
Setelah perbincangan cukup lama tuan Dimas dan nyonya Chintia pun memilih untuk masuk ke area mushola dan sebelum masuk ke area Mushola mereka di khususkan untuk wudhu terlebih dahulu sesuai arahan dan anjuran dari pihak mushola.
" Bu kita misah ya.. dari sini karena tempat wudhu perempuan dan laki laki di pisah." Ucap tuan Dimas sambil melepaskan sepatunya.
" Iya ayah, kalau begitu ibu duluan ya... karena ibu takut nanti Annisa ngga ada yang jagain dan juga takut terjadi apa apa." Ucap nyonya Chintia yang sudah melepaskan sepatunya dan setelah itu berdiri dan melangkahkan kaki nya menuju ke area tempat wudhu.
" Iya." Ucap tuan Dimas juga.
Setelah mereka berpisah di tempat pelepasan sepatu mereka pun langsung pergi ke tampilan at wudhu dan tidak lupa juga setelah wudhu nyonya Chintia mengambil mukena yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit, setelah mendapatkan mukena nyonya Chintia pun bergegas pergi ke tempat ibadah khusus perempuan. Ketika sudah sampai di tempat nyonya Chintia pun langsung menggelar sajadah dan tidak lupa juga memakai mukena. Nyonya Chintia pun langsung sholat dan tidak lupa juga setelah sholat untuk meminta kesembuhan dan juga keselamatan bagi sang keponakan.
*Ya Allah berilah kekuatan untuk keponakan aku ini ya.. Allah, berilah kesehatan dan kesembuhan untuk dirinya ya.. Allah. Maafkan hamba yang telah lalai dalam menjaganya dan maafkan hamba yang belum bisa menjadi seorang Tante yang baik buat dirinya ya.. Allah.
Ya.. Allah jangan hukum dia dan jangan kau buat dia merasa sakit dengan bebannya ya.. Allah, berilah kemudahan dan kelancarannya untuk bisa bangkit dan bangun dari komanya ya.. Allah.
Hamba berserah diri kepadamu dan hamba hanya meminta kepadamu untuk memberikan kekuatan dan juga ketabahan.
Aamiin*.
Setalah melakukan sholat dan berdoa kepada yang maha kuasa nyonya Chintia pun membaca ayat suci Al Qur'an dengan khusyuk.
Sekitar 30 menit nyonya Chintia pun menutup Alquran dan juga mengucapkan hamdalah dan tidak lupa juga mencium Alquran.
Sedangkan di tempat yang tidak jauh dengan nyonya Chintia Bryan saat ini masih menangis, menangis dalam doa dan dia juga tidak mengerti serta tidak tau apa yang harus dia lakukan saat ini demi sang adik.
" Apa yang harus aku lakukan demi kamu Annisa dan apa yang harus aku lakukan hiks hiks hiks." Ucap Bryan dan tanpa di sadari oleh Bryan tuan Dimas sebelumnya melihat anaknya yang sedang khusyuk sholat dan juga sambil menangis ketika bersujud, hingga membuat tuan Dimas pun meneteskan air matanya dan tidak lupa juga merasa bersyukur karena memiliki anak laki laki yang begitu penyayang terhadap keluarganya dan juga saudaranya. Namun, tuan Dimas tidak ingin menganggu dan dua lebih baik pergi dan membiarkan Bryan berserah diri kepada sang pencipta.
Setelah kepergian tuan Dimas Bryan masih saja menangis sambil mengadahkan tangannya ke atas dan tidak lupa juga dia beristighfar.
Di rasa sudah cukup Bryan pun mengusap kedua telapak tangannya ke area muka tapi sebelum itu dia selalu membaca surat Al ikhlas, Al Falaq, an nas, dan juga ayat kursi selama 3 kali di setiap bacaannya setelah itu meniupkannya dan juga mengusap ke seluruh bagian wajah dan tubuh.
Akhirnya Bryan pun keluar dari mushola namun tiba tiba dia menabrak seseorang hingga membuat orang itu jatuh ke lantai.
" Aduh." Ucap orang itu yang kesakitan akibat terjatuh ke lantai.
"Eh maaf ngga sengaja." Ucap Bryan sambil mengulurkan tangannya untuk membantu orang itu berdiri dan orang yang sedang kesakitan pun menerima uluran tangan Bryan.
" Terima kasih." Ucap orang itu.
" Sama sama, dan maaf jika saya telah menabrak dokter dan maafkan saya karena saya sedang buru buru." Ucap Bryan meminta maaf kepada dokter yang ternyata Bryan tabrak.
" Iya tidak apa apa dan maafkan saya juga yang mungkin sa juga tidak melihat karena sednag fokus dengan buku yang saya bawa." Ucap dokter itu sambil memperlihatkan buku catatannya.
" oh iya dok, kaalu begitu saya pamit dan sekali lagi mohon maaf." Ucap bryan pamit dari hadaon dokter.
Setelah kepergian Bryan dokter itu pun pergi tapi sebelum pergi dia melihat lagi data pasien yang harus ia rawat secara intensif.
__ADS_1
" Sebenernya apa yang terjadi dengan pasien ini, dan anehnya ini seperti ada luka yang lama bahkan belum sembuh namun sudah mebekas kering. " Ucap dokter itu fokus dengan catatan pasien yang harus dia rawat dan ketika sedang fokus ada nada panggilan dari handphone dirinya.
Kring kring kring kring kring kring
" Halo, assalamualaikum bunda." Ucap dokter itu kepada sang bunda.
" Waalaikumsalam nak." Jawab bunda.
" Ada apa bunda dan tumben jam segini bunda sudah telfon Dafa." Ucap dokte ritu yang ternyata adalah Dafa anak dari nyonya meta temannya nyonya Chintia.
" Hehe iya, apa bunda ganggu kamu saat ini nak ?." Tanya bunda Dafa.
" Tidak bunda." Jawab cepat Dafa.
" Syukur deh kalau kamu saat ini sedang tidak sibuk." Ucap bunda Dafa.
" Loh, memang ada apa bunda, apa bunda sakit atau bagaimana." Khawatir Dafa kepada sang buda.
" Tidak nak, bunda tidak apa apa dan malahan bunda saat ini sednag gym." Jawab sang Bunda.
" Lalu ?." Tanya Dafa kepada snag bunda.
" Begini nak, tadi temen Bunda nelfon yang awalnya kan dia mau kirim orang buat bekerja di rumah kita tetapi ternyata tidak bisa dan untungnya bunda juga sudah ada penggantinya. Dan dia juga meminta maaf karena belum bisa menemuinya secara langsung akibat anak sepupunya masuk rumah sakit yang saat ini kamu kerja nak." Ucap bunda panjang lebar walaupun di singkat.
" Memangnya siapa bunda namanya ?." Tanya Dafa penasaran.
" Loh, itu kan pasien yang akan aku rawat bunda." Ucap Dafa yang kaget dengan nama anak dari temennya bunda.
" Hah, yang bener kamu." Tanya bunda kaget dengan ucapan anaknya itu.
"Iya bunda aku serius, dan malahan data datanya ada di aku dan bukan hanya itu saja bunda, aku bingung dengan data data diagnosisnya." Ucap Dafa kepada sang bunda.
" Maksudnya bagaimana nak." Tanya bunda yang penasaran dan juga bingung.
" Jadi begini Bunda, aku kan lihat nih data punya Annisa tapi yang anehnya itu ada beberapa luka dalam yang belum kering namun di luar terlihat sudah sembuh dan juga kering. Dan lebih parahnya lagi di bagian otaknya ada cidera ." Ucap Dafa panjang lebar kepada sang bunda.
" Pa kamu yakin nak dengan semua ucapan kamu itu." Tanya bunda.
" Aku yakin bunda, dan malahan aku beserta dokter yang lain saat ini sedang berusaha mencari solusinya." Ucap Dafa namun, dirinya juga merasa ragu.
" Tapi jawaban kamu kamu seperti belum yakin nak, dan sepetinya masih ada yang mengganjal di hati kamu tapi kamu tidak mau cerita kepada bunda." Ucap bunda kepada Dafa dan benar saja Dafa merasa terkejut karena Bundanya tau apa yang ada di pikiran Dafa walaupun dia tidak memberitahu bunda.
" Bunda benar, aku memang masih ragu dan bahkan aku juga belum yakin, tapi di sini sebagai dokter harus bisa bersikap profesional demi menyelamatkan nyawa pasien walaupun kita juga menjadi taruhannya." Ucap Dafa.
" Apa yang membuat kamu ragu nak, coba kamu jelaskan sama bunda supaya bunda bisa memberi solusi untuk kamu walaupun bunda juga bekuk yakin bahwa solusi yang bunda berikan ini bisa kamu terima." Ucap bunda.
__ADS_1
" Baiklah aku akan cerita sama bunda tapi nanti aku harus sampai ruangan aku dulu bunda setelah itu baru aku bisa jelaskan sama bunda." Ucap Dafa sambil melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan kerjanya.
" Baiklah bunda akan tunggu kamu sampai kamu tiba di ruangan kamu." Ucap bunda.
akhirnya bunda Dafa pun menunggu anaknya yang mungkin saat ini masih melangkahkan kakinya menuju ruangannya. Ya.. walaupun itu membuat bunda Dafa bosan karena dari tadi Dafa belum sampai juga dan belum menginformasikan sama sekali.
Sekitar 30 menit kemudian bunda Dafa mendengar suara anaknya di seberang telfon dan seketika itu juga bunda Dafa mengangkat telponnya.
" Halo bunda." Ucap Dafa.
" Iya nak." Ucap bunda Dafa.
" Maaf ya.. bunda jadi nunggu lama." Ucap Dafa yang merasa bersalah kepada sang bunda.
" Iya tidak apa apa nak." Ucap bunda Dafa.
"Baiklah aku akan cerita sama bunda tetapi bunda harus mendengarkannya dengan baik baik dan jangan dulu memotong semua ucapan Dafa, apa bunda mengerti." Ucap Dafa mengingatkan sang bunda.
" Iya bunda mengerti." Ucap bunda.
Akhirnya Dafa pun menceritakan bagaimana dia memiliki keraguan dan bagaimana dia belum yakin dengan apa yang akan di lakukan oleh dirinya dan juga para dokter yang akan mengoperasi Annisa.
" Jadi begitu bunda." Ucap Dafa sambil menghela nafas berat.
" Ternyata begitu rumit nak, dan itu pun di lakukan secara bersamaan bahkan waktu yang di tentukan pun cukup la sekali." Ucap bunda sedih ketika anaknya menceritakan bagaimana tindakan yang akan di lakukan di saat akan mengoperasi Annisa.
" Itulah bunda." Ucap Dafa menerawang ke atas.
" Lalu kamu harus bagaimana nak ?." Tanya bunda.
" Kita semua masih berunding bunda dan belum di tentukan sama sekali." Ucap Dafa dnegan tatapan sedikit sedih ketika mengingat pasien yang akan dia rawat.
" Saat ini bunda belum bisa memberikan solusi untuk kamu nak, dan bunda juga masih sedikit bingung bagaimana bunda harus memberikan solusinya." Ucap bunda sedih.
" Tidak apa apa bunda." Ucap Dafa.
Hay Hay Hay semuanya hehehe
maaf banget ya.. baru bisa up lagi hehe.
Aku kali ini ngga bakalan ngomong banyak sama kalian semua tapi aku mencoba untuk tetap up walaupun ada beberapa orang yang tidak suka dengan karyaku ini hehehe.
Aku cuman bisa bilang maaf banget kalau misalnya banyak typo dan juga banyak kata yang membuat kalian tersinggung.
Maaf banget dan beribu maaf.
__ADS_1
Terima kasih😁😁
Salam sayang 🤗🤗