Perjuangan Gadis Desa

Perjuangan Gadis Desa
Episode 22


__ADS_3

" Buat apa aku memberikan jawabannya jika ibu masih saja membela anak pembawa sial ini." Tunjuk Puspita lagi kepada Annisa hingga membuat Annisa pun melepaskan pelukannya dari Bryan.


" Apa aku di mata Kaka Sekarang seperti itu ?." Tanya Annisa.


" Bukan hanya sekarang tapi sejak dulu aku mengetahui kebenarannya." Jawab Puspita.


" Apa yang Kaka Ketahui tentangku dan ibuku." Tanya Annisa saat ini yang sudah lelah karena selalu saja di salahkan oleh Puspita dan dia pun menghampiri Puspita.


" Salahmu banyak Annisa karena kamu telah lahir dari tante Halimah dan salah Tante Halimah adalah menikahi ayahmu." Ucap sinis Puspita.


" Plak." Ucap Annisa menampar Puspita hingga membuat Puspita pun memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan Annisa.


" Ngapain kamu tampar aku hah." Teriak Puspita di hadapan Annisa dan ketika dia ingin menampar Annisa malah dirinya yang di tampar oleh Annisa.


" Plak." Suara tamparan dari Annisa untuk Puspita.


" Ini adalah tamparan bagi mu karena telah menjelekkan ibuku." Ucap Annisa meneteskan air matanya.


" Plak."


" Ini adalah tamparan ketiga dariku untuk Kaka karena telah membuat omongan kaka ini busuk." Ucap Annisa yang saat ini merasakan sesak dan Puspita hanya diam ketika Annisa menampar dirinya karena Puspita yakin kalau dirinya akan membalasnya.


" Itu lebih cocok untuk dirimu dan ibumu Annisa." Ucap Puspita sinis sambil menunjuk ke arah Annisa.


" Karena dengan kedatangan kamu di sini hanya untuk ngambil harta warisan dari kakek kan ? dan oh iya atau ngga kamu ingin menjadi bagian dari sini agar semua fasilitas yang kami inginkan bisa terpenuhi." Ucap Puspita.


" Plak."


" Apa segitu buruknya Kaka mengatakan itu padaku dan apa sebegitu buruknya ibu di pikiran Kaka. Apa Kaka tau ibuku suka bercerita bahwa anak sepupu sepupunya itu sangat baik, penyayang, sopan, dan rendah hati. Tapi ternyata penilaian ibuku terhadap Kaka itu sangat salah." Ucap Annisa yang saat ini sedang menahan sakit di bagian dadanya dan juga merasa sesak. Seketika itu juga Annisa jatuh pingsan lagi hingga membuat semua orang pun panik.


" Apa kau puas sekarang ka !!." Teriak Bryan di hadapan wajah Puspita.


" Apa puas jika Annisa mati hah !." Teriak Bryan sambil menyeret pergelangan tangan Puspita untuk berdiri di hadapan tubuh Annisa sambil menunjuk Annisa yang saat ini sedang pingsan dan di berikan pertolongan pertama oleh dokter Ryan.


" Cih hanya akting saja dia." Ucap Puspita kesal dan juga menatap sinis ke arah Annisa yang saat ini sedang pingsan dan menurut dirinya Annisa hanyalah sedang berpura saja.


" Dasar Kaka tidak tau diri dan tidak punya hati !!." Teriak Bryan sambil mendorong tubuh Puspita dan membuat sang empu pun jatuh ke lantai.


" Apa apaan kamu Bryan mendorong Kakakmu sendiri demi wanita pembawa sial itu." Ucap Puspita marah kepada Bryan karena Bryan sudah berani mendorong dirinya dan juga membela Annisa.


" Kaka ? cih aku tidak Sudi punya Kaka seperti dirimu yang hanya bisa egois dan tidak punya rasa bersalah sedikitpun." Ucap Bryan.


" Dan asal kau tau ya.. aku tidak pernah memiliki Kaka seperti dirimu yang hanya bisa mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan hati orang lain. Dan apa kau tau Puspita kalau ucapan mu itu bisa membuat semua orang terluka termasuk Annisa. Dan pantas saja jika perusahaannya itu terbakar serta sering kena korupsi karena kelakuan bosnya yang tidak punya sopan santun, egois, munafik, dan sombong." Ucap Bryan.


Karena mereka berdua masih debat maka nyonya Chintia pun menghentikan mereka.


" Apa kalian masih ingin berdebat dalam situasi seperti ini." Tanya nyonya Chintia sambil berdiri dan melangkahkan kakinya menuju kedua anaknya.


" Apa kalian masih ingin berdebat hah." Ucap nyonya Chintia tegas.

__ADS_1


" Tidak Bu." Ucap Bryan.


" Kaka ipar cepat bantu aku ke mobil sekarang ! Dan jangan lupakan bawa kain untuk menutupi kepala Annisa." Ucap dokter Ryan panik hingga membuat semua orang pun menoleh ke arah suara dokter Ryan dan deg.....


" Apa yang terjadi." Tanya tuan Dimas yang melihat kondisi Annisa semakin pucat.


" Ryan kenapa kamu berteriak dan juga panik." Tanya nyonya Chintia berbalik badan dan menuju ke arah ranjang saat ini Ryan berada.


" Kaka jangan banyak bertanya untuk saat ini, cepat bawa mobil aku dan aku akan melakukan penanganan pertama untuk Annisa." Ucap Ryan yang langsung membopong tubuh Annisa setelah itu ia berlari ke arah luar untuk menuju ke mobilnya dan juga rumah sakit.


" Cepat siapkan mobil Bryan." Ucap tuan Dimas panik serta kesal karena sang istri ternyata belum menyadari kalau Annisa saat ini antara hidup dan mati.


" Ibu apa kau masih akan diam ketika keponakan kamu saat ini sedang sekarat." Ucap tuan Dimas tegas kepada nyonya Chintia hingga kesadaran nyonya Chintia kembali dan seketika dirinya kaget karena melihat Annisa tidak ada di ranjang.


" Ayah kemana Annisa." Tanya nyonya Chintia bingung.


" Annisa saat ini sedang bersama Ryan dan akan menuju rumah sakit sedangkan Bryan saat ini sedang mengambil mobilnya untuk membawa Annisa ke rumah sakit." Ucap tuan Dimas.


" Apa!." Teriak nyonya Chintia kaget.


" Jangan teriak untuk saat ini dan mending kita semuanya menyusul ke rumah sakit." Ucap tuan Dimas yang langsung melangkahkan kakinya untuk mengambil mobilnya dan juga mengikuti Bryan dari arah belakang.


" Ayah tunggu." Ucap nyonya Chintia yang ikut berlari.


Sedangkan Puspita hanya menatap malas dan juga tidak perduli lagi dnegan Annisa.


" Apa kau tidak ikut." Tanya Anggara.


" Apa kau benar benar tidak menghawatirkan kondisi adikmu itu. " Tanya Anggara lagi.


" Tidak." Jawab Puspita cepat.


" Ok jika suatu saat nanti terjadi maka kamu yang akan di salahkan dan penyebabnya." Ucap Anggara berlalu dari hadapan Puspita dan ia juga melangkah kakinya untuk pergi ke area parkir mobil dan ia juga berniat akan mengikuti Bryan dari belakang.


Setelah Anggara pergi, Puspita pun marah marah lagi seperti orang gila dan menyalahkan Annisa lagi.


" Buat apa sih keluarga ini khawatir terhadap anak pembawa sial itu, dan apa untungnya coba." Ucap Puspita yang saat ini sedang menahan emosinya.


" Kalau dia mati pun aku sangat senang dan tidak perlu susah lagi deh aku untuk membunuhnya." Ucap Puspita yang saat ini melangkah kan kakinya ke arah ranjang dan juga dia pun merebahkan badannya untuk tidur.


Sedangkan di tempat lain tepat nya di rumah keluarga Sanjaya Bella mendapatkan notifikasi dari orang suruhannya yang saat ini masih berada di sana untuk memantau semua pergerakan keluarga itu.


" Halo ada apa ?." Tanya Bella yang saat ini mengangkat telfon dari anak buahnya.


" Maaf bos, mengganggu waktu istirahatnya." Ucap si penelepon.


" Iya ada apa ? dan tumben banget Jam segini ngasih kabar." Tanya Bella yang kebingungan karena tidak seperti biasanya anak buahnya ini menelfon jam segini.


" Ini soal nona muda bos." Ucap si penelepon.

__ADS_1


" Ada apa dengan nona muda." Khawatir Bella.


" Nona muda pingsan bos dan saat ini sedang di bawa ke rumah sakit oleh dokter Ryan dan juga tuan Dimas.


" Kenapa dengan nona muda dan kenapa bisa pingsan." Tanya Bella yang saat ini sedang menahan emosinya.


" Kalau soal itu saya kurang tau bos, tapi sebelum nona muda pingsan saya mendengar suara pertengkaran di kamar tuan Anggara dan nyonya Puspita." Jawab jujur si penelepon.


" Lalu." Tanya Bella dan dia juga saat ini sedang mengepalkan tangannya.


" Wajah nona muda sangat pucat sekali dan ketika saya bertanya Kenapa kepada pelayan yang lain mereka hanya menjawab seperti apa yang tadi saya ucapkan bos." Ucap si penelpon lagi.


" Kapan mereka berangkat." Tanya Bella lagi sambil berdiri dari kursi dan melangkahkan kakinya untuk menemui Jeki.


" Belum lama bos dan mungkin haru 5 menit yang lalu." ucap si penelepon memberi tahu.


" Baiklah kalau begitu dan terima kasih karena kamu sudah membantuku selama ini dan jika ada kabar terbaru kamu langsung telfon faham." Ucap Bella berterima kasih.


" Faham bos, kalau begitu saya tutup dan takutnya saya ketahuan." Ucap si penelpon mengakhiri percakapannya dengan Bella.


Setelah telfon di matikan Bella pun pergi dan melangkahkan kakinya menuju ruangan dimana Jeki berada.


Tok tok tok


" Jeki apa ada di dalam dam apa aku mengganggu dirimu." Ucap Bella yang berada di depan pintu.


" Bentar." Ucap Jeki yang berada di dalam ruangannya.


Ceklek.


" Ada apa bos." Ucap Jeki membuka pintu dan mempersilahkan Bella masuk ke ruang baca.


" Kita harus membawa Annisa saat ini juga." Ucap Bella.


" Mengapa ?." Bingung Jeki.


" Karena jika dia tinggal di sana maka Puspita akan melakukan hal buruk lagi pada Annisa. Dan jika melakukan itu lagi maka kondisi Annisa akan semakin menurun.


" Lalu caranya bagaimana bos." Tanya Jeki.


" Kumpulkan saja semua anak buah kita dan setelah terkumpul baru kita berangkat." Ucap Bella lagi.


Hay Hay Hay semuanya hehehe


maaf ya.. up nya telat dan mohon maaf banget karena banyak typo.


kondisi lagi kurang fit jadi mohon maaf ya... kalau misalnya ada kata yang menyinggung kalian semua dan maaf banget kalau banyak kesalahan yang di sengaja maupun tidak.


sekali lagi mohon maaf banget ya...

__ADS_1


Terima kasih 😁😁


Salam sayang šŸ¤—šŸ¤—


__ADS_2