Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Ide gila


__ADS_3

Andre menatap bingung rumah asri yang berada di depannya.


Masuk.. Jangan.. masuk.. jangan...


Itu yang sedang dipikirkan Andre sekarang ini. Menatap rumah asri milik mertuanya membuat nyali Andre menciut.


Bagaimana kalau Arini ada di dalam dan sudah mengadukan dirinya?


Bimbang sudah pilihan Andre saat ini.


"Lebih baik masuk saja dulu. Siapa tahu Arini bisa berbaikan denganku." Andre turun dari mobil Gery memutuskan untuk masuk ke dalam rumah mertuanya. Tak lupa oleh-oleh yang tadi dibelinya di tukang buah yang tadi dilewatinya ketika dia akan menuju rumah mertuanya.


"Assalamu'alaikum." Andre memberi salam. Ada laki-laki tukang kebun juga yang biasa menjadi sopir mertuanya terlihat sedang mengurus pekarangan rumah itu.


"Eh den Andre... masuk!" Dia dengan ramah memyambut Andre.


"Iya mang.. Terima kasih. Umi nya ada mang?" Tanya Andre pada laki-laki paruh baya itu.


"Ada.. malah tadi mamanya den Andre sudah dari sini." Ucap laki-laki itu mengabarkan bahwa ibunya habis berkunjung.


Waduh.. Jangan-jangan mereka sudah tahu.


Andre sangat cemas mendengar kabar ibunya habis berkunjung.


"Sebentar saya panggilkan umi nya dulu ya!" Laki-laki tadi mencuci tangan lalu bergegas ke dalam rumah mencari majikannya.


Tak lama kemudian Umi Syarifah muncul dari belakang Andre.


"Eh.. Andre.. mana Arininya?" Umi Syarifah mengedarkan matanya mencari putri kesayangannya.

__ADS_1


"Mmm... maaf mi.. Arini tidak ikut. Dia sedang sibuk. Banyak jadwal di rumah sakit." Bohong Andre pada mertuanya. Dia sedikit agak lega ternyata Arini tidak ada di rumah itu.


"Oh... umi kira kalian datang bersama. Ayo masuk! Jangan disana!" Umi Syarifah, mertuanya Andre mengajak Andre masuk ke dalam ruang tamu.


"Terima kasih mi." Andre pun masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi single yang ada di ruang tamu itu.


"Ini mi.. Andre bawakan buah buat umi." Andre menyodorkan parcel aneka buah untuk mertuanya sebagai buah tangan di atas meja.


"Duh... repot-repot nak Andre bawa ini." Umi Syarifah tersenyum melihat menantunya yang baik sekali membawa oleh-oleh.


"Ah.. tidak seberapa mi. Andre belum tahu kesukaan umi. Jadi Andre asal beli saja." Ucap Andre merendah.


"Wah.. umi suka apa saja nak Andre. Bahkan apa yang dibelikan Arini selalu saja umi makan. Umi tidak pilih-pilih makanan orangnya." Jawab Umi Syarifah agar menantunya senang.


"Iya mi." Jawab Andre pelan.


"Wah.. bagaiman kabar kalian? Sehat? Baru juga dia hari ditinggalkan kok umi kangen banget. Apalagi Arini tidak ada menelpon umi. Apa kalian tidak mengambil cuti?" Umi Syarifah agak heran dengan anak dan menantunya. Setelah menikah kok tidak mengambil liburan atau cuti.


"Oh.. begitu? Lalu kapan kalian mau honey moon. Tadi mama kamu dari sini. Katanya pengen ketemu juga sama kamu. Eh.. panjang umur, anaknya malah datang kesini." Umi Syarifah tidak mencurigai sedikitpun pada Andre.


"Iya mi. Ini juga Andre disuruh Arini menjenguk umi. Katanya maaf tidak bisa datang. Nanti kalau sudah agak santai Arini akan datang kesini lagi." Andre mengarang cerita demi menutupi kesalahan dirinya.


"Iya tidak apa-apa. Umi maklum. Jam kerja Arini tidak menentu jika sedang ada operasi. Cuman umi heran, biasanya tiap kali mau melakukan operasi Arini suka mengirimkan pesan pada umi, minta doa. Tapi... sekarang malah tak ada kabar berita. Dikira umi, kalian sibuk honeymoon." Terang umi Syarifah menceritakan kebiasaan Arini.


"Oh.. begitu ya mi. Mungkin sekarang saking sibuknya mi.. " Kilah Andre.


"Oh.. iya umi sampai lupa, menawari nak Andre makan. Pasti Arini sibuk tidak bisa menyiapkan makan ya? Yuk kita makan.. mumpung umi masak banyak. Tadi ada mamah nak Andre ke sini jadi umi sengaja masak banyak." Umi Syarifah mengajak Andre untuk makan di rumahnya.


"Mmm.. Baiklah mi. Tapi habis makan Andre mau langsung pulang. Kebetulan di apartemen ada tamu. Tadi Andre meninggalkannya karena tanggung mau pergi." Andre tidak tenang jika harus berlama-lama.

__ADS_1


"Oh.. begitu ya? Baiklah umi bekalkan saja bagaimana? Biar nanti bisa dimakan bersama Arini. Dia pasti suka kalau umi masak rendang." Umi Syarifah sangat antusias.


"Baik mi. Dibekal saja." Andre sengaja mempersingkat waktu agar pencarian Arini bisa dilanjutkan. Tapi sebenarnya dia bingung, kana lagi harus mencarinya.


"Ini nak Andre jangan lupa kalian harus akur ya! Umi titip Arini sama nak Andre. Kalau senggang kalian menginap lah disini!" Umi Syarifah merasa kesepian sejak perginya Arini dari rumah itu. Tapi apa boleh buat, karena Arini harus mengikuti suaminya.


"Iya Terima kasih mi. Andre pulang dulu ya mi! Assalamu'alaikum." Andre mencium punggung tangan mertuanya dan pergi meninggalkan rumah itu.


Sepanjang perjalanan Andre bingung harus kemana dia mencari Arini.


Tapi Andre memutuskan untuk kembali lagi ke apartemennya.


Klek pintu apartemen terbuka. Ternyata Renata belum juga pulang. Dia masih duduk di sofa sambil menonton televisi.


"Kamu darimana?" Tanya Renata.


"Aku mencari istriku. Kenapa kamu belum juga pulang? Kedatangan kamu merusak rencana." Andre menyalahkan Renata akan kaburnya Arini.


Andre menyimpan makanan yang tadi dibekal nya


"Bukankah kamu suka aku datang? Mana mungkin kamu menyambut ku kalau kamu tidak suka. Lagian baguslah istrimu menyerah lebih cepat. Jadi kita bisa menikah secepatnya." Renata dengan santai menyikapi masalah tadi.


"Ishh.. kamu bisa bersabar tidak sih? Tunggu satu bulan! Kalau buru-buru nanti kita yang rugi juga. Kecuali kamu siap miskin." Terang Andre.


"Buat apa ayah kamu bangun perusahaan kalau akhirnya tidak ada generasi penerus? Kenapa harus miskin? Padahal saat ini kamu sedang memimpin perusahaan. Kenapa tidak kamu ambil saja dulu uang perusahaan dan simpan dengan aman? Lalu setelah itu kamu bisa lepas dari orang tua kamu." Renata memberi ide menyuruh Andre mencuri di perusahaannya sendiri.


Andre terdiam. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Renata. Jika dia mempunyai simpanan banyak, dia bisa membuka usaha sendiri. Dan jika nantinya pernikahan dengan Renata tak direstui, tinggal pergi saja tanpa harus khawatir miskin.


"Sebaiknya kamu pulang dulu! Aku masih banyak pekerjaan." Andre menyuruh Renata untuk pulang. Selain pekerjaannya masih menumpuk, dia juga tidak bisa berpikir jernih saat ini.

__ADS_1


"Oke aku pulang sayang.. " Renata menghampiri Andre lalu mereka saling berpelukan tanpa merasa berdosa. Selanjutnya mereka mempertemukan kedua bibir sebagai perpisahan.


Andre mengantar sampai pintu apartemen. Tak disangka seseorang memergokinya lagi.


__ADS_2