
Tetes embun pagi telah menyapa sebelum sang mentari menampakkan sinar terlebih dahulu, suasana masih begitu dingin nan sejuk di pagi buta yang terlihat masih nampak gelap, namun beberapa orang telah di sibukkan dengan segala persiapan perayaan hari ini.
Para nona bangsawan tengah bersiap siap dengan gaun terbaik milik mereka, mereka berlomba lomba menampilkan penampilan yang paling menawan dengan berbagai perhiasan mahal melekat di rambut nya, guna merebut perhatian di dalam acara yang sedang berlangsung hari ini di dalam kediaman mentri Huan.
Namun berbeda hal nya dengan Arana, gadis kecil itu masih setia terlelap di temani oleh selimut hangat yang masih melekat di tubuh nya, kedua matanya pun masih enggan untuk terbuka meski di luar sana sudah terdengar banyak kericuhan dengan suara suara para tamu yang ada di dalam kediaman mentri Huan.
"Nona, ayo bangun acara akan segera di mulai setelah sarapan pagi, nona harus segera bersiap siap." kata Nobu sambil menggoyang goyangkan tubuh Arana agar terbangun dari tidurnya.
"Nobu biarkan aku tidur sedikit lebih lama lagi, aku masih sangat mengantuk." ujar Arana dengan suara serak.
"tapi nona, semua nona bangsawan telah bersiap hanya anda yang belum melakukan apapun." kata Nobu yang terus membujuk Arana agar mau membuka kedua matanya
"biarkan saja Nobu, toh mereka semua memakai gaun dari toko ku, aku pasti akan tampil lebih menawan dari mereka semua." kata Arana penuh percaya diri sambil menarik selimut nya untuk menutupi kepala agar mudah terlelap kembali.
"tidak bisa nona, beberapa hari ini nona telah membuat mentri Huan marah dengan sikap nona, meskipun sikap nona itu benar dan Nobu sangat mendukung nya, tetapi Nobu juga tak ingin jika sampai nona kenapa napa nanti nya." ujar Nobu yang mengeluarkan segala kekhawatiran nya selama ini.
Mengingat sejak Arana masuk kedalam kediaman utama, Arana telah melakukan banyak kesalahan setelah acara makan malam terakhir nya waktu itu, membuat Nobu merasa takut akan kondisi Arana nanti setelah acara selesai di gelar, tentu saja pasti Arana akan di persulit oleh mentri huan dan anggota keluarga lain nya.
"Baik lah baik lah, aku mengalah untuk mu" kata arana menyerah dengan Nobu.
"nah begitu baru nona cantik ku, kalau begitu Nobu siapkan air mandinya terlebih dahulu yah?" ujar Nobu senang.
"iyah"
__ADS_1
Selepas mandi Arana mengenakan gaun berwarna biro Dongker yang di hiasi taburan permata di bawah gaun nya, gaun itu terlihat sederhana namun begitu elegan dan mempesona saat Arana yang mengenakan nya, terlebih wajah cantik Arana hanya di poles sedikit makeup saja di lengkapi dengan 2 perhiasan sederhana yang melekat di rambut indah nya, menambah kesan yang luar biasa pada penampilan Arana di hari ini. (sederhana tetapi tetap menawan begitu lah peribahasa nya)
Meskipun perhiasan Arana terbilang cukup murah harganya namun karena Arana yang memakai nya harga tidak lah menjadi sebuah acuan penting di sana, semua nya terlihat begitu sempura kala melekat di tubuh Arana.
Semua orang telah berada di ruang penjamuan sarapan pagi, awalnya Bai min yang menjadi pusat perhatian semua orang, karena penampilan mewah nya hari ini, yang mengenakan gaun berwarna merah muda/pink dengan berbagai perhiasan mahal yang menghiasi rambut panjang nya di sertai makeup yang begitu sempurna melekat di wajah cantiknya, namun semua perhatian itu hilang seketika setelah Arana hadir di dalam ruang penjamuan itu.
Arana berjalan dengan sangat anggun melewati semua tamu undangan, penampilan nya yang sederhana dengan hanya sedikit perhiasan yang menghiasi rambut indah nya terlihat begitu memukau para tamu undangan.
Para tamu yang baru melihat keberadaan Arana hari ini mengingat di pertemuan sebelumnya Arana tidak pernah hadir di tengah tengah mereka.
Namun kala melihat sosok Arana, mereka semua terlihat begitu kagum dengan kecantikan alami yang di miliki Arana, bahkan para nona bangsawan merasa sangat iri dengan wajah putih nan mulus milik Arana yang hanya di hiasi sedikit makeup saja, namun sudah memperlihatkan kecantikan yang begitu menawan.
"ternyata nona Arana memang benar seperti yang di rumorkan di luaran sana, dia memang sangat cantik bak bidadari." bisik nona Carlin (putri ketiga jendral pang)
"kau benar nona Car, aku sungguh iri dengan wajah putih susunya yang terlihat sangat mulus itu" ujar nona Morxa (putri tunggal mentri Xiao)
"kau benar nona Car, lihat saja bahkan perhiasan yang nona Arana kenakan begitu murah, sudah bisa di pastikan hidup nya selalu di abaikan oleh keluarga nya sendiri." kata nona Morxa
"iya kau benar, sungguh miris sekali." timpal nona Carlin yang merasa miris dengan hidup Arana.
Begitu lah bisik bisik yang di lontarkan oleh para nona bangsawan dan yang lain nya, namun tak di hiraukan oleh Arana sama sekali.
Sedangkan Bai min, dia sedang sangat marah dengan keberadaan Arana di ruangan itu yang telah merebut segala perhatian dari dirinya
__ADS_1
"seharusnya aku yang bersinar di hari ini" geram Bai min dalam hati.
"Saya memberi salam kepada nyonya besar dan tuan Huan serta seluruh tamu undangan." kata Arana sopan sambil membungkuk.
"ehem duduk lah" ujar menteri Huan sambil menunjuk kursi tempat duduk Arana yang ternyata berhadapan dengan pangeran Jikxi.
"Dia terlihat sangat cantik" gumam pangeran Jikxi kala melihat penampilan Arana hari ini.
"kau bilang apa adik ke enam?." tanya pangeran Han, kala mendengar bisikan kecil pangeran Jikxi.
"aku tidak mengatakan apapun." elak pangeran Jikxi dengan wajah datar.
"ck kau ini dingin sekali, seperti nya kau butuh seorang wanita yang lembut untuk melembutkan mu." ledek pangeran Han namun tidak di tanggapi oleh pangeran Jikxi.
"lihat lah umurmu adik ke enam, kau sudah cukup usia untuk menikah saat ini, carilah wanita di acara ini, mumpung ada begitu banyak wanita cantik di sini dan kau bisa dengan mudah memilih mereka." lanjut pangeran Han lagi.
"berhenti lah mengurus tentang pernikahan ku kakak ketiga, apa kau tidak melihat umurmu sendiri, kau hanya berbeda satu tahun dari ku, kau yang lebih Pantas untuk mencari seorang istri terlebih dahulu." kata pangeran Jikxi dengan nada meremehkan.
"hem, kau belum tahu saja, aku sudah memiliki wanita incaran ku." kata pangeran Han dengan bangga.
"kalau begitu lekas lah urusi pernikahan mu sendiri!" ketus pangeran Jikxi.
Sedangkan putra mahkota hanya diam saja melihat interaksi pangeran Jikxi dan pangeran Han, meski pangeran Jikxi sangat dingin namun tak dapat di pungkiri jika pangeran Jikxi lebih akrab dengan para saudara pangeran nya, lain hal nya dengan putra mahkota yang di latih oleh permaisuri untuk belajar memusuhi semua saudara pangeran nya sejak usia kanak-kanak.
__ADS_1
Tak jarang putra mahkota merasa sangat iri dengan kedekatan para pangeran, namun apa boleh buat takdir mengharuskan putra mahkota untuk menjadi musuh para pangeran dalam hal perebutan tahta kekaisaran.
🍁