
" Mengapa ayah melakukan itu Bu." Tanya nurul penasaran.
" Ibu tidak tau nak, dan ibu pun tidak pernah tau sama sekali kenapa ayah melakukan itu pada kita berdua terutama Kakak kamu." Ucap ibu lirih ketika sang ayah dengan teganya menyiksa Annisa dan tidak pernah mendengarkan permohonan maaf dan minta tolong. Seakan akan ayahnya itu sudah buta dan tuli.
" Jadi karena itu ibu khawatir kepada ka Annisa." Tanya nurul kepada ibunya dan di jawab anggukan oleh ibunya.
sedangkan di rumah nyonya Chintia dan tuan Dimas masih dalam keheningan dan masih dalam keadaan sebelumnya.
" Ayah bagaimana dengan tiga pelayan itu." Ucap Bryan yang berusaha mencairkan suasana walaupun dirinya belum tentu bisa.
" Sudah ayah pecat dan mungkin sekarang mereka sudah kembali ke rumah masing masing." Jawab ayah Dimas cepat.
" Ooh baiklah." Ucap Bryan yang menutup pembicaraan.
Tanpa di sadari oleh mereka semua ternyata nyonya Chintia baru sadar dari pingsannya.
" Aduh sakit banget lagi." Ucap nyonya Chintia sambil memegang dadanya yang masih terasa sakit.
Note : Nyonya Chintia tidak memiliki riwayat penyakit jantung ya... tetapi nyonya Chintia memang sering merasakan sakit di bagian dadanya ketika banyak tekanan dan juga pikiran.
" Sudah berapa lama aku pingsan." Bingung nyonya Chintia karena dirinya pingsan dan membuat dia tidak tau sama sekali berapa lama dirinya pingsan.
Akhirnya nyonya Chintia pun memutuskan untuk keluar dari ruang kerjanya dan ketika membuka pintu ruang kerja betapa kagetnya ketika melihat rumahnya seperti kapal pecah dan sedang di bereskan oleh para pelayan, karena nyonya Chintia penasaran maka dirinya menanyakannya kepada pelayan yang sedang beres beres.
" Pelayan sini." Ucap nyonya Chintia yang melambaikan tangannya ke pelayan yang sedang mengangkut barang barang pecah dan membuat sang pelayan yang di panggil pun menghampiri nyonya besarnya.
" Iya nyonya." jawab pelayan
" Ada apa sebenarnya ini dan kenapa rumah seperti kapal pecah begini." Tanya nyonya Chintia kepada pelayan.
" Oh ini karena tadi ada keributan kecil nyonya dan kalau lebih jelasnya lagi nyonya bisa tanyakan langsung kepada tuan Dimas.
" Ooh ok baiklah." Ucap nyonya Chintia.
" Baiklah kalau begitu saya permisi nyonya." Ucap pelayan sambil membungkuk kan setengah badannya.
" Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi selama aku pingsan, dari pada aku tanya kepada suami ku mending aku tanya saja kepada Rahma. Mungkin Rahma tau apa yang sebenarnya terjadi selama dirinya pingsan akhirnya nyonya Chintia pun melangkahkan kakinya menuju makar Rahma.
tok tok.
" Rahma apakah kamu di dalam." Tanya nyonya Chintia di depan pintu kamar Rahma.
" Iya ada Bu." ucap Rahma dnegan suara serak bangun tidur.
ceklek.
" Iya Bu ada yang bisa Rahma bantu." Ucap Rahma yang masih dengan suara serak.
__ADS_1
" Kamu baru bangun tidur ya.. rahma." Selidik nyonya Chintia menatap Rahma.
" Iya Bu, belum lama juga sih Rahma tidurnya ko soalnya Rahma juga baru mengantuk." Jelas Rahma.
" Oh iya Rahma apakah kamu tau apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini ketika saya masih berada di ruang kerja ?." Tanya nyonya Chintia.
" Kalau tau ngga sih Bu soalnya yang Rahma denger itu cuman ada suar teriak orang yang sedang berdebat dan marah." Ucap Rahma walaupun sebenarnya dia tau apa yang terjadi.
" Apa kamu yakin Rahma ?." Selidik nyonya Chintia, karena nyonya Chintia tidak percaya kalau Rahma tidak tau apa-apa.
" Beneran nyonya soalnya posisi saya juga sudah tidur, dan tadi saya juga bilang ke nyonya kalau saya tidur oun belum lama saat kejadian tadi dan saya pun tidak mau melihat karena saya sudah sangat mengantuk." Ucap Rahma panjang lebar."
" Baiklah Rahma jika kamu tidak ingin kasih tau saya maka saya akan mencari anak anak saya agar saya tau apa yang sebenarnya terjadi." Ucap nyonya Chintia sambil tetap menatap wajah Rahma karena nyonya Chintia tau Kalau Rahma ini sedang menyembunyikan sesuatu dari dirinya dan seperti orang yang sedang berusaha melindungi.
" Silahkan nyonya karena itu lebih baik dari pada nyonya mengetahui dari saya." Ucap Rahma sambil tersenyum.
" Baiklah dan selamat beristirahat." ucap nyonya Chintia sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju ke kamar anak anaknya.
setelah sampai nyonya Chintia baru akan mengetuk pintu kamar anaknya namun, pelayan memberi tahukan bahwa tuan muda Bryan saat ini sedang berada di ruang keluarga bersama nona Puspita dan juga tuan Bryan. Akhirnya nyonya Chintia pun memutuskan untuk pergi ke ruang keluarga saja dan setelah sampai nyonya Chintia pun langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa semuanya berantakan.
" Loh ibu dari mana saja ko baru kelihatan." Ucap Puspita sambil berhambur ke pelukan sayang ibu." Ucap Puspita sambil melepaskan pelukannya dari suami dan berlari ke arah sang ibu.
" Jangan lari lari nanti kamu jatuh." Ucap nyonya Chintia memperingati sang anak yang saat ini sedang berlari ke arah dirinya.
" Ada apa hmm tumben manja benget." Ucap nyonya Chintia sambil mengelus kepala sang anak.
" Ibu dari mana saja dan kenapa baru bergabung dengan kami semua." Ucap Puspita.
" Tadi itu ada keributan di sini Bu dan bukan hanya itu saja aku juga kena korban." Ucap Puspita mengadu kepada sang ibu.
" maksudnya kamu jadi korban gimana ?." Bingung nyonya Chintia.
" Lihat ini Bu." ucap Puspita sambil memperlihatkan kedua tangannya yang memerah dan nyonya Chintia pun kaget.
" Loh ini kenapa ?." ucap nyonya Chintia sambil meniup niup tangan anaknya.
" Ini itu tadi gara gara pelayan tiga Bu dia seenaknya aja nahan tangan aku dan smapai merah begitu." Adu Puspita.
" Bener dia nahan tangan kamu sampai kaya begini dan bukan kamu yang duluan memulai." ucap Nyonya Chintia curiga karena biasanya anak perempuannya ini Yang selalu memulai duluan dan membuat salah.
" bener ko Bu, dia yang mulai." Kekeh Puspita sedangkan Bryan langsung menjawab bohong karena memang Kakaknya yang pertama kali bikin onar dan bikin pelayan tiga murka.
" Bohong Bu, itu memang kesalahan Kaka sendiri karena kakak lah yang memulai duluan dan membuat pelayan tiga murka serta menahan tangan Kaka di saat Kaka akan menampar pelayan tiga." Jelas Bryan kepada sang ibu dan membuat Puspita tidak suka karena Bryan membelanya.
" Kenapa kamu ingin menampar pelayan tiga nak." Ucap nyonya Chintia.
" Karena dia sudah membuat pelayan satu dan pelayan dua di injak injak harga dirinya dan bukan hanya itu saja tapi dia juga adalah orang yang mempermalukan aku Bu." Adu Puspita sang ibu.
__ADS_1
" Kamu salah menilai Bella nak, harusnya kamu berterima kasih kepada bella karena dirinyalah yang menjaga keluarga kita semua." Ucap nyonya Chintia menjelaskan.
" Tapi tetep aja Bu dia ngga sopan banget memperlakukan orang lain dan menjatuhkan orang lain." bela Puspita kepada pelayan satu dan dua.
" Apa kamu tau nak siapa pelayan satu dan dua." Tanya nyonya Chintia dan Puspita pun hanya menggelengkan kepalanya.
" Memangnya siap Bu." Tanya Puspita.
" Mereka berdua itu adalah utusan dari keluarga Sanjaya dan juga Bramantyo. Mereka semua berniat mengambil harta kita dan juga perusahaan." Jelas nyonya Chintia namun Puspita tidak percaya sama sekali kalau pelayan 1 dan 2 adalah utusan dari ayahnya Annisa.
" Ibu bohong kan sama aku, karena ibu pengen membela pelayan 3 itu." Kekeh Puspita lagi.
" Kamu memang benar benar bodoh Puspita dan pantas saja Bella menganggap kamu bodoh, ternyata memang benar kamu adalah wanita terbodoh yang hanya bisa lihat dari sisi luarnya saja." ucap nyonya Chintia sambil menahan emosi namun tetap saja menatap tajam Puspita.
" Kenapa sekarang ibu bilang bahwa aku ini bodoh hah, dan kenapa kalian membela pelayan 3 itu hah. apa karena dia mengetahui segala kebusukan nya dari dulu hah !! ." Teriak Bella kepada sang ibu.
plak
plak
" Kamu benar benar kurang ajar Puspita siapa yang mengajarkan kamu seperti itu hah siapa !!." Teriakan nyonya Chintia tidaklaah kalah keras dengan teriakan Puspita.
" Kamu memang wanita bodoh Puspita kamu memang bodoh. apa kamu tau hah siapa yang menyelamatkan kamu di saat kamu di culik hah, siapa yang menyelamatkan kamu di saat kamu akan di perlakukan tidak manusiawi oleh bajingam bajingam bangsat itu hah, siapa yang rela mengorbankan nyawanya ketika kamu dalam masalah kecelakaan hah, dan apakah kamu tau dia yang selalu menjaga kamu di saat kamu kuliah, main dan semua aktifitas yang kamu lakuin itu. Harusnya kamu itu berterima kasih sama dia bukan malah mencaci makinya dan menuduhnya." Teriak nyonya Chintia dan marah karena anaknya ini sangat bodoh.
" Cih hanya pembual dan pencari simpati saja karena ingin di anggap pahlawan da..." Ucapan Puspita terputus di saat Annisa menampar wajahnya.
" Kenapa Kaka menyalahkan ka Bella, dan kenapa harus ka Bella ka kenapa !!." Teriak Annisa untuk pertama kalinya.
" Apa Kaka tidak pernah berfikir satu kali saja untuk tidak menyalahkan orang baik seperti ka Bella bisa tidak ka !!." Teriak Annisa di depan wajah Puspita.
Puspita hanya diam saja di saat wajahnya di tampar dan Puspita pun tidak bisa membalas perkataan Annisa.
" Kaka egois, Kaka pecundang, Kaka pembohong, Kaka munafik, Kaka jahat, Kaka bermuka dua, Kaka pembunuh." teriak Annisa kepada Puspita dan seketika Annisa pun pingsan.
brug.....
Semua orang pun panik ketika Annisa pingsan setelah dia a teriak di hadapan Puspita. ketika Puspita ingin membantu Annisa langsung di cegah oleh Bryan dan nyonya Chintia.
" Tidak usah membantu kalau hanya bisa membuat orang sakit." ucap Bryan sambil mengangkat tubuh Annisa dan membawa ke kamarnya.
Hay Hay Hay Hay selamat malam semuanya hehe.
seperti biasa Ning mau ngucapin permintaan maaf buat kalian semuanya hehe.
selamat beristirahat bagi teman teman yang sudah pulang bekerja dan selamat bekerja bagi teman teman yang berganti sif serta tegap jaga kesehatan dan juga keselamatan.
mohon maaf bila ada salah kata baik dari sengaja maupun tidak dan maaf bila ada kata kata yang membuat kalian tersinggung.
__ADS_1
terima kasih ššš
salam sayang š¤š¤