Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Ingin healing


__ADS_3

"Saya ucapkan terimakasih atas bantuan anda menggantikan saya menangani pasien-pasien saya." Ucap Arini dengan tidak berani menatap wajah dokter Kris yang ada di depannya.


"Tidak cukup terima kasih saja. Aku mau yang lain." Dokter Kris dengan santainya memainkan bolpoint di jari jemarinya. Sepasang netra nya tak mau lepas dari menatap Arini.


"Mau anda apa? Apakah saya harus mengganti jam kerja anda?" Tanya Arini sambil menyalakan mesin komputernya.


Dokter Kris menarik kursinya dan mendekatkan wajahnya pada Arini.


"Jadilah kekasihku!" Kesempatan yang di tunggu-tunggu nya kini datang dengan mudah. Dari awal dokter Kris sudah tertarik pada Arini. Ya kejadian malam itu masih suka terbayang-bayang dalam benaknya. Bayangan Arini yang meringkuk tidur di depan apartemen membuat dirinya iba.


"Ish.. " Arini langsung membuka matanya lebar. Kalimat itu tentu saja tak bisa diterimanya, apalagi sekarang statusnya sudah menikah.


"Jangan katakan pada siapapun bahwa aku sudah menikah!" Ada rasa cemas di wajah Arini ketika mengatakan hal itu pada dokter Kris.


"Kenapa? Bukankah suamimu jelas-jelas berselingkuh? Lalu cedera ini siapa yang membuatnya? Apa perlu kulaporkan pada polisi kelakuan suamimu itu? Ditambah matamu yang sembab pasti di juga kan penyebabnya?" Dokter Kris terus mendesak Arini dengan semua temuan-temuannya.


"Apa dokter ingin menambah masalah? Atau bosan hidup tenang?" Arini balik bertanya pada dokter Kris. Dia masih heran dengan laki-laki di depannya itu. Sudah tahu dia perempuan bersuami, malah masih ingin menjadikannya seorang kekasih.


"Justru ingin mengurangi masalah. Jika aku menikah denganmu, ayahku akan sangat senang. Dan masalahmu juga akan terlepas dari laki-laki hidung belang itu. Aku laki-laki setia lho!" Dokter Kris begitu percaya diri mengatakan dirinya adalah seorang laki-laki setia.


"Setia tiap belokan?" Arini tak menanggapi pembicaraan dokter Kris. Dia langsung membuka file-file penting yang harus dipelajarinya.

__ADS_1


"Ya asal tiap belokannya ada kamu. Aku pasti jatuh cinta pada kamu seorang." Dokter Kris tak mau kalah berdebat dengan Arini.


"Sudahlah! Jika kamu datang kesini akan menggangu ku lebih baik dokter pergi saja dari ruangan ku! Terkecuali anda mau membahas beberapa pasien dengan ku." Ucap Arini sekarang berani melihat dokter Kris.


"Membahas pasien? Mmm.. belum deal." Ucap dokter Kris santai. Dia pintar sekali mencari celah untuk menundukkan Arini.


"Jadi apanya yang belum deal?" Tanya Arini kurang senang. Buatnya semua lelaki sama saja. Dia hanya ingin tuntutannya dipenuhi tanpa tahu perasaan yang sekarang dihadapinya.


"Ya.. kamu kan belum menjawab. Mau atau tidak?" Dokter Kris menatap tajam pada Arini.


"Heh... kamu mau memperalat aku? Dasar laki-laki semuanya sama saja. Baiklah. Buatku duduk disini tak ada gunanya. Tak ada yang harus kusepakati dengan mu. Mulai besok aku akan mengundurkan diri dari rumah sakit ini biar aku tak tak banyak hutang budi." Arini menutup layar komputernya dengan emosi meluap. Belum reda rasa sedihnya, kini seseorang malah memanfaatkan kelemahannya untuk kepentingannya sendiri.


"Eh.. Ar.. sorry. Aku... maksudnya aku tak bermaksud seperti itu." Dokter Kris langsung tergagap melihat Ancaman Arini yang akan keluar dari rumah sakitnya gara-gara dia mendesak Arini menjadi kekasihnya.


Tadinya dia akan bertahan di rumah sakit itu untuk menjadi dokter. Tapi melihat dokter Kris yang juga anak dari pak Julio memanfaatkan kelemahannya, dia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit itu. Karena sekarang ataupun besok jika dia bertahan, kerjanya pun takkan tenang. Masalah rumah tangganya pun belum selesai, sekarang seseorang mengajaknya untuk berselingkuh, itu membuat Arini semakin terpuruk. Meski keadaannya sedang tidak baik-baik saja, dia tak ingin melakukan kesalahan dan dosa dengan berselingkuh.


"Ar.. tunggu. Oke. Maafin aku!" Dokter Kris tak mau kehilangan Arini. Ternyata dia bukan perempuan yang mudah takluk begitu saja tidak seperti perempuan-perempuan yang lain.


Arini berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang.


"Terima kasih." Setelah mengucapkan kata itu Arini melanjutkan langkahnya tanpa ingin menoleh ke belakang.

__ADS_1


Dokter Kris menyugar kasar rambutnya. Dia merasa dia akan kehilangan Arini.


Meski dia belum kenal betul dengan perempuan itu, entah kenapa hatinya terlalu kuat ingin memilikinya.


Arini melangkah menuju lift. Tak lama kemudian pintu lift terbuka dia pun masuk. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding lift. Matanya yang sembab sengaja dipejamkan. Ada rasa lelah dalam hatinya menghadapi ujian pernikahannya.


Ya Allah.. apa yang harus hamba perbuat. Apakah aku harus bertahan dengan suamiku yang seperti itu? Apa yang mesti aku pertahankan? Meski aku punya banyak dosa, apa aku akan terus membiarkan dia berbuat seperti di hadapanku? Ya Allah..


Tanpa terasa airmata nya kembali menetes. Arini buru-buru menyeka. Tak mau orang lain mengetahui kelemahannya.


Ting


Suara pintu lift terdengar. Arini keluar dari lift dan melangkah meninggalkan gedung rumah sakit yang sudah dua tahun dia bekerja di sana. Tak ada ucapan perpisahan juga tak ada ucapan selamat tinggal. Kini langkahnya mantap ingin meninggalkan rumah sakit juga kota itu.


Arini mencegat taxi. Berbekal tas ransel juga baju ganti seadanya Arini pergi menuju bandara.


Kenekadannya sudah penuh. Dia tak mau lagi peduli dengan apa yang nanti akan terjadi. Dia hanya ingin pergi dengan egois seperti orang lain memperlakukannya selama ini.


Dimulai dari perjodohannya yang telah dilakukan orangtuanya, perselingkuhan suaminya, Bahkan dia pun harus rela jadi mesin pencetak jagal di rumah sakit selama ini dia bekerja. Arini sedang marah dengan semuanya. Kali ini ingin sekali dia menjadi orang egois dan tak bertanggungjawab. jawab. Apakah salah jika dirinya meminta seperti itu?


Satu tiket telah dibeli dengan penerbangan tercepat ke Bali. Entah apa yang mendorong dirinya menentukan kota itu sebagai pelariannya. Sekian lama dia bekerja dan terlalu tekun bekerja, sehingga dia lupa akan liburan. Sepanjang dia sekolah sampai dia bekerja, belum pernah satu kali pun dia berlibur menikmati kemanapun kakinya melangkah. Selama ini jika ada waktu libur dia hanya menghabiskan diri di dalam rumah dengan hobinya memasak, kadang jalan ke mall untuk belanja kebutuhannya. Dan tak ada lagi selain kegiatan itu saja yang selama ini dilakukan Arini.

__ADS_1


Jadi tak heran, sekarang emosi Arini meronta ingin keadilan. Keadilan untuk piknik dan healing. Meninggalkan sejenak rutinitasnya dan memanjakan diri tanpa harus banyak beban.


Apa itu salah?


__ADS_2