre. Kami merasa bertanggungjawab penuh atas keburukan Andre."
Terdengar suara isakan dari istrinya yang sedih menghadapi kenyataan harus melepaskan Arini dari Andre. Ayahnya pun sama sedihnya, tapi dia tak boleh terlihat menyedihkan di hadapan semuanya.
"Umi.. saya mohon maaf sebesar-besarnya pada umi, Arini. Kami tak bisa melanjutkan pernikahan Andre bersama Arini." Ayahnya Andre melihat ke arah istrinya yang semakin keras terisak dan memeluk Arini.
Mata umi Syarifah berkaca-kaca. Ternyata dugaannya benar. Ternyata pernikahan putrinya tidak berjalan dengan lancar. Bahkan pernikahannya harus putus secepat ini.
Arini tertunduk tak bisa bicara apapun seolah menerima pasrah.
Semuanya terdiam kecuali terdengar isakan dari ibunya Andre yang menangis. Sedih harus menyampaikan berita tidak mengenakkan ini langsung pada keluarga Arini.
__ADS_1
"Baiklah. Semuanya memang sudah ada takdirnya. Umi akan berusaha menerima kenyataan ini dengan hati lapang. Apapun yang terjadi kita tidak kuasa untuk menolak. Jika yang terbaik adalah berpisah, maka umi akan mendukung." Umi Syarifah menatap wajah putrinya yang sedang tertunduk. Dia tahu jauh dalam lubuk hati putrinya pasti ada rasa sakit.
"Maafin mama ya sayang.. maafin kami yang telah menyakiti kamu nak.. " Ibunya Andre memeluk erat tubuh Arini dengan deraian air mata yang semakin deras.
"Maafin Arini juga ma. Arini tidak bisa menjadi istri Andre yang baik." Meski sudah menahan diri untuk tidak meneteskan airmata, tapi akhirnya Arini pun tak kuasa menitikkan air mata.
"Kamu tidak salah nak.. " Ayahnya Andre mengusap punggung Arini dengan lembut.
"Anak kami yang salah dan kami yang salah. Kamu tidak salah nak." Ucap Ayahnya Andre sambil tertunduk. Ada rasa sesak dalam hatinya menerima kenyataan yang harus dihadapinya.
Arini dan ibunya Andre menguraikan pelukan.
"Arini menerima perpisahan ini dengan lapang dada ma.. pa.. kami tidak bisa dipaksakan untuk bersatu. Kalaupun dipaksakan akhirnya ya bakal lebih buruk dari sekarang." Arini yang sudah siap dari awal tidak terlalu syok. Mungkin ada yang lebih sakit disini adalah mertuanya sendiri. Bagi Arini lebih baik berpisah daripada terus menerus dikhianati.
Kedua orang tua Andre saling memandang. Dia melihat reaksi Arini yang terbilang kalem dan tidak terlalu sedih. Mungkin sejak awal memang Arini sudah tahu ending pernikahannya akan seperti ini.
"Sayang.. kamu tak apa-apa?" Ibunya Andre mengelus lembut punggung Arini.
"Ya.. normal saja ya ma.. kalau kecewa, sedih kesal sama keadaan sekarang. Tapi.. Arini tidak mau larut dalam hal itu. Toh.. sejak awal Andre sudah bilang sama Arini bahwa dia tidak mencintai Arini. Dan dia memang sudah berjanji akan menceraikan Arini dalam satu bulan ini. Adanya mama sama papa kesini ataupun tidak buat Arini sama saja. Karena dalam jangka satu bulan sudah jatuh talak Andre sama Arini ma.. pa.." Terang Arini jujur.
"Astaghfirullah.. kenapa namun tidak bilang sama mama sayang..?" Ibunya Andre begitu kaget, ternyata Andre sudah merencanakan sejak awal akan menceraikan Arini tanpa sepengetahuan mereka.
"Mungkin ini akibat dari dipaksakan, jeng. Andre tidak bisa menerima Arini. Memang salah kita juga menjodohkan anak-anak kita." Umi Syarifah menimpali.
__ADS_1