Perjodohan Arini

Perjodohan Arini
Mencoba mengingat


__ADS_3

Andre melajukan mobilnya dengan pikiran tak menentu. Ingin sekali dia berteriak, tapi ditahannya agar tidak disangka orang gila.


Kalau bukan karena janji, malam ini Andre ingin sekali pergi ke tempat sepi lalu bisa meneriakkan kata-kata kecewanya.


Kenapa kata itu harus keluar dari mulutmu Renata? Aku bahkan selama ini nyaman bersama kamu karena kamu adalah obat bagiku. Tapi malam ini mulut kamu seperti racun buat tubuhku. Aku benci seseorang mengatakan diriku bodoh.


Andre hanya bicara sendiri sambil memukul setir yang sedang dipegangnya membuat bunyi klakson keras keluar dari mobilnya.


Mobil yang ada di depan Andre pun terhenyak kaget karena dia tak merasa bersalah.


Dasar sinting


Sang pengendara merutuk Andre karena kaget bukan kepalang.


Andre sendiri juga kaget karena dia tak berniat membunyikan klakson mobilnya.


Tak lama kemudian mobil Andre pun sampai di rumah mertuanya. Terlihat lampu masih menyala menandakan si pemilik rumah masih. belum tidur.


Setelah klakson dibunyikan, salah satu artnya membuka pintu gerbang dan mobil Andre pun masuk ke halaman rumah mertuanya.


"Terima kasih mang." Ucap Andre pada salah satu art ibu mertuanya ketika Andre turun dari mobil dan bersitatap dengannya.


"Iya sama-sama den." Dia pun menutup kembali gerbang dan menguncjnya dengan gembok.


Andre berjalan menuju rumah mertuanya. Ini adalah kali pertama dia menginjakkan kaki setelah menikah.


Ada rasa canggung di hati Andre untuk memasuki rumah itu.


"Assalamu'alaikum." Andre tidak pantas masuk.


"Eh.. waalaikumsalam. Arini... Suami kamu sudah datang." Terdengar teriakan Sang mertua memanggil istrinya.


Arini yang dari tadi sudah berdandan rapih ingin menyambut Andre pun keluar dari kamarnya.


"Dia sudah datang mi?" Arini pun merasa canggung. Karena ini kali pertama dia menyambut suaminya pulang kerja di rumahnya pula.

__ADS_1


"Sudah. Ayo cepat buka pintunya! Jangan sampai suami kamu menunggu lama!" Ucap umi Syarifah ikut-ikutan nervous.


Klek


Pintu terbuka. Sepasang netra beradu bersitatap saling melihat siapa yang ada di depannya.


Andre tersenyum, begitupun Arini membalas senyum Andre meski keduanya seperti canggung untuk melakukannya. Sejenak masing-masing melupakan masalah yang pernah terjadi.


Arini langsung mengambil punggung tangan Andre hendak menciun tangannya. Tapi Andre malah menyembunyikan tangannya dari jangkauan Arini.


"Maaf tangan aku kotor. Belum cuci tangan." Andre agak malu, karena pekerjaan di proyek banyak debu dan kotor di mana-mana. Dia merasa tidak pantas mendapat cium tangan Arini sebelum mencuci tangannya terlebih dahulu.


"Oh.. " Arini gugup setelah Andre menghindari tangannya untuk disentuh.


"Ayo masuk dulu mas! Umi dari tadi sudah menunggu." Ucap Arini mengajak suaminya masuk.


Andre mengangguk. Dan mengikuti langkah Arini di belakang.


"Eh.. nak. Andre baru datang?" Umi Syarifah menyambut sang menantu dengan senyum. ramahnya.


"Oh.. gak pa-pa. Namanya juga pulang kerja. Silahkan jika mau mandi dulu! Nanti kita makan bersama ya! Umi sudah masak banyak untuk nak Andre dan Arini." Umi Syarifah begitu senang melihat menantunya datang di rumahnya.


"Mas Andre mau mandi dulu? Tadi mama sudah menyuruh sopir mengantarkan baju mas Andre kesini." Ucap Arini yang tahu kalau Andre pastinya tidak membawa baju ganti. Padahal di mobilnya selalu ada baju stok jika Andre ingin berganti pakaian.


"Oh.. iya." Andre menjawab singkat.


"Maaf mi.. Andre tinggal dulu. Andre mau membersihkan badan dulu!" Ucap Andre malu-malu.


"Oh iya silahkan nak Andre. Anggap rumah sendiri. Mohon maaf kalau rumah umi tidak sebesar rumah nak Andre." Ucap Umi Syarifah merendah.


"Baik mi. Terimakasih." Andre mengangguk sambil mengikuti langkah Arini ke kamarnya.


"Sini mas.. ini kamar aku. Mohon maaf kamarnya tak sebagus kamar mas Andre." Ucap Arini yang tahu suaminya itu mengidap OCD.


"Gak pa-pa. Ini juga bagus." Jawab Andre sambil melihat-lihat kamar Arini yang di desain minimalis dengan desain interior modern.

__ADS_1


"Disini mas kamar mandinya. Ini handuknya dan ini baju-baju mas Andre yang dikirim mama tadi sore." Arini membuka walk in closet miliknya dan membagi bajunya dengan milik Andre.


"Mmm.. ma kasih." Ucap Andre masih malu-malu.


Arini melihat wajah Andre yang sedikit gelap dan terlihat lelah. Mungkin karena kerjaannya yang sekarang lebih berat dan lebih banyak terkena sinar matahari. Tapi Arini malah tertarik dengan wajah Andre yang sekarang, yang terlihat maskulin seperti laki-laki, daripada kemarin-kemarin. seperti klimis mirip cowok metropolitan.


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" Andre yang sadar sedang dilihat Arini, agak minder.


"Mmm.. tidak. Aku hanya lihat kamu aja! Kamu kayanya gantengan sekarang." Jawab Arini polos. Dia mengabaikan masalah yang kemarin-kemarin menimpa pernikahannya.


"Mmm.. kamu naksir aku? Kalau kemarin-kemarin aku tidak ganteng? Aneh." Ketua Andre yang merasakan keanehan. Padahal dia tahu penampilannya sekarang jauh sekali dengan kemarin-kemarin yang selalu rapih. Sekarang malah terlihat cuek dan tak terawat.


"Ya sudah.. mas Andre mandi dulu! Nanti kita makan bareng-bareng sama umi." Ucap Arini tak mau banyak berdebat. Apalagi ini kedatangan Andre pertama kali di rumahnya. Dia harus membuat kesan baik dimatanya.


"Ya udah aku mandi dulu." Andre mengambil handuk mandi yang model kimono yang telah disiapkan Arini. Dia masuk ke dalam toilet yang berada di kamar Arini.


Setelah masuk ke dalam kamar mandi, Andre segera membuka pakaiannya dan menyalakan shower. Dia menguyur seluruh tubuhnya di bawah kucuran air yang keluar dari shower. Setelah itu dia menggosok tubuhnya dengan sabun juga shampo yang ada di rak sabun yang tak jauh dari shower.


Lah... dia beli sabun yang biasa aku pakai?"


Andre melihat kemasan sabun yang sama seperti yang ada di apartemennya. Dia melihat ada usaha Arini begitu kuat. Ternyata dia mengingat semua yang biasa dipakainya.


Andre melanjutkan sampai mencuci rambutnya dengan shampoo yang biasa dipakainya selama ini.


Setelah selesai dia pun membilas sampai bersih badan juga rambutnya yang terkena sabun dan sampo.


Setelah selesai mandi, dia memakai handuk kimono dan keluar dari kamar mandinya.


Wangi sabun dan sampo yang digunakannya begitu mengguar di kamar Arini begitu Andre keluar dari kamar mandi.


"Mmm.. ini mas pakaian ganti sama parfumnya." Arini menyimpan baju ganti Andre di atas kasur dan menunjukkan alat-alat yang biasa dipakai Andre di meja riasnya.


"Kamu.. sengaja beli baru?" Andre melihat semua masih tersegel.


"Mmm." Jawab Arini duduk menunggu di tepian kasur.

__ADS_1


"Terimakasih kamu mengingat semuanya. Aku malah lupa apa saja yang biasa kamu pakai." Andre membalikkan badan lalu melihat ke arah Arini.


__ADS_2