
" Saya turut prihatin dengan keadaan tuan." Ucap dokter sambil menepuk bahu Bryan.
" Terima kasih dok." Ucap Bryan sambil berusaha senyum.
" Semoga dia baik baik saja seperti yang di harapkan oleh tuan dan tetap doakan dia biar di bisa berjuang tuan." Ucap dokter sambil berdiri.
" Iya dok terima kasih." Ucap Bryan lagi.
" Ya sudah kalau begitu saya pamit dulu ya... karena saya tidak bisa lama lama di sini." Ucap dokter meminta ijin pamit.
" Iya dokter silahkan." Ucap Bryan.
Setelah kepergian dokter. Bryan pun menundukkan kembali wajahnya dan juga menangis, sampai akhirnya Tuan Dimas dan nyonya Chintia pun melihat anaknya untuk pertama kalinya menangis kembali setelah kepergian Annisa di saat dia masih kecil. Tuan Dimas dan nyonya Chintia melangkahkan kakinya untuk mendekati anaknya yang saat ini masih menangis.
" Menangis lah." Ucap nyonya Chintia kepada Bryan sambil memeluk bryan dan mengusap usap punggung Bryan.
" Ibu kenapa harus terjadi pada Annisa hiks hiks hiks." Ucap Bryan menangis dalam pelukan nyonya Chintia.
" Mungkin ini ujian nak dan jangan pernah menyalahkan takdir." Ucap nyonya Chintia yang berusaha menenangkan anaknya yang saat ini masih terus menangis dan sebenarnya nyonya Chintia pun berusaha untuk tidak menangis tapi apalah daya ternyata air mata malah jatuh ke pipi nyonya Chintia.
" Benar nak apa yang di bilang oleh ibumu, kamu jangan pernah sekali kali menyalahkan takdir ataupun yang lainnya karena itu tidak baik." Ucap tuan Dimas sambil mengusap air mata yang sudah menetes.
" Aku bukan mau menyalahkan ayah tapi kenapa Kenapa harus Annisa hiks hiks hiks." Ucap histeris Bryan yang masih dalam keadaan menangis.
" Sudah sudah jangan saling menyalahkan yang terpenting sekarang adalah bagaimana kondisi Annisa." Ucap nyonya Chintia yang berusaha menengahi antara anak dan bapak.
Nyonya Chintia, tuan Dimas, dan juga bryan saat ini harap harap cemas. Karena belum mendapatkan jawaban bagaimana kondisi Annisa. Sampai akhirnya pintu ruang operasi pun terbuka.
" Baga.....eh salah bagaimana kondisi Annisa saat ini sus." Ucap Bryan yang mengira kalau yang keluar adalah om nya namun, ternyata salah.
" Apa kalian semua adalah keluarga dari pasien." Tany suster.
" Iya dok kami semua keluarganya." Ucap tuan Dimas.
" Maaf pa sebelumnya pasien saat ini mengalami koma dan dokter juga berpesan agar seluruh keluarga yang berada di rumah ataupun yg berada di rumah sakit untuk mendoakan pasien karena ini bisa menjadi sebuah dukungan bagi pasien." Ucap suster sampai membuat nyonya Chintia syok.
" Apa sus, koma !." Teriak Bryan yang masih tidak percaya dnegan ucapan dari suster.
" Iya tuan." Ucap suster lagi.
" Bagaimana bisa adik saya koma sus ?." Bingung Bryan bercampur masih tidak percaya dengan semua omongan dari Suster.
" Kalau soal itu biar nanti dokter saja yang menjelaskan tuan, karena saya tidak berhak sama sekali dan daya pun hanya di suruh oleh dokter untuk menyampaikan berita ini, kalau begitu saya pamit tuan tuan dan nyonya." Ucap suster ijin pamit dan setelah itu masuk lagi ke ruang operasi.
Setelah kepergian suster nyonya Chintia pun pingsan sedangkan Bryan menangis.
" Bagaimana mana mungkin kamu koma Annisa." Ucap Bryan dalam hati dan sekaligus sedih dengan nasib adiknya ini.
" Apa yang harus aku lakukan saat ini dan aku harus bagaimana." Ucap Bryan bingung.
Sedangkan saat ini Tuan Dimas masih memegang tubuh nyonya Chintia yang masih dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
" Bu bangun Bu." Ucap tuan Dimas yang saat ini masih mencoba untuk membangunkan istrinya.
" Kenapa cobaan terus datang kepadamu nak." Lirih tuan Dimas yang merasa sedih dengan hidup Annisa.
Tanpa mereka sadari ternyata ada orang yang mendengar semuanya dan orang tersebut pun mengepalkan tangannya.
" Kalian semua sudah menghancurkan kehidupan Annisa dan keluarganya dan kalian semua juga malah menyembunyikan keberadaan Annisa dan keluarganya pada kami." Ucap orang misterius itu sambil memukul tembok berkali kali.
" Aku tidak akan pernah memaafkan kalian semua dan aku akan membawa mereka pergi jauh dari kalian." Ucap tekad orang itu dan dia pun langsung menelpon anak buahnya untuk menjalankan semua rencananya.
" Halo bos." Ucap laki laki yang berada di seberang telfon.
" Cepat kau jalankan semua rencana yang sudah kita susun dan jangan pernah ada jejak sedikitpun." Ucap orang misterius itu.
" Baik bos." Ucap laki laki yang berada di seberang telepon.
" Bagus dan cepat laksanakan sekarang." Perintah tegas dari orang misterius itu.
Setelah menelfon anak buahnya orang misterius itu pun mematikan telfonnya dan juga dia pergi untuk menyiapkan semua yang akan di butuhkan.
Sedangkan Anggara saat ini masih mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karena dirinya tadi terjebak macet akibat ada kecelakaan.
" Sial kenapa aku harus terjebak macet segala." Ucap kesal Anggara.
" Aku harus meminta maaf kepada Annisa tentang semua kelakuan Puspita." Ucap Anggara yang merasa menyesal akibat ulah istrinya.
Sedangkan saat ini Bella dan rombongannya sedang menuju ke arah rumah sakit dan dia juga tidak akan langsung masuk tetapi memantau dari luar saja.
" Apa kita harus masuk bos." Tanya pengawal satu.
" Apa yakin bos ?." Tanya lagi.
" Kita coba saja dulu dan jika terjadi sesuatu maka kita langsung saja bertindak dengan cepat.
" Baiklah kalau begitu bos." Ucap pengawal satu.
" Aku tidak mungkin masuk untuk saat ini apalagi di dalam ada nyonya Chintia dan juga tuan Dimas dan yang aku khawatirkan takut terjadi." Gumam bella dalam hati.
Cukup lama mereka berada di dalam mobil akhirnya mereka pun turun dari mobil.
" Bos bagaimana kalau kita turun saja dari pada kita di dalam mobil terus." Ucap pengawal satu.
" Benar bos, jika kita terus berada di dalam mobil maka kita semua tidak akan tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana." Ucap pengawal dua.
" Benar juga apa yang kalian bilang, tapi yang jadi masalah adalah bagaimana caranya kita masuk. Karena jika saya masuk otomatis mereka akan mengetahui rencana kita." Ucap Bella yang merasa bingung.
" Begini saja bos, bagaimana kalau salah satu di antara kami semua melakukan penyamaran dan bukan hanya itu saja tapi dia juga harus mendapatkan informasi yang akurat." Usul pengawal satu.
" Bagus juga idemu." Ucap Bella.
" Tidak usah memuji saya bos, karena jika bos memuji saya otomatis nanti saya akan ke geeran hahaha." Ucap pengawal satu sambil tertawa dan otomatis pengawal yang lain pun ikut tertawa.
__ADS_1
" Baiklah baiklah." Ucap Bella
" Pilih salah satu di antara kalian dan jika sudah selesai maka cepat dan segera cari tau bagaimana kondisi nona muda saat ini." Ucap bella.
" Baik bos." Jawab serempak anak buah Bella.
Sedangkan di ruang operasi nyonya Chintia belum sadar juga dan Bryan ntah kemana dia pergi.
" Bu bangun Bu." Ucap tuan Dimas.
hem.
" ibu sudah sadar." Tanya tuan Dimas.
" Kenapa memang Nya ?." Tanya nyonya Chintia.
" Ibu tadi pingsan setelah mengetahui keadaan Annisa." Ucap tuan Dimas.
" Lalu." Tanya nya lagi.
" Sampai saat ini Annisa belum keluar dari ruang operasi dan Bryan pun entah kemana dia pergi." Ucap tuan Dimas.
" Bantu untuk duduk." Ucap nyonya Chintia yang meminta tuan Dimas membantu dirinya untuk duduk.
" Baiklah." Ucap tuan Dimas membantu sang istri untuk duduk.
" Apa Anggara sudah datang ?." Tanya nyonya Chintia.
"Sepertinya belum." Ucap tuan Dimas.
krek.
karena melihat pintu terbuka tuan Dimas dan nyonya Chintia pun menghampiri dokter Ryan.
" Bagaimana keadaannya ?." Tanya tuan Dimas.
" Saat ini dia masih koma ka dan belum ada tanda tanda dia mau bergerak sama sekali dan aku juga sudah mencoba untuk mengajak bicara biar dia bisa mendengar serta merespon aku tetapi tetap saja tidak berhasil." Ucap sedih dokter Ryan.
" Lalu." Tanya nyonya Chintia.
" Aku tidak tau sampai kapan dia koma dan kapan dia akan bangun." Ucap dokter Ryan.
Hay Hay Hay semuanya hehehe.
Alhamdulillah bisa double up juga.
Seperti biasa Ning mau ngucapin permintaan maaf dulu ya... buat kalian semua dan maaf banget kalau misalnya Ning punya salah kata baik di sengaja maupun tidak dan maaf banget kalau misalnya Ning membuat kalian tersinggung dengan kata kata yang Ning tulis ini ya...
Dan maaf banget kalau misalnya kebanyakan typo.
Tetap jaga kesehatan dan keselamatan.
__ADS_1
Terima kasih šš
Salam sayang š¤š¤