PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 53


__ADS_3

Entah kesialan apa yang sedang menimpa mentri Huan? hingga bisa berurusan dengan pangeran Jikxi yang terkenal berdarah dingin serta amat sangat kejam itu haru ini.


Niat hati ingin mengancam Arana agar mau menuruti keinginan nya yang ingin menarik pangeran Jikxi agar berada di pihak yang sama dengan mentri Huan, namun siapa yang akan menyangka jika pangeran dingin itu justru tiba tiba berada di kediaman Arana? kedatangan nya yang secara tiba tiba tepat di moments saat mentri Huan akan menghukum sikap Arana yang lancang kepada dirinya, sungguh momen yang sangat tidak menguntungkan bagi mentri Huan.


"Apa kau tahu hukuman apa yang pantas untuk seorang bawahan yang berniat ingin melukai seorang putri? terlebih putri itu merupakan calon permaisuri kediaman ku?!" hardik pangeran Jikxi dingin dengan tatapan tajam.


"ampun yang mulia, hamba mengakui kesalahan hamba, mohon yang mulia berbelas kasih kepada bawahan yang rendah ini." kata mentri Huan memohon ampun sambil berlutut di hadapan pangeran Jikxi, berharap pangeran dingin itu mau melepaskan nya.


"sudah lah yang mulia, lagi pula tuan Huan hanya ingin menggertak saya saja, tidak ada niat serius di dalam nya, bukan kah begitu tuan?" ujar Arana sambil menatap ayah nya yang sedang memohon ampun kepada pangeran Jikxi di hadapan nya.


"iya iya benar apa kata putri hamba yang mulia, lagi pula hamba tidak akan pernah tega untuk melukai putri kandung hamba sendiri" ujar mentri Huan berbohong.


"cih, tidak tega melukai, aku ingat selama 13 tahun ini kau menganiaya tubuh ku tanpa memandang kesakitan yang ku alami dan bahkan kau tidak pernah merasa bersalah setelah melakukan hal itu" sinis Arana dalam hati namun wajah nya tetap tersenyum.


"begitukah?" tanya pangeran Jikxi yang tidak mempercayai perkataan mentri Huan.


"tentu saja yang mulia, bukan kah benar begitu putri ku?." kata mentri Huan sambil memohon kepada Arana lewat Pancaran mata nya, agar Arana mau membantu dirinya terlepas dari pangeran Jikxi yang terlihat sedang sangat marah itu.


"tidak bisa di katakan benar juga si yang mulia, ada kalanya juga beliau memang harus menghukum hamba saat hamba melakukan kesalahan." jawab Arana santai.


Mendengar jawaban Arana mentri Huan mengepalkan tangan nya marah namun tidak bisa berbuat apa apa.


"anak sialan ini kenapa menjawab seperti itu, awas saja kau nanti!." geram mentri Huan dalam hati yang tidak menyukai jawaban Arana. bukan perkataan seperti itu yang mentri Huan ingin kan, melainkan Arana yang harus mengatakan jika mentri Huan tidak pernah tega menghukum dirinya.


Sedangkan pangeran Jikxi merasa terhibur sekaligus kesal dengan jawaban tunangan kecil nya itu, terhibur karena pangeran Jikxi tahu jika artana sedang mempermainkan emosi mentri Huan melalui dirinya, namun kesal sebab Arana enggan mengatakan yang sebenarnya.


Jika saja Arana mengatakan semua hal yang di lakukan oleh mentri Huan kepada Arana, sudah pasti pangeran Jikxi akan langsung menghancurkan apa yang menjadi kebanggaan mentri huan selama ini dan lagi dapat di pastikan mentri Huan bersama orang orang yang turut andil dalam penderitaan yang Arana alami akan di beri hukuman yang setara dengan penderita arana selama belasan tahun itu atau bahkan akan mendapatkan hukuman berkali kali lipat dari rasa sakit yang Arana alami dulu.


"Dalam arti kau pernah di hukum oleh nya?." tanya pangeran Jikxi sambil menatap lekat mata gadis kecil nya berharap Arana akan menjawab dengan jujur tentang perbuatan mentri huan selama ini.

__ADS_1


"tentu saja yang mulia, memang ada seorang anak di dunia ini yang tidak pernah di hukum oleh kedua orang tua nya saat melakukan sebuah kesalahan?" tanya Arana dengan wajah polos nya.


"itu benar yang mulia, semua orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anak anak mereka, sudah pasti jika mereka melakukan sebuah kesalahan kami sebagai orang tua harus meluruskan serta mengingat kan mereka akan kesalahan itu, agar tidak terulang lagi di masa depan" timbal mentri Huan yang langsung menyambung perkataan Arana.


"lalu bagaimana jika orang tua yang melakukan kesalahan kepada anaknya?" tanya pangeran Jikxi santai namun ada aura membunuh yang sangat mengerikan dari tubuh nya.


"orang tua itu harus segera menyadari kesalahannya atau nanti akan terjadi hal buruk kepada keluarga nya suatu hari nanti karena kesalahan kecil yang tidak orang tua itu sadari" jawab mentri Huan seadanya.


"begitu pula dengan dirimu" gumam Arana sinis namun masih bisa di dengar oleh kedua orang yang berada di dekat nya.


"sudah lah yang mulia, tidak perlu seperti ini, tidak baik jika tuan Huan terlalu lama berlutut di tanah." kata Arana dengan penuh pengertian yang membuat pangeran Jikxi menghela nafas kasar.


"baik lah, kau pergilah mentri, tapi ingat tidak ada lain kali atau kau harus menanggung akibat nya!." ancam pangeran Jikxi


"hamba mengerti yang mulia, mohon undur diri" ujar mentri Huan sambil berdiri dan memberi hormat kepada pangeran Jikxi lalu pergi meninggalkan kediaman Arana secepat kilat tanpa sedikitpun menoleh kearah arana yang sedang bersama dengan pangeran Jikxi.


"itu tidak penting, lagi pula aku memiliki rencana ku sendiri." dingin Arana.


"apa yang sedang kau rencanakan terhadap keluarga mu ini?" tanya pangeran Jikxi penasaran.


"sebuah permainan yang menyenangkan tentunya" kata Arana sambil tersenyum devil.


"lalu ada urusan apa yang mulia ini datang kemari tanpa undangan?" dingin Arana menatap sinis tunangan nya itu.


"tentu saja karena merindukan mu, siapa yang akan menyangka saat aku datang untuk menjenguk mu, kau sedang akan di beri hukuman oleh orang tua itu karena enggan menarik diriku untuk menjadi salah satu orang nya" jujur pangeran Jikxi


"itu sudah terbiasa, lagi pula tanpa kau membantu pun aku bisa mengatasinya sendiri, dan perlu di ingat juga ini semua karena kesalahan mu yang memilih diriku menjadi tunangan mu, andai saja kau memilih orang lain aku tidak perlu repot seperti sekarang ini" dingin Arana menatap sinis pangeran Jikxi.


"baik lah baik lah semua ini memang salah ku, tapi kesalahan ini akan terus ku pertahankan sampai kapan pun" kata pangeran Jikxi dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"enyah lah" jengah Arana, entah perbuatan buruk apa yang pernah Arana perbuat di kehidupan sebelumnya kepada pangeran Jikxi? hingga Arana harus membayar hutang itu di kehidupan ini pikir Arana yang merenungi nasib buruk nya karena harus memiliki calon suami seperti pangeran Jikxi yang menurut nya merupakan seorang lelaki yang amat sangat menyenangkan.


"Tapi bukan kah tadi itu sangat menarik, jika saja hanya kau yang mengurus orang tua itu pasti tidak akan semenarik saat aku yang mengatasinya." ujar pangeran Jikxi bangga, namun hanya di balas dengan bola mata Arana yang berputar dengan malas.


"ah ya ada yang ingin ku tanyakan kepada mu juga?" lanjut pangeran Jikxi.


"apa?" singkat Arana.


"apa hubungan mu dengan mereka tidak begitu baik? bahkan kau tidak memanggil ayah mu dengan sebutan ayah lagi." kata pangeran Jikxi penasaran.


"bukan kah seseorang pernah mengatakan jika dia mengetahui semua tentang diri ku, lalu untuk apa kau bertanya tentang hal yang tak berguna itu lagi" dingin Arana menyindir pangeran Jikxi .


"yah yah yah, tapi aku mengira sebenci apapun kau, kau akan tetap menyayangi mereka meski hanya sedikit saja." kata pangeran Jikxi tak mengerti.


"rasa sayang itu telah lama mati!." dingin Arana.


"baguslah kalau begitu" gumam pangeran Jikxi yang merasa lega saat melihat sorot kebencian yang teramat dalam di mata Arana untuk keluarga nya.


Sebab pangeran Jikxi merasa takut jika suatu hari nanti keluarga Arana benar benar di lenyap kan oleh kaisar dan hanya menyisakan Arana seorang diri saja, gadis kecil itu akan merasakan patah hati yang teramat dalam yang mungkin akan membahayakan kesehatan serta mental nya dalam bertahan hidup, dan tentu saja pangeran Jikxi tidak akan pernah membiarkan jika hal itu sampai benar benar terjadi.


"Mengapa kau merasa senang saat mengetahui jika aku membenci mereka? apa kau memiliki dendam kepada keluarga ini?" tanya Arana yang ternyata mendengar gumaman pangeran Jikxi.


"aku jelas membenci keluarga ini karena mereka sering memperlakukan mu secara tidak adil, terapi bukan itu titik permasalahan nya" kata pangeran Jikxi


"lalu?" tanya Arana penasaran.


"bukan hanya aku yang ingin menghancurkan keluarga mu melainkan kaisar juga" ujar pangeran Jikxi.


🍁

__ADS_1


__ADS_2