Perjuangan Gadis Desa

Perjuangan Gadis Desa
Episode 32


__ADS_3

Ketika masuk dalam rumah Bryan melihat Kaka nya yang asik sarapan, tanpa menegur sang Kaka Bryan melangkahkan kakinya ke arah dapur untuk mengambil air putih dingin dan setelah itu dia pergi menuju ke kamarnya.


Namun, sebelum sampai arah tangga ternyata Puspita memanggil Bryan.


" Dari mana kamu ?." Tanya Puspita di ruang makan namun, Bryan tidak menjawab dan menghiraukan pertanyaan Puspita.


" Hay kalau di ajak ngomong tuh jawab jangan diam aja." Teriak Puspita dan kesal.


Karena mendengar teriakkan sang Kaka akhirnya Bryan pun membalikkan badannya dan menjawab pertanyaan dari kakaknya.


" Buat apa aku kasih tau kamu, dan apa pedulinya kamu, memangnya siapa kamu, jangan pernah urusi atau ikut campur orang." Ucap Bryan.


" Hay aku ini kakakmu jangan seenaknya ya...." Ucap Puspita.


" Benarkah kamu kakakku ?." Tanya Bryan.


" Ya... tentu aku kakakmu." Ucap Puspita lagi.


" Tapi maaf sepertinya kamu bukan kakakku karena kakakku bukan iblis seperti kamu yang hanya bisa membalas dendam terhadap orang lemah dan tidak tau akar permasalahannya sama sekali." Ucap jelas Bryan.


" Apa kamu bilang ? coba ucapkan sekali lagi ?." Tanya Puspita sambil berdiri dan melangkahkan kakinya ke arah Bryan saat ini.


" Aku bilang kamu bukan kakakku karena kakakku bukan iblis." Ucap Bryan sambil menatap tajam Puspita.


Plak....


" Beraninya kamu mengatakan itu kepada Kakakmu sendiri hah !!! apa karena anak pembawa sial itu kami jadi seperti ini." Marah Puspita.


" Jangan sebut Annisa pembawa sial !." Teriak Bryan yang tidak terima kalau adiknya di katakan pembawa sial.


" Memang kenyataan seperti itu dan tidak akan pernah berubah kalau anak itu pembawa sial." Ucap Puspita lagi mengingatkan.


" Seharusnya masalahmu itu bukan ke Annisa tapi ke orang lain, dan kau benar benar kakak yang bodoh." Ucap Bryan kecewa.


" Beraninya kamu bilang aku bodoh Bryan." Ucap Puspita tak terima.


" Memang kenyataan kamu itu bodoh dan sangat bodoh sampai sampai perusahaan ayah pun bangkrut ketika di pimpin olehmu dan seluruh aset perusahaan pun di curi." Ucap Bryan mengingatkan kejadian di mana dirinya beserta keluarga yang lainnya di pusingkan atas berita ini.


" Jangan pernah ungkit masalah ini Bryan." Ucap Puspita.


" Jika kamu tidak mau aku ungkit maka jangan pernah ungkit masa lalu Annisa faham ." Ucap tegas Bryan.


" Kenapa tidak usah di ungkit ? toh itu memang kenyataannya ko." Ucap Puspita.


" Jika kamu masih mengungkit masa lalu Annisa dan mengusik maka jangan salahkan aku akan membongkar semua rahasia dirimu." Ucap Bryan dan setelah itu dirinya pergi dari hadapan Puspita.


Setelah kepergian Bryan Puspita pun merasa kesal dan takut karena semua kebohongannya selama ini akan terbongkar, dan tentunya semua fasilitas yang saat ini dia miliki akan di tarik kembali.

__ADS_1


"Jangan sampai Bryan membocorkan rahasiaku, aku harus mencari cara bagaimana pun caranya." Ucap Puspita.


Sedangkan saat ini di rumah sakit Anggara dan juga Nyonya Chintia serta tuan Dimas malah sibuk dengan pemikiran mereka masing masing dan keheningan ruangan pun terjadi setelah kepergian Bryan.


Tetapi ketika mereka sibuk dengan pemikiran mereka masing masing mereka semua di kaget kan dengan bunyi pendeteksi jantung dan alat pernapasan yang di pakai di tubuh Annisa.


Sampai akhirnya nyonya Chintia panik.


" Ayah........ Anggara....... cepat panggil dokter....." Teriak nyonya Chintia kepada sang menantu dan suaminya.


Karena mendengar teriakkan nyonya Chintia tuan Dimas dan juga Anggara langsung tersadar dari pemikiran mereka.


" Ada apa ?." Tanya tuan Dimas.


" Cepat panggil dokter sekarang !." Teriak Nyonya Chintia kepada tuan Dimas dan tanpa berpikir panjang lagi tuan Dimas pun memencet bel khusus memanggil dokter namun, setelah beberapa kali di pencet tidak ada tanda tanda dokter yang menjawab. Dan karena sudah merasa kesal akhirnya tuan Dimas pun keluar dari ruangan Annisa menuju ruang para dokter.


Brak....


" Bisakah ketika terjadi darurat kalian harus cepat tanggap terhadap pasien !." Teriak tuan Dimas kepada para dokter dan perawat yang malah asik dengan Dunia mereka masing masih dan menghiraukan panggilan bel.


" Jika kalian tidak ingin di pecat maka cepat lakukan." Ucap tuan Dimas marah dan juga kecewa terhadap tindakan para dokter dan suster yang lambat.


Setelah itu tuan Dimas pun pergi dan berlari lagi ke arah ruangan Annisa sedangkan di ruang dokter dan perawat terjadi kegaduhan dan heboh.


" Siapa sih sebenernya dia itu, engga sopan banget asal dobrak pintu." Marah dokter wanita satu.


" Dari pada kalian heboh dan sibuk dengan ocehan kalian mending kalian susul keluarga pasien barusan, jangan sampai pemilik rumah sakit ini tau dan memecat kita semua." Ucap perawat satu.


" Iya iya iya." Jawab dokter satu dan temannya malas.


Setelah itu mereka semua pergi dari ruangannya menuju ke tempat di mana keluarga pasien yang barusan melabrak mereka. Dan ketika sudah sampai di tempat dna ruangannya mereka malah saling mempersilahkan.


" Dokter duluan saja, kan dokter yang paling senior di antara kami." Ucap dokter satu.


" Enak aja, harusnya kamu sebagai junior itu paling duluan baru senior." ucapnya lagi.


" Maaf dok bisa kita masuk, saya takut terjadi apa apa dengan pasien di ruangan ini dan nanti takutnya dokter akan di tuntut akibat lalai dalam menjalankan tugas seorang dokter." Ucap perawat satu.


" Baiklah, mending kita masuk saja secara bersamaan." Ucap dokter satu dan tentunya mendapatkan anggukan dari semua.


Tok tok tok


" Permisi... ***..." Belum sempat melanjutkan ucapannya sudah di potong oleh nyonya Chintia.


" Kalian ini bagaimana sih, harusnya kalian itu cekatan, cepat dan sigap dalam situasi apapun. Kalian ini dokter bukan sih ? jika kalian bukan dokter mending kalin pulang saja dari pada membahayakan nyawa pasien." Teriak Nyonya Chintia yang marah akibat dokter yang telat datang dan lalai dalam menangani pasien.


" Maaf kami salah." Ucap dokter dan perawat secara bersamaan.

__ADS_1


" Apa kalian masih mau berdiri di situ dan melihat keponakan saya meninggal hah !." Teriak Nyonya Chintia dan tentunya membuat dokter dan perawat kaget bukan main.


" Saya tidak budeg nyonya dan saya juga masih bisa dengar kata kata anda. jadi jangan berteriak bisa ngga sih." Gerutu dalam hati dokter satu.


" Buset kenceng bener suaranya dan lugas serta tegas pula." Ucap teman dokter dalam hati.


Karena takut mendapatkan teriakan yang kedua kalinya akhirnya perawat dan dokter pun meriksa Annisa dan seketika dokter pun pucat.


" Bagaimana ini bisa terjadi." Ucap temannya dokter rendah tapi masih bisa di dengar oleh nyonya Chintia.


" Apa maksudnya ?." Tanya nyonya Chintia kepada dokter.


" Siapkan ruang operasi Sekarang !." Teriak dokter kepada perawat dan temannya dan menghiraukan pertanyaan dari nyonya Chintia.


" Baik." Ucap perawat tanpa berpikir dua kali, karena jika sang dokter sudah menyebutkan kata ruang operasi maka ada bahaya yang akan menimpa pasien jika tidak di tangani di ruang operasi.


Karena tidak mendapatkan jawaban dari dokter Nyonya Chintia pun bertanya kepada dokter yang satunya lagi.


" Apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa barusan dokter menyuruh untuk mempersiapkan ruang operasi." Tanya Nyonya Chintia penasaran.


" Maaf Nyonya, sepetinya sudah terjadi sesuatu makanya dokter menyuruh perawat untuk mempersiapkan ruang operasi." Ucap nya lagi.


" Apakah itu berbahaya ?." Tanya nyonya Chintia.


" Kalau soal itu saya kurang tau Nyonya dan nyonya nanti bisa tanyakan kepada dokter yang bersangkutan." Ucap dokter.


" Kalau begitu saya permisi karena saya juga harus membantu dokter untuk membawa pasien ke ruang operasi." Ucap dokter itu undur diri dan melangkahkan kakinya menuju ke tempat di mana temannya saat ini sedang memeriksa pasien dan catatan medis pasien.


" Bagaimana dok." Tanya dokter satu.


" Kita harus cepat cepat melakukan tindakan karena tidak mungkin kita menunggu terlebih lama lagi, apalagi di catatan pasien ini ternyata sangat mengkhawatirkan." Ucap temennya dokter yang ternyata lebih senior dan juga termasuk dokter yang akan bergabung di operasi Annisa nantinya bersamaan dengan dokter Dafa.


" Lalu apakah kita butuh dokter lain ?." Tanya dokter satu.


" Untung kamu mengingatkan saya." Ucap temannya dan setelah itu dirinya mencari ponsel dan menekan nomer dokter Dafa.


Hay Hay Hay Hay Hay


selamat sore semuanya hehe maaf baru bisa up dan maaf banget karena lama ngga up hehe.


saya tidak bisa janji kalau saya akan up tiap hari ya.. tapi nanti saya akan usahakan untuk up.


seperti biasa Ning mau ngucapin permintaan maaf dulu ya hehe dan maaf banget kalau misalnya banyk kata yang salah, kurang jelas dan gaje. dan maaf banget kalau alur waktunya termasuk tempat kurang pas dan maaf banget kalau misalnya ada yang tersinggung ataupun yang lainnya dan maaf banget kalau misalnya kebanyakan Typo.


Terima kasih 😁😁😁


Salam sayang šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2