
" Memangnya ada kejadian apa di 19 tahun yang lalu." Tanya nyonya Chintia yang penasaran karena sedari tadi dirinya hanya menyimak saja dan mendengarkan apa yang di ucapkan Anatar adik dan Kaka.
" Jadi begini ka, apakah Kaka masih ingat di mana kalian semua menemukan Halimah dan Bramantyo tidur bersama." Tanya dokter Ryan.
" Iya, dan kalau ngga salah kami berdua menemukan Halimah dan juga Bramantyo di hotel." Ucap Nyonya Chintia yang sedang mencoba mengingat saat pertama kali menemukan Bramantyo dan juga Halimah tidur berdua tanpa sehelai benang pun.
" Dan menurut Kaka siapa yang melakukan itu." Tanya dokter Ryan penasaran dengan jawaban sang Kaka ipar.
" Bramantyo." Jawab nyonya Chintia cepat.
" Kaka salah, dia tidak tidur bersama Halimah dan dia juga tidak mengambil mahkota Halimah." Jawab cepat dokter Ryan karena jawaban Kaka iparnya itu salah.
" Jika bukan Bramantyo terus siapa yang tidur bersama Halimah ?." Bingung nyonya Chintia.
" Aku." Ucap dokter Ryan cepat dan membuat semua orang pun bingung karena yang mereka lihat adalah saat di hotel yang mereka temukan adalah Bramantyo dan juga Halimah.
" Mana mungkin kamu, orang yang jelas jelas ada Bramantyo." jawab tuan Dimas yang menimpali perkataan dari istri nya dan dirinya tetap tidak percaya bahwa sang adik yang melakukan hal tidak senonoh kepada seorang wanita terutama kepada adik sepupu istrinya karena setau tuan Dimas bahwa Ryan ini adalah tipe laki laki yang tidak akan merendahkan, melecehkan, dan juga menyakiti hati wanita. Dan Ryan lebih ke tipe pria bertanggung jawab, setia kepada satu orang, jujur, baik, sopan, rendah hati, dan juga sayang kepada semua keluarga nya.
" Kaka dan Kaka ipar tidak akan percaya dengan omongan aku sama sekali karena di saat kalian pergi untuk mencari keberadaan Halimah aku pun langsung pergi untuk mencarinya Dan yang lebih parahnya lagi di saat aku menemukan Halimah itu kalau ngga salah di depan klub dan entah dengan siapa Halimah pergi dan yang aku lihat di saat sebelum Halimah masuk mobil dia di bantu oleh beberapa pria dan hanya satu orang saja yang masuk ke mobil dan langsung melajukan mobilnya dan sampai akhirnya aku pun tidak tinggal diam, aku langsung mencari mobil ke area parkir yang tidak jauh dengan mobil yang di tumpangi oleh Halimah. sampai akhirnya aku mengikuti kemana orang itu membawa mobil nya namun, mobil itu malah membelokkan nya ke arah hotel dan berhenti di sana." Jelas panjang lebar cerita dokter Ryan.
" Lalu." Ucap Bryan yang mulai penasaran dengan cerita antara om Bramantyo, om Ryan dan juga tante Halimah.
" dia membawa Halimah masuk ke hotel dan sebelum masuk ke hotel dia menunjukkan kartu identitasnya namun, yang anehnya adalah hotel yang mereka pakai itu bukanlah hotel yang sembarangan dalam menerima pelayanan karena hotel itu di gunakan untuk yang sudah berstatus suami dan istri serta keluarga." Ucap dokter Ryan.
" Apakah kamu bertanya kepada orang yang melihat identitas Halimah dan orang itu." Tanya Nyonya Chintia kepada dokter Ryan.
" Tidak." Jawab cepat dokter Ryan.
__ADS_1
" Kenapa ?." Bingung Bryan.
" Karena menurut mereka itu adalah privacy bagi setiap pengunjung yang datang ke hotel dan bukan hanya itu saja tetapi mereka menutup rapat semua identitas pelanggan. " Jelas dokter Ryan.
" Apa om tau nama hotelnya dan pemilik nya siapa ?." Tanya Bryan yang penasaran dengan nama hotel yang di pakai oleh Tante Halimah.
" Tidak sala sekali." Jawab dokter Ryan.
" Tapi aku masih ingat nama jalannya dan coba kamu tanya saja sama kedua orang tua kamu mereka pasti tau." Jawab dokter Ryan lagi dan menyuruh sang keponakan untuk bertanya kepada kedua orang tuanya karena mereka yang lebih tau nama hotelnya.
" Apakah ayah dan ibu tau." Tanya Bryan yang mengalihkan pertanyaan nya kepada kedua orang tuanya.
" Tau." Jawab serempak kedua orang tuanya dan membuat Bryan pun mengangguk kan kepalanya sebagai tanda mengerti.
" Tapi sat ini yang aku bingung adalah kenapa om Ryan bisa bilang bahwa Annisa itu anak om." Selidik Bryan yang saat ini menatap om nya yang sedang mengelus kepala Annisa.
" Karena om mengikuti nya di saat para penjaga sedang sibuk, jika mereka tidak sibuk mungkin om saat itu tidak bisa mengikuti mereka berdua dan juga masuk ke kamarnya." Jawab dokter Ryan.
" Itu sebenarnya hanya kebetulan saja om bisa masuk ke sana karena di saat mereka masuk pintu kamar hotel tidak di kunci, entah mereka lupa atau bagaimana karena om bingung." ucap dokter Ryan.
" lalu setelah itu apa yang terjadi." Tanya tuan Dimas yang saat ini bertanya kepada sang adik.
" Saat aku masuk ke kamar aku melihat laki laki itu memasukan obat ke dalam minuman Halimah dan sebelumnya itu aku belum tau serbuk apa yang di gunakan oleh laki laki itu. Setelah di campurkan ke dalam minuman Halimah dan mengadukannya laki laki itu langsung memberikan minuman itu kepada Halimah dan setelah di minum laki laki itu pergi keluar dan menutup pintu kamar hotel." Ucap dokter Ryan yang saat ini sedang melihat wajah cantik Annisa.
" Tepat di saat laki laki itu pergi aku melihat halimah sepeti casing kepanasan dan juga tidak bisa diam sama sekali. Dan aku pun mencoba membantu untuk menolong Halimah namun ketika saat aku ingin membantu pintu kamar hotel yang di tempati oleh halimah terbuka dan aku oun jadi tidak bisa membantu Halimah." Ucap Ryan lagi.
" Terus yang di ucapkan kamu tentang mahkota itu apa ?." Tanya nyonya Chintia.
__ADS_1
" Aku juga bingung ka tapi hati nurani ku selalu menjawab bahwa Annisa itu adalah anakku." Jelas dokter Ryan.
" Haduh kamu ini bugh." Ucap tuan Dimas langsung menyeret kerah dokter Ryan dan juga memukul perut dokter Ryan karena sudah keterlaluan.
" Ka kenapa ka.." Ucapan dokter Ryan berhenti ketika tuan Dimas memukul perutnya kembali.
" Bugh, bugh, bugh, inilah akibatnya jika kamu menyakiti hati perempuan, bugh bugh ini adalah pukulan karena kamu tidak bisa melindungi Halimah, bugh bugh ini adalah bagi seorang pecundang seperti kamu, bugh bugh ini adalah pukulan terakhir bagi seorang Kaka yang kecewa terhadap adiknya.
" Sudah ayah jangan kamu memukul adikmu itu, apapun kesalahan dia jangan kamu pukuli, apa kamu mau kehilangan orang satu satunya di keluarga kamu hah." Ucap Nyonya Chintia yang berusaha melerai pertikaian antara seorang adik dan seorang Kaka.
" Jangan kamu membelanya terus ibu, dia harus di kasih hukuman biar dia mengerti apa yang seharusnya dia lakukan untuk melindungi seorang perempuan dari pria yang tidak memiliki hati dan juga tidak memiliki kasih sayang serta tanggung jawab." Ucap tuan sambil melepaskan tangan dari kerah dokter Ryan dan juga menatap tajam kepada sang adik yang saat ini sedang terkulai las di lantai dan juga menyeka darah yang keluar dari bibirnya.
" Jika adikmu salah seharusnya kamu jangan perlakukan dia seperti itu dan jangan asal langsung memukul." Ucap nyonya Chintia yang saat ini masih mencoba menenangkan sang suami.
" Maaf ka jika aku gagal dan maafkan aku." Ucap dokter Ryan yang meminta maaf kepada sang Kaka di sela sela dia merasakan sakit akibat pukulan dari sang Kaka.
" Ya sudah tidak apa apa, tetapi seharusnya kamu meminta maafnya kepada halimah bukan kami dan minta maaf lah kepada Annisa. karena dia yang selama ini merasakan beban berat dan juga penderita dari Bramantyo." Jelas panjang lebar ucap nyonya Chintia.
" apa." Kaget dokter Ryan secara reflek berdiri dan membuat dia meringis kembali.
Hay Hay Hay selamat malam semuanya hehe
maaf baru bisa up ya.. karena mikir Kat katanya dulu biar takut ngga menyinggung lagi hehe.
Dan maaf nih sebelumnya kalau misalnya masih banyak typo ya.... dan maaf jika masih ada kata kata yang membuat tersinggung kalian semua ...
tetap jaga kesehatan dan juga keselamatan kalian semuanya ya..
__ADS_1
terima kasih šš
salam sayang š¤š¤