
Bukk
Arini menabrak dada bidang seorang laki-laki yang posisinya lebih tinggi darinya. Aroma parfumnya lumayan kuat. Arini tak berani mengangkat wajahnya karena air mata terus turun tanpa ditahan.
"Maaf." Arini membungkukkan badan sebagai permintaan maaf.
Orang yang ditabrak hanya mengangguk, karena masih kaget.
Laki-laki itu keluar dari dalam lift dan pintu pun segera tertutup karena ditekan seseorang.
"Bos... " Gery melihat wajah Andre kusut dan begitupun dengan bajunya.
Andre tak menghiraukan panggilan Gery. Dia hanya fokus melihat pintu lift yang sedang berjalan aktif bawah. Begitupun yang di sebelahnya.
"Sial.. " Andre menyugar rambutnya kasar lalu memegang lulutnya berjongkok.
"Pak.. Andre." Gery kembali memanggil bosnya.
Andre menoleh melihat Gery.
"Bapak sedang apa disitu?" Gery heran melihat sikap bosnya yang terlihat kacau.
"Sudahlah.. bukan urusan kamu!" Andre langsung melengos pergi begitu pintu lift yang satunya terbuka.
Gery masih mematung ditempat dia berdiri. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Kenapa dia?"
Gery bergumam sendiri melihat keanehan bosnya. Dia melangkah berjalan menuju apartemen bosnya sambil menggelengkan kepalanya.
Ting tong, Ting tong
"Eh.. kan si bos.. gak ada. Gimana gue masuk?" Baru saja Gery bergumam pintu apartemen malah terbuka.
"Eh.. " Gery terkejut.
__ADS_1
"Kamu? Renata?" Gery kaget dengan keberadaan kekasih bosnya yang ada di apartemen. Lalu matanya bolak-balik kiri-kanan berpikir.
Lah si bos tadi kenapa? Ini kekasihnya disini kok dia malah pergi? Jangan-jangan dia ketahuan selingkuh sama istrinya. Eit.. lalu tadi yang nabrak aku.. jangan-jangan dia istrinya?
Gery sedang menyambungkan satu kejadian dengan kejadian yang lain.
"Kamu mau berdiri terus disitu?" Renata menegur Gery.
"Hah?" Gery masih bingung. Apakah dia harus masuk atau pergi? Dia khawatir malah menambah kekisruhan masalah bosnya.
"Aku.. kayanya pergi deh.. " Gery memutuskan untuk pergi dari apartemen bosnya. Melihat. sekilas kejadian antara bosnya juga kekasihnya, pasti ada kejadian besar di balik itu. Dia tak mau memperkeruh keadaan.
"Serah kamulah!" Renata kembali menutup pintu.
"Mmm si Bos.. kamu tuh.. kebangetan banget. Baru saja menikah.. selingkuh sudah ketahuan."
"Eh sebentar... sebenarnya istri si bos tinggal di mana sih? Kalau aku lihat kayanya dia ada di apartemen tadi. Kacau.. kacau.. si bos raja tega selingkuhan dibawa satu atap." Gery bicara sendiri.
Gery berjalan menuju lift.
Dilantai satu Arini mencegat taxi yang lewat.
Andre yang berlari untuk mengejar langkah Arini sekarang terengah-engah melihat taxi yang ditumpangi Arini melaju cepat.
"Sial.. gue lupa gak bawa dompet." Andre menggerutu kesal karena tadi terburu-buru dia hanya sempat memakai pakaian saja.
Gery yang sedang berjalan di lantai satu melihat Andre yang sedang berdiri dengan mengusap wajahnya kasar. Dia menghampiri Andre.
"Pak Andre.. " Panggil Gery.
Andre menoleh ke arah suara.
"Ah.. elu.. Gue minta konci mobil elu sama keluarin isi dompet elu. Nanti gue ganti." Andre seperti menemukan ide begitu Gery muncul di hadapannya.
"Lah.. bos malak bawahan." Gery membawa dompetnya lalu mengeluarkan sejumlah uang cash dan mengambil kunci mobilnya dari saku celana.
__ADS_1
"Good luck!" Gery melemparkan kunci yang langsung ditangkap Andre tepat di telapak tangannya.
Andre langsung mengambil mobil Gery melaju menyusul Arini entah kemana dia pergi.
"Maafin aku Rin.. gue beneran khilaf. Kamu pasti marah banget. Aku benar-benar khilaf." Andre bicara sendiri menyesali perbuatannya yang tak pantas dia lakukan di depan istrinya. Meski dia tak mencintai Arini tapi perbuatannya memang keterlaluan berselingkuh lalu ketahuan melakukan perzinahan di depan Arini. Andre pun sebenarnya merasa malu sekali.
"Kemana gue harus mencarinya ya?" Andre menepikan mobilnya. Handphonenya pun dia tinggalkan di apartemen. Lalu bagaiman dia akan menghubungi Arini. Sekarang kecemasan Andre semakin besar. Bagaimana dengan nasib pernikahannya yang baru dua hari ini? Akankah Arini melaporkan dirinya pada kedua orang tuanya? Kalau iya. Habislah ia, Siap-siap menjadi orang miskin.
"Apapun yang terjadi gue harus menemukan Arini. Gue belum siap miskin. Dia harus tetap menjadi istriku." Andre egois. Dia hanya mementingkan kesenangannya tanpa mengindahkan perasaan Arini yang sakit hati karena perbuatannya.
Andre memarkirkan mobil Gery di depan rumah sakit tempat Arini bekerja.
"Aku akan mencari dia disini dulu." Andre lantas keluar dari mobil lalu masuk ke dalam rumah sakit. Andre langsung menemui bagian informasi untuk meminta izin bertemu Arini.
"Maaf mbak.. Apakah saya bisa bertemu dengan dokter Arini bagian bedah?" Tanya Andre pada bagian informasi.
"Sebentar tuan. Saya cek dulu!" Perempuan itu langsung mengetikkan sesuatu di layar komputer.
"Maaf tuan. Dokter Arini sedang cuti. Mungkin jika tuan ingin memeriksakan diri bisa digantikan dengan dokter lain." Perempuan itu dengan ramah menyambut Andre.
"Maaf.. saya suaminya dokter Arini. Saya datang kesini buat bertemu dia bukan untuk diperiksa." Terpaksa Andre berbicara terus terang.
"Mm.. anda suaminya ya? Kenapa tidak ditelpon langsung pak? Karena dokter Arini sedang cuti." Jawab Perempuan di bagian informasi agak heran.
"Saya lupa tidak membawa handphone. Tadi saya lihat dia kesini. Tapi kalau saya langsung masuk, takut tidak sopan. Bisakan anda membantu saya untuk menelponnya?" Bohong Andre agar perempuan itu mau membantunya.
"Sebentar saya telepon dulu." Perempuan itu menatap curiga pada Andre. Pasalnya dia tahu dokter Arini belum menikah. Ini datang-datang ada yang mengakui sebagai suaminya.
"Halo pak. Maaf ini ada yang mencari dokter Arini, katanya suaminya. Dan dia ingin bertemu dengan dokter Arini." Perempuan yang bertugas melayani pengunjung itu mengabarkan pada dokter Damar.
"Apa? Suaminya? Dokter Arini tidak punya suami. Katakan saja dokter Arini tidak sedang bekerja disini. Kalau ada hal pribadi silahkan bicara di luar rumah sakit." Ucap dokter Damar mengantisipasi masalah.
"Baik Pak. Mohon maaf kalau sudah mengganggu bapak." Ucap perempuan itu sambil membungkuk meski orang yang diajak bicara tidak ada di depannya. Dia menutup teleponnya.
"Maaf Pak. Sesuai dengan apa yang telah disampaikan saya tadi, Dokter Arini sedang cuti dan tidak ada di rumah sakit." Meski kesal perempuan itu tetap harus tersenyum pada para tamu rumah sakit.
__ADS_1
"Mmm.. baiklah. Maaf saya telah merepotkan anda." Ucap Andre. Dia memutar tumit meninggalkan bagian informasi dengan langkah lemas. Dia tak bisa menemukan Arini di rumah sakit.
"Apakah aku harus ke rumah umi? Pura-pura menengok?" Terbersit dalam pikiran Andre untuk mengunjungi rumah mertuanya.