
Akhirnya Dafa pun memutuskan telfonnya dengan sang bunda dan saat ini dia pun merasa bingung karena dia juga harus memikirkan bagaimana caranya dia bisa menyembuhkan pasien nya yang penyakitnya bisa mematikan dan berbahaya dalam melakukan tindakan medis.
" Apa yang harus aku lakukan." Bingung Dafa sambil memijit pelipisnya dan juga membolak-balikkan data pasien yang saat ini ada di depan mata dirinya.
Sedangkan saat ini Anggara sudah sampai di depan rumah sakit kasih bunda dan dia pun langsung turun dari mobil dan tidak lupa juga memberikan kunci mobilnya kepada petugas yang biasa memakirkan mobilnya di sekitar area rumah sakit.
Dan tidak butuh lama Anggara pun menuju ka arah resepsionis untuk bertanya di mana ruangan Annisa saat ini.
" Permisi sus." Ucap Anggara kepada suster yang berjaga.
" Iya." Ucap suster resepsionis.
" Saya mau tanya, Dimana ya.. ruangan pasien yang bernama Annisa Nur Fitri." Ucap Anggara.
" Ooh nona Annisa ya.... tuan." Ucap suster.
" Betul sus, apa suster tau." Tanya Anggara lagi.
" Nona Annisa saat ini sudah di pindahkan ke ruangan VIP dan sepertinya tadi juga ad ayang mencarinya seperti anda tuan." Ucap jelas resepsionis.
" Ooh begitu ya... sus, boleh Suster tunjukkan di mana arah ruangan nya sus." Ucap Anggara lagi meminta tolong.
" Tuan lurus saja dari sini setelah itu tuan belok kiri menuju lift lantai 9 dan setelah sampai di lantai 9 tuan juga harus berjalan lurus dan cari nomer angka 10." Ucap penjelasan sang suster.
" Ooh kalau begitu Terima kasih ya.. sus " Ucap Anggara sambil membalikkan badannya dan berlari ke arah di mana lift itu berada, dan ketika sudah sampai dekat dengan lift Anggara pun menekan tanda panah dan setelah kebuka ia langsung menekan angka 9 untuk sampai ke tempat Annisa di rawat.
lift yang mengantarkan Anggara ternyata membutuhkan waktu lama untuk sampai, padahal menurut dirinya lift yang biasa dia tumpangi itu hanya butuh waktu sebentar saja tapi ini dia harus bersabar karena dia harus rela berhenti di setiap lantai karena banyak yang keluar masuk naik lift.
Sekitar 30 menit akhirnya Anggara pun sampai di lantai 9 paling atas lebih tepatnya ruang khusus VIP saja atau bisa di bilang kalangan kelas tinggi dan sedangkan lantai 8 dan 2 itu hanya untuk orang orang yang kurang atau cukup untuk biaya rumah sakit saja.
Setelah terbuka lift Anggara pun dengan sangat kencang berlari mencari arah ruangan yang bertuliskan nomer 10 dan setelah di dapat dia pun masuk ke ruangan itu.
Ceklek.
" Assalamualaikum." Ucap salam Anggara.
" Waalaikumsalam." Ucap tuan Dimas dan nyonya Chintia.
" Maaf ibu ayah Anggara telat datangnya."Ucap Anggara meminta maaf kepada ibu dan ayah mertua.
" Tidak apa apa nak, yang penting saat ini kamu sudah sampai dengan selamat tanpa ada sedikit luka." Ucap tuan Dimas sambil menepuk bahu Anggara.
" Oh iya ayah bagaimana keadaannya Annisa." Tanya Anggara kepada tuan Dimas.
" Yah ayah juga tidak tau." Ucap tuan Dimas pasrah.
" Ko tidak tau sih yah." Bingung Anggara.
__ADS_1
" Bagaimana ayah tidak tau nak, Annisa saat ini aja masih koma dan dia baru saja selesai dnegan operasi pertama." Ucap jelas tuan Dimas kepada Anggara.
"Operasi ?." Ucap Anggara kaget.
" Iya nak." Ucap nyonya Chintia.
" Memangnya Annisa harus operasi apa ayah ibu." Tanya Anggara.
" Dia hanya operasi bagian luka yang masih belum kering saja nak, dan ternyata Annisa memiliki banyak lupa yang kelihatan kering namun masih basah di didalam." Jelas nyonya Chintia.
" Luka apa itu Bu." Tanya Anggara penasaran.
" Mungkin luka habis jatuh nak, tapi seperti sudah terinfeksi dan Annisa juga sepertinya tidak merasakan sakit ataupun yang lainnya." Jelas nyonya Chintia
"Ooh begitu ya.. Bu." Ucap Anggara sambil menganggukkan kepalanya.
" Oh iya nak, di mana Puspita ?." Tanya nyonya Chintia kepada Anggara.
" Dia tidak mau ikut Bu." Ucap Anggara kepada sang ibu mertua.
" Loh kenapa ?." Tanya nyonya Chintia penasaran.
" Kurang tau Bu, dan Anggara juga tidak menanyakan kenapa dia tidak mau ikut." Jelas anggara.
" Kenapa sikap dia makin aneh ya... ayah." Tanya nyonya Chintia kepada tuan Dimas.
" Aku hanya bingung saja sama kelakuan putri kita, dan kenapa juga dia bisa aneh seperti itu." Ucap nyonya Chintia sambil memikirkan tingkah putri satu satunya yang akhir akhir ini makin aneh dan tidak jelas.
" Bukan hanya ibu saja tapi aku juga lebih merasa aneh Bu." Ucap Anggara.
" Maksudnya bagaimana." Bingung nyonya Chintia.
" Jadi begini Bu, kalau ngga salah yang aku ingat itu Puspita mulai aneh sekitar 6 bulan yang lalu." Ucap Anggara sambil mengingat ingat awal mula Puspita mulai berbuah menjadi aneh.
" Coba kamu jelaskan kepada ibu dan ayah secara rinci." Ucap nyonya Chintia kepada Anggara untuk menejelaskan secara detail nya.
" Baiklah akan aku jelaskan detail tapi ibu dan ayah jangan marah ketika aku menjelaskan." Ucap Anggara dan membuat nyonya Chintia dan juga tuan Dimas menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Akhirnya Anggara pun menceritakan awala mula bagaimana Puspita mulai berubah sekita 6 bulan yang lalu lebih tepatnya hari pernikahan Anggara dan juga Puspita yang ke 5 tahun. Dan bukan hanya itu saja Anggara juga menceritakan dia pernah melihat seseorang ntah itu siapa tapi sepertinya dia sedang berbicara dengan Puspita dan dia juga melihat orang itu memberikan atau memperlihatkan sebuah video dari dalam handphone orang itu sehingga membuat Puspita mengambil handphone orang itu dan membanting nya ke arah kolam renang, setelah Puspita membanting handphone itu orang yang tidak di kenal itu juga memberikan pelukan kepada Puspita. Dan setelah kejadian itu besok harinya Puspita mulai aneh dan seperti bukan Puspita yang dulu Anggara kenal.
" Begitu bu ceritanya dan sampai sekarang pun aku masih penasaran dengan orang itu, karena aku tidak tau dia laki laki atau perempuan." Ucap Anggara sambil menghela nafas berat.
" Kenapa kamu baru cerita Sekarang Anggara." Ucap tuan Dimas.
" Aku tidak tau ayah kalau misalnya ini juga berhubungan dengan kedatangan Annisa." Ucap Anggara lagi hingga membuat Tuan Dimas dan nyonya Chintia pun semakin bingung.
" Jangan membaut kami bingung Anggara." Tegas tuan Dimas.
__ADS_1
" Apa ayah tau dan melihat ekspresi Puspita ketika dia melihat Annisa dan di perkenalkan oleh ibu sebagai anak dari sepupunya ?." Tanya Anggara.
" Yah melihatnya dan sepertinya dia juga senang dengan kedatangan Annisa seperti Bryan." Ucap tuan Dimas.
" Ayah Salah." Ucap Anggara.
" Kenapa ayah salah ?." Bingung tuan Dimas.
" Bagaimana kamu bisa menyimpulkan bahwa Puspita tidak senang denganan kedatangan Annisa." Tanya nyonya Chintia saat ini dan meminta jawaban kepada Anggara.
" Apa ibu tidak melihat di mana ketika Puspita terharu dan menangis." Ucap Anggara.
" Ibu masih ingat." Jawab nyonya Chintia cepat.
" Nah di situ awal mula drama yang di lakukan oleh Puspita." Ucap Anggara lagi.
" Coba kamu jelaskan lebih jelas Anggara dan jangan membuat kami semau merasa bingung." Ucap nyonya Chintia dan juga tuan Anggara serempak Karena mereka berdua sejujurnya merasa bingung dengan semua ini yang terjadi dalam sehari ini.
" Baiklah akan aku jelaskan tapi ibu dan ayah jangan menyela atau memotong ucapan aku." Ucap Anggara sambil menghela nafas panjang.
" Iya." Jawab serempak lagi Tuan Dimas dan nyonya Chintia.
Akhirnya Anggara pun menceritakan kembali awal mula dari A sampai Z dan sampai membuat nyonya Chintia dan juga tuan Dimas kaget dengan semua apa yang di ucapkan oleh Anggara dan mereka berdua juga sebenernya tidak percaya namun ketika Anggara meyakinkan mereka berdua pun akhirnya percaya.
Dan tanpa di sadari oleh ketiga orang yang saat ini sedang serius ternyata Bryan sedari tadi mendengarkan apa yang di ucapkan oleh ketiga orang itu.
Sebelumnya Bryan baru saja selesai dari mushola dan setelah selesai dia pun buru buru pergi dari area mushola untuk melihat Annisa yang saat ini sedang di operasi namun, ternyata Annisa sudah selesai menjalani operasinya dan dia juga sudah di pindahkan ke rumah VIP oleh pihak rumah sakit.
Dan setelah mengetahui Annisa sudah di pindahkan Bryan pun buru buru pergi dari sana dan dia juga berlari agar bisa sampai ke tempat di mana saat ini Annisa di rawat.
Ketika Bryan akan masuk dia mendengar seseorang sedang berbicara dengan ibunya dan juga ayahnya. Ketika dia masuk ternyata yang berbicara dengan ayah dan ibunya adalah Kaka iparnya atau suami dari Kakaknya.
Dan betapa kagetnya ketika dia mendengar semua kebenaran yang di ucapkan oleh Kaka iparnya dan membuat Bryan syok serta tidak percaya namun, jika ini sebuah kebenaran kenapa Kaka iparnya menutupi semuanya dari kita.
Karena sudah tidak tahan dengan semua ini akhirnya Bryan pun mengagetkan mereka.
" Apa yang kalian ucapkan ini sebuah kebenaran." Ucap Bryan dan tentu saja membuat tiga orang itu kaget dan menengok ke arah suara di mana itu ternyata Bryan.
" Bryan." Jawab serempak ke tiga orang.
Hay Hay Hay Hay semuanya hehehe
maaf baru bisa up dan maaf banget ya... kalau misalnya ada kata yang membuat kalian tersinggung dan maaf banget kalau kebanyakan Typo hehe.
Aku tidak akan ngomong panjang lebar karena aku cuma punya waktu sedikit hehehe karena sibuk. Dan jangan lupa ya... nanti tanggal satu aku akan adakan kuis buat kalian.
Terima kasih šš
__ADS_1
Salam sayang š¤š¤