
Arini menunggu di depan ruang operasi dimana pasien yang tadi dibawanya masih menjalani operasi. Entah apa yang mendorong Arini harus menunggunya. Padahal kenal pun tidak. Itu semua karena hati Arini seperti terpanggil begitu saja untuk memastikan pasiennya baik-baik saja.
"Perawat.. apa yang terjadi dengan anak saya?" Seorang perempuan fashionable datang bersama seorang laki-laki bule ke tempat perawat jaga. Wajahnya terlihat cemas. Pandangan Arini teralihkan pada dua orang yang baru saja datang.
Sepertinya dia keluarga pasien.
Arini bergumam dalam hatinya. Bagi Arini tak. aneh melihat pemandangan seperti itu. Sepanjang dia menjadi dokter bedah, wajah-wajah cemas dan pilu sudah menjadi pemandangan biasa bagi Arini.
"Maaf.. nama anak anda siapa nyonya? Nama anak saya Edward yanga sekarang dioperasi. Saya tadi dihubungi pihak rumah sakit sini bahwa anak saya sedang dioperasi." Ucap perempuan itu dengan setengah menahan tangis. Laki-laki yang di sampingnya segera memeluk bahunya sambil mengusap-usap.
"Oh iya. Maaf tadi anak anda pingsan di hotel karena serangan jantung. Tadi salah satu pengunjung hotel telah menyelamatkannya dan membawanya ke sini nyonya." Ucap perawat itu menjawab pertanyaan perempuan yang diduga adalah ibunya pasien.
Arini melipat tangan di dada berpikir. Lalu bangkit dari tempat duduknya lantas pergi meninggalkan kursi tunggu.
Mending aku shalat dulu. Dzuhur sudah lewat sepertinya. Karena keluarga pasien sudah datang tak perlu ada yang aku tunggu.
Arini mencari mushola di sekitar rumah sakit lalu shalat setelah mengambil air wudhu. Dengan khusyu Arini melaksanakan shalat yang sengaja di jama'nya. Setelah selesai shalat tak lupa dia berdzikir dan berdoa untuk semua kebaikannya juga keluarganya juga atas masalah yang sedang menimpanya kali ini.
Entah kenapa tiba-tiba pikirannya kembali teringat pada Andre. Sebenarnya Arini merasa tersentuh ketika Andre memperlakukannya dengan lemah lembut ketika dia cedera. Meski dia merasa terpaksa dengan perjodohannya dia masih bisa memperlakukan Arini dengan baik. Segala keperluannya diurusnya dengan detail. Bahkan Arini merasa dirinya sedang diratukan oleh Andre.
Baru saja Arini merasakan manisnya perhatian Andre, perasaannya harus terhempas hancur berkeping-keping ketika melihat Andre dan Renata berbuat mesum di depan matanya sendiri. Itu semua seperti meruntuhkan semua mimpi yang akan dibangunnya dan meleburkan harapan yang sempat hadir di lubuk hatinya. Kini yang tertinggal adalah rasa sakit dan hancur.
Untung saja Arini tipe perempuan yang kuat dan mandiri. Dia segera mengalihkan rasa sakit itu dengan pergi berlibur ke kota Bali. Berharap dia bisa mengambil energi positif untuk dirinya dan menguatkan mentalnya yang sudah jatuh karena masalahnya dengan Andre.
__ADS_1
Setelah menunaikan shalat Arini pergi ke kantin memesan minuman juga makanan. Arini membayar sejumlah pesanan dan duduk sambil membawa nampan.
Tak jauh dari tempat duduknya ada seorang dokter yang sedang berbincang-bincang dengan rekan dokter lainnya. Dia menceritakan pasien yang baru saja ditanganinya.
"Untung saja pasien yang baru saja aku operasi cepat mendapatkan tindakan, kalau tidak dia bisa mati diperjalanan." Ucap salah satu dokter sambil menyeruput kopinya.
"Oh ya? Maksudnya pasien barusan selamat karena ada yang melakukan pertolongan darurat?" Tanya rekannya yang duduk di depannya.
"Mmm... aku lihat ada sayatan di dadanya. Menurutku orang yang melakukan hal tersebut bukan orang sembarangan. Bisa jadi dia adalah seorang dokter. Mungkin yang menolong pasien itu seorang dokter bedah, cuman dia sedang tidak bertugas sehingga tak berani melakukan operasi di tempat kecil." Terang dokter itu dengan menebak-nebak.
"Wah.. beruntung sekali dia. Aku jadi penasaran dengan dokter yang menanganinya. Sesama dokter aku kagum dengan tindakan beraninya." Ucap rekan dokter yang sekarang sedang mencicipi kue puding bolu yang telah dipesannya. Biasanya dokter-dokter yang telah melakukan operasi lebih cenderung membutuhkan makanan yang manis-manis untuk kembali mengisi energinya setelah lelah berkutat di meja operasi.
Tanpa mereka sadari bahwa Arini mendengarkan pembicaraan mereka. Dan apa yang mereka bicarakan orangnya malah tak jauh duduk di dekat mereka sendiri sedang santai menikmati segelas green tea dan bolu puding yang sama seperti yang sedang dimakan oleh dokter yang sedang membicarakan Arini.
Dokter yang sedang membicarakannya melirik sebentar ke arah Arini. Lalu matanya mengerung.
"Sepertinya dia orangnya." Dokter itu melihat ke arah Arini yang sudah keluar dari pintu kantin.
"Maksudmu apa?" Tanya rekannya mengikuti arah pandang temannya.
"Aku rasa dia seorang dokter. Sepintas aku melihatnya ikut mendorong blankar bersama tim medis ketika ambulan itu tiba." Matanya tak lepas melihat Arini sampai punggung Arini pun menghilang dari pandangannya.
"Wah cewek... sayang sekali kita belum berkenalan. Dia tampak masih muda. Telat kita bro!" Sesal laki-laki itu melihat Arini pergi.
__ADS_1
"Mmm.. Aku pergi dulu ya! Mau cek pasien. Tadi aku menugaskan asistenku untuk mengurus pasien itu." Dokter itu pun berdiri meninggalkan rekannya keluar kantin.
Arini yang sudah tidak menganggap dirinya perlu lagi hadir di rumah sakit berniat meninggalkan rumah sakit. Dia ingin mencari hotel yang biasa saja untuk disewanya.
"Pak bisa bantu saya mencarikan hotel murah?" Tanya Arini begitu kakinya sampai di sisi trotoar yang biasa dipakai mangkal para sopir taxi.
"Mmm.. bisa nona." Salah satu sopir maju mendekati Arini. Karena sekarang adalah giliran dia menarik muatan penumpang setelah tadi antri dengan kawan-kawan sopir taxi lainnya.
"Tolong antarkan saya ya pak!" Ucap Arin sambil masuk ke dalam taxi.
"Baik nona." Sopir itu pun masuk lalu menyalakan mesin mobilnya siap-siap mengantarkan Arini ke tempat yang dituju.
"Maaf nona. Ada beberapa hotel murah yang saya tahu. Tapi nona ingin yang bagaimana? Apa. yang ingin dekat ke tempat wisata atau pengen yang agak jauh. Kalau yang agak jauh biasanya harganya lebih murah. Sebelum saya mengantarkan nona, silahkan nona pilih dulu sesuai selera!" Sopir taxi tak lantas mengantarkan Arini sebelum dia tahu tujuannya dulu.
"Aku ingin yang jauh aja. Biar lebih murah." Ucap. Arini.
"Baik.. Saya antar kesana." Sopir taxi pun melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang agar penumpang bisa menikmati perjalanannya.
"Nona baru datang di Bali ya?" Tanya sopir itu pada Raisya.
"Mmm.. ya begitulah." Jawab Arini tak terlalu peduli. Matanya malah memandang keluar menikmati panorama Bali yang baru saja dia datangi.
"Mmm... saya sudah beberapa kali mengantarkan wisatawan mencari hotel murah. Tapi... nona harus hati-hati! Karena hotel murah biasanya dipakai gituan." Ucap sopir mengingatkan pada Arini.
__ADS_1