Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Kepergok


__ADS_3

Setelah sampai di apartemen Andre menyuapi Arini dengan nasi yang dibelinya di cafe.


"Mas Andre gak makan?" Tanya Arini yang melihat suaminya diam saja.


"Buat aku roti aja cukup." Jawab Andre yang jarang makan berat. Dia hanya makan nasi satu kali dalam sehari. Mungkin karena kebiasaannya sejak kecil makan seperti itu. Tapi dia memang doyan makan buah. Makanya di kulkas biasanya dia menyetok buah-buahan.


"Mmm.. " Arini mengangguk sambil mengunyah.


Ting tong, Ting tong.


"Mas ada tamu. Mungkin asisten mas sudah Andre sudah kembali." Arini agak cemas, karena dia hanya memakai jubah mandi.


"Sudah.. habisin dulu makan kamu! Nanti biar dia menunggu." Andre menyuapi Arini dengan telaten. Dia melakukan itu semata-mata karena takut orang tuanya mengetahui kesalahannya. Juga semata-mata karena dia sudah berjanji pada Arini akan memenuhi kewajibannya sebagai suami sungguhan selama satu bulan, meski keduanya belum melakukan hubungan badan.


"Kok gede banget nasinya mas?" Protes Arini melihat suapan kali ini jadi besar porsinya dibandingkan sebelumnya.


"Biar cepet habis." Andre tak mau berlama-lama menyuapi Arini karena belt di pintunya terus saja menyala.


"Ih rese banget si Gery. Bukannya tunggu sebentar." Andre menggerutu lalu berdiri dan mencuci tangannya bekas menyuapi Arini.


"Kamu masuk ke kamar kamu!" Andre menyuruh Arini untuk masuk ke kamar.


Arini patuh. Kali ini Arini masuk ke kamarnya, tidak masuk ke kamar Andre lagi.


Dirasa aman, Andre lalu membuka pintu apartemennya.


"Kamu?" Mata Andre terbuka lebar melihat Renata di depan pintu.


"Aku kangen.. " Manja Renata sambil mengalungkan tangannya ke leher Andre.


Andre hanya diam saja melihat sikap Renata seperti itu. Dalam hati kecilnya dia pun sangat rindu pada Renata. Apalagi dia telah mencicipi manisnya Renata di malam pengantin.


Cup


Renata langsung mengecup bibir Andre. Andre yang mendapatkan rangsangan seperti itu tak membalas dengan Ci***** panas. Tanpa sadar Renata telah mendorong badan Andre ke dalam apartemen dan sampailah keduanya duduk di sofa tanpa melepaskan pagu***n


Saking asiknya mereka bermain keduanya tidak sadar bahwa di dalam apartemen itu tidak hanya ada mereka berdua. Ada seorang istri yang sedang duduk di kamar yang sejak tadi menajamkan telinganya ke daun pintu.


Kenapa ada suara ******* ya? Bukannya tadi yang masuk asistennya mas Andre?


Arini berpikir heran. Tak ada suara yang terdengar di telinga nya kecuali, *******-******* suara aneh yang membuat bulu kuduknya meremang.

__ADS_1


Janagn-jangan yang tadi masuk bukan asistennya mas Andre, melainkan Renata?


Arini begitu merasa terganggu dengan aktifitas keduanya yang sedang bercumbu di atas sofa.


Arini duduk di atas tepian kasur. Pikirannya sedang mengedar kemana-mana memikirkan apa yang sedang diperbuat suaminya sekarang.


Haruskah aku keluar sekarang? Bagaimana dengan penampilanku yang seperti ini?


Arini ragu untuk keluar kamar karena dia hanya memakai jubah mandi. Beberapa baju di dalam lemarinya hanya kemeja dan celana panjang. Kalaupun gaun, tangannya terlalu sempit untuk dimasuki tangannya yang seperti robot karena dipasang gift.


Matanya teralihkan dengan benda pipih yang tergeletak di atas kasur.


Apa aku telepon saja mas Andre pura-pura aku butuh sesuatu?


Ide itu muncul begitu saja dalam benak Arini.


Diambilnya benda pipih itu dan Arini menekan nomor Andre. Sambungan telepon pun berbunyi tut.. tut.. tut.. tidak segera diangkat. Padahal oranllgnya tak jauh.


Andre yang terbuai dengan asiknya surga palsu bukannya mengangkat panggilan telepon di handphonenya, dia malah menarik Renata masuk ke dalam kamarnya melanjutkan aksi tak berakhlak itu di ranjang kesayangannya.


Apa sih yang dilakukan mas Andre sampai tak bisa mengangkat panggilanku?


Matanya mengedar mencari Andre di ruangan. Tapi tak terlihat tubuh suaminya berada di sana. Padahal tadi beberapa waktu lalu dia masih mendengar suara-suara aneh yang asing di ruangan itu. Dia juga tidak melihat orang asing di ruangan itu.


Apa. mereka sudah keluar?


Itu yang terbersit dalam pikiran Arini begitu di ruangan itu tak melihat siapapun.


Arini memutar tumitnya, hendak kembali masuk ke dalam kamarnya.


Tiba-tiba telinganya mendengar suara lenguhan merdu dari balik kamar.


Deg


Jantung Arini seolah berhenti berdetak. Seluruh tubuhnya gemeteran dan hatinya tak tenang.


Mata Arini menyorot tajam ke arah kamar Andre.


Instingnya menuntun langkah Arini maju mendekati kamar Andre.


Suara-suara aneh yang tak pantas didengarnya kini jelas terdengar dari kamar yang tadi malam sempat ditempatinya.

__ADS_1


Tangan Arini perlahan mendorong pintu yang sedikit terbuka. Jantungnya seperti berdegub lebih kencang dan suhu tubuhnya memanas.


Rasa penasarannya mengalahkan rasa cemasnya. Arini mendorong pintu kamar Andre sehingga terbuka lebar.


Deg


Dadanya terasa sesak, matanya terbelalak melihat adegan tak senonoh di depan matanya.


"Astaghfirullahalazim.... " Bibir Arini begetar hebat sambil mengucap istigfar melihat suaminya sedang melakukan perzinahan di depan matanya.


Seketika badannya dibuat lemas tak bertenaga. Arini hampir saja limbung untung badannya tertahan pintu sehingga masih bisa berdiri walau tidak bisa tegak sempurna.


Kedua manusia berbeda gender tanpa sehelai benangpun menghentikan aksinya karena kaget ada pergerakan di belakangnya.


"A.. a rini.. " Suara gugup Andre menyebut nama Arini begitu matanya melihat Arini di depan pintu. Andre segera mencabut pedang pusaka nya. Dia baru tersadar bahwa di apartemennya ada orang lain. Entah kenapa dia lupa diri dalam buaian Renata yang memabukkan dirinya.


Arini dengan badan lemas dan pikiran linglungnya membalikkan tubuhnya. Lalu berjalan sambil bergumam.


"Astagfirullahalazim... astagfirullahalazim... " Beberapa kali Arini menyebut istigfar dengan mengusap dadanya yang sekarang terasa sakit. Dia berjalan kembali ke dalam kamarnya.


Derai air matanya kini meleleh dengan cepat di pipi nya merasakan sakit di hatinya.


Brak.. Brak


Dua hantaman mengenai cermin dinding kaca. Balutan putih yang dari kemarin menutupi pergelangan tangan Arini kini terbelah.


Arini langsung membuka pintu lemari membawa satu stel baju dan ********** juga membawa kerudung bergo yang biasa dipakai santai.


Arini segera memakai seperangkat baju yang baru saja diambilnya. Hatinya begitu sakit melihat pengkhianatan suaminya di depan mata.


Arini membawa tas kerjanya lalu memasukkan benda-benda yang dianggap penting olehnya ke dalam rangsel itu.


Deraian air mata semakin deras keluar dari matanya.


Arini keluar dari kamarnya dan memakai sepatu yang dia beli kemarin. Tangannya terasa ngilu begitu bergerak.


Arini melangkah cepat menuju pintu.


"Arini... " Suara panggilan yang cukup keras keluar dari mulut Andre.


Sejenak Arini berhenti melangkah karena kaget. Setelah tenang Arini meneruskan langkahnya keluar apartemen Andre

__ADS_1


__ADS_2