Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Mengukir harapan


__ADS_3

Umi Syarifah ikut terhenyak mendengar besannya datang ke rumah sakit. Khawatir besannya tahu bahwa Arini sudah tidak bekerja di rumah sakit. Apa. jadinya kalau dia tahu. Dadanya berdebar tidak karuan.


"Kemarin Arini sedang ke Bali ma, ada tugas di sana." Jawab Arini. Dia tidak tahu harus menjawab apa jika dirinya sudah ketahuan. Lebih baik jujur daripada ketahuan bohong.


"Arini tidak banyak membawa oleh-oleh, soalnya keburu disusul pihak rumah sakit untuk segera kembali ke Jakarta." Arini mengeluarkan semua oleh-oleh yang dibelinya di jalan menjelang ke bandara ketika bersama dokter Kris.


"Oh ya? Padahal mamah waktu itu gak jadi ke rumah sakit karena papa melarang. Untung mama pulang lagi. Soalnya kamu juga gak ada." Mama mertuanya malah gak jadi bertemu Arini.


Wah nyesel aku barusan bilang ke Bali. Pasti bakal datang lagi pertanyaan.


Arini melongo mendengar mertuanya tidak jadi datang ke rumah sakit. Menyesal dia sudah bicara jujur.


"Wah.. kok mama gak tahu, bahkan Andre juga tidak ngasih tahu mama." Mertuanya seperti kecewa mendengar menantunya berangkat ke Bali.


"Mungkin mas Andre sibuk ma. Kadang mas Andre suka lupa." Jawab Arini membela suaminya meski dia tidak tahu betul kebiasaan suaminya itu.


"Mmm... malah mama sekarang kasian sama Andre Rin. Dia sedang dihukum papa." Wajah mertuanya jadi murung setelah berkata seperti itu. Mengingat Andre dari kecil. selalu dimanjakan dengan kemewahan kini harus bekerja keras di lapangan.


"Memang kenapa ma?" Arini tidak menahu tentang Andre selama ditinggalkannya. Terakhir dia bertemu selewat waktu di rumah sakit.


"Ya sekarang Andre kerja di perusahaan saudaranya. Bagian lapangan proyek. Tidak bekerja lagi di kantor papa." Mertuanya itu terlihat sedih menceritakan anaknya.


"Mmm. Ga pa-pa ma yang penting mas Andre senang dengan pekerjaannya. Dia juga harus belajar dari bawah kalau ingin maju." Arini benar-benar suport, meski dia tidak tahu betul kenapa Andre sampai dihukum sama ayahnya.


"Apa kamu tidak apa-apa?" Sang mertua seperti mengkhawatirkan menantunya akan meninggalkan anaknya karena kondisinya yang sedang di uji.

__ADS_1


"Apa-apa, kenapa ma?" Arini agak mengerutkan dahinya.


"Ya kan Andre sekarang kondisinya kaya gitu Rin. Mama khawatir kamu bakal ninggalin Andre." Sang mertua akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya. Dia lalu memegang tangan Arini dengan mata yang berkaca-kaca. Tersirat banyak pikiran dan kekhawatiran di wajah ibunya Andre.


"Ya tidak ma. Masa iya Arini meninggalkan mas Andre karena hal itu. Yang ada mas Andre.. " Arini tidak melanjutkan kalimatnya.


"Kenapa dengan Andre sayang? Apa dia menyakitimu?" Sang mertua tiba-tiba menatap Arini dengan wajah cemas.


Arini malah melihat ke arah ibunya. Umi Syarifah membaca ada kecemasan di wajah anak semata wayangnya itu.


"Gak pa-pa ma." Arini menjawab dengan memendam apa yang dirasakannya.


"Kamu kalau ada apa-apa bilang sama mama. Kalau Andre tidak baik sama kamu, bilang sama mama ya! Andre memang harus banyak belajar. Mama sama pa-pa memang memaksa Andre untuk menikah dengan kamu Arini semata-mata mama dan papa tidak mau anak kami jatuh pada perempuan yang salah. Terbukti, belum saja menikah, Andre sudah berani mencuri di perusahaannya sendiri." Mama Andre menghela nafas panjang. Ada penyesalan yang besar di raut wajahnya.


"Baru-baru ini Andre mengalihkan beberapa aset atas namanya juga mencair dana perusahaan yang cukup besar ke rekening pribadi." Ibunya Andre merasa perlu untuk memberitahu Arini tentang hal ini. Dia berharap besar Arini bisa mengubah sikap Andre yang mendadak tidak baik seperti itu. Menurut Gery sang asisten sebabnya karena Andre ingin menikahi Renata dan dia takut miskin karena ayahnya Andre mengancam untuk mengeluarkan Andre dari ahli waris kalau Andre sampai menikahi Renata.


"Oh.. begitu ya ma? Maaf Arini tidak tahu tentang hal itu." Arini ikut prihatin atas sikap Andre yang seperti itu.


"Kekhawatiran mama sama papa terbukti. Pengaruh wanita itu membuat Andre menjadi buruk. Mama berharap kamu bisa membantu Andre mengubah sikapnya." Ibunya Andre mengusap lembut punggung Arini. Dia berharap sang menantu bisa membantu anaknya kembali ke jalan yang benar.


Arini hanya terdiam. Dia tak bisa mengubah sikap dan pikiran seseorang, apalagi Andre yang sudah dua kali mengkhianati pernikahannya dengan berselingkuh dengan wanita pujaan hatinya. Dia merasakan sama sakitnya dengan kedua orang Andre ketika tahu anaknya seperti itu.


"Kita do'akan saja jeng. Mudah-mudahan nak Andre kembali ke jalan yang benar. Bukankah doa orang tua itu mustajab." Umi Syarifah yang tahu Arini seperti sedih, menengahi pembicaraan antara besannya dan anaknya.


"Benar mi. Saya juga selalu berdoa untuk kebaikan anak kita. Dasarnya Andre yang keras kepala, susah sekali dinasehati." Mamahnya Andre melampiaskan kekesalannya. Arini juga umi Syarifah hanya jadi pendengar, tanpa bisa membantu banyak. atas permasalahan Andre yang seperti itu.

__ADS_1


"Mama, mau telepon dulu Andre ya! Biar nanti sepulang kerja dia jemput kamu kesini. Atau sekalian menginap disini saja." Ibunya Andre tiba-tiba mempunyai ide agar putranya datang ke rumah Arini.


"Halo Ndre."


"Iya ma. Ada apa?" Andre di seberang telepon menjawab sambil menyipitkan matanya karena menahan panas terik matahari.


"Mmm.. mama sekarang sedang di rumahnya Arini. Arini baru saja pulang dari Bali. Bagaimana nanti sepulang kerja kamu jemput Arini? Mama ingin kalian menginap di rumah mama." Ucap ibunya Andre terlihat semangat.


"Lho kok jadi menginap di rumah mama?" Arini melohok mendengar ibu mertuanya berubah pikiran. Bukankah dia tadi menyarankan untuk menginap di rumahnya?


Arini pulang? Dari Bali?


Jacky sempat kaget mendengar kedatangan Arini. Tapi di buru-buru menarik nafas agar ibunya tidak curiga di kaget.


"Baik ma. Tapi Andre pulang malam banget. Habis dari proyek harus bikin laporan juga. Jadi kayanya Andre bakal malam ke rumah Arini." Jawab Andre senang mendengar kedatangan Arini. Ingin rasanya dia menebus rasa bersalahnya itu meski dia tidak mencintai Arini, tapi dia masih berstatus istrinya.


"Ya udah.. kamu hati-hati kerjanya Ndre! Mamah sekarang kayanya mau pulang dulu." Ibunya Andre tak tega melihat anaknya jadi buruh kasar. Tapi dia tak bisa memprotes keputusan suaminya itu, karena kesalahan Andre begitu fatal.


"Iya ma. Mama juga hati-hati. Salam buat umi di sana." Andre masih menghormati mertuanya yang baik itu. Tak ada yang salah dengan mereka. Mereka hanyalah korban dari perjodohan orang tuanya Andre.


"Baik. Mama tutup dulu teleponnya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


Telepon pun terputus.

__ADS_1


__ADS_2