
Dengan kesal Bai min bangkit dari tanah, dan langsung pergi menuju ruangan ayah nya, Bai min ingin mengadukan perbuatan Arana kepada mentri huan, Bai min yakin setelah ayah nya mendengar perkataan Bai min, Arana akan langsung di beri hukuman.
"Putri ini memberi salam kepada ayah." ucap Bai min saat memasuki ruang kerja milik Mentri Huan sambil membungkuk kan badan nya.
Mentri Huan yang sedang sibuk dengan beberapa berkas di tangan nya langsung menghentikan kegiatan nya, saat melihat Bai min datang mengunjungi dirinya.
"Apa yang membawa mu kemari putri ku?." tanya menteri Huan dengan lembut kepada Bai min.
"ayah, hisk ayah" tangis Bai min pecah setelah jarak di antara Bai min mentri huan cukup dekat.
"putri ku kau kenapa? apa yang membuat mu menangis?." tanya mentri huan panik dan langsung mendekap tubuh anak pertama nya itu.
"Hiks ayah, ayah harus menghukum Arana sekarang juga hiks, lihat lah ini, dia yang telah melakukan nya ayah, hiks dia menampar ku serta mendorong ku hingga jatuh dengan sangat keras ke tanah." adu Bai min sambil menunjuk kan bekas memar di pipi serta luka di lutut dan juga kedua telapak tangan nya.
"mengapa dia bisa bersikap seperti itu kepada mu?" tanya mentri Huan yang terlihat tidak suka dengan apa yang telah Arana lakukan kepada Bai min.
"Aku tak tahu ayah, tadi dia sedang meminum teh di taman, aku hanya berniat untuk menemani nya saja, tetapi dia langsung menolak ku dan bahkan berbuat kasar terhadap ku, aku tak tau salah ku di mana ayah hiks.. " ujar Bai min dengan tangis palsu yang menghiasi wajah nya.
"kau pergilah obati dulu luka mu, untuk Arana biar ayah yang menanganinya." ucap menteri Huan dengan tegas di selimuti amarah.
"baik ayah."
Bai min pergi dengan seringai licik di wajah nya, tangis palsu nya pun telah lenyap setelah mendapatkan apa yang dia ingin kan dari sang ayah.
"lihat saja kau Arana, ayah akan segera menghukum mu!." sinis Bai min dalam hati lalu pergi meninggalkan ruangan milik menteri Huan dengan begitu gembira.
"Kasim!!" panggil Mentri Huan setelah kepergian Bai min.
__ADS_1
"saya tuan" jawab sang kasim yang langsung datang.
"panggil Arana kemari!" perintah mentri Huan tegas.
"baik tuan" kata sang kasim lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
"Mengapa anak itu selalu saja membuat ku sakit kepala?!" gumam mentri Huan sambil memegangi kepalanya yang terlihat sangat frustasi dalam menghadapi Arana.
Pagi ini saat sarapan mentri Huan telah menahan amarah miliknya yang di sebabkan oleh Arana, yang tak mau hadir di ruang penjamuan dengan alasan yang tak masuk akal, sekarang arana justru menindas kaka nya sendiri.
Menurut mentri Huan, sifat Arana sudah sangat keterlaluan hari ini, bukan hanya membuat keluarga mentri Huan malu dengan ketidak hadir nya arana di ruang penjamuan, yang berujung menjadi bahan perbincangan para tamu dengan rumor negatif tentang keluarga mentri huan yang tidak menyayangi serta memperhatikan Arana dengan baik.
Kini Arana justru membuat masalah dengan kaka nya sendiri, padahal Bai min jauh lebih tua 3 tahun dari Arana, tapi entah mengapa Bai min selalu saja terlihat tertindas oleh Arana, sungguh membuat mentri Huan tak habis pikir terhadap putri keduanya itu.
Selang beberapa lama, Arana memasuki ruangan mentri Huan dengan ekspresi datar yang melekat di wajah cantik nya.
"aku rasa diriku tidak melakukan kesalahan apapun." acuh Arana yang masih berdiri tegak, bahkan saat Arana masuk dia belum sempat membungkuk hormat kepada menteri Huan, karena telah lebih dulu di intimidasi oleh menteri Huan.
"mengapa kau berbuat sekejam itu kepada Bai min Arana! apa kau lupa jika dia itu kaka mu?! kaka kandungan mu! tidak bisa kah kau menghormati dirinya?!." ujar mentri Huan dengan suara yang meninggi.
"cih hanya soal itu?!." kata Arana menanggapi mentri Huan dengan tatapan muak.
"Arana! tidak bisa kah kau tidak berbuat ulah?!." geram mentri Huan yang melihat sikap acuh Arana.
"apa aku di undang ke sini hanya untuk di intimidasi oleh mu tuan Huan?!" ucap Arana yang mulai merasa jengah.
"ingat ini! jangan kan menghormati Bai min bahkan seluruh anggota keluarga Huan terutama kau, Quin xie dan orang tua itu pun selamanya tak pantas untuk ku hormati!!." lanjut Arana dengan nada yang tak kalah tinggi dengan mentri Huan dengan tatapan yang di penuhi kebencian.
__ADS_1
"lancang!."
Plak!!
Mentri Huan menampar keras pipi mulus Arana hingga meninggal kan bekas memar di sana.
"apa menurutmu orang seperti ini layak untuk di hormati mentri Huan?!" marah Arana sambil memegang pipi nya yang terasa nyeri akibat tamparan mentri Huan.
"kau telah menyiksa ku sedari kecil, menyalahkan ku tanpa alasan, mengabaikan kehidupan ku dan bahkan tak pernah peduli akan hidup dan mati ku! apa kau pikir kau pantas untuk ku hormati tuan Huan?! sungguh lucu sekali." sinis Arana dengan nada meremehkan mentri Huan.
Mentri Huan tertegun kala mendengar apa yang Arana katakan kepada nya, semua yang Arana katakan memang benar ada nya, tetapi reputasi keluarga jauh lebih utama saat ini di Banding kan dengan apapun.
"Ingat ini baik baik Arana! kau merupakan putri kedua kediaman ini! aku tak perduli dengan apa yang kau rasakan! kau harus menjaga sikap mu di hadapan semua tamu ku! jika kau berbuat kesalahan lagi! aku tak akan segan memberikan hukuman keras di hadapan semua orang bahkan di hadapan seluruh anggota kekaisaran sekaligus!" ancam mentri Huan.
"cih, lakukan saja apa yang mau kau lakukan." kesal Arana lalu pergi meninggalkan mentri Huan.
Arana merasa sangat sial terlahir di tengah tengah keluarga mentri Huan, dirinya tak habis pikir dengan jalan pikiran dari kedua orang tua nya, padahal Arana merupakan putri mereka juga tetapi mengapa mereka lebih menyayangi bai min dan bahkan seluruh anggota keluarga juga lebih mengutamakan Bai min.
Lebih sadis nya lagi, tak ada satu orang pun yang pernah menoleh kearah Arana, apa hanya karena sebuah ramalan konyol saja, bisa membuat mereka berpikir bodoh seperti itu
"sungguh keluarga yang memuakkan" gumam Arana.
Sementara di sisi lain, Bai min tengah di obati oleh Quin xie, Bai min juga menceritakan perbuatan Arana kepada ibu nya itu, yang membuat Quin xie juga merasa geram kepada putri keduanya sendiri, tapi walau Quin xie sangat marah saat ini, dirinya tak bisa dengan gegabah menghukum Arana, sebab para tamu akan beranggapan lebih negatif dari sebelumnya jika sampai Quin xie memberikan Arana hukuman yang berat.
"Tenang lah sayang, ibu pasti akan memberikan hukuman untuk adik mu yang membangkang itu, sekarang lebih baik kau ber istirahat, besok acara besar akan segera di mulai, kau harus terlihat cantik di sana." ucap lembut Quin xie setelah mengobati luka Bai min
"terimakasih ibu, ibu harus mengajar Arana dengan baik" ujar Bai min dan di angguki oleh Quin xie.
__ADS_1
🍁