
"Mengapa kau terlihat sangat lelah?" tanya Arana yang melihat pangeran Jikxi hadir namun terlihat tidak begitu baik.
"aku baru saja mengerjakan pekerjaan ku dengan sangat cepat hanya untuk bertemu dengan mu, apa kau terharu?" goda pangeran Jikxi sambil menarik salah satu kursi untuk duduk di samping Arana.
"cih" desik Arana jengah.
"seperti nya acara penjamuan minum teh ini tidak sederhana yang terlihat" kata pangeran Jikxi kala melihat meja yang berisi selir Huan xi, putra mahkota, pangeran Hanxi dan juga Bai min yang sedang terlihat asik berbincang satu dengan yang lain nya di seberang sana
"sejak kapan seorang pangeran Jikxi yang terkenal dingin ini mulai suka mengurusi urusan orang lain?" sinis Arana dengan nada mengejek pangeran Jikxi.
"aku tidak mengurusi urusan mereka hanya memberi penilaian saja" sangkal pangeran Jikxi dengan acuh.
Toh pangeran Jikxi memang tidak perduli jika Selir Huan xi sedang berusaha menjodohkan Bai min kepada siapa, yang terpenting Arana kini telah menjadi milik nya tidak ada satu orang pun yang boleh menyentuh atau bahkan berani melukai arana tanpa izin dari pangeran Jikxi.
"Apa kau membiarkan dia begitu saja?" tanya pangeran Jikxi sambil menatap sinis Bai min, mengingat kejadian beberapa hari lalu di restoran.
"tentu saja tidak" enteng Arana.
"lalu?" tanya pangeran Jikxi.
"kau tunggu dan lihat saja" santai Arana.
"wanita ku memang berbeda dari yang lain" ujar pangeran Jikxi dengan bangga.
Setelah sekian lama berbincang, selir Huan xi akhirnya melontarkan niat nya kepada pangeran Hanxi.
"yang mulia, bukan kah keponakan saya ini terlihat sangat cantik?" ujar selir Huan xi basa basi.
"memang cantik, tapi sayang kurang membuat orang menarik" kata pangeran Hanxi dengan jujur.
"mengapa demikian? dia merupakan wanita lembut dan berbudi luhur, meskipun sedikit ceroboh" ujar selir Huan xi.
__ADS_1
"apa ibunda selir berencana akan menjodohkan ku dengan dia?" tanya pangeran Hanxi to the poin.
"memangnya ada yang salah? oh ayo lah putra ku, kau kini telah memasuki usia menikah begitu juga dengan keponakan ku, aku tahu aku tidak memiliki banyak hak dalam urusan pernikahan mu itu, tetapi kebahagiaan seorang ibu itu melihat anak nya hidup bahagia" ujar selir Huan xi tulus.
"yang mulia, seperti nya ini tidak terlalu baik" sangkal Bai min yang tidak menyukai rencana keluarga nya.
"aku juga berpikir seperti itu ibunda, lagi pula semua ini bukan karena ibunda tidak memiliki hak atas pernikahan ku, lebih tepatnya aku yang belum menginginkan hal semacam pernikahan, harap ibunda memaklumi" kata pangeran Hanxi selembut mungkin, karena dia takut melukai hati ibu tiri yang telah merawat pangeran Hanxi dengan tulus sedari dia kecil.
"ibunda hanya ingin kau bahagia saja" sendu selir Huan xi.
"saya tahu niat selir baik terhadap adik kedua dan juga nona Bai min, tetapi anda juga harus memikirkan perasaan kedua nya, biarkan mereka yang memutuskan akan bersama atau tidak" kata putra mahkota menengahi percakapan tiga orang di sekitar nya itu.
"benar ibu, lagi pula aku baru mengenal nona Bai min, dan ibunda sangat tahu akan diriku" ujar pangeran Hanxi.
"iya, tapi ibu masih tetap berharap kalian akan mempertimbangkan hal ini, terutama kau Bai min" kata selir Huan xi.
"terimakasih atas kebaikan anda yang mulia, hamba sangat tersanjung dengan keinginan besar anda, tetapi sama seperti yang di katakan putra mahkota, biarkan kami yang memutuskan akan bersama atau tidak di kemudian hari" kata Bai min lembut.
"ternyata seperti itu, sungguh wanita tidak dapat di percaya" Sinis pangeran Hanxi dalam hati.
"jika seperti itu keinginan kalian, ibunda tidak punya alasan apapun untuk terus memaksa kalian, tetapi ibunda harap kalian dapat memikirkan nya kembali, mengingat sebenar lagi acara pemilihan istri untuk para pangeran akan segera di gelar di kerajaan" ujar selir Huan xi mengingat kan tiga orang di hadapan nya.
"terimakasih atas peringatan dari ibunda, terapi biarlah aku dan para pangeran yang lain memilih seorang pendamping dari acara itu, siapa tahu di sana ada yang jauh lebih cocok dengan ku" kata pangeran Hanxi sembari menyindir Bai min, sedangkan bai min hanya dapat mengepalkan tangan nya mendengar sindiran dari pangeran Hanxi yang secara tidak langsung mengatakan jika Bai min bukan lah wanita yang tepat untuk pangeran Hanxi.
"pangeran hanyxi kau tunggu saja! ketika aku nanti telah resmi menjadi putri mahkota, aku akan langsung membalas penghinaan ini!" geram Bai min dalam hati
Penjamuan minum teh berakhir di sore hari, para nona bangsawan sudah mulai berpamitan kepada selir Huan xi, termasuk Arana yang berpamitan bersama dengan pangeran Jikxi.
"Kami mohon undur diri yang mulia" kata Arana dan pangeran Jikxi bersamaan tanpa menundukkan kepala mereka (jika Arana sedang bersama dengan Jikxi tentu dia tidak perlu merendahkan derajat nya, karena pangeran Jikxi tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi, jika ada orang yang memaksa Arana untuk merendahkan dirinya di hadapan orang lain saat bersama dengan pangeran Jikxi, sudah pasti orang itu akan langsung lenyap di kemudian hari tanpa ada satu jejak pun yang tertinggal di sana)
"hati hati di jalan, dan terimakasih karena kalian sudah berkenan hadir di acara sederhana kediaman ku ini" ujar selir Huan xi lembut.
__ADS_1
"anda terlalu sungkan yang mulia" kata Arana lalu berpamitan untuk pergi bersama dengan pangeran Jikxi.
Mereka berdua meninggalkan kediaman selir Huan xi untuk kembali menuju kediaman mentri Huan menggunakan kereta kuda milik pangeran Jikxi, pangeran Jikxi tidak ingin Arana kembali bersama dengan Bai min seperti waktu berangkat pagi ini, jadi arana hanya bisa menuruti perintah tunangan nya itu.
"selir Huan xi terlihat sangat baik" ujar Arana membuka suara kala berada di dalam satu kereta yang sama dengan pangeran Jikxi.
"itu hanya tampilan luarnya saja" singkat pangeran Jikxi.
"terapi dapat di lihat jika kasih sayang selir Huan xi kepada pangeran kedua sangat tulus tidak seperti di buat buat" ujar Arana menanggapi perkataan pangeran Jikxi.
"iya kasih sayang selir Huan xi kepada kaka kedua itu memang nyata adanya, tetapi dia tidak sebaik itu" jelas pangeran Jikxi membenarkan perkataan Arana.
"apa kau membencinya?" tanya arana sambil menatap pangeran Jikxi.
"tidak ada alasan untuk membenci nya" datar pangeran Jikxi, tetapi Arana tidak menjawab nya, dia mengalihkan pandanganya keluar jendela kereta untuk melihat pemandangan di luar sana sambil memikirkan sesuatu.
Setelah percakapan terakhir, tidak ada satu orang pun yang membuka suara mereka, baik pangeran Jikxi ataupun arana kedua nya sama sama dalam suasana hening tanpa ada satu orang pun yang berencana ingin membuka suaranya.
Arana terhanyut kedalam pikiran nya yang sedang memikirkan cara untuk membalas perbuatan Bai min, dirinya tahu jika Bai min sedang menargetkan posisi putri mahkota, hal itu bisa di lihat dari tingkah Bai min di depan putra mahkota kala itu dan juga hari ini, namun lebih menyebalkan nya lagi putra mahkota terlihat tidak keberatan dengan sikap bai min kepada nya malah justru terlihat begitu mengagumi Bai min.
"entah dia beneran tidak merasa keberatan atau memang beneran bodoh?, aku tidak tahu pasti akan hal itu" sinis Arana dalam hati, tetapi yang pasti, Arana tidak akan pernah membiarkan bai min bisa dengan mudah mendapatkan posisi yang dia ingin kan itu, sebab arana tahu akhir di masa depan nanti jiak Bai min benar benar bisa mendapatkan posisi itu.
Sedangkan pangeran Jikxi sedang memikirkan rencana kaisar yang sedang menargetkan mentri Huan yang telah banyak melakukan kejahatan dan semua bukti juga telah berada di genggaman tangan kaisar hanya kurang beberapa bukti lain saja untuk bisa menghancurkan kekuasaan mentri Huan dan memberi hukuman mati untuk mentri huan beserta seluruh keluarga nya.
pangeran Jikxi tidak perduli dengan semua orang di dalam keluarga mentri Huan selain Arana, tetapi pangeran Jikxi takut jika nanti seluruh keluarga arana di hukum mati oleh kaisar Arana akan merasa sedih.
Seberapa besar pun kebencian yang Arana simpan di hati nya untuk seluruh keluarga mentri huan, pangeran Jikxi jelas tahu jika gadis kecil nya itu memiliki hati yang rapuh di balik sikap dingin dan acuh nya, karena itu pangeran Jikxi terus memikirkan cara agar Arana tidak merasa sedih dan hancur di saat hal buruk itu benar benar terjadi.
"Aku pasti akan terus menjaga mu, baik di masa lalu atau pun di masa depan" gumam pangeran Jikxi sambil menatap arana yang sedang memandangi pemandangan di luar jendela kereta.
🍁
__ADS_1