
Sebelum Arana datang ke acara penjamuan makan malam, Bai min telah memanas manasi nyonya besar terlebih dahulu, guna memancing emosinya kepada Arana, sehingga saat nanti Arana masuk kedalam ruang penjamuan akan langsung di beri hukuman oleh nyonya besar.
"Nenek, Arana sungguh tidak menghormati dirimu, masa dia membuat kita semua menunggu terlalu lama seperti ini." keluh Bai min manja sambil merasa kesal kepada Arana yang telah hampir setengah jam lamanya membuat keluarga besar mentri Huan menunggu.
"kau benar kakak pertama, gadis sialan itu sungguh berani membuat kami menunggu terlalu lama seperti ini." timpal saudara sepupu Bai min yang tak kalah kesal kepada Arana.
"itu benar nenek, kau harus memberi gadis sialan itu hukuman, agar dia tahu diri, bisa bisa nya dia membuat kami semua mati kelaparan, hanya karena menunggu kedatangan nya saja ck!." bujuk saudara yang lain nya dengan ekspresi kesal.
Awalnya nyonya besar tak ingin memperdulikan kehadiran Arana di tengah makan malam keluarga nya, sebab sedari dulu Arana tak pernah nyonya besar anggap sebagai bagian dari keluarga nya, tetapi karena sebenar lagi akan ada acara besar di dalam kediaman mentri Huan, tentu saja nyonya besar harus menyiapkan Arana sedari awal dan mendidik Arana dengan baik agar menurut kepada nya nanti, supaya acara yang akan di adakan di kediaman mentri huan dapat berjalan dengan lancar. tanpa akan ada hal yang memalukan di tengah nya.
Namun karena mendengar perkataan dari para cucu nya, membuat nyonya besar naik pitam dengan perilaku Arana yang di bilang lancang kepada nya.
Tak seharusnya Arana membuat semua keluarga utama menunggu kedatangan nya, seorang gadis yang hanya memiliki status putri kedua mentri Huan tanpa ada hal istimewa lain nya, benar benar membuat nyonya besar geram.
Apa lagi selama ini nyonya besar memang telah membenci Arana sejak lahir, sebab ramalan saat kelahiran Arana yang di bilang sangat buruk membuat nyonya besar selalu mengabaikan keberadaan Arana, bahkan dia sendiri lah yang menyuruh anggota keluarga yang lain nya untuk mengabaikan keberadaan Arana, kehadiran Arana hanya di anggap saat kediaman mentri Huan sedang mengadakan acara acar tertentu saja, untuk menjaga nama baik Mentri Huan, sehingga mampu menutupi rumor buruk yang tersebar luas di luaran sana.
Saat setelah Arana memasuki ruang penjamuan dan mendapati sikapnya yang jauh lebih berani(atau kurang ajar) lagi nyonya besar sungguh tak dapat mentoleransi Arana.
Arana sangat lancang, bahkan berani tak memberi sedikit pun muka kepada nyonya besar, anak pembawa sial yang tak berpendidikan itu sangat membuat amarah nyonya besar meluap.
Awalnya nyonya besar berencana menghukum gadis tak tahu aturan itu dengan tangannya sendiri, tetapi saat melihat Mentri Huan turun sendiri, nyonya besar langsung merasa lega dan membiarkan putra nya itu untuk menghukum tingkah lancang anak gadis nya.
Setelah kepergian mentri Huan yang di ikuti oleh Arana, nyonya besar memerintahkan semua orang untuk mulai memakan hidangan yang ada di depan mereka tanpa memperdulikan Arana yang akan di hukum seperti apa oleh menteri Huan.
__ADS_1
Lagi pula selama ini Mentri Huan tak pernah kenal ampun saat menghukum Arana.
"huh habis kau kali ini Arana" ujar Bai min dalam hati sambil tersenyum sinis, membayar Arana yang akan di hukum berat oleh ayah mereka.
Ruangan Mentri Huan
Mentri Huan menarik tangan kecil Arana dengan marah masuk kedalam ruang kerja milik nya.
Saat ini Mentri Huan tengah berdiri berhadapan dengan Arana, perbedaan tinggi besar tubuh mereka terlihat sangat mencolok sekarang, Arana yang baru berusia 13 tahun terlihat begitu kecil di depan tubuh besar mentri huan yang mecapai tinggi tadan hampir 180 cm.
"Tidak bisakah kau, untuk tidak membuat masalah saat bertemu dengan ku hah?!" marah Mentri Huan dengan tatapan tajam penuh intimidasi ke pada Arana, sedangkan Arana hanya menatap datar wajah menteri Huan di hadapan nya itu, tanpa ada ekspresi ketakutan sedikitpun di wajah cantik Arana.
"aku tak melakukan kesalahan apa pun, mengapa kalian begitu marah ku?" ujar Arana dingin menanggapi perkataan menteri Huan.
Yah, Arana memang tak mengetahui di mana letak kesalahannya saat ini, dan juga tak perduli dengan apa yang sedang terjadi.
Tetapi kejadian hari ini membuat Arana merasa jengah berada di tengah keluarga yang begitu membosankan.
Keluarga nya hanya tahu membuat masalah untuk Arana, meski Arana tak melakukan apa pun kepada mereka.
"huh, jika saja orang yang di hadapan ku ini bukan ayah kandung ku, sudah pasti aku telah mengirim seorang pembunuh untuk membunuh nya." kesal Arana dalam hati yang terus saja di salah kan oleh menteri Huan.
"Arana!" teriak Mentri Huan yang benar benar geram melihat sikap acuh tak acuh Arana di hadapan nya.
__ADS_1
"tak perlu berteriak! saya tidak tuli tuan Huan, saya masih mampu mendengar anda berbicara dengan nada seperti biasa!." geram Arana, tatapan nya tak kalah tajam dari ayah nya.
Selalu saja seperti ini, setiap kali ada masalah kecil entah itu di lakukan Arana atau pun tidak hasil nya pasti Arana yang akan di hukum oleh menteri Huan dengan begitu kejam.
Bahkan Mentri Huan tak memerlukan sebuah penjelasan untuk kesalahan Arana, dia hanya mendengar pihak lagi lalu langsung menghukum Arana, Arana yang di perlakukan seperti ini selama hidupnya menjadi sangat muak, arana telah lelah menghadapi sifat kekanak-kanakan keluarga nya.
Bahkan Arana yang mengetahui jika dirinya di abaikan hanya karena sebuah ramalan palsu, menjadi begitu membenci seluruh keluarga nya.
Arana tak pernah meminta untuk di lahir kan dunia ini, jadi mengapa harus Arana yang terus di abaikan?.😪
Mentri Huan langsung tertegun mendengar perkataan Arana yang tak lagi menyebut dirinya dengan sebutan ayah, entah mengapa perasaan nya sedikit kacau saat ini, namun amarah nya justru lebih buruk lagi dari sebelumnya.
"Lancang! siapa yang mengajari mu tak tahu sopan santun seperti ini Arana! ingat aku ini ayah mu!." benak Mentri Huan yang semakin marah bahkan udara di dalam ruangan itu sudah terasa sangat panas.
"ck, kau lupa tuan Huan, sedari kecil aku memang tidak pernah di didik oleh siapapun termasuk kau, jadi jangan pernah mempertanyakan letak pendidikan ku." ujar Arana semakin datar dengan menekan setiap perkataan nya.
Arana sudah tak tahan berada di ruangan ini lagi, jika ara terus berlama lama di ruangan itu, bisa saja arana mengungkapkan seberapa besar kebencian nya terhadap Mentri Huan, yang merupakan seorang ayah pecundang.
Seorang ayah yang lebih mempercayai ramalan palsu dari pada merawat buah hati nya dengan baik, agar menjadi seorang yang berbudi luhur kelak.
"Jika tak ada hal lain, lebih baik kita akhiri pertemuan ini." dingin Arana lalu bergegas pergi meninggalkan mentri Huan sebelum Mentri Huan sempat mengatakan hal lain kepada Arana.
Ingin sekali mentri Huan menghukum Arana sekarang, tetapi kekacauan yang ada di dalam pikiran nya menghentikan niat hati nya, Mentri Huan hanya menatap punggung kecil Arana yang mulai menghilang di balik pintu ruangan milik nya.
__ADS_1
🍁
jangan lupa beri dukungan kalian terus yah🥰 agat author lebih bersemangat lagi dalam menulis cerita selanjutnya 🥰