Perjuangan Gadis Desa

Perjuangan Gadis Desa
Episode 4


__ADS_3

**Akhirnya nyonya Chintia bisa membujuk Annisa untuk mempercayakan ibunya kepada dirinya. Tetapi yang dalam pemikiran nyonya Chintia adalah bagaimana caranya sang adik sekaligus sepupu dan teman itu bisa di ajak, karena seingat nyonya Chintia sang adik lebih keras kepala entah kenapa dia menjadi seperti itu sejak berpacaran dengan Bramantyo tetapi nyonya Chintia tidak mau menyerah dan mengalah kali ini karena tekad nyonya Chintia sudah bulat dan tidak bisa di bantah.


" Hmmm maaf ibu apakah Rahma boleh bertanya ?." Rahma bertanya kepada nyonya Chintia tetapi Rahma juga merasa takut kalau nyonya Chintia akan marah pada dirinya soal pertanyaan yang akan dia ajukan kepada nyonya Chintia.


" Mau tanya soal apa Rahma ?." jawab nyonya Rahma.


" Sebelumnya Rahma minta maaf Bu kalau pertanyaan Rahma menyinggung ibu."


" Ada hubungan apa antara ibu dan Annisa dan kenapa menyebut nama ibu Annisa, adek adek Annisa, ayah dan kakek Annisa. Apakah ibu mengenal Annisa sebelumnya atau bagaimana?."


" Baiklah ibu akan jawab pertanyaan kamu." sambil menghela nafas dan berusaha menahan sesak di dada kalau mengingat masa lalu.


Sambil nyonya Chintia bercerita Rahma sesekali bertanya kepada nyonya Chintia bagaimana ini bisa terjadi dan kenapa ibu dan Annisa yang harus merasakan penderitaannya.


" Begitu lah Rahma ceritanya." lirih nyonya Chintia.


" Kenapa harus Annisa dan ibu nya yang menderita dan kenapa ayahnya meninggalkan mereka, apakah ada niat terselubung sebelumnya?." pikir Rahma walaupun Rahma hanyalah seorang pembantu di rumah nyonya Chintia tapi Rahma merupakan seorang sarjana hukum dari universitas negeri ternama di daerah Jakarta dan dia menyelesaikan pendidikannya dengan sangat cepat dan jika kalian bertanya bagaimana Rahma bisa kuliah itu karena keluarga nyonya Chintia lah yang memaksa Rahma untuk melanjutkan pendidikan nya yang lebih tinggi lagi.


" Kamu benar Rahma." jawab nyonya Chintia


" Apakah kamu tau Rahma kalau yang merestui hubungan mereka adalah aku dan akulah yang menjadi saksi pernikahan mereka tanpa sebelumnya aku berfikir kedepannya apa yang akan terjadi dan bagaimana kehidupan mereka." cerita panjang nyonya Chintia kepada Rahma.


" Tapi Bu Rahma merasa aneh kenapa dari cerita Annisa dan ibu sangat bertolak belakang." bingung Rahma karena dari cerita Annisa dan nyonya Chintia sangat berbeda jauh.


" Itulah Rahma yang sangat saya bingung karena yang saya tau ayahnya Annisa yaitu Bramantyo adalah orang yang sangat baik, penyayang, sopan dan santun, tidak pernah mempermainkan wanita, dan masih banyak lagi tapi yang di bicarakan oleh Annisa adalah hal yang tidak pernah saya duga sama sekali hiks hiks hiks hiks hiks." Tangis nyonya Chintia pun pecah.


" Tetapi Bu apakah Annisa membenci atas semua perbuatan yang dilakukan oleh ayahnya?."


" Kalau soal itu ibu tidak tau namun ibu merasa bahwa di dalam hati Annisa seperti tersimpan banyak masalah dan kesakitan yang mendalam.


" Maaf Bu kalau Rahma ikut campur dalam urusan keluarga ibu tapi Rahma merasa bingung apakah ada hal yang menyebabkan tuan Bramantyo melakukan kekerasan terhadap nyonya Halimah dan Annisa di saat Annisa masih kecil, dan apakah keluarga Sanjaya dengan keluarga dari om ibu memiliki masalah pribadi ? karena tidak mungkin keluarga Sanjaya tiba tiba menerima Bu Halimah dengan senang hati ?." ucap Rahma karena Rahma merasa bingung dan merasa banyak kejanggalan dalam hubungan keluarga nyonya Halimah dan tuan Bramantyo."


" Benar juga apa yang di katakan oleh Rahma dan kenapa baru sekarang aku merasakannya dan kenapa aku bisa lupa kalau Bramantyo itu adalah anak dari keluarga Sanjaya karena yang aku tau keluarga Sanjaya pernah membuat perusahaan ayah bangkrut itupun tanpa ayah ketahui sama sekali dan setalah ayah mengalami kebangkrutan keluarga Sanjaya tidak pernah mengusik ayah kembali tetapi ketika ayah memulai membangun perusahaan kembali dan langsung menjadi perusahaan pertama di Indonesia kenapa keluarga Sanjaya mengusik kembali, aku harus tanyakan masalah ini kepada ayah tetapi apakah ayah mau cerita ?." gumam nyonya Chintia.


" Oh iya Bu apakah adek adeknya Annisa pernah melihat wajah ayahnya ?."

__ADS_1


" Kalau soal itu ibu kurang tau dan kalau penasaran mending kamu tanyakan saja sama Annisa."


Setelah berbincang cukup lama nyonya Chintia dan Rahma pun kembali ke kamar masing masing. Namun, berbeda dengan nyonya Chintia setelah masuk kemar nyonya Chintia masih merenungkan masalah masalah yang di hadapi sang adik selama 18 tahun dan itu bukan waktu yang sangat sebentar melainkan waktu yang sangat lama.


" Aku harus bertemu dengan siapa dulu apakah aku harus bertemu dengan Halimah dulu atau pergi ke rumah ayah." Bingung nyonya Chintia.


Waktu pun terus berjalan dan malam hari pun telah tiba sehingga semua keluarga nyonya Chintia pun sekarang sedang berkumpul di ruang keluarga.


" Ehem pah." Sambil bersandar di kursi


" Iya Bu ada apa ?." Sambil mengelus nyonya Chintia yang sedang bersandar di kursi.


" Apa papah masih kenal dengan adekku ?."


" Tentu, kan semua adek adekmu sekarang tinggal di luar negeri bersama suaminya."


" Bukan mereka pah tapi Halimah."


" Apa !." Kaget tuan Dimas di depan telinga nyonya Chintia


" Maaf maaf ngga sengaja." sesal tuan Dimas sambil memeluk kembali nyonya Chintia.


" Terus gimana sekarang keberadaannya Halimah?." Tanya tuan Dimas.


" Itulah pah keadaan Halimah sekarang sedang tidak baik baik saja dan Halimah pun sekarang lebih memperihatinkan dan dia juga sekarang sedang sakit dan bukan hanya itu saja Halimah juga harus berjuang sendiri dalam membesarkan tiga anak anaknya."


" Apa !!!." Teriak tuan Dimas kembali.


" Ish papah nih kenapa sih harus teriak lagi dan bisa ngga sih jangan teriak di depan telinga ibu." kesal nyonya Chintia kepada tuan Dimas.


" Tapi ngga mungkin Halimah menderita dan harus merawat anak anaknya seorang diri." bingung tuan Dimas.


" Perasaan sebulan yang lalu aku ketemu sama Bramantyo dan kita berdua juga saling berjabat tangan dan dia juga bilang kalau keadaan dia beserta anak dan istrinya sehat serta bahagia tapi ini kenapa ibu bisa bilang begitu." gumam tuan Bramantyo kecil tapi masih bisa di dengar oleh nyonya Chintia.


" Pah tadi kamu ketemu sama Bramantyo sebulan yang lalu ?." tanya nyonya Chintia.

__ADS_1


" Iya Bu aku ketemu sama dia sebulan yang lalu di hotel peresmian di rekan Bisnisku Bu. Jawab tuan Dimas.


" Apa !!!!!." Teriak nyonya Chintia.


" Ih ibu kenapa ibu teriak sih dan kenapa juga ibu kaget. " Bingung tuan Dimas kepada nyonya Chintia.


" Gimana ibu ngga kaget pah dia ninggalin Halimah sekitar 9 tahun dan yang lalu dan apa papah tau setelah Halimah melahirkan anak pertama kita masih berkunjung kan dan hingga satu tahun terakhir dan apa papah tau setelah mereka pindah Bramantyo mulai melakukan kekerasan fisik kepada Halimah dan Annisa bahkan dia tidak pernah menafkahi yang buat mereka sehingga Halimah harus banting tulang buat makan Annisa hiks hiks hiks."


" Dan apa papah tau dia dengan teganya mengambil uang hasil jerih payah Halimah dan mengatakan bahwa Halimah seorang pencuri dan hiks hiks dia juga yang membuat Annisa mengalami siksaan siksaan yang seharusnya tidak pernah di lakukan pada sang anak. Tangis nyonya Chintia pun kembali pecah di pelukan sang suami


" Sudah sudah jangan menangis lagi Bu." sambil menenangkan sang istri.


" Dan apa papah tau Halimah bekerja sebagai pencuci piring di warung makan orang, pencuci baju di rumah tetangga, beres beres rumah tetangga, dan yang lainnya. Demi dia bisa melihat Annisa bisa meminum susu dan makan makanan yang bergizi."


" Astaghfirullah."


" Apa papah harus cari tau tentang Bramantyo Bu ?."


" Tidak dan jangan dulu pah karena aku harus mengetahui inti permasalahan dalam rumah tangga Halimah dan Bramantyo."


" Kalau misalnya ibu mencari inti dari permasalahan rumah tangga Halimah dan Bramantyo lalu apa yang akan papah lakukan Bu."


" Apa papah bisa bantu ibu ?."


" Insya Allah kalau ayah mampu dan bisa bakalan ayah bantu Bu."


" Tolong kasih uang buat pengobatan Halimah serta biaya pendidikan Halimah di luar negeri yah, karena kata Annisa ibunya sakit parah dan adek adeknya juga masih pada sekolah sehingga Annisa telah bekerja demi membantu perekonomian keluarga nya dan biaya pengobatan ibu beserta adek nya."


Halo assalamualaikum semuanya maaf banget baru bisa up lagi karena kondisi kemarin kemarin sangat tidak memungkin buat Ning menulis cerita dan bukan hanya itu saja Ning juga butuh sinyal cepet dan ngga lambat lagi.


sekali lagi mohon maaf ya...


eits sebelum itu jangan lupa ya.. komen, like, dan vote cerita Ning ini biar Ning bisa mengoreksi kata kata yang mungkin banyak kesalahan seperti alur, tempat, peran dan sebaginya.


salam sayang šŸ¤—šŸ¤—šŸ¤—**

__ADS_1


"


__ADS_2