
Arini pergi ke luar ruangan Edward.
Kenapa gue jadi kejebak disana ya? Bayi besar itu benar-benar nyusahin.
Arini pergi ke mushola dan menunaikan kewajibannya dengan khusyu. Setelah selesai berdzikir juga bedoa lantas Arini keluar dari mushola dan mencari tempat yang tidak terlalu ramai.
Diambilnya benda pipih miliknya dan dia mencari mencari kontak yang bernama 'Umi tersayang'
"Assalamu'alaikum mi.. " Suara Arini terdengar lebih riang.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab umi begitu bahagia mendapatkan panggilan. Selama ini ibunya jarang melakukan panggilan terlebih dahulu, khawatir anaknya sibuk kerja. Jadi Arini selalu memulai dahulu menghubungi ibunya.
"Apa kabar umi? Sehat?" Arini meski menelpon tiap hari, tidak lupa selalu menanyakan kabar dan kesehatannya.
"Alhamdulillah umi sehat sayang. Cuman umi kangen sama kamu nak.. "Suara umi begitu dalam seperti sudah lama tidak bertemu. Ada beberapa hal yang sedang dipikirkan sang ibu saat ini. Yaitu mengenai keberadaan putrinya, juga mengenai kabar pernikahannya.
"Iya.. nanti Arini pulang kalau waktunya memungkinkan. Kebetulan ada pasien yang tak bisa ditinggalkan jadi Arini belum bisa menjenguk umi." Arini beralasan agar ibunya tidak mencurigai apa yang sebenarnya terjadi.
"Oh.. begitu ya? Kabar kamu bagaimana nak? Boleh umi minta VC? Umi kangen sekali lihat wajah kamu." Ibunya sengaja meminta Arini melakukan panggilan VC agar dia bisa melihat anaknya dengan jelas.
"Iya baik mi." Arini yang berada di rumah sakit tidak menolak permintaan ibunya. Entah kalau dirinya sedang tidak berada di rumah sakit, bisa-bisa ibunya mengetahui kebohongannya.
"Halo umi.. " Arini melambaikan tangan dari layar handphone. Ibunya Arini dengan mata berkaca-kaca melihat putrinya dengan haru. Dia sedang menatap jauh, apakah putrinya sedang bahagia ataukah sebaliknya.
__ADS_1
"Halo.. sayang.. ibunya Arini membalas dengan lambaian tangan juga. Bukannya senang tapi hatinya seperti sakit melihat anaknya pura-pura senang dan menyembunyikan masalah sebenarnya.
"Ini sedang dimana nak?" Tanya ibunya Arini ingin menguji kejujuran anaknya.
"Ini di taman mi, deket mushola. Kebetulan Arini habis shalat dan ingin menelpon umi sebelum masuk lagi ke ruangan." Jawab Arini jujur.
"Oh.. kamu sedang tidak melakukan operasi nak? Biasanya kalau mau operasi suka minta doa dulu sama umi. Tapi sudah hampir dua minggu ini umi tidak pernah mendapatkan kabar. " Ibunya Arini tentu tak mau anaknya merasa terpojokkan.
"Mmm.. iya mi. Kebetulan ada dokter beru, jadi Arini hanya bantu-bantu dikit. Kaya sekarang Arini hanya ditugaskan memantau pasien saja. Tapi Arini senang kok, jadi gak terlalu cape." Arini tak tahu harus menjawab apa untuk menghilangkan kecemasan dan kecurigaan ibunya.
"Oh begitu. Iya baguslah. Sudah menikah jangan terlalu sibuk bekerja agar suami bisa terurus dan bisa cepat punya momongan." Ucap ibunya Arini ikut melakukan kepura-puraan.
"Iya mi. InsyaAllah." Jawab Arini pelan. Ada kesedihan di wajah Arini begitu ibunya mengatakan tentang angan sebuah keluarga. Bagaimana mau mempunyai momongan, disentuh pun tidak. Bahkan jika sudah satu bulan maka talak pun akan jatuh karena ucapan Andre yang memang ingin menceraikan dirinya setelah satu bulan. Arini harus bertahan untuk menunggu satu bulan itu, baru bisa mengabari kondisi pernikahannya. Dia sengaja menghindar agar tak. terjadi masalah sebelum satu bulan. Ditambah dia begitu sakit ketika suaminya terang-terangan berselingkuh di depan matanya. Meski Andre tidak mencintainya dan pernikahan ini adalah perjodohan, tetap saja dia sebagai istri merasa tidak.dihargai. Sebagai perempuan tidak dihormati.
"Nak.. pulanglah jika kamu ingin pulang! Pintu rumah umi selalu terbuka untuk kamu kapanpun kamu mau datang. Jangan sungkan jika kamu ingin pulang. Pulanglah ke rumah jangan ke tempat yang lain nak!" Tak terasa mata umi meneteskan air mata seolah sedang tahu apa yang sedang dirasakannya.
"Iya nak. Umi do'akan semoga kamu baik-baik saja! Pasien-pasien kamu juga sembuh kembali
Agar umi bisa bertemu dengan kamu nak. Pulanglah jika kamu sudah tidak betah ya! Jangan pergi kemana-mana!" Hanya itu yang bisa dikatakan ibunya Arini saat ini. Menarik putrinya agar dia merasa nyaman dan mau kembali pulang.
"Iya baik mi. Arini tutup dulu ya mi teleponnya. Nanti Arini telepon lagi." Ucap Arini tak mau berlarut-larut dalam kesedihan melihat ibunya meneteskan air mata.
"Iya nak. Jaga diri dan kesehatan kamu!" Umi Syarifah melihat wajah Arini sedikit agak tirus.
__ADS_1
"Iya mi. Umi juga. Assalamu'alaikum." Arini melambaikan tangannya dengan senyuman.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Begitupun umi Syarifah melambaikan tangannya membalas Arini dengan mata berlelehan air mata.
Tak lama kemudian handphone pun mati. Arini terdiam sambil menunduk. Air mata yang dari tadi ditahannya kini jatuh pula di pipinya. Dia menangis sendirian di taman yang agak sepi. Punggung terlihat naik turun karena isakan. Dan tak jauh dari Arini duduk sepasang bola mata dari tadi memperhatikannya.
Dokter Kris datang kembali ke rumah sakit dimana Arini sedang berada setelah diberitahu oleh temannya Made. Tadinya dia menunggu Arini selesai menelpon. Tapi langkahnya ditahan ketika melihat Arini menangis tersedu-sedu.
Setelah dirasa puas menangis, Arini pun pergi ke sebuah toilet untuk mencuci mukanya agar tidak terlihat sembab.
Setelah merias sedikit wajahnya dengan bedak, Arini keluar dari toilet perempuan.
Tapi tepat di pintu toilet perempuan dokter Kris sudah berdiri di depan pintu. Dan sontak Arini pun merasa kaget begitu pandangannya beradu dengan dokter Kris di sana.
"Dokter... " Bibir Arini bergerak menyebut seseorang yang dikenalinya. Tak menyangka dokter Kris tiba-tiba ada di depannya.
"Maaf kalau saya membuat kaget anda." Dokter Kris sedang menahan diri dari sifat tergesa-gesa nya.
"Anda... sedang apa?" Tanya Arini yang masih kaget.
"Mmm.. saya ingin berbicara dengan anda. Bisakah anda mengikuti saya sebentar?" Tanya dokter Kris tak mau membuat Arini tertekan.
"Mmm.. baik. Tapi sebentar ya! Saya sedang ditunggu." Arini khawatir seseorang akan mencarinya. Padahal ada yang lebih dicemaskannya saat ini yaitu apa yang akan dilakukan orang yang ada di depannya.
__ADS_1
"Baik." Dokter Kris sedang mengubah sikapnya pada Arini agar dia merasa nyaman. Mungkin penyebab terbesarnya Arini lari dari rumah sakitnya adalah dia sendiri.
Kris berjalan di depan sedangkan Arini berjalan di belakang dokter Kris mirip baris antrian.