Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Kembalilah anakku


__ADS_3

"Baik.. nanti saya akan bicara sama anak saya Arini, dokter Damar. Mudah-mudahan dia mau kembali bekerja lagi." Ucap umi Syarifah sambil menyembunyikan keterkejutannya. Dia harus tahu kebenaran yang sedang dialami Arini. Apa ada hubungannya dengan suaminya? Atau ada hal lain yang menyebabkan dia seperti itu.


"Baik umi. Saya akan datang lagi kalau dokter Arini sudah siap. Saya kesulitan menghubunginya untuk saat ini. Jadi saya mohon maaf jika saya meminta tolong umi sebagai jembatan untuk menghubungi dokter Arini secepatnya." Ucap dokter Damar tidak mau berlama-lama.


"Iya baik. Nanti akan saya bantu bicara padanya." Ucap umi Syarifah tersenyum tipis. Ada baiknya dokter Damar datang ke rumahnya. Kalau tidak dia tidak akan tahu apa yang sedang terjadi dengan anaknya sekarang.


"Baik umi. Saya permisi dulu. Ini kartu nama saya. Kalau sudah ada kabar, tolong hubungi saya secepatnya. Kedatangan dokter Arini sangat dinantikan." Dokter Damar pamit permisi untuk kembali ke rumah sakit setelah menyampaikan maksud dan tujuannya.


"Baik Terima kasih atas kunjungannya." Jawab umi Syarifah sambil berdiri hendak mengantarkan tamunya.


"Iya umi. Assalamu'alaikum." Ucap dokter Damar mengucapkan salam lalu berjalan ke arah mobilnya.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Umi Syarifah menjawab salam sambil berdiri melihat mobil dokter Damar berlalu dari hadapannya.


Umi Syarifah meraba dadanya. Insting ibu senantiasa dekat dengan anaknya.


Pantesan umi ingat terus sama kamu nak. Apa. yang telah terjadi dengan kamu? Apa suamimu tidak baik? Kenapa dia datang ke sini sambil berbohong. Apa yang sedang terjadi denganmu?


Umi Syarifah berkaca-kaca. Dia merogoh benda pipih miliknya untuk menghubungi Arini.


Tut


Tut


Tut


Dada umi Syarifah berdegub tidak beraturan. Bahkan tangannya bergetar ketika benda pipih itu ditempelkan pada telinganya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum umi." Arini mengucap salam terlebih dahulu.


"Waalaikumsalam warahmatullahi. wabarakatuh." Jawab umi. Syarifah dengan nada sedikit bergetar. Dia tak ingin langsung bertanya pada Arini tentang apa yang dicemaskannya. Dia tak. khawatir kalau Arini keluar kerja atau tak mau lagi melanjutkan profesinya. Tapi kecemasan ibu yang satu ini lebih ke nasib anaknya. Kenapa dia sampai menyembunyikan cedera dan pengunduran dirinya. Juga kebohongan andre tentang Arini. Pasti ada yang sedang terjadi dengan pernikahan keduanya.


"Eh umi.. apa. kabar mi?" Arini pun sama halnya seperti umi Syarifah. Dia deg-deg ana ketika melihat layar handphone menyala dan tertera nama 'umi' di layar pipih itu. Arini mengatur nafas agar tidak terdengar gugup.


"Baik kak.. kamu sendiri bagaimana sehat?" Tanya umi Syarifah. Saat ini dia ingin mendengar jawaban Arini yang sejujurnya.


"Alhamdulillah umi.. Arini baik-baik saja." Jawab Arini setengah bohong. Disebut baik ya.. memang sedang baik karena saat ini Arini sedang menikmati liburan. Disebut tidak baik, memang hatinya sedang tik baik-baik saja tentang rumah tangganya juga pekerjaannya.


"Alhamdulillah.. umi senang mendengar kamu baik-baik saja. Ini sedang dimana nak?" Umi Syarifah sedang menguji kejujuran Arini.


"Mmm... Arini masih kerja umi, seperti biasa." Arini terpaksa berbohong untuk menutupi keadaan.


"Oh. Jadi masih di rumah sakit?" Tanya umi Syarifah dengan perasaan semakin tidak tenang.


"Lalu apa kabar suamimu? Kemarin dia habis dari sini menjenguk umi. Katanya disuruh sama kamu. Terima kasih ya selalu mengkhawatirkan umi. Umi... sebenarnya ingin sekali menjenguk kalian, tapi... takutnya kalian sedang sibuk." Umi Syarifah berkaca-kaca, matanya mengembun merasa sedih. Dia tahu anaknya sedang tidak baik-baik saja. Ini malah mengatakan sebaliknya. Ditambah Arini sekarang sedang berbohong, padahal umi Syarifah tahu bahwa anaknya sedang tidak di rumah sakit.


"Baik umi. Oh.. iya mi. Kemarin Arini sangat sibuk, jadi Arini meminta bantuan mas Andre untuk menjenguk umi sekalian ada perlu. Maaf ya mi.. Arimi belum bisa nengok umi... " Lirih Arini tanpa bisa menyembunyikan kesedihannya jika teringat ibunya ini.


"Iya. Umi mengerti. Tidak apa-apa nak. Asalkan kamu sehat dan bahagia umi sangat senang. Berbeda jika kamu tidak sehat dan tidak bahagia. Umi akan sedih sekali. Kamu jangan sungkan sama umi! Rumah ini terbuka untuk kamu kapanpun. Jika kamu sedang bersedih, pangkuan umi masih ada untuk kamu nak. Jadi pulanglah jika hati kamu sedang tidak baik-baik saja. Umi akan selalu menerima kamu apa adanya." Terang umi Syarifah agar Arini mau berterus-terang dan bisa kembali ke rumahnya jika dia merasa ada hal-hal yang menyedihkan


Tes


Air mata Arini jatuh begitu saja mendengar perkataan ibunya. Seolah dia sedang membaca apa yang sedang dirasakannya. Dia tak kuasa menahan sedih dan ingin sekali menumpahkannya pada ibunya saat itu juga. Tapi apa. jadinya kalau ibunya sampai tahu? Terpaksa Arini menahan diri dari rasa itu. Dia tak ingin ibunya ikut bersedih atas nasib yang sedang dijalaninya.


"Iya mi. Terima kasih atas perhatian umi. Doakan Arini ya mi. Maaf mi... Arini sedang ada tamu, jadi Arini tutup dulu teleponnya." Ucap Arini tak mau berlama-lama di telepon khawatir ibunya mendengar suaranya yang mulai serak.

__ADS_1


"Oh iya. Maaf umi jadi mengganggu. Assalamualaikum." Umi Syarifah pun segera menutup teleponnya.


"Waalaikumsalam salam." Jawab Arini terisak.


maafkan aku mi.. aku sudah berbohong. Jangan benci Arini ya mi... Arini terpaksa melakukan hal ini.


Arini terisak di dalam kamar hotel. Tadinya Arini akan keluar untuk mencari makan sambil jalan-jalan menikmati pemandangan seputar ubud. Tapi gara-gara panggilan telepon ibunya, moodnya berubah jadi sedih.



Arini melakukan panggilan pesan antar makanan. ke dalam kamarnya untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Tadi pagi Arini sempat mengisi perutnya dengan makanan ringan di cafe hotel. Tadinya siang ini dia akan keluar kamar. dan akan jalan-jalan sambil mencari makan di luar hotel agar tidak bosan.


"Ini pesanan anda nona!" Dua orang pelayan mengantarkan makanan pesanannya.


"Simpan di meja luar saja! Aku ingin makan disana!" Ucap Arini pada kedua pelayan itu.


"Oh.. baiklah." Keduanya pun patuh untuk mengikuti keinginan Arini menyimpan makanan di meja yang berada di halaman kamarnya.


"Terima kasih." Ucap Arini begitu kedua pelayan itu selesai menata meja.


"Sama-sama." Keduanya langsung meninggalkan Arini.


Arini pun duduk lalu mengambil piring dan mengisi nasi dan ayam betutu ciri khas Bali.


Suap demi suap Arini nikmati, tapi begitu suap ke lima akan masuk ke mulutnya ada seseorang yang berteriak Help me... Help me...


Sontak mata Arini mencari asal suara yang meminta pertolongan dan meninggalkan piring di meja. Arini berjalan menyusuri taman yang memisahkan antar kamar.

__ADS_1


__ADS_2