
" Lebih cepat lagi, karena kita semua tidak ada waktu lebih banyak lagi." Ucap dokter Ryan kepada semua perawat yang saat ini masih mendorong brankar menuju ruang operasi.
" Om aku mohon selamatkan Annisa ya.. om" Ucap mohon Bryan.
" Om tidak bisa janji sama kamu Bryan karena kondisi Annisa pun sudah semakin parah apalagi melihat wajahnya saja om sudah prihatin, tapi om minta sama kamu untuk tetap mendoakan Annisa mengerti." Ucap dokter Ryan kepada Bryan sambil menepuk bahunya.
" Iya om, tapi usahakan semaksimal mungkin ya... om." Ucap Bryan berharap.
" Om ngga bisa janji Bryan tapi om akan tetap berusaha semampu dan sebisa om." Ucap dokter Ryan lagi.
Setelah sampai di pintu masuk ruang operasi dokter Ryan pun memberhentikan langkah Bryan serta menyarankan Bryan untuk berdoa demi keberhasilan operasi putri dan juga keselamatan Annisa.
" Kamu tidak boleh masuk Bryan dan lebih baik kamu berdoa saja ya..." Ucap dokter Ryan setelah itu dia masuk dan menutup pintu ruang operasi.
Setelah dokter Ryan mengatakan itu dan masuk ke ruang operasi bersama perawat yang lain Bryan pun.
Saat ini nyonya Chintia dan juga tuan Dimas masih dalam perjalanan dan sesekali mereka juga mengobrol untuk menghilangkan ketegangan dan khawatir tentang keadaan Annisa saat ini.
" Yah bagaimana keadaan Annisa saat ini dan apa Annisa akan baik baik saja ?." Tanya nyonya Chintia kepada tuan Dimas.
" Kita doain aja Bu dan mudah mudahan Annisa baik baik baik saja dan secepat bisa pulih lagi." Ucap tuan Dimas untuk menenangkan nyonya Chintia walaupun dirinya sendiri juga begitu khawatir tentang keadaan Annisa.
" Kau benar ayah kita harus mendoakan untuk kesembuhan Annisa dan mudah mudahan juga dia bisa secepatnya pulih aamiin." Ucap Nyonya Chintia berdoa.
Setelah perbincangan cukup lama tuan Dimas dan juga nyonya Chintia sudah sampai di area wilayah rumah sakit saat ini. Dan setelah sampai di depan rumah sakit nyonya Chintia dan juga tuan Dimas turun dari mobil sebelum masuk ke lobby rumah sakit Tuan Dimas lebih dulu menyerahkan kunci mobilnya kepada satpam yang biasanya memakirkan mobilnya
" Ini pa kunci mobilnya dan langsung bawa ke area parkiran ya..." Ucap Tuan Dimas kepada satpam yang biasa memakirkan setiap mobil pengunjung rumah sakit.
" Baik pa." Ucap satpam itu sambil menerima kunci mobil tuan Dimas.
Setelah menyerahkan kuncinya tuan Dimas dan juga nyonya Chintia langsung masuk ke area lobby rumah sakit setelah itu bertanya ke arah represionis di mana letak ruang operasi.
" Permisi sus saya mau tanya ?." Ucap tuan Dimas yang menghampiri meja resepsionis dan bertanya kepada suster yang berjaga saat ini hingga membuat sang suster yang sedang mencatat dan fokus di komputer pun langsung memberhentikan kerjanya setelah itu berdiri dan tersenyum kepada pengunjung yang saat ini Bertanya kepada dirinya.
" Iya pa ada yang bisa kami bantu ." Tanya suster itu sambil tersenyum.
" Iya sus saya butuh bantuan suster untuk mengecek data nama pasien yang bernama Annisa Nur Fitri yang barusan datang ke rumah sakit ini." Ucap tuan Dimas yang meminta tolong.
" Sebentar ya.. pa saya cek dulu." Ucap suster itu sambil mengarahkan tangannya serta tatapannya ke arah komputer dan menggerakkan kaybord nya.
" Maaf pa sebelumnya di data komputer kami ini belum ada data pasien yang bernama Annisa Nur Fitri." Ucap perawat itu.
" Coba cek lagi sus, soalnya pasien yang saya sebutkan itu belum lama datang ke sini bersama anak saya dan dokter pemilik rumah sakit ini." Ucap tuan Dimas lagi.
" Sebentar ya... pa saya coba cek lagi, dan kemungkinan saya terlewatkan." Ucap suster itu lagi sambil menggerakkan tangannya ke Atawa dan ke bawah, kiri dan kanan.
__ADS_1
" Bagaimana sus." Tanya tuan Dimas lagi.
" Maaf pa sepertinya pasien yang di maksud oleh bapak belum terdaftar di catatan riwayat data pasien rumah sakit ini pa dan apa boleh saya tau siapa nama pemilik rumah sakit ini dan anak bapak, mungkin saya bisa membantu bapak ?." Tanya suster itu karena memang dirinya masih baru bekerja di rumah sakit ini dan belum tau siapa pemilik rumah sakit ini ataupun teman teman yang lainnya.
" Ryan Andreas wong." Ucap tuan Dimas.
" Maaf pa jika saya lancang dan maaf juga kalau saya tidak mengetahui pemilik rumah sakit ini ataupun siapa anak bapak karena saya masih baru, tapi tunggu sebentar pa saya akan bertanya kepada suster yang lain dulu."Ucap perawat itu meminta maaf karena dirinya sama sekali tidak tau.
" Silahkan sus." Ucap Tuan Dimas mempersilahkan suster itu.
" Stelah mendapatkan ijin dari tuan Dimas suster yang berjaga di bagian resepsionis itu pun langsung mencari rekan kerjanya u tuk Bertanya di mana pasien yang di bawa oleh pemilik rumah sakit ini.
" Maaf sus saya boleh bertanya ?." Ucap suster resepsionis.
" Iya silahkan." Ucap suster yang tadi membantu Annisa menuju ke ruangan operasi.
" Saya ingin tau di mana pasien yang bernama Annisa Nur Fitri di bawa ?." Tanya suster resepsionis.
" Ooh wanita yang tadi bersama pemilik rumah sakit ini dan juga tuan muda ya..." Ucap suster itu.
" Iya sus." Ucap suster resepsionis.
" Tadi Pasien itu di bawa ke ruang operasi sus soalnya dia harus segera di tindak lanjut supaya bisa bertahan dna juga mendapat pertolongan secepatnya." Jawab suster itu.
" oOh begitu ya... suster." Ucap suster resepsionis.
' Iya sama sama." Jawab suster.
Setelah mendapatkan jawaban suster resepsionis itu pun langsung menuju ke arah area tempat kerjanya dan juga ke arah tuan Dimas.
" Maaf pa jika sebelumnya bapak sudah menunggu lama." Ucap maaf suster resepsionis.
" Tidak apa apa sus dan saya juga memaklumi nya." Ucap Tuan Dimas.
" Bagaimana Suster apakah sudah ada jawaban."
" Iya pa, tadi saya bertanya kepada rekan saya dan ternyata pasien yang di maksud oleh bapak di bawa ke arah ruang operasi." Jelas ucap suster resepsionis.
" Di mana letak arah ruang operasinya sus." Tanya tuan Dimas.
" Bapak belok makan saja setelah itu bapak akan ketemu dnegan ruangan khusus anak dan setelah itu bapak belok kiri serta berjalan terus dan akan sampai pa." Jelas ucap suster resepsionis itu menunjukkan arah jalan.
" Jadi cuman belok kanan dan belok kiri saja suster." Ucap tuan Dimas.
" Benar pak." Ucap suster itu.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu terima kasih ya.. sus." Ucap tuan Dimas lagi.
" Iya sama sama pa, selama kita masih bisa membantu kenapa tidak dan sebelum itu saya meminta maaf kepada bapak dan juga ibu jika saya tidan sopan dan maafkan saya juga jika saya belum mengetahui seluk beluk rumah sakit ini dan tidak mengetahui juga pemilik rumah sakit ini." Ucap suster itu meminta maaf kepada nyonya Chintia dan juga tuan Dimas.
" Tidak apa apa sus, kami juga akan memakluminya dan wajar jika pekerja baru belum sepenuhnya mengerti dan mengetahui seluk beluk rumah sakit ini." Ucap nyonya Chintia yang menjawab ucapan suster resepsionis itu dan tuan Dimas pun hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai tanda jawaban setuju
" Kalau begitu kami permisi dulu ya.. sus." Ucap tuan Dimas dan nyonya Chintia.
" Iya pa silahkan." Ucap suster resepsionis itu mempersilahkan tuan Dimas dan nyonya Chintia.
Setelah kepergian Tuan Dimas dan juga nyonya Chintia suster itu pun duduk dan memikirkan siapa sebenarnya mereka dan mengapa mereka bisa kenal dengan pemilik anak perusahaan rumah sakit ini.
" Siapa mereka sebenarnya dan mengapa mereka begitu khawatir dan apa harus hubungan mereka." Tanyanya pada diri sendiri.
" Ah dari pada memikirkan yang bukan seharusnya aku kerjakan mending aku lanjut merekap semua data pasien saja lah." Ucapnya lagi sambil memfokuskan ke layar komputer.
Saat ini Bryan masih menunggu di kursi dan sesekali dia pun berdiri serta berjalan bolak balik sana sini dan itu pun tidak luput dari pandangan para dokter yang selesai melakukan operasi. Dan ada salah satu dokter yang menghampiri Bryan serta bertanya.
" Maaf apa saya menganggu tuan." Tanya dokter karena mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dengan dirinya Bryan pun mendongakkan kepalanya.
" Tidak, silahkan." Ucap Bryan sambil mempersilakan dokter itu untuk duduk di sebelah kiri.
" Kenapa tuan bisa berada di sini bukankah keluarga pasien tidak boleh berada di sini." Ucap dokter.
" Benar, tapi saya tidak bisa jauh dari ruangan ini dok." Ucap Bryan.
" Mengapa ?." Tanya dokter lagi.
" Karena ada seseorang yang saat ini sedang berjuang antara hidup dan mati dan saya juga tidak mau kehilangan dia lagi untuk kedua kalinya, cukup satu kali saja kami berpisah selama belasan tahun." Ucap lirih Bryan.
" Bolehkah saya tau siapa dia dan kenapa tuan tidak ingin kehilangan untuk kedua kalinya ?." Tanya dokter lagi.
" Dia adalah keponakan dari ibuku atau bisa di bilang anak dari sepupu ibuku dan dia juga adalah adik kecil kamu yang pergi selama belasan tahun serta bukan hanya itu saja kamu sangat menyayangi dia dan juga menginginkan dia untuk tetap berkumpul dengan kami.
Hay Hay Hay Hay semuanya hehehe
maaf banget ya kalau aku baru bisa up lagi hehe soalnya aku takut ada kesalahan lagi kalau misalnya ada kata katanya yang menyinggung ataupun membuat kalian sakit hati hehe.
sekali lagi maaf ya...
Seperti biasa Ning mau ngucapin permintaan maaf dulu ya dan maaf kalau misalnya novel yang Ning bikin ini membuat kalian tersinggung atau yang lainnya. Tapi ini Ning beneran deh ngga ada maksud apa apa hanya hobi aja buat nulis biar Ning bisa membuat inspirasi atau yang lainnya hehe.
dan maaf banget kalau misalnya banyak tang typo atau yang sebagainya.
Tetap jaga kesehatan dan keselamatan ya.
__ADS_1
Terima kasih šš
Salam sayang š¤š¤