
Tak sengaja Quin xie bertemu dengan Arana di tengah perjalanan nya saat Quin xie telah keluar dari paviliun Bai min, terlihat dengan jelas jika Arana baru saja keluar dari ruangan mentri Huan.
Suasana hati Arana sedang sangat buruk jadi saat bertemu dengan wanita yang seharusnya Arana sebut sebagai ibu itu, Arana langsung mengabaikan keberadaan nya tanpa sedikitpun menoleh kearah nya.
"Tunggu Arana!." perintah Quin xie dengan tegas hingga membuat langkah kaki Arana terhenti.
"apa anda memanggil saya untuk masalah hari ini dengan baik min nyonya?." tebak Arana.
"jika benar sebaiknya urungkan niat anda, saya sedang tidak ingin di ganggu oleh siapa pun." ujar Arana dengan tatapan sinis lalu pergi melanjutkan perjalanan nya lagi.
Memang benar Quin xie berniat untuk mengajak debat Arana yang telah berani melukai Bai min, namun niat nya ter urung saat melihat memar di wajah mulus Arana, Quin xie yakin jika memar yang ada di wajah Arana itu, di sebabkan oleh suami nya yang telah lebih dulu menegur Arana.
"dia menjadi lebih dingin setiap hari nya." gumam Quin xie sambil memandangi punggung kecil Arana yang berjalan menjauh dari posisi nya.
Arana kembali ke paviliun milik nya dengan amarah yang begitu memuncak, Arana muak dengan semua yang ada di dalam kediaman mentri Huan ini, sikap kejam mereka, tuduhan tak jelas mereka, siksaan mereka, cemoohan mereka dan bahkan kebodohan mereka dalam berpikir.
"aaahhghhh!!! mengapa aku harus terlahir di keluarga seperti ini?!."geram Arana sambil membuang semua barang yang ada di hadapan nya.
"seperti nya aku harus menyalurkan emosi ku." ujar Arana lalu pergi ketempat yang tidak pernah di ketahui oleh siapapun termasuk nobu pengasuh nya.
Arana pergi kesebuah bangunan kumuh yang di kelilingi hutan kecil, melalui sebuah jalan rahasia di dalam kediaman mentri huan, sebenarnya letak hutan kecil itu masih di dalam kawasan kediaman mentri Huan namun entah mengapa tidak ada satu orang pun yang mengetahui keberadaan tempat itu.
Arana tak sengaja mengetahui tempat itu saat dia berusia 3 tahun dan hingga saat ini tempat itu telah menjadi tempat untuk Arana melampiaskan segala emosi yang ada pada dirinya.
Di dalam bangunan yang terlihat kumuh dari luar itu ternyata menyimpan begitu banyak senjata yang di lengkapi dengan buku pelatihan nya.
Karena Arana yang merupakan seorang jenius, dari umur 3 tahun Arana sudah mulai belajar memahami buku latihan itu dan perlahan telah menguasai berbagai senjata yang ada di sana.
__ADS_1
Setiap kali Arana marah, Arana akan berlatih satu senjata dengan sangat serius, sebab itu lah tubuh Arana telah terlatih menjadi kuat, sehingga saat mentri Huan memberikan hukuman untuk Arana tidak akan berpengaruh terlalu buruk kepada tubuhnya, siksaan itu malah justru menjadi sebuah pembelajaran untuk melatih ketahanan tubuh nya.
Meski tubuh Arana kuat dalam menghadapi segala siksaan tetapi hati nya tetap saja merasa sakit yang teramat dalam sehingga berakhir menjadi rasa dendam di dasar hati.
"Lihat saja Bai min, besok segala citra yang telah kau bangun di depan banyak orang, akan segera hancur seketika!." sinis Arana sambil mengayunkan pedang nya secara menggila.
Arana terus berlatih hingga malam tiba, dan bahkan Arana telah melewatkan makan malam nya juga.
Sedangkan di penjamuan malam, suasana nya terlihat sangat berbeda malam ini, sebab ada kehadiran tiga orang pangeran kekaisaran.
Kaisar mengirim putra mahkota, pangeran Han (pangeran ke tiga) dan juga pangeran Jikxi (pangeran ke enam) untuk menghormati mentri huan yang telah berjasa kepada kekaisaran.
Suasana dalam ruang makan itu terlihat sangat tenang, semua tamu sangat menjaga sikap mereka, apa lagi terhadap pangeran Jikxi yang paling di hormati di dalam kekaisaran ini.
Usia pangeran Jikxi memang sangat muda namun dia sudah bisa menjadi orang yang paling di andalkan oleh kaisar dan bahkan jauh lebih baik dari pada putra mahkota, sebab itu lah meski sifat pangeran ji,kxi sangat dingin dia tetap menjadi orang yang paling di hormati oleh seluruh kekaisaran Minday.
Sebenarnya Jikxi sangat tidak menyukai sebuah perayaan atau hal semacam nya, namun karena dia ingin bertemu dengan Arana, pangeran Jikxi rela mengesampingkan rasa tak suka nya dan memaksakan diri untuk menghadiri nya.
Semua wanita bangsawan yang hadir di sana langsung terpana dengan ketampanan pangeran Jikxi yang lebih tampan dari pangeran lain nya.
Termasuk Bai min yang merasa sangat girang dengan kedatangan pangeran Jikxi di kediaman nya, Bai min merupakan penggemar berat pangeran Jikxi sedari dulu, bukan hanya tampan yang begitu memikat kaum hawa tetapi pangeran Jikxi juga bertalenta serta dalam selalu di andalkan oleh kaisar, hal itu lah yang membuat Bai min jatuh hati kepada pangeran Jikxi.
"alangkah baik nya jika aku bisa menikah dengan pangeran Jikxi, semua orang pasti akan merasa sangat iri pada keberuntungan ku." ujar Bai min dalam hati sambil terus memandang wajah tampan pangeran Jikxi.
"Terimakasih atas kedatangan putra mahkota dan kedua pangeran, hamba bersulang untuk kalian ketiga." ujar mentri Huan dengan sangat bahagia sambil mengangkat gelas anggurnya.
"tak perlu sungkan paman,.kau telah banyak berjasa untuk kekaisaran ini, aku mewakili ayahanda untuk memberi kehormatan
__ADS_1
kepadamu." kata putra mahkota sambil mengangkat gelas anggur nya untuk bersulang dengan mentri Huan.
"mari silahkan di nikmati sajian nya." ujar mentri huan.
Sedangkan pangeran Jikxi terlihat diam acuh tak acuh meskipun ikut mengangkat gelas anggurnya, mata nya terus mencari sosok wanita yang ingin dia lihat, tapi sedari awal hingga akhir arana tak kunjung hadir di acara penjamuan itu.
"kemana gadis kecil ku?." pikir pangeran Jikxi dalam hati.
Pangeran Jikxi yang tak berselera makan dengan ketidak hadiran Arana, langsung bergegas pergi meninggalkan ruangan itu, dia sangat bosan bersama dengan orang orang munafik dalam satu ruangan.
Apalagi melihat tatapan liar para wanita di dalam sana, sungguh membuat pangeran Jikxi muak, pangeran Jikxi tahu betul semua wanita yang mengagumi dirinya hanya menginginkan kekuasaan serta kepuasan saja, tak ada sedikitpun ketulusan yang ada dalam diri para wanita itu.
"Tunggu pangeran." ujar Bai min yang ternyata mengejar pangeran Jikxi, tetapi pangeran Jikxi tidak menghiraukan panggilan Bai min dan tetap melanjutkan langkah nya.
"mohon maaf atas kelancaran hamba yang mulia, tapi bolehkan anda tinggal beberapa waktu sebentar saja bersama ku?." kata Bai min yang di abaikan oleh pangeran Jikxi dan berinisiatif untuk menghadang nya.
"minggir!" dingin pangeran Jikxi dengan wajah datar nya.
"tapi yang mulai hamba..."
"aku bilang minggir!!" tegas pangeran Jikxi dengan tatapan tak suka kepada Bai min.
Namun Bai min tetap kekeh tak mau menyingkirkan dari hadapan pangeran Jikxi yang berakhir dengan pangeran Jikxi menyingkirkan tubuh Bai min dengan keras ke samping agar pangeran Jikxi bisa melanjutkan perjalanan nya.
"Au pangeran kau sangat kasar." keluh Bai min yang terjatuh namun tidak di perduli kan oleh pangeran Jikxi.
Pangeran Jikxi justru langsung pergi tanpa menoleh sedikitpun kepada Bai min, yang membuat Bai min merasa sangat kesal.
__ADS_1
"awas kau pangeran, aku akan membuat mu bertekuk lutut di hadapan pesona ku! " ujar Bai min yang merasa sangat kesal di abai kan oleh pangeran Jikxi.
🍁