
Arini menghampiri satu kamar yang sama dengannya. Dia melihat pintu kamar hotel terbuka. Disana ada seorang wanita dengan meratapi laki-laki yang tergolek lemah.
Lalu Arini menghampiri kamar itu.
"What can I do for you?" Tanya Arini pada perempuan yang sudah menangis.
(Mohon maaf berhubung author Englishnya kalang kabut.. dialognya kita ganti aja sama bahasa indo😇)
"Saya kurang tahu, dia mengeluh sakit dada lalu pingsan." Jawabnya sambil tergagap.
Arini segera memeriksa urat nadi laki-laki yang sedang tergolek lemah di beberapa titik. Lalu memeriksa mata, terakhir dia memeriksa area hidung.
"Sepertinya dia terkena serangan jantung. Coba anda pergi ke bagian resepsionis untuk memanggil ambulan kesini! Saya akan memberikan pertolongan pertama padanya." Ujar Arini memberikan arahan.
"Anda siapa?" Wanita berkulit bule itu tidak lantas percaya begitu saja pada Arini.
"Saya seorang dokter. Sedang liburan di hotel yang sama. Tadi saya mendengar anda meminta tolong." Arini segera menekan dada laki-laki itu. dengan hitungan teratur. Tangannya yang masih cedera dipaksa untuk memberikan pertolongan darurat, rasanya ngilu sekali. Arini lalu membuka mulutnya memberikan nafas buatan untuk laki-laki yang terkena serangan jantung itu.
"Cepat! Kenapa anda masih disini?" Arini menegur perempuan yang tadi disuruh untuk memanggil ambulan itu.
"Iya.. baik." Dia berdiri lalu bergegas menuju resepsionis untuk meminta bantuan.
Arini beberapa kali mengulang gerakan tadi untuk segera menyadarkan laki-laki yang sedang pingsan itu.
Akhirnya laki-laki itu pun terbatuk dan mulai sadar dari pingsannya.
Perlahan-lahan laki-laki itu mengerjapkan matanya melihat Arini yang sedang menunggu di sampingnya.
"Anda siapa?" Laki-laki itu dengan suara lemah bertanya pada Arini.
"Saya seorang dokter. Tadi anda pingsan. Pacar anda meminta pertolongan pada saya untuk menolong anda." Terang Arini.
Laki-laki itu diam sejenak. Badannya terasa lemah dan tenaganya seperti habis.
__ADS_1
"Nah itu dia... mereka membawa tandu." Ucap Arini agak lega melihat ada tim medis yang datang bersama pegawai hotel.
"Maaf nona, kami akan membawanya ke klinik terdekat dulu. Nanti kami akan menunggu rujukan untuk mengantarkan ke rumah sakit. Bisakah nona ikut dengan kami?" Petugas medis yang sudah tahu Arini seorang dokter dari wanita tadi meminta untuk ikut bersama mereka.
"Baiklah. Saya akan membawa dulu tas saya ke kamar." Arini berdiri melangkah pergi untuk membawa tas ranselnya.
Petugas medis menunggu Arini di dalam mobil. ambulan setelah membawa laki-laki itu di atas tandu.
Arini masuk ke dalam ambulan lalu membantu petugas medis memasangkan alat-alat pada tubuh laki-laki itu.
"Anda cekatan sekali! Apa anda seorang dokter spesialis?" Tanya petugas medis yang ada di dalam ambulan yang melihat kinerja Arini yang begitu cekatan memasangkan alat-alat guna membantu pasien bisa bernafas dan memonitor detak jantungnya.
"Ya. Saya dokter bedah." Jawab Arini fokus mengamati layar monitor.
"Anda beruntung man... ada dewi penolong di samping mu." Ucap petugas medis pada laki-laki yang sedang tergolek lemah karena serangan jantung.
"Takdir. Umur Anda masih panjang. Jadi bukan karena saya ada di sini." Arini tak mau orang lain menganggap pertolongannya terlalu berlebihan.
Laki-laki itu tersenyum ke arah Arini meski mulut nya sedang ditutupi alat bantu pernapasan.
Arini yang ikut masuk ke dalam klinik diam tak ikut memeriksa lagi. Sesuai prosedur, bahwa yang akan bertanggungjawab atas keselamatan nyawa pasien sekarang adalah dokter jaga klinik.
"Mmm.. maaf nona. Katanya anda dokter bedah?" Dokter jaga keluar dari sebuah ruangan pemeriksaan.
"Betul. Tapi saya sedang berlibur." Jawab Arini dengan jujur.
"Di klinik ini hanya ada alat-alat sederhana tak bisa menunjang pasien untuk membantunya. Jadi sebaiknya pasien dibawa ke rumah sakit besar agar ditangani lebih serius." Dokter jaga yang ada di klinik itu hanya dokter umum, jadi tidak bisa menangani pasien yang baru saja datang.
"Betul dia harus segera dioperasi. Kalau tidak jantungnya akan terus melemah." Jawab Arini.
Tak lama berselang ada semacam penjemputan dengan mobil ambulan yang lain.
"Maaf nona. Pasien akan dibawa ke rumah sakit besar, bisakah anda menemaninya sampai sana!" Dokter jaga yang diketahui namanya Made Tiro meminta Arini menemani pasien.
__ADS_1
"Waduh giman ya? Aku tak bisa sejauh ini. Aku disini sedang berlibur bukan untuk bertugas." Tolak Arini halus.
"Tapi... rumah sakitnya lumayan jauh, jadi harus ada dokter pendamping jika ingin ke sana. Anda kan dokter spesialis tentu lebih kompeten dibandingkan saya. Jadi jika diperjalanan ada apa-apa anda bisa menolongnya." Dokter Made memberikan alasan untuk Arini agar bisa menemani pasien.
"Ya sudah." Arini malas berdebat. Meski kurang ikhlas tapi bagaimanapun dia seorang dokter, hati nuraninya pasti terpanggil.
"Nah gitu dong! Nanti aku akan traktir nona jika sudah sampai di rumah sakit." Ucap dokter Made. yang mempunyai kenalan di rumah sakit besar Bali.
"Aku gak butuh traktir. Aku butuh healing." Arini melengos masuk ke dalam ambulan menemani pasien.
Dan tanpa sadar, ternyata dokter Made mengabadikan momen lucu ketika Arini cemberut karena terpaksa menemani pasien ke rumah sakit besar.
Dua jam perjalanan dari klinik kecil menuju rumah sakit besar Bali membuat pasien agak lelah.
Matanya yang satu juga badannya yang semakin lemah menyiratkan bahwa dia sudah semakin tak kuat.
"Kamu harus kuat! Ayo berdoa!" Arini menggenggam tangan laki-laki itu memotivasi pasien agar bisa bertahan sampai di rumah sakit.
Laki-laki itu yang mendapat genggaman kuat dari Arini, seolah mendapat kekuatan.
Aku tidak boleh lemah... tolong Tuhan... berikan aku kekuatan agar bisa sembuh.
Pinta laki-laki itu dengan sangat di sela-sela lemah tubuhnya.
Laki-laki itu semakin menguatkan genggamannya pada Arini dia tak ingin menyerah dari penyakitnya yang sudah lama menderanya.
Ada sebuah titik harap yang kini masuk ke dalam dadanya. Dia ingin bertahan sekuat tenaga dan tidak ingin terlihat lemah. Dia sudah bosan dianggap lemah dan tidak berdaya oleh siapapun.
Ambulan pun akhirnya sampai di rumah sakit besar. Pasien yang bernama Edward pun akhirnya langsung dibawa ke ruang operasi agar ditangani lebih cepat.
Arini melepaskan genggamannya lalu dengan isyarat tangannya dia menyemangati pasien untuk semangat.
"Ah... lelah hayati... gue pengen tidur." Arini mencari bangku kosong lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Dia terlelap begitu saja di kursi lobi rumah sakit.
__ADS_1
"Ini foto teman anda?"