
Acara pemilihan calon permaisuri untuk para pangeran akan diadakan satu bulan lagi. dan sampai saat ini Bai min masih setia terkurung di ruang leluhur keluarga Huan, tanpa ada satu orang pun yang menjenguk setelah kunjungan terakhir Quin xie tiga minggu yang lalu.
Hari hari Bai min bahkan sangat tidak menyenangkan. jika Bai min selama ini terbiasa hidup mewah dan selalu di manjakan oleh kedua orang tua nya, kini gadis itu terlihat sangat berantakan di dalam ruang leluhur yang tertutup rapat tanpa cahaya.
Para pelayan pun hanya akan masuk kedalam jika waktu jam Bai min makan telah tiba, itu pun hanya sekali sehari bai min mendapatkan makanan nya, sungguh hidup nya terlihat sangat tragis.
"mengapa ibu dan ayah sangat tega pada ku? hiks" tangis Bai min melihat dirinya yang begitu menyedihkan saat ini.
Ingin rasanya Bai min menyesali keputusan nya namun kala mengingat tujuan utamanya yakni membalas pangeran Jikxi dan bisa mengendalikan nya bai min tak pernah ingin menyerah akan keputusan nya yang harus menjadi putri mahkota masa depan.
Tetapi mau bagaimana pun Bai min gadis yang tumbuh dengan banyaknya kasih sayang dari orang tua/manja, apapun yang bai min ingin kan sedari dulu terbiasa selalu terpenuhi tapi saat ini? semua nya terasa sangat sulit bagi bai min, hanya untuk mewujudkan keinginan nya sendiri pun dia harus merasakan siksaan hidup seperti itu (terkesan lebay sih, padahal masih lebih malang nasib Arana 😒)
"aku harus bisa melewati ini semua, yah harus bisa, demi mendapatkan posisi itu, aku harus bisa bertahan" kekeh Bai min sambil mengusap air mata nya mencoba menguatkan dirinya sendiri.
Hanya itu yang bisa Bai min lakukan saat ini, berharap jika bai min tetap teguh akan pilihan nya kedua orang tua bai min akan menyetujui keinginan nya, namun sayang, setiap kali bai min mencoba tegar keinginan nya itu selalu di patahkan oleh fakta yang ada, jangan kan berharap akan dukungan dari kedua orang tua nya, untuk bisa bertemu dengan mereka pun terasa sangat sulit.
Dan lagi pemilihan calon permaisuri para pangeran akan di adakan sebenar lagi, namun Bai min masih saja di kurung di dalam ruang keluhur keluarga Huan itu, mengingat hal itu membuat bai min merasa takut, takut jika putra mahkota menemukan tambatan hati nya saat acara berlangsung dan lebih menakutkan nya lagi Bai min masih tetap di kurung di saat hal itu terjadi.
Saat Bai min masih asik dengan segala lamunan akan nasib buruk nya, tiba tiba pintu terbuka dan memperlihatkan arana yang masuk kedalam ruang leluhur itu, untuk menemui Bai min atau lebih tepatnya ingin memancing ikan agar memakan umpan.
"untuk apa kau kemari?" sinis Bai min yang melihat Arana mengunjungi nya.
Awalanya Bai min merasa sangat senang saat melihat pintu ruang gelap itu terbuka dan berharap yang datang jika bukan ibu nya ya mentri huan ayah nya, karena selama beberapa hari ini tidak ada satu orang pun yang perduli akan dirinya dan bahkan nenek yang paling menyayangi nya pun tak pernah berkunjung keruangan itu.
__ADS_1
Bahkan pelayan yang mengirim makanan untuk Bai min pun hanya datang sekali dalam sehari membuat yang bai min merasa sangat kesepian tanpa ada satu orang pun yang menemani nya di dalam ruang gelap leluhur itu.
Namun saat melihat siapa yang datang berkunjung raut wajah bahagia Bai min langsung berubah seketika kala melihat Arana lah yang datang mengunjungi nya.
"tentu saja untuk melihat Kemalang mu" dingin Arana sambil berjalan mendekati Bai min yang terlihat sangat menyedihkan di kurung dalam ruang gelap itu.
"cih" desik Bai min tak merasa senang dengan sorot mata Arana yang terlihat jelas sedang mengolok dirinya.
"bagaimana rasanya terkurung lama di sini? menyenangkan bukan?." sinis Arana saat jarak di antara mereka telah sangat dekat.
"jika kau datang hanya untuk mengejek ku, silahkan pergi dari sini karena di sini tidak ada menyambut kedatangan anak pembawa sial seperti mu!" dingin Bai min mengusir Arana dengan nada sombong nya.
"haha, saat sedang di kurung pun masih bisa bersikap sombong, seperti nya kau cukup menikmati hidup di sini" sinis Arana dengan tatapan tajam penuh aura membunuh kearah Bai min.
"cih, jangan mengira karena aku sedang di hukum aku tidak bisa berbuat apapun kepadamu! dan lagi pula kau hanya seorang sampah yang tidak bisa apa apa! kau tak akan bisa melakukan apapun pada ku!" ujar Bai min dengan penuh ancaman.
Dengan cepat Bai min ingin menyerang Arana, namun arana lebih dulu menepis tangan Bai min sebelum menyentuh tubuh nya dan lagi Arana Langsung mencengkeram kuat leher Bai min hingga yang empunya merasa sangat kesakitan dan juga merasa kesulitan untuk nafas dan terus berusahalah memberontak berharap arana akan melepaskan nya.
"le..le...pas...kan" kata Bai min terbata bata karena susah untuk bicara saat tangan Arana sangat kuat mencengkeram lehernya.
"apa sekarang aku terlihat seperti seorang sampah hah?! justru kau yang terlihat seperti seorang sampah yang begitu menyedihkan! cih hanya wanita lemah!." sinis Arana tajam sambil memperkuat cengkraman nya lagi.
Bai min terus berusaha untuk memberontak dengan mata yang terus menatap tajam Arana tetapi kekuatan nya terasa kalah jauh dengan kekuatan yang arana miliki, Arana terlihat sangat kuat hingga membuat Bai min merasa kewalahan saat menghadapi nya.
__ADS_1
"bagaimana bisa wanita pembawa sial ini memiliki kekuatan sekuat ini?" tanya Bai min balam hati yang tak menyangka jika kekuatan adik kecil nya itu sangat besar melebihi kekuatan orang dewasa.
Arana melepaskan cengkraman tangannya saat melihat wajah Bai min yang sudah mulai membiru karena kehabisan nafas.
"cih, sampah" ejek Arana meremehkan Bai min.
"kau!" brugk!! Bai min ingin marah tetapi Arana langsung melayangkan tendangan di perut bai min hingga membuat Bai min jatuh tersungkur dengan keras Kedinding, arana tidak bisa mengendalikan emosinya kala melihat jari telunjuk bai min yang menunjuk nunjuk dirinya tadi, karena itu lah arana menendang perut Bai min dengan sangat keras.
"apa kau tau kakakku sayang? aku sudah sangat lama menantikan hari ini, hari di mana aku dapat memukulmu dengan sangat keras! dan tak ada orang yang akan membela dirimu atau pun menghukum ku tanpa mencari kebenaran nya terlebih dahulu" sinis Arana sambil menjambak rambut bai min agar melihat kearah nya, arana terlihat seperti singa lapar yang sedang menerkam mangsanya, terlihat begitu dingin dan sangat menakutkan di mata Bai min.
"mengapa aku baru menyadari jika anak pembawa sial ini begitu kuat dan menakutkan" lirih Bai min dalam hati merasakan tubuhnya yang mulai bergetar kala melihat tatapan membunuh Arana kepadanya.
"bagaimana rasanya hem?! ini semua belum seberapa kaka ku sayang! ingatkah kau apa yang telah kau lakukan pada ku dulu! kau jelas sangat tahu bahwa luka yang saat ini kau rasakan belum seberapa di bandingkan dengan penderita ku! tapi tak mengapa karena kita masih memiliki banyak waktu luang untuk melunasi hutang lama secara perlahan" sinis Arana sambil menghempaskan tubuh Bai min dengan kasar.
"Kau sangat kelewat batas Arana! apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan hah?! jika ayah tau! aku pasti kan kau akan segera mati!" marah Bai min yang merasakan tubuh nya terasa sangat sakit setelah Arana mendorong nya dengan kasar barusan.
"keterlaluan kau bilang! lalu apa yang selama ini kau perbuat padaku hah! asal kau tau kau pantas mendapatkan semua ini" hardik Arana penuh kebencian menatap tajam Bai min.
"aku akan memberi tahu ayah tentang hal ini!" ancam bai min tidak terima, meski bai min tahu jika apa yang telah bai min lakukan dulu memang sangat keterlaluan kepada Arana, tetapi Bai min enggan untuk mengakuinya
"silahkan saja! toh kau sendiri tak bisa keluar dari ini" enteng Arana dengan nada meremehkan.
"kau!" ingin sekali Bai min membalas perkataan dan perbuatan Arana yang sangat keterlaluan hari ini, tetapi tenaga Bai min telah di gunakan hingga habis untuk menahan sakit atas perlakuan Arana padanya dan juga karena hari ini isi perut Bai min belum di isi oleh makanan sedikit pun membuat Bai min kehabisan tenaga untuk melawan perbuatan Arana.
__ADS_1
🍁