
"May be." Jawab Edward malu-malu. Karena dia memang benar terkejut setelah melihat apa yang dikirimkan Andre padanya.
Ada hubungan apa antara Andre dan Arini? Aku belum pernah melihat Andre berfoto bersama. dengannya di halaman IG nya. Lalu kemarin dengan siapa dia menikah? Kalau dengan pacarnya pastilah dia akan upload di sosmed. Tapi ini tidak.
Kini matanya Edward melihat pada jari-jari Arini. Matanya sangat awas begitu melihat satu cin-cin yang melingkar di jari manis dokter Arini.
Jangan-jangan dia istrinya?
Edward menebak-nebak.
"Kenapa anda melamun? Coba sedikit berbaring!" Dokter menyuruh Edward untuk terlentang agar memudahkan dia memeriksanya.
Mata Edward tak mau lepas melihat Arini. Arini yang sedang ditatap berusaha mengalihkan perhatiannya mengikuti dokter yang sedang memeriksa Edward.
"Anda beruntung didampingi dokter handal. Sebaiknya anda istirahat relaks dulu! Jangan memegang dulu gadget dan jangan dulu memikirkan hal berat. Jantung anda masih lemah. Sebaiknya anda lebih tenang agar tidak terkena serangan." Dokter selesai memeriksa Edward lalu menambahkan dosis obat di infusnya agar bisa lebih relaks dan istirahat.
"Mmm...sebaiknya tuan Edward dalam pengawasan dulu. Apa anda akan menjadi dokter. pribadinya?" Tanya dokter Alvin melihat Arini.
"Tidak dok! Sebaiknya carikan yang lain saja! Saya hanya sedang liburan bukan untuk bekerja. Disini pun tadi karena ibunya pasien menarik saya kesini untuk mengucapkan terimakasih." Terang Arini yang tidak berminat sama sekali untuk jadi dokter pribadinya.
"Aku tidak mau yang lain dok! Saya maunya dia!" Edward yang terbaring lemah masih bisa bercakap-cakap.
"Ish.. aku gak mau. Kenapa sih kamu maksa banget." Arini mendengus kesal melotot ke arah Edward.
"Aku sudah nyaman sama dia. Lagian siapa yang akan membiayai pasien yang tadi kamu bawa, kalau kamu tidak ada?" Edward seperti sedang memaksa.
"Ya aku masih bisa bayarin mereka kok! Kamu nya aja kenapa harus bayarin mereka. Gak ada yang maksa kan? Lagian kamu jangan kaya gitu deh! Katanya mau balas budi, balas aja pake itu. Selesai kan!" Arini jadi kesal mendengar Edward menahannya gara-gara istri pak Surya sudah dibiayai oleh keluarga nya.
"Mmm.. kalian tenang! Pasien sama dokter kok bertengkar? Jangan-jangan kalian berjodoh!" Ucap dokter Alvin asal.
__ADS_1
"Ish... aku keluar ah. Males ngomong sama kalian berdua." Arini benar-benar melangkah hendak pergi. Tapi baru saja langkahnya diayun Edward sudah mengerang kesakitan.
"Dokter... " Perawat langsung memanggil dokter Alvin.
"Tenang! Tarik nafas! Anda jangan tegang! Relaks!" Dokter Alvin langsung memberi arahan pada Edward.
Arini yang merasa bersalah langsung memutar tumit mendekati Edward.
"Jangan tinggalkan aku dok!" Edward dengan nafas tersenggal melihat pada dokter Arini. Dokter Arini hanya mengangguk tidak mau Edward kenapa-kenapa.
Perlahan-lahan Edward.kembali tenang dan kini tertidur.
"Sebaiknya anda mendampingi pasien dulu sampai tenang! Baru nanti anda bisa pergi. Kondisinya masih rawan. Aku tak usah menerangkannya padamu, kamu pasti tahu kan sebagai dokter." Ucap dokter Alvin.
"Iya. Tapi.. aku jadi beban kalau begini."
"Ya sudah saya pergi dulu! Tetap berjaga saja! Anda juga bisa beristirahat kok! Yang penting anda ada disini saja gak usah ngapa-ngapain!" Ucap dokter Alvin keluar bersama perawat.
"Lah.. kok jadi gue yang jaga! Bayar mahal-mahal. malah nyerahin ke orang!"
Arini hanya mendumel dalam hati melihat tingkah manja Edward. Dia ingin ditemani Arini, selama masa penyembuhan.
"Masa iya juga gue harus berdiam disini menunggu bayi besar manja. Katanya mau balas budi, nyatanya gue jadi ditagih dia. Aneh." Arini duduk di sofa lalu menyandarkan diri di bantalannya. Tak terasa matanya ikut terpejam.
Arini terbangun kembali begitu terdengar ada suara. Ternyata ibunya Edward datang kembali dengan membawa banyak makanan dan paper bag berisi baju ganti untuk Arini.
"Maaf anda jadi terbangun." Ucap ibunya Edward sambil tersenyum.
"Tak apa-apa. Lagian saya belum shalat, tadi ketiduran sebentar." Arini melihat jam sudah waktunya ashar.
__ADS_1
"Ini ada makanan untuk anda dok! Sama pakaian ganti. Maaf ya anak saya merepotkan!" Ucap. ibunya Edward sambil menangkub kedua tangan Arini.
"Ga pa-pa." Jawab Arini singkat. Ada rasa tidak ikhlas memang yang disembunyikan Arini karena terpaksa harus menemani Edward di rumah sakit. Rencana liburannya jadi gagal.
"Kenapa anda seperti cemberut saja dok? Apa anda tidak ikhlas menemani saya disini?" Tanya Edward yang sudah ditemani Arini di ruangannya, melihat wajah Arini kurang senyum.
"Kalau tidak ikhlas, mana mau saya menolong anda waktu itu. Cuman masalahnya anda kenapa harus mengikat diri saya dengan alasan operasi istri pak Surya? Justru disana letak ketidak ikhlasan anda membantu sesama." Arini berargumen.
"Mmm... betul. Tapi.. saya bingung harus menahan anda dengan apa? Sedangkan saya ingin ditemani anda dokter Arini. Kemarin ibu saya menawari anda sebagai dokter pribadi tidak mau. Jadi saya tidak punya pilihan lain selain itu. Tapi saya benar-benar ikhlas kok dok membantu mereka." Jawab Edward memberitahu isi hatinya.
Ibunya Edward jadi bengong mendengar keduanya berbicara agak saling serang. Apalagi tadi sampai membahas pembayaran pasien yang mengingat Arini ada di sana.
"Kalau anda ingin ditemani dan dirawat dokter, masih ada di luar sana dokter yang mau. Kenapa. harus saya? Saya sudah katakan bahwa saya disini sedang liburan tidak terikat oleh apapun. Kenapa jadi begini urusannya?" Arini mendengus kesal.
"Sebentar-sebentar ini ada apa ya? Kok mamih jadi bingung. Edward kamu gak boleh begitu sama dokter Arini! Kamu hutang nyawa sama dia. Mamih gak mau kamu bicara kasar sama. dokter Arini!" Ibunya Edward memperingati Edward.
"Duh maafin anak mamih ya! Dokter Arini boleh pulang kok! Biar mamih sewa dokter yang lain sama perawat. Mamih gak mau membebani dokter." Ibunya Edward memegang erat tangan Arini sebagai permintaan maaf nya.
"Baik saya mau ke mushola dulu nyonya. Nanti saya akan balik lagi kesini." Ucap Arini melunak.
"Iya silahkan dok! Nanti kita makan disini ya!" Ibunya Edward tak mau menahan keinginan Arini untuk pergi.
"Kamu.. tuh! Kalau sama perempuan gak boleh kaya gitu! Aneh. Biasanya kamu jago merayu kok tiba-tiba kamu jadi kasar." Keluh ibunya Edward melihat sikap anaknya pada dokter Arini.
"Dia bukan tipe cewek gampangan mih. Tadi Edward juga sudah coba.Tapi gak berhasil." Ucap Edward lesu.
"Wah.. anak mamih kayanya mau pensiun jadi playboy, sampe nyerah begitu." Ibunya Edward cekikikan melihat anaknya yang seperti putus asa.
"Sudahlah mih! Biarkan Edward istirahat!" Ucap suaminya yang dari tadi mengamati keduanya.
__ADS_1