
"Sudah lah simpan saja tenaga mu itu untuk tetap bertahan hidup di sini, aku tidak ingin kau cepat mati sebelum hutang mu pada ku di tuntaskan hingga lunas!." dingin Arana.
"dan kedatangan ku kesini hanya ingin mengucapkan selamat kepada kakak ku yang akan gagal memperjuangkan orang yang dia ingin kan lagi." ejek Arana dengan nada meremehkan.
"apa maksud dari perkataan mu?!." tanya Bai min tidak mengerti.
"apa kau lupa sebulan lagi akan di adakan sebuah pemilihan calon permaisuri untuk para pangeran? di saat itu aku yakin putra mahkota akan segera memiliki banyak istri. namun sayang nya kau tidak akan ada kesempatan untuk masuk kedalam salah satu nya." ejek Arana.
"itu tidak akan pernah terjadi Arana!. ingat ini cepat atau lambat aku pasti akan keluar dari sini! dan aku akan menjadi wanita kesayangan milik putra mahkota satu satunya! di saat itu tiba, akan ku pasti kan hari tenang mu akan segera berakhir!." ancam Bai min dengan penuh kebencian menatap Arana.
"aku sangat menantikan hal itu kakak. aku juga ingin mengucapkan selamat kepada mu kakak, sebab khayalan mu yang indah itu seperti nya tidak akan pernah terwujud, sebab mungkin saja kau tidak akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan putra mahkota!. lihat lah keadaan mu sekarang! bahkan untuk keluar dari sini pun tidak bisa, sebaiknya kau mengikhlaskan putra mahkota saja." ejek Arana lalu berbalik untuk pergi dari ruangan itu.
"kau lihat saja! aku pasti bisa mendapatkan putra mahkota. setelah itu, aku akan membuat hidup mu selalu menderita Arana! hingga kau akan terus bersujud memohon kematian mu pada ku!" teriak Bai min penuh dendam di belakang Arana.
"oh benarkah itu, aku sangat takut" ejek Arana berbalik menatap Bai min sesaat, lalu melanjutkan langkahnya pergi meninggalkan Bai min seorang diri yang terlihat sangat marah namun tidak dapat melakukan apa apa, karena tubuh nya yang sangat lemah.
Bai min mengepalkan tangan nya kala melihat bagaimana Arana bersikap pada nya hari ini. sungguh keterlaluan, bisa bisanya seorang anak yang paling di benci oleh keluarga nya bisa bersikap kasar kepada putri yang paling di banggakan dan paling di sayangi oleh keluarga ini.
Dan juga Bai min amat sangat marah kepada dirinya sendiri yang terlihat begitu lemah di hadapan Arana. hal ini bagaikan sebuah penghinaan besar dari Arana untuk dirinya. tetapi Bai min tetap berfikir positif mungkin saja dirinya sedang dalam keadaan lemah, karena memang kondisi tubuhnya sedang kekurangan nutrisi bukan karena mengakui bahwa Arana lebih kuat dari nya. Bai min yakin Arana hanya seorang sampah yang tak bisa apa apa, yang bisa Arana lakukan hanya menyerang musuh di saat musuh nya sedang dalam kondisi lemah.
"sungguh menjijikkan!." sinis Bai min penuh kebencian.
Namun kala Bai min mengingat perkataan Arana tentang acara pemilihan calon permaisuri para pangeran yang akan segera di laksanakan. Bai min merasa sangat marah!, dirinya tidak bisa lagi selalu di kurung di dalam tempat seperti ini. apa lagi tak ada satu orang pun yang memperdulikan nya akhir akhir ini, Bai min harus bisa segera bangkit dan keluar dari sini secepat mungkin, atau dia akan sangat menyesal karena kehilangan orang yang dia ingin kan untuk yang kedua kalinya.
"aku pasti akan segera keluar dari sini, aku tak ingin kegagalan untuk kedua kalinya, itu akan menjadi penghinaan terbesar dalam hidupnya" kata Bai min penuh tekad kepada dirinya.
Sedangkan Arana yang baru saja keluar dari ruang hukuman Bai min tersenyum penuh kemenangan. selain bisa menyicil dendam lama Arana juga merasa berhasil memancing emosi Bai min. Arana yakin Bai min pasti akan berusaha mencari supaya bisa terlepas bebas dari hukuman yang di berikan oleh keluarga nya.
"gadis bodoh" gumam Arana.
__ADS_1
Di satu sisi Quin xie merasa cemas akan kondisi Bai min putri kesayangannya, sudah dua Minggu lama nya mereka tidak saling berkomunikasi satu sama lain, dan bahkan Quin xie juga telah memberikan hukuman yang menurut nya sangat berat untuk Bai min, ada sedikit rasa khawatir dan rasa bersalah yang ada dalam lubuk hati Quin xie tetapi semua ini dia lakukan agar bai min mau merubah keinginan nya yang sedang berusaha mendapatkan putra mahkota.
"apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Mentri Huan yang datang menemui Quin xie yang terlihat sedang melamunkan sesuatu.
"aku hanya sedang merasa khawatir kepada putri kita Bai min suami ku. aku tahu dia sedang melewati masa masa sulit selama 2 minggu terakhir." sendu Quin xie merasa sakit di dada nya kala membayangkan raut wajah sedih Bai min yang sedang menderita di balik ruang leluhur keluarga yang kini sangat gelap.
"tenang kan dirimu, ini semua untuk kebaikan nya." ujar menteri Huan sambil mendekat lalu memeluk tubuh istrinya untuk menenangkannya.
"aku tau itu tuan. tetapi sebagai seorang ibu, tetap saja hati ku merasa sakit kala membayangkan penderita nya." ujar Quin xie sedih.
"iya aku tahu, bersabar lah, aku sangat yakin anak manja itu akan segera menyadari apa kesalahan nya." kata mentri Huan.
"he'eh" jawab Quin xie sambil membalas pelukan sang suami lalu mengeratkan pelukan mereka.
Di tempat lain setelah Arana pergi memanas manasi Bai min, Arana pergi menuju kediaman nyonya besar keluarga Huan atau nenek nya sendiri. Arana masuk kedalam paviliun paling megah di dalam kediaman mentri Huan itu.
"aku hanya ingin memberi salam kepada nenek ku" dingin Arana.
"tetapi nyonya besar sedang sibuk, jadi silahkan anda pergi dari sini, aku tak ingin lantai nyonya besar menjadi kotor lagi setelah baru saja di bersihkan." kata pelayan itu dengan kasar menyindir Arana.
"oh begitu kah, aku baru tahu jika nenek ku yang selalu di agungkan di kediaman ini memiliki seorang pelayan yang tidak bersedia untuk membersihkan kediaman nyonya nya sendiri, sungguh fakta yang sangat menarik. jika ayah ku tau aku yakin kau akan segera di jual oleh nya." enteng Arana dengan wajah datar nya membalas perkataan pelayan itu, pelayan yang mendengar perkataan Arana merasa marah, namun saat ingin mengucapkan sesuatu seseorang telah datang terlebih dahulu.
"Zurji apa yang kau lakukan di sini?." tanya seorang wanita tua yang keluar dari kamar nya kala mendengar pertengkaran di luar kamar nya.
"saya sedang membersihkan hama kesialan agar tidak masuk kedalam kediaman anda nyonya" kata seorang pelayan yang bernama Zurji sambil menatap Arana dengan penuh ejekan.
"aku baru mengetahui jika seorang pelayan bahkan bisa berkata dengan begitu kasar seperti itu kepada majikannya, sungguh anda telah mendidik nya dengan sangat baik nenek." ujar Arana menanggapi perkataan pelayan itu.
Nyonya besar langsung memandang sumber suara lain selain pelayannya yang ternyata Arana, cucu yang paling di benci oleh dirinya.
__ADS_1
"tidak ada yang salah dengan perkataan pelayan ku" sinis nyonya besar menatap Arana penuh kebencian.
" begitukah?." tanya Arana dingin.
"untuk apa kau kemari? kehadiran mu tidak di terima dalam kediaman ku" usir nyonya besar tanpa memberi Arana sedikit pun muka.
"oh nenek ku sayang, kau masih sama seperti dulu, tetapi aku baru menyadari satu hal, bahkan sekarang seorang nona di kediaman seorang mentri bisa dengan mudah di tindas oleh seorang pelayan sungguh menarik, pantas saja kakak terlihat sangat menyedihkan di ruang leluhur keluarga." kata Arana dengan santai.
"apa hubungannya sikap pelayan kepada mu dan kepada Bai min? sangat jelas jika kalian berbeda, dan kau memang pantas mendapatkan penghinaan itu" sinis nyonya besar yang memang terbiasa mendengar/menyaksikan Arana di siksa dan di caci maki oleh para pelayan di seluruh kediaman mentri huan selain kediaman milik Arana sendiri.
"oh, perbedaan nya terletak di mana? apa karena aku di Ramalkan menjadi seorang pembawa sial bagi keluarga ini?." tebak Arana.
"tetapi nona yang kalian sayangi selama ini bahkan ingin membawa keluarga ini ke dalam sebuah masalah besar, bukan kah Seharusnya kata pembawa sial ini di tepat di ucapkan pada nya" lanjut Arana.
"tapi itu tidak mungkin, aku tau kalian sangat menyayangi nya." miris Arana dengan tatapan yang semakin menggelap.
"jika kau sudah mengetahui jawaban nya, segera pergi dan jangan pernah datang untuk mengganggu k!, dan lagi Bai min tidak melakukan hal hina yang telah kau katakan barusan, cucu ku Bai min merupakan permata kediaman ini, aku yakin kelak keluarga ini akan bersinar terang melalui dirinya." sinis nyonya besar tak sabar melihat wajah Arana.
"ck, aku bahkan merasa miris kepada kaka ku yang selalu di bilang putri kesayangan kediaman ini, ketika dia sedang sangat menderita menerima hukuman yang di berikan oleh orang yang katanya menyayangi nya, tak ada satu pun di antara kalian yang mau perduli akan kepedihan nya, apakah ini yang di namakan menyayangi nya?" sindir Arana
"oh alangkah beruntungnya aku, karena tidak pernah di sayangi oleh kalian, setidak nya nasib baik selalu menghampiri ku" kata Arana bangga.
Sedangkan nyonya besar memikirkan perkataan Arana mengenai kondisi Bai min. bukan kah cucu kesayangan nya itu hanya di hukum di ruang keluhur keluarga saja? apa yang membuatnya menderita? lagi pula hanya tidak di izin kan untuk keluar dari ruang keluhur saja bukan sedang di siksa di dalam sana, cucunya pasti akan baik baik saja di sana.
Dan kemungkinan hanya akan sedikit marah saja kepada keluarga nya karena tidak mendukung keinginan bai min yang ingin bersama dengan putra mahkota.
"apa yang kau tahu tentang cucu ku? jelas dia baik baik saja di dalam ruang hukuman itu. ini semua kami lakukan untuk kebaikan nya, agar dia tidak menjadi orang seperti dirimu yang tidak tahu aturan keluarga." sinis nyonya besar.
"benar kah? tetapi kaka ku terlihat sangat kurus dengan wajah pucat pasi seperti orang yang telah tersiksa lama di dalam sana, dan parah nya kalian tidak pernah datang mengunjungi nya, sungguh miris."
__ADS_1