PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 23


__ADS_3

"Baik lah, aku menerima persyaratan mu itu, dan sekarang serahkan pedang mu itu." kata Arana dengan wajah datar nya yang ingin segera memulai pertunjukan dengan Bai min, drama yang berkepanjangan ini tak akan berakhir jika Arana terus menolak, lagi pula Arana masih sangat muda, besar kemungkinan jika kelak pangeran Jikxi akan berubah pikiran pikir Arana.


"anak pintar" ujar pangeran Jikxi sambil melepaskan Arana dari dirinya.


"kau harus berhati-hati saat mengayunkan pedang kesayangan ku ini, dia sangat ganas aku takut dia kehausan saat bermain dengan mu" kata pangeran Jikxi sambil memberikan pedang kesayangan nya pada Arana.


Dengan sigap Arana langsung mengambil pedang kesayangan pangeran Jikxi tanpa menjawab apa pun.


"Tuan Huan bisa kah anda kembali ke posisi semula?, aku ingin segera menyelesaikan pertunjukan ku." dingin Arana sambil berjalan ke samping Bai min yang terlihat sedang menahan amarah.


Mentri Huan segera kembali ketempat duduk nya dan meminta maaf atas drama panjang yang terjadi barusan lalu melanjutkan acara yang sedang di gelar.


"mari di mulai" ujar mentri Huan.


Suara iringan musik di mulai oleh para seniman, irama pelan mulai di nyanyikan, Arana memulai tarian nya dengan mencabut pedang pangeran Jikxi dari sarung pedang nya.


Kaki dan tangan Arana mulai bergerak seiring irama lagu berjalan, terlihat sangat pas tanpa kesalahan sedikit pun, gerakan tangan dan kaki Arana begitu gemulai seperti seorang penari senior yang begitu memahami seni tari energik, semua orang terpukau dengan penampilan Arana yang begitu mempesona


Melihat Arana yang di tatap penuh kagum oleh banyak orang, membuat Bai min tak ingin kalah dari Arana, segera Bai min meminjam pedang milik ayah nya dan langsung memulai tarian nya.


Semakin lama, iringan tarian semakin menuntut agar sang penari bergerak lincah nan cepat, yah begitu lah tarian energik semakin musik di main kan lama, penari semakin di buat lelah dan kewalahan dengan tempo irama yang mulai mempercepat, hanya orang yang berbesik ilmu bela diri saja yang kan mampu menyeimbangi irama musik nya.


Arana menari dengan sangat lincah bahkan tak ada tanda tanda dia sedang kewalahan seperti Bai min, Arana terlihat sangat menikmati iringan musik yang mengiringi nya menari, sedangkan Bai min terlihat sangat kewalahan mengikuti alur irama musik yang semakin cepat.


Bai min yang terbiasa dengan tarian anggun merasa tidak sanggup menari tarian energik itu, tetapi dia terus memaksa kan diri untuk menari karena tak ingin kalah dari Arana, sampai tanpa sadar pedang yang baik min mainkan merobek hanfu indah yang sedang Bai min kenakan hari ini.

__ADS_1


Perlahan tempo musik mulai berhenti dan seiring melambat nya melodi lagu tarian pun mulai mencapai akhirnya.


Arana terlihat bak seorang dewi kala mengakhiri tarian lincah nya yang begitu memukau para tamu, gerakan Arana begitu indah walau tempo musik yang terus menuntut agar sang penari kian mempercepat gerakan nya, hal itu membuat semua orang yang awal nya berfikir negatif tentang Arana membuka mata nya lebar lebar.


Arana yang di bilang bodoh dan tak memiliki bakat lebih baik dari Bai min nyatanya seorang nona muda yang begitu berbakat, tarian energik tak sembarang orang bisa menarikan nya, di karena tempo lagu yang kian mempercepat gerakan serta ayunan pedang yang semakin menuntut, sangat sulit bagi banyak orang untuk mempelajari nya.


Sebagai contoh nyatanya seperti keadaan Bai min saat ini, tarian yang Bai min tampil kan berakhir dengan begitu memalukan, pakaian yang awal nya terlihat nampak indah kini berubah menjadi sebuah gaun yang compang camping tersayat oleh pedang yang Bai min main kan sendiri.


Semua orang berkomentar negatif kepada keluarga mentri Huan, Arana yang begitu berbakat di bilang tak sebanding dengan Bai min, tetapi fakta yang ada justru Bai min lah yang tak sebanding dengan Arana.


"Haha lihat lah dia, sudah jelas jelas jika nona pertama perdana menteri Huan itu tak memiliki bakat menari tarian energik, masih saja memaksakan diri hahaha" tawa ejekan dari salah seorang bangsawan.


"iya, sangat berbeda jauh dari adiknya yang terlihat begitu memukau dengan gerakan indah nya, sang kaka yang begitu di banggakan oleh keluarga nya, justru terlihat bagaikan lelucon" timpal bangsawan yang lain nya dengan nada meremehkan.


"kalian benar, aku rasa keluarga mentri Huan memiliki masalah pada mata mereka, sehingga tak bisa melihat bakat putri kedua mereka dengan jelas.


"Kau urus lah putri kesayangan mu itu." ujar mentri Huan dengan rasa malu yang seperti ingin membunuhnya kepada Quin xie istrinya.


Quin xie langsung bergegas lari kehadapan putri pertama nya dan langsung menutupi tubuh putri kesayangannya itu dengan jubah yang dia bawa.


"Ada apa ini ibu?" tanya Bai min bingung karena ibu nya yang terlihat panik dan langsung menyelimuti tubuh bai min secara tiba tiba.


"diam! dan jangan banyak bertanya ikut ibu sekarang!" ujar Quin xie sambil menyeret Bai min keluar dari ruang penjamuan tanpa menjelaskan apapun pada Bai min


Semua orang menertawakan kebodohan Bai min yang bahkan tak menyadari seberapa memalukan nya dia hari ini.

__ADS_1


Mentri Huan yang sudah tak memiliki muka untuk berbicara lagi memutuskan Langsung mengakhiri acara siang hari ini dan akan di lanjutkan pada malam hari nanti.


"ini pedang mu" kata Arana dengan datar.


"apa begitu cara mu berbicara dengan tunangan mu sendiri?" tanya pangeran Jikxi sambil menerima pedang kesayangan nya.


"jika kau ingin mengadukan sikap ku kepada orang tua itu?, lakukan lah aku tak perduli" dingin Arana yang menebak jika pangeran Jikxi akan mengadukan sikap kurang ajar nya kepada mentri Huan.


"lagi pula belum ada dekrit pernikahan dari kaisar, kau dan aku belum resmi bertunangan" lanjutan nya.


"untuk yang itu, kau tenang saja, nanti malam surat tak berguna yang kau minta akan segera datang" enteng Pangeran Jikxi


"dan sepertinya kau salah tetang tebakan mu, sebenarnya aku tak berminat untuk berbicara dengan orang tua itu" lanjut pangeran Jikxi


"terserah" kata Arana jengah lalu pergi meninggalkan pangeran Jikxi begitu saja tanpa memberi hormat.


"Adik sebenarnya apa yang membuat mu tertarik dengan gadis kecil itu?" tanya pangeran Han yang merasa penasaran dengan keputusan adik ke enam nya itu.


"itu buka urusan mu" ketus pangeran Jikxi datar


"ayo lah adik ku, aku tahu tak ada orang bisa menghalangi mu jika kau sudah menginginkan sesuatu, tetapi kakak mu yang tampan ini merasa sangat penasaran saat ini" desak pangeran Han namun tak di gubris oleh pangeran Jikxi, karena pangeran Jikxi lebih memilih langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


"Mungkin adik ke enam tertarik dengan nona Arana sebab dia cantik dan berbakat" tebak putra mahkota yang ternyata sudah berada di samping pangeran Han.


"mungkin saja, tapi apapun itu, aku akan selalu mendukung keputusan adik ku itu"kata pangeran Han lalu melangkah pergi meninggalkan putra mahkota.

__ADS_1


"Huh, selalu saja seperti ini" gumam putra mahkota kala melihat sikap pangeran Han yang dingin kepadanya.


Meski putra mahkota sadar, jika dirinya tak bisa dekat dengan para pangeran tetapi apa lah daya, di sudut hati nya dia merasa ingin bisa bersama para saudara nya tanpa takut suatu hari nanti mereka akan saling membunuh satu sama lain.


__ADS_2