
"Kaisar berencana akan memusnahkan keluarga mu, saat dia menemukan beberapa bukti mengenai kejahatan yang di lakukan oleh mentri Huan selama bertahun-tahun Lama nya, dan penemuan itu tepat di hari pertunangan kita, lebih tepat nya saat jendral Pang menggeledah kediaman mentri Huan saat kau tidak menerima mahar hari Kaisar kala itu" jelas pangeran Jikxi yang membuat Arana Menyadari sesuatu.
"Jadi itu sebab nya, keluarga ini berencana mengirim Bai min kepada pangeran kedua dan karena gagal mereka berencana ingin menarik pangeran Jikxi kedalam pihak mereka supaya mereka dapat berlindung di balik kekuasaan pangeran dan bisa terhindar dari hukum kaisar" gumam Arana menemukan jawaban yang sedang dia cari selama ini.
"Apa kau tidak merasa takut dengan informasi yang aku berikan padamu ini?" tanya pangeran Jikxi yang melihat Arana justru fokus kepada penyebab perubahan sikap keluarga nya kepada bai min dan bukan fokus kepada kaisar yang ingin menghancurkan kekuasaan mentri Huan.
"tidak, justru infomasi ini sangat berguna untuk ku" ujar Arana senang.
"apa yang membuat mu senang? kau tau bukan, jika kaisar bertindak pasti seluruh keluarga mu akan lenyap terkecuali dirimu karena kau merupakan wanita ku." ujar pangeran Jikxi tidak mengerti.
"nah itu kau tau, karena aku akan selamat dari bencana ini, mengapa aku harus takut tentang berita yang kau bawa itu?" santai Arana.
"lalu apa yang membuat mu senang?" tanya pangeran Jikxi lagi.
"karena aku memiliki cara lain untuk membuat mereka menderita sebelum dewa kematian akan menjemput mereka secara bersamaan." dingin Arana.
"Ah aku lupa menanyakan hal yang begitu penting. bukan kah kaisar menemukan bukti tentang kejahatan mentri Huan? mengapa kaisar tidak langsung bertindak kepada nya kala itu? dan malah justru menunggu untuk mengeksekusi orang yang berbuat jahat?" tanya Arana tak mengerti dengan jalan pikiran kaisar.
"bukan kaisar tidak mau langsung bertindak, tetapi bukti yang dia dapatkan belum cukup mumpuni untuk mengeksekusi mentri Huan. apa lagi kekuasaan mentri Huan terbilang cukup tinggi di antara para bangsawan lain nya, serta kontribusi yang pernah mentri Huan berikan kepada negara ini juga cukup besar, sehingga sulit bagi kaisar untuk langsung menghukum nya tanpa menemukan bukti yang kuat terlebih dahulu." jelas pangeran Jikxi.
"Kalau kaisar tidak bisa melakukan nya, bukan kah kau bisa?" tanya Arana.
"tentu saja itu hal yang mudah untuk ku. tapi kaisar tidak akan membiarkan hal itu, karena dia takut jika aku berhasil menangani mentri Huan kekuasaan ku akan bertambah besar di kekaisaran ini, dan tentu saja dia takut jika cepat atau lambat kekuasaan nya ku renggut" ujar pangeran Jikxi.
__ADS_1
"apa kau berencana ingin memberontak?" tanya Arana.
"tidak, yang aku rencanakan hanya menikahi mu" jawab pangeran Jikxi santai yang membuat telinga Arana sedikit memerah.
"cih" desik Arana.
"Apa yang sedang kau rencanakan? bolehkah aku ikut kedalam nya?" tanya pangeran Jikxi merubah topik pembicaraan.
" itu tidak perlu yang mulia, aku telah memiliki seseorang yang dapat membantu rencana ku" dingin Arana namun pangeran Jikxi tentu saja tahu siapa orang yang Arana maksudkan, karena orang itu merupakan jati diri pangeran Jikxi yang lain.
"apa aku seorang yang tidak dapat di percaya di mata mu?" tanya pangeran Jikxi dengan kecewa.
"bukan, bukan seperti itu, kau merupakan pangeran besar kekaisaran ini, tentu saja pekerjaan kecil seperti rencana balas dendam ku ini tidak cocok untuk status mu itu, kau hanya cukup melihat ku dan mendukung segala rencana ku dari belakang saja." jelas Arana. yang entah mengapa tidak merasa enak hati kala melihat raut wajah kecewa pangeran Jikxi.
"ya ya ya terimakasih atas kemurahan hati pangeran, tapi bisa kah anda menarik tangan anda kembali." dingin Arana yang tidak menyukai siapapun menyentuh kepala nya, apa lagi tindakan pangeran Jikxi banyak di taburi kasih sayang, Arana sangat tidak terbiasa dengan hal demikian.
"baik lah" kata pangeran Jikxi sambil mengangkat kedua tangan nya saat melihat raut wajah tidak suka Arana.
Di tempat lain Bai min telah sadarkan diri, kondisi nya masih bisa di bilang cukup buruk namun tidak sampai ketitik dimana dia akan segera meninggalkan dunia ini.
Gadis itu terbangun saat mendengar seseorang memanggil nama nya dengan isak tangis yang tidak pernah berhenti di samping nya dan kala Bai min membuka kedua matanya yang terlihat di samping nya itu ibunda tercinta nya, yang sedang menangisi kondisi buruk Bai min, Quin xie tak henti-hentinya mengeluarkan air mata kekhawatiran serta penyesalan yang tergambar jelas di wajah cantik nya yang telah mulai menua, Quin xie merasa amat sangat menyesal karena telah bertindak keras kepada bai min beberapa waktu lalu yang berakibat buruk seperti ini.
Bai min merasa senang kala melihat Ibunda nya yang ternyata amat sangat menyayangi dirinya tetapi ada hal lain juga yang membuat bai min jauh lebih bahagia dari pada melihat kasih sayang Ibunda nya itu.
__ADS_1
Yang membuat Bai min merasa bahagia itu kala membuka kedua matanya, Bai min dapat melihat dengan jelas raut penyesalan yang tergambar jelas di wajah cantik Ibunda nya, hal itu sesuai dengan apa yang Bai min harapan kan sebelum bertindak bodoh seperti saat ini yang rela mengorbankan keselamatan dirinya hanya untuk seorang pria tapi bai min tidak menyesali perbuatannya itu, karena tindakan bodoh nya itu bai min dapat melihat penyesalan dari para anggota keluarga yang dia sayangi dan karena penyesalan mereka itu juga, menandakan jika keluarga nya telah menyetujui akan keputusan bai min yang berencana ingin bersama dengan putra mahkota di masa depan.
"Sayang ku, akhirnya kau membuka kedua mata mu nak, ibu sangat mencemaskan dirimu sayang, maafkan Ibunda yang terlalu keras pada mu waktu itu" ucap Quin xie penuh penyesalan sambil menggenggam erat tangan Bai min dari samping tempat tidur Bai min.
"ibunda jangan menangis aku tahu jika ibu dan ayah serta nenek melakukan semua itu demi kebaikan ku, tetapi ibunda aku tidak merasa bahagia dengan keputusan kalian yang ingin menjodohkan ku dengan pangeran Hanxi, karena orang yang aku cintai itu putra mahkota bukan pangeran Hanxi dan aku hanya ingin bersama dengan orang yang aku cintai itu ibunda" kata bai min yang terdengar masih sangat lemah di atas ranjang.
"Kau tenang saja sayang kami semua telah menerima keputusan mu, asal kau berjanji tidak mengulangi kejadian seperti ini lagi di masa depan" ucap Quin xie yang tidak dapat menahan kesedihan serta kekhawatirannya terhadap kondisi Bai min, kala mendengar putri tercinta nya itu jatuh sakit sebab ulah nya yang terlalu keras kepada putri nya itu.
"benarkah itu ibunda?" tanya Bai min dengan mata berbinar.
"iya itu benar sayang, karena itu lekaslah sembuh agar kau dapat bersama dengan putra mahkota." kata Quin xie lembut.
"terimakasih ibunda, aku sangat menyayangimu." ujar Bai min sambil tersenyum penuh kemenangan.
"ibunda juga sangat menyayangi mu"
Meski harus mengalami kejadian buruk seperti saat ini yang mungkin dapat beresiko tinggi atas hilangnya nyawa, tetapi Bai min tidak menyesali keputusan nya yang mencoba untuk sesekali bermain main dengan kesehatan tubuhnya sendiri, sebab hasil akhir yang Bai min ingin kan sesuai dengan apa yang telah Bai min prediksi, dan semua itu berjalan dengan sangat baik.
"mulai saat ini tidak akan ada lagi yang dapat menghalangi ku untuk bisa bersama dengan putra mahkota" dingin Bai min dalam hati.
"Arana, pangeran Jikxi, kalian lihat saja nanti cepat atau lambat aku akan membalas perbuatan kalian berdua terutama kau Arana, hidup mu akan selalu ku buat menderita"
🍁
__ADS_1