Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Yang dicari ada di depan mata.


__ADS_3

Seharian itu Andre hanya menghabiskan dengan makan, tidur dan nonton TV. Awalnya sih enak-enak saja. Tapi menjelang malam ada perasaan yang hilang dan hampa. Andre hanya memindah-mindah saluran televisi tanpa tahu acara apa yang menarik baginya.


"Ah..kenapa merasa sepi begini? Padahal biasanya juga aku sendirian. Andre tidak tahu kenapa perasaannya seperti itu. Dia merogoh benda pipih untuk membaca satu persatu pesan yang mungkin perlu dibalasnya.


"Ah gak penting." Andre hanya bicara sendiri mengomentari isi pesan handphonenya.


Sejenak. dia memejamkan matanya.


Kenapa aku keingetan Arini ya? Dimana dia sekarang?


Tiba-tiba Andre merasa khawatir dengan keadaan istrinya perjodohannya itu.


Andre membuka mata lagi, "Bagaimana kalau dia nekad, terus mati?" Andre mengusap kasar wajahnya memikirkan kejadian yang negatif pada Arini.


Andre mencari nomor Arini dan mencoba menelponnya. "Duh.. gak aktif. Bagaimana kalau dia mati? Ini kan hari kedua dia meninggalkan rumah." Cemas Andre. Meski hanya sekedar perjodohan dia sebagai laki-laki masih sedikit mempunyai tanggungjawab. Bagaimana kalau istrinya sampai meninggal? Pasti masa depannya akan lebih suram karena harus berhadapan dengan polisi.


Andre mengambil benda pipih, lalu menghubungi seseorang.


"Halo bro.. " Andre sebenarnya tidak enak hati harus menghubungi Edward kembali.


"Iya bro.. ada apa?" Edward agak mengerutkan dahi. Andre sudah dua kali menghubunginya. Padahal biasanya sepupu yang satu ini paling sulit dihubungi. Kalau lagi susah begini, dia datang sendiri menghubunginya.


"Mmm.. gue mau merepotkan elu lagi nih!" Andre mengaruk kepalanya yang tak gatal.


"Udah tau kok! Pasti merepotkan. Mana mau anak uncle repot-repot menghubungi aku kalau gak butuh-butuh amat." Edward menyindir.


"Ha ha.. elu tau aja." Andre tertawa di seberang telepon.


"Ada apalagi brother?" Edward bertanya lebih dulu.


"Mmm.. gue lagi mencari seseorang. Tapi nomornya tidak aktif. Kira-kira elu bisa bantuin gak buat lacak keberadaan dia?" Andre akhirnya berterus terang.


"Yang mau lacak siapa? Penjahat? Atau buronan? Kan ada polisi!" jawab Edward asal.


"Aih.. bukanlah." Andre bingung mau bercerita terus terang tentang Arini pada Edward yang terkenal playboy.


"Lalu?" Edward menaikkan sebelah alisnya.


"Mmm... bingung gue ngomongnya." Andre malah bingung.

__ADS_1


"Ya udah kalau bingun diem! Kantin kalau sudah tidak bingung cari! Selesai perkara." Jawab Edward hendak menyudahi obrolannya dengan Andre.


"Eh.. tunggu dong! Jangan gitu! Gue harus minta tolong sama siapa lagi kalau bukan sama elu bro? Elu tau sendiri gue lagi gini!" Andre tak mau kehilangan Edward. Edward satu-satunya yang bisa dimintai pertolongan saat ini. Maklum selain boke, Andre juga tak bisa meminta pertolongan pada Gery saat ini. Karena ayahnya melarang keras membantunya.


"Iya.. lalu apa siapa yang mau elu lacak brother?" Edward sedikit menekan Andre. Ini saatnya menekan sepupunya yang agak keras kepala itu.


"Mmm.. gue kirimin deh profilnya. Pleat bantu gue ya! Gue bakal inget kok jasa elu sama gue!" Suara Andre terdengar memohon.


"Baik brother. Kalau sampai ketemu, emang apa imbalannya?" Kali ini Edward tak ingin gratisan.


"Ya elah.. tau lagi gini minta imbalan. Elu tega banget sih Ed!" Andre tak punya-punya apa-apa untuk diberikan pada Edward saat ini.


"Ya udah.. gue gak bakal bantu elu kalau gak ada imbalan." Ancam Edward meski tidak serius. Tapi ini akan dijadikan momen untuk menekan Andre.


"Aih.. saudara tapi gak ada ikhlas-ikhlasnya." Andre mendumel.


"Ha.. ha.. gue mau pacar elu boleh gak? Gue lihat di IG elu, cewek elu seksi juga. Gimana kalau imbalannya itu saja." Edward sedang menggoda Andre yang sedang tidak berdaya.


"Dasar playboy. Apa elu lagi miskin cewek? Atau jangan-jangan sudah tidak laku?" Andre tak mau kalah ingin membuat Edward menyerah dan tidak lagi mempermainkannya.


"Masa iya ganteng-ganteng tidak laku. Banyak stok sih! Tapi gue kan ingin upeti dari elu!" Edward tak bisa dikalahkan begitu saja.


"Sebentar gue kirim ya!" Andre sumringah mendengar Edward akan membantunya.


Tling


Sebuah notifikasi muncul di layar super canggih milik Edward.


Edward segera membuka pesan kiriman Andre. Jantung Edward yang baru saja dioperasi tiba-tiba merasa sakit setelah melihat pesan kiriman dari Andre. Selain kaget diapun tak percaya.


"Ahhh.... " Edward meraba dadanya. Monitor di sebelah ranjangnya tiba-tiba menunjukkan batas abnormal jantung pasien.


Arini langsung menghampiri Edward.


"Kenapa? Sakit?" Tanya Arini begitu melihat Edward memejamkan mata dan tangannya memegang dada.


Edward hanya mengangguk.


Arini langsung mengambil handphone yang sedang dipegang Edward dan menaruhnya di atas nakas.

__ADS_1


"Tolong minta bantuan agar dokter segera datang. Pasien kena.serangan." Arini memberitahu perawat melalui kotak mikrophone yang ada di dekat nakas.


Edward masih memegang dadanya. Itu benar-benar terasa sakit.


"Tarik nafas! Relaks. Coba sedikit batuk!" Arini mencoba membimbing Edward untuk mengurangi rasa sakitnya.


Edward dengan nafas berat mencoba menarik nafas perlahan-lahan lalu menghembuskan nya perlahan. Lalu mengulanginya lagi baru bisa batuk. Rasa nyeri yang dirasakannya. mulai sedikit berkurang.


"Anda jangan banyak kontek-kontekan dulu deh! Apalagi sampai sering dekat dengan handphone. Berbahaya bagi jantung anda. Handphone bisa memicu jantung anda bekerja lebih berat. Sebaiknya stop dulu untuk menggunakan handphone dan istirahat dengan tenang!" Arini yang sejak tadi ada di ruangan itu tahu Edward tadi berbicara dengan seseorang. Lalu tak lama kemudian dia menerima serangan dadakan.


Yang bikin jantung aku kaget itu bukan handphone tapi kamu dokter Arini.


Edward menatap inten dokter Arini. Ada banyak pertanyaan dalam kepalanya tentang Arini sekarang. Dia semakin penasaran dengan identitas dokter yang ada di depannya.


Tak lama kemudian beberapa dokter datang keruangan.


"Apa yang terjadi?" Dokter yang menangani Edward langsung bertanya.


"Pasien sepertinya kena serangan. Tadi dadanya sempat sakit dan layar monitor itu menunjukkan bahwa tekanan jantung pasien mengalami peningkatan." Ucap Arini.


Dokter yang menangani Edward tertegun mendengar penuturan Arini.


"Anda yang dulu mengantarkan pasien kesini kan?" Dokter itu masih mengenali Arini.


"Iya." Jawab Arini singkat.


"Anda dokter?"


"Sedang cuti." Jawab Arini tak mau dokter di depannya terlalu banyak bertanya.


"Spesialis apa yang anda ambil?" Dokter itu malah tertarik pada Arini ketimbang Edward. Karena Edward sudah kembali tenang setelah barusan Arini melakukan pertolongan darurat.


"Dalam."


"Good.. I like it." Dokter itu tersenyum puas.


Dia kembali memeriksa Edward dengan teliti. Memeriksa bagian-bagian vitalinya.


"Apa barusan anda terkejut?" Dokter itu kini melihat Edward dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2