
Sebelum Arana membeli toko usang milik Parta dan Damian, sebenarnya toko itu merupakan satu satunya lahan usaha miliki keluarga Parta, toko itu sudah seperti jantung kehidupan bagi keluarga Parta dan Damian, namun karena adik Damian putri kecil Parta yang memiliki penyakit parah dan harus segera di obati, mau tidak mau Parta harus merelakan lahan uang milik keluarga nya itu, sebab pengobatan yang sang putri perlukan sangat lah mahal, sampai uang tabungan yang Parta miliki tidak cukup untuk membayar pengobatan nya.
Karena hal itu lah, parta menawarkan toko usang nya dengan harga tinggi dan bersikeras tidak mau menjual nya jika tidak sesuai dengan harga yang parta tawarkan.
Segala olokan serta cacian telah parta dapat dari para bangsawan yang melirik toko usang nya itu sampai pada saat Arana yang ingin melihat nya.
Awal nya Parta tak menanggapi Arana dan juga Nobu yang datang ingin bernegosiasi tentang harga toko dengan Parta, sebab saat Parta melihat umur Arana yang baru berusia 12 tahun serta Nobu yang baru 17 tahun seakan tidak mungkin jika mereka benar benar ingin membeli toko milik nya terlebih yang Parta butuhkan saat ini uang untuk pengobatan sang putri.
Namun ternyata tanggapan Parta menenai Arana dan Nobu salah besar, justru Arana lah yang telah menolong hidupnya kini.
Nobu mengenalkan siapa Arana sebenarnya kepada Parta ( tentu saja Nobu mengenalkan Arana dengan sebutan dalam dunia bisnis miliknya) setelah Parta mengenal Arana, Arana langsung mulai menawarkan harga yang sesuai dengan kebutuhan parta walau tak setinggi yang parta tawarkan tetapi harga yang arana berikan jauh dari kata cukup bagi Parta, bukan hanya itu Arana bahkan menawarkan pekerjaan tetap pada Parta dan Damian untuk mengelola bisnis yang akan Arana jalani di desa tempat tinggal Parta itu.
Rasa haru dan tidak percaya saat itu terus menyelimuti hati Parta,. awal nya Parta mengira jika setelah menjual toko usang nya itu, hidup keluarga nya akan serba kekurangan dan mungkin berakhir dengan sangat menyedihkan, namun ternyata kebaikan tuhan berpihak kepada nya.
Parta sampai mengagumi sosok Arana yang kini dia kenal dengan sang ratu bisnis, di usia Arana yang masih sangat dini itu, dia telah membangun begitu banyak bisnis dan telah merengkut banyak karyawan dari kalangan rakyat biasa, entah sudah berapa banyak orang yang kehidupan nya menjadi lebih baik setelah bertemu dengan Arana di luaran sana.
Saat Arana mengetahui alasan kenapa Parta menawarkan harga yang terlampau tinggi saat menjual toko usang itu, Arana bahkan langsung menawarkan diri untuk membantu parta mengobati penyakit putri kecilnya, Parta yang sudah percaya kepada Arana, mengizinkan Arana untuk menyembuhkan putri nya, dan alangkah bersyukur nya Parta saat mendapati sang putri kembali sembuh seperti sedia kala.
Kekaguman Parta kepada Arana bertambah, bahkan Parta merasa sangat berhutang budi kepada Arana seumur hidupnya.
Di mata Parta dan Damian Arana sangat lah luar biasa, di umurnya yang baru saja 12 tahun itu, arana telah menjadi pembisnis yang sangat sukses dan juga mahir dalam dunia medis.
"Sungguh gadis yang sangat luar biasa, keluarga nya pasti sangat bangga kepadanya." kagum Parta sambil melihat sosok Arana yang perlahan mulai menghilang dari pandangnya, tanpa dia tahu gadis yang dia kagumi itu merupakan anak yang tak pernah di perhatian oleh keluarga nya semasa dia hidup.
Arana yang telah kembali ke kediaman mentri Huan, langsung bergegas kembali ke tempat leluhur keluarga untuk menjalani hukuman terakhir yang di berikan ibunya kepada Arana.
Tak lama setelah Arana sampai Quin xie datang ke tempat leluhur, Quin xie bergegas menemui Arana guna mengecek apakah anak itu masih berada di tempat nya atau tidak, saat pintu di buka Quin xie melihat sosok Arana masih menggunakan baju yang sama seperti pertama kali Arana masuk kedalam ruangan itu dengan posisi duduk yang sama seperti sedia kala.
Sebenarnya ada rasa sedih melihat putri kecilnya yang terlihat lemah di hadapan nya sekarang, apa lagi Quin xie juga tahu kalau Arana baru saja sembuh dari luka cambuk yang telah Mentri Huan berikan sebelum nya, namun apa boleh buat, takdir Arana sangat buruk sehingga Quin xie tak bisa berharap lebih kepada Arana selain kepada Bai min seorang.
"Kau sudah boleh kembali ke kediaman mu, hukuman mu telah selesai." datar Quin xie saat sudah berada di hadapan Arana, Arana hanya melirik sekilas ke arah ibu nya lalu berdiri tegak di hadapan nya.
__ADS_1
"terimakasih atas kemurahan hati nyonya, kalo begitu saya permisi." kata Arana tak kalah datar.
"siapa yang meminta mu memanggil ku seperti itu arana!." bentak Quin xie saat mendengar Arana tak lagi memanggil nya dengan sebutan ibu seperti dulu lagi.
"saya sendiri, dan saya rasa itu pantas, terlebih bukan kah itu yang nyonya ingin kan?." kilas Arana datar, tanpa menunggu jawaban dari ibunya Arana langsung berlalu pergi meninggalkan tempat leluhur menuju kediaman milik nya tanpa menoleh kearah belakang sekalipun.
Sedangkan Quin xie yang di perlakukan seperti itu oleh anak kandungnya sendiri merasa kurang nyaman karena nya, memang benar dia telah mengabaikan Arana sejak dia di lahir kan, apa harus sampai ke titik ini? titik di mana Arana tak menganggap nya sebagai ibunya lagi, sungguh Quin xie tak habis pikir.
"mengapa aku merasa sakit? bukan kah selama ini aku yang terus mengabaikan nya? seharusnya wajar jika dia bersikap seperti itu pada ku." kata Quin xie didalam hati dan masih terpaku di tempatnya sampai bayangan Arana hilang dari hadapan nya.
Quin xie ikut kembali ke kediaman utama setelah kepergian Arana, dia berjalan dengan fikiran yang sangat kacau karena memikirkan Arana, sampai dia bertemu dengan Bai min barulah dia tersadar dari lamunannya.
"ibu!" teriak Bai min dari arah belakang.
Sebenarnya umur Bai min tak berselang terlalu jauh dari umur Arana, mereka hanya berbeda tiga tahun saja.
" Eh sayang, mengapa harus berteriak hem? kamu mengangetkan ibu." ucap Quin xie lembut menghampiri putri kesayangan nya itu.
"aku tak bermaksud mengagetkan ibu, tetapi ibu yang sedari tadi tak mendengar panggilan ku." jelas Bai min.
"iya benar, apa yang sedang ibu fikiran sampai ibu terus melamun di sepanjang jalan?.'' tanya Bai min penasaran.
"tidak ada, hanya urusan orang dewasa". jelas Quin xie.
"ck, orang dewasa memang sangat membingungkan." keluh Bai min yang membuat Quin xie gemas kepada putri kesayangannya itu.
"sudahlah mari masuk, sebentar lagi sudah akan datang waktu jam makan siang." ujar Quin xie lalu menggandeng tangan Bai min masuk kedalam kediaman utama.
Seperti biasa keluarga mentri Huan selalu makan bersama di dalam ruang makan yang mewah nan megah, namun tidak akan pernah terlihat sosok Arana di sana, sebab sejak dulu Arana tidak pernah di undang untuk datang ke kediaman utama selain di waktu waktu penting saja (dalam arti jika ada tamu saja).
Meski begitu kehidupan Arana terlihat sangat baik tanpa keluarga mentri Huan, bahkan kediaman Arana tak kalah megah dari kediaman utama hanya saja tidak ada yang pernah melihat nya, sebab tak ada satu orang pun dari mereka yang pernah pergi berkunjung masuk ke kediaman milik Arana, ada pun pengantar pesan, mereka hanya di izinkan menunggu di depan gerbang oleh Nobu.
__ADS_1
Saat semua orang tengah menanti kedatangan nyonya besar keluarga mentri huan (ibu Mentri huan) tiba tiba Quin xie kembali teringat akan Arana.
"tuan, apa tidak sebaiknya kita mengundang Arana untuk bergabung bersama kita." kata Quin xie memulai percakapan.
"uhuk." Bai min langsung tersedak mendengar perkataan ibu nya, tak biasanya ibu nya itu mengusulkan hal gila seperti mengundang Arana ke penjamuan makan siang keluarga.
"sayang apa kau baik baik saja?, ayo minum." panik Quin xie lalu memberikan air kepada Bai min dan langsung di minum habis oleh Bai min
"bagaimana sudah membaik?." tanya Quin xie lembut.
"sudah." jawab Bai min di sertai anggukan
"syukur lah, jadi bagaimana pendapat anda tuan?." tanya Quin xie lagi kepada menteri Huan.
"ibu, mengapa ibu ingin anak itu bergabung bersama kita, bukan kah sedari dulu tidak pernah?." protes Bai min yang tak suka dengan perkataan ibu nya.
"sayang, mau bagaimana pun Arana itu adik mu, adik kandung mu, kamu tak boleh seperti itu sayang." jelas Quin xie memberi kan penjelasan.
"tapi ibu..." belum sempat Bai min melayangkan protes nya kembali, Mentri Huan memotong perkataan Bai min.
"memang seharusnya seperti itu, tapi aku rasa dia tidak akan menerima nya jika bukan di hari hari penting keluarga saja." timbal Mentri Huan yang langsung membuat Bai min kesal tapi juga senang.
"tapi mengapa?, dia juga putri kediaman ini tuan." bantah Quin xie tetap kekeh ingin Arana juga berada bersama mereka dalam satu ruangan.
Ya, a,rana hanya akan berada di ruangan itu di saat acara acara penting saja, agar orang lain berfikir bahwa Arana di perlakukan baik oleh kediaman mentri Huan guna menjaga nama baik Mentri Huan sendiri.
"Ibu ada apa dengan mu? tidak biasanya ibu seperti ini." tanya Bai min yang penasaran dengan sikap ibu nya hari ini.
"ibu tidak apa apa sayang, hanya saja ibu berfikir mungkin..." Quin xie tak melanjutkan perkataannya saat nyonya besar kediaman mentri huan telah hadir.
"tak perlu mengundangnya, kehadiran nya hanya akan membawa kesialan bagi keluarga kita ini." jelas nyonya besar tanpa ingin di bantah oleh siapa pun dan hal itu membuat Bai min tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Arana sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membiarkan kau masuk kedalam kediaman utama dan merebut posisiku." ujar Bai min dalam hati.
🍁