PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 21


__ADS_3

Setelah berbisik kepada Bai min, entah apa yang menggerakkan kaki Arana sehingga dia berjalan ke depan kursi pangeran Jikxi lalu berhenti tepat di hadapan pangeran Jikxi, hal itu membuat semua orang tercengang serta mencoba menebak nebak apa yang akan Arana lakukan di hadapan pangeran Jikxi.


Meski pangeran Jikxi terkenal dingin nan acuh, pangeran kekaisaran yang satu itu bukan lah orang yang mudah di sentuh oleh siapa pun, apa lagi oleh seorang wanita, pangeran Jikxi sangat terkenal anti dengan wanita yang mencoba mendekati nya.


"Apa gadis kecil itu sedang mencoba mendekati pangeran Jikxi? aku dengar pangeran Jikxi tidak suka jika ada wanita yang berusaha untuk mendekati nya, lihat lah umurnya saja masih sangat kecil, dapat nyali besar dari mana dia sampai ingin mengusik ketenangan pangeran Jikxi yang terkenal sadis kepada para wanita yang mencoba untuk mendekatinya itu?" bisik salah satu bangsawan.


"yang kau katakan itu benar, aku pernah mendengar beberapa waktu lalu ada seorang wanita yang mencoba memberanikan diri untuk mendekati pangeran Jikxi dan mencoba untuk menyentuhnya, yang membuat wanita itu berakhir dengan kedua tangannya terlepas dari tubuh wanita itu, pangeran Jikxi itu seorang pangeran yang sangat mengerikan!." ujar bangsawan yang lain nya.


"apa putri kedua mentri Huan tak tahu tentang hal itu?, dia malah dengan sengaja mendekati pangeran Jikxi di depan umum seperti itu?, sungguh memiliki nyali besar anak mentri Huan yang satu itu!" kata bangsawan yang lain.


"kau benar, sayang sekali meski gadis kecil itu terlihat sangat cantik tapi dia sangat bodoh karena mengantarkan nyawa di usia dini." ujar bangsawan yang lain.


"kau benar, sayang sekali."


Begitu lah bisik bisik dari para bangsawan yang ada di dalam ruangan itu, sedangkan Arana masih berdiri diam di hadapan pangeran Jikxi dan belum mengatakan sepatah kata pun sedari tadi karena mendengar semua perkataan dari para bangsawan di sekitar nya.


"apa ada sesuatu yang kau butuhkan dari ku gadis kecil?" tanya pangeran Jikxi yang terdengar datar namun aura nya tidak terasa dingin sama sekali.


"iya, aku ingin meminjam yang ada di tangan mu itu." kata Arana sambil menunjuk pedang di tangan pangeran Jikxi.


Semua orang yang hadir sontak kaget mendengar perkataan Arana yang terdengar sangat berani dan lancang itu, seluruh tamu undangan tahu betul jika pedang yang tak pernah lepas dari tubuh pangeran Jikxi itu merupakan pedang kesayangan milik pangeran Jikxi.


Pedang itu lah yang telah menemani pangeran Jikxi dalam medan peperangan dan juga telah menghabisi jutaan nyawa dengan sayatan tajam pedangnya.


"Lancang! Arana siapa yang mengajari mu tidak tahu sopan santun seperti itu?!." geram mentri Huan yang mendengar perkataan tida sopan dari Arana kepada pangeran Jikxi dan lagi semua orang sedang membicarakan tentang kebodohan putri kedua nya itu yang membuat menteri Huan dan seluruh keluarga merasa sangat malu karena tingkah Arana.

__ADS_1


"benar adik, pedang yang ada di tangan pangeran Jikxi itu merupakan pedang kesayangan pangeran, kau tidak bisa berbuat seenak mu seperti itu, itu sangat tidak sopan." hardik Bai min yang mencoba mengambil perhatian semua orang agar terlihat lebih berpendidikan di banding dengan Arana.


"Hei gadis kecil, apa kau tak takut mati konyol, hanya karena permintaan itu hmmm?" kata pangeran Han sambil menatap iba gadis kecil di hadapan adik ke enam nya itu, gadis kecil itu terlihat sangat cantik nan imut membuat pangeran Han menyayangkan jika sampai nanti adik ke enam nya berbuat kasar kepada gadis polos itu.


Arana terlihat sebagai gadis kecil yang berparas cantik nan polos di mata pangeran Han, akan sangat di sayangkan jika gadis kecil itu harus segera mati karena kepolosan nya itu


"Aku hanya ingin meminjam pedang nya sebenar saja, mengapa kalian bersikap berlebihan seperti itu?" acuh Arana yang malas dengan sikap berlebihan semua orang di dalam ruangan itu.


"Arana!..."


"apa aku menyuruh kalian untuk berbicara?!" potong pangeran jikxi dengan aura dingin di sela perkataan Mentri Huan yang seperti nya ingin memaki Arana di hadapan semua orang.


Mendapati aura dingin pangeran Jikxi seketika semua orang terdiam, tak ada satu orang pun yang berani mengangkat kepala untuk suara.


"sekarang habis lah riwayat gadis kecil itu" pikir semua orang.


"aku ingin menari tarian pedang, jadi aku membutuhkan pedang itu untuk menari bersama ku" kata Arana seadanya tanpa ada raut wajah takut sedikitpun.


"apa kau tak takut dengan ku?." tanya pangeran Jikxi dengan aura menekan Arana.


"mengapa aku harus takut, aku hanya ingin meminjam pedang mu sebenar saja, tetapi semua orang langsung heboh seperti sedang ingin berperang, lagi pula jika kau tidak ingin meminjam kan pedang mu itu, aku bisa meminjam pedang milik paman penjaga di luar sana, apa perlu semua orang seheboh barusan hm" kata Arana polos mengeluarkan isi kekesalan di dalam hati nya terhadap para bangsawan yang ada di dalam ruangan itu.


Mendengar gadis kecil nya kesal, pangeran Jikxi menahan tawa nya di dalam hati, gadis kecil nya itu memang sangat berbeda dari semua gadis di seluruh kekaisaran Minday.


"Aku bisa saja meminjamkan pedang kesayangan ku ini pada mu, tetapi dengan satu syarat." kata pangeran Jikxi yang membuat semua orang tak percaya.

__ADS_1


"sudah tidak perlu, hanya meminjam sebuah pedang saja harus serumit itu, aku sudah tidak tertarik lagi dengan pedang mu." kesal Arana yang sudah tidak berminat untuk meminjam pedang pangeran Jikxi lagi karena kehebohan yang terjadi dan hendak pergi ke luar.


"apa aku mengizinkan mu untuk melangkah gadis kecil?!" hardik pangeran Jikxi kala melihat Arana akan melangkah kan kaki untuk meninggalkan tempat duduk nya begitu saja.


"aku sudah tidak tertarik dengan pedang mu, tetapi aku masih harus tampil menari bersama kaka ku, jadi aku harus segera keluar untuk meminjam pedang paman penjaga" jelas Arana saat melihat tatapan tajam pangeran Jikxi kepada nya.


"mentri Huan apa begini cara kau mendidik putri mu?!" marah pangeran Jikxi dengan aura membunuh menatap tajam Mentri Huan yang seketika membuat aura dalam acara itu berubah menjadi sangat dingin.


"ya..ng yang mulia pangeran to...tolong ampuni putri kecil hamba yang bodoh ini, dia masih kecil sangat kecil dan masih sangat polos, maaf kan atas sikap kelancarannya pangeran" gugup mentri Huan yang langsung bergegas ke hadapan pangeran Jikxi/tepat di samping Arana berada.


"Arana cepat meminta pengampunan kepada pangeran Jikxi, sikap mu sudah sangat keterlaluan" kata mentri Huan sambil menekan Arana agar meminta maaf kepada pangeran Jikxi.


"lepas!" dingin Arana sambil menghempaskan kasar tangan mentri Huan yang mencoba menekan nya.


"pangeran ada apa dengan mu?, aku hanya ingin meminjam pedang mu saja, mengapa sampai membuat mu begitu emosi seperti itu?, lagi pula aku sudah tidak tertarik lagi akan pedang kesayangan mu itu dan aku hanya ingin pergi meminjam pedang paman penjaga di depan sana saja, apa perlu sampai semarah itu pada ku?." tanya Arana dengan kesal atas sikap pangeran Jikxi dan meminta penjelasan kepada nya.


"gadis kecil, apa kau pikir setelah kau berkata ingin meminjam pedang kesayangan ku lalu setelah beberapa saat tidak lagi menginginkan nya kau bisa begitu saja berpaling dari nya hem?!" tajam pangeran Jikxi sambil berdiri dan menarik Arana kehadapan nya hingga tak menyisakan sedikit pun jarak di sana.


"siapa bilang aku tak lagi tertarik dengan pedang mu?" kata Arana yang tak mengerti akan jalan pikiran pangeran Jikxi.


"bukan kah beberapa saat lalu adik berkata, sudah tidak menginginkan pedang pangeran Jikxi lagi dan hendak mengganti dengan pedang lain?" ujar Bai min mencoba memprovokasi pangeran Jikxi.


"soal itu, aku hanya berpikir, jika pangeran memang sulit untuk meminjam kan pedang milik nya, maka lebih baik aku meminjam milik paman penjaga saja agar lebih mudah dan lebih cepat untuk memulai pertunjukan saja." jelas Arana seadanya.


Meskipun saat ini kondisi Arana seperti sedang di tekan oleh pangeran Jikxi yang masih memegang tangan Arana erat dengan posisi yang saling berhadapan serta di selimuti aura dingin dari pangeran Jikxi, tetapi siapa yang tahu jika di dalam hati pangeran Jikxi dirinya sedang menahan diri agar tidak tertawa melihat ekspresi wajah Arana yang sangat menggemaskan bagi pangeran Jikxi kala Arana sedang merasa kesal nan marah namun tidak bisa berbuat apa apa kepada dirinya.

__ADS_1


"gadis kecil ku ini sangat imut sekali" kata pangeran Jikxi dalam hati.


🍁


__ADS_2