
"Mengapa anda ingin membangun sebuah penginapan nona?." tanya Parta yang tidak mengerti jalan pemikiran Arana.
"karena aku ingin mengembangkan bisnis itu juga." ujar Arana santai.
Arana mendiskusikan pemikiran nya dengan Parta mengenai penginapan yang ingin Arana bangun, ada berbagai titik yang tidak boleh sampai salah saat pembangunan di lakukan nanti, untuk mengenai masalah pembelian toko Arana menyerahkan nya kepada Damian anak Parta, Arana menegaskan Damian untuk belajar cara menawar toko dan juga akan melatih Damian untuk mengetahui proses pembangunan penginapan nanti nya.
Damian harus di ajarkan sebanyak mungkin, agara bisa menjadi kaki tangan Arana yang baik dalam menjalankan bisnis milik Arana dalam jangka waktu panjang.
Setelah semua nya selesai di atur oleh Arana, dia bergegas kembali ke kediaman mentri Huan.
Esok harinya, Arana di panggil untuk menghadap mentri Huan di dalam ruang kerja nya, entah apa yang ingin di bicarakan oleh orang tua itu kepada Arana?, Arana merasa sangat malas untuk menemui orang tua itu hari ini.
Dengan sangat enggan Arana berjalan masuk kedalam ruangan mentri Huan, sekeliling ruangan itu terlihat sangat rapih dengan berbagai rak buku yang ada di segala sisi ruangan, hanya meja kerja mentri Huan yang terlihat berantakan dengan berbagai dokumen kerajaan yang berserak kan di mana mana.
"Saya menghadap tuan, apa ada sesuatu yang penting hingga anda memanggil yang rendah ini kemari?" kata Arana tanpa basa basi dengan datar.
"duduk lah." ujar metri Huan sambil terus membaca dokumen yang ada tangan nya dan belum menoleh sedikitpun ke arah Arana.
Arana duduk dengan tenang di hadapan mentri Huan dengan tatapan dingin menunggu orang tua itu membuka mulut nya untuk berbicara dengan dirinya.
Tak berselang lama mentri Huan menyingkirkan dokumen yang tadi dia baca. lalu melihat ke arah Arana yang sedari tadi terus menunggu dirinya.
Putri keduanya itu kini terlihat sangat dingin, bahkan tidak ada lagi kata ayah di setiap panggilan Arana kepada dirinya seperti saat dulu, mentri Huan merasa miris jika memikirkan hal itu, namun dia tidak mengatakan apapun atau merasa mempermasalahkan nya di hadapan Arana.
"Satu pekan lagi kau akan menjadi tunangan seorang pangeran, karena hal itu sudah menjadi kewajiban ku untuk memenuhi segala kebutuhan mu selama kau masih berada di dalam kediaman ini, besok segera kemasi semua barang barang mu yang ada di dalam kediaman bobrok itu, dan segera lah pindah ke paviliun milik mu di kediaman utama. mulai hari besok dan seterusnya kau tinggal di kediaman utama." ujar menteri Huan.
__ADS_1
"aku rasa itu semua tidak di perlukan tuan, paviliun ku yang sekarang jauh lebih sempurna dari tempat yang tuan tawar kan" kata Arana sinis.
"ini perintah kau tidak bisa melawan nya!" hardik mentri Huan dengan tajam.
"heh perintah?" Arana tersenyum mengejek
"apa kau yakin tuan? bukan kah kau sedang menawarkan sebuah kerjasama pada ku? agar bisa mendapatkan dukungan dari pangeran Jikxi yang akan mendukung posisimu rendah mu itu?!." datar Arana menatap sinis mentri Huan
"aku tidak perduli dengan apa yang sedang kau pikirkan itu Arana! bagaimana pun kau telah tumbuh dan besar di dalam keluarga ini, kau harus tahu berbakti juga bisa membalas budi pada kami yang telah merawat mu sampai detik ini!, kau hanya perlu mendapat dukungan kecil dari pangeran Jikxi untuk keluarga mu sendiri dan itu pun untuk kebaikan mu di masa depan, karena tanpa keluarga ini kedudukan mu di kerajaan tidak akan ada apa apa nya, ingat itu Arana!." kata menteri Huan tanpa tahu malu
"haha, berbakti?" Arana tertawa mengejek, pandangan nya semakin menggelap tatapan nya jauh lebih dingin lagi dari sebelumnya.
"apa kau pantas tuan?! dan lagi aku tidak memerlukan dukungan dari kalian untuk bertahan di kerajaan! tanpa kalian pun aku bisa berdiri tegak di sana!" sinis Arana lalu berdiri dan pergi meninggalkan mentri Huan tanpa mendengar orang tua itu berbicara apa setelah kepergian nya.
Arana keluar dengan emosi yang sangat memuncak, apa apaan berbakti? seharusnya mentri Huan berkaca diri apa dia pantas mendapatkan bakti dari seorang anak yang telah dia telantarkan sejak di lahir kan kedunia ini?, bahkan hidup dan mati Arana tidak pernah di pertanyakan oleh orang tua itu sama sekali, terlebih mentri Huan lah orang yang paling sering menyakiti Arana dengan segala hukuman kejam yang orang tua itu berikan, sungguh tidak tahu malu menyebutkan bakti dan balas budi di hadapannya Arana.
"Kasim" teriak mentri Huan dengan marah.
"saya tuan!"
"segera bereskan semua barang barang milik Arana dari paviliun busuk itu dan pindahkan ke dalam milik paviliun Arana di kediaman utama! karena mulai detik ini anak itu akan menjadi bagian dari keluarga utama!, jika dia menolak perintah ku! langsung hancur saja tempat itu dan biarkan dia tinggal di tempat yang sudah runtuh, dan jangan izinkan satu orang pun untuk membangun kembali paviliun itu termasuk Arana sendiri!" perintah metri Huan tegas.
Sang kasim langsung menjalankan perintah dari tuan nya, dan benar saja Arana menolak dengan sangat keras. sehingga kasim itu harus bertindak kasar terhadap Arana dan ketiga pelayan nya, Arana sangat marah kepada orang orang dari kediaman utama yang bertindak sesuka hati tanpa memandang dirinya sedikit pun, apa lagi Mentri Huan yang selalu saja memaksakan kehendak nya kepada Arana.
Mentri Huan begitu keterlaluan bahkan dengan tega nya dia merobohkan paviliun kesayangan Arana, yang telah susah payah Arana bagun sedari dia bisa menghasilkan uang sendiri. dengan sangat terpaksa Arana kembali ke dalam paviliun di dalam kediaman utama.
__ADS_1
Bukan hanya sekedar harus tinggal di Kediaman utama, Arana pun di paksa untuk mengikuti peraturan kediaman mentri Huan, dan tidak di perbolehkan untuk melanggar apa yang telah di tentukan dalam peraturan keluarga.
Dari sepersekian peraturan yang ada salah satu nya di wajibkan untuk selalu makan bersama di ruang makan utama, beberapa orang menatap sinis kehadiran Arana di tengah tengah makan mereka, termasuk Bai min yang telah keluar dari masa hukuman nya, dia menatap benci kearah Arana, dan bahkan saudara saudara Arana yang lain mencibir serta mencaci Arana secara langsung dengan perkataan yang begitu menusuk di hati, bahkan nyonya besar yang merupakan nenek nya sendiri memperlakukan Arana dengan sangat buruk kala makan bersama yang membuat Arana langsung bergegas pergi sebelum makanan di piringnya habis di makan.
"Ibu... mohon anda jangan berbuat demikian terhadap Arana lagi, kedepannya Arana merupakan calon permaisuri pangeran Jikxi tindakan ibu itu akan membuat anak itu semakin susah di atur oleh kita." tegur mentri Huan dengan lembut.
"memangnya kenapa?, dia anak pembawa kesialan bagi keluarga ini, jika kita terus berdekatan dengan nya maka kesialan yang ada di tubuhnya itu akan menular kepada kita, apa kau mau jika hal itu sampai terjadi?" kata nyonya besar dengan tatapan benci kala membicarakan Arana.
"tetapi saat ini keluarga kita harus membuat nya berada di pihak kita ibu, agar keluarga kita bisa mendapatkan dukungan dari pangeran Jikxi setelah mereka berdua bersama resmi menjadi suami istri." jelas mentri Huan dengan sabar.
"jika dia tidak mau membatu keluarga nya sendiri, maka kau bisa memaksa nya dengan mengancam dan lain sebagainya, lagi pula dia gadis lemah yang tidak memiliki siapapun di belakang nya" kata nyonya besar dengan acuh.
"itu benar ayah, kita tidak perlu sampai berbuat baik kepada nya seperti ini " timpal Bai min dengan nada tidak suka.
"dan lagi pula jika dia bisa bertunangan dengan pangeran Jikxi belum tentu juga dia bisa mempertahankan nya sampai menikah" lanjut Bai min dengan penuh keyakinan.
"jaga perkataan mu itu Bai min?! dia harus bisa menikah dengan pangeran Jikxi apapun yang terjadi!" ujar mentri Huan dengan marah kala mendengar perkataan putri pertama nya itu.
"suamiku tenang lah, maksud putri kita, bisa saja jika Arana tidak berhasil mendapatkan pangeran Jikxi, putri kesayangan kita bisa mendapatkan menggantikan nya di kemudian hari atau bahkan bisa mendapatkan pangeran kerajaan yang lain, yang memiliki kedudukan jauh lebih tinggi dari pangeran Jikxi." timpal Quin xie menenangkan suami nya.
"iya lagi pula cucu kesayangan ku ini sangat cantik dan memiliki berbagai bakat yang luar biasa, dia pasti bisa mendapatkan pangeran yang jauh lebih baik dari pangeran Jikxi " kata nyonya besar dengan bangga.
"apa ada pangeran lain di kerajaan ini yang jauh lebih baik di Bandingkan dengan pangeran Jikxi hah?!" tanya Mentri Huan yang langsung membungkam mulut semua orang.
"memang tidak ada putra ku, tetapi jika dia memilih Arana yang tidak mendapat kan dukungan dari kita, maka kekuatan nya tidak akan berkembang pesat terkecuali jika dia menikahi seorang selir yang memiliki dukungan kuat di belakang nya, tetapi berbeda hal nya dengan para pangeran lain, yang lebih memikirkan bagaimana cara untuk memperkuat kekuasaan nya, jika ada di antara mereka yang mampu mengikat cucu kesayangan ku ini, aku sangat yakin selemah apapun pangeran itu, kekuatan nya akan bertambah besar dengan dukungan dari keluarga kita." jelas nyonya besar yang menyadarkan kesalahan mentri Huan.
__ADS_1
"yang ibu katakan memang benar, tapi tetap saja, kita harus berusaha untuk menarik pangeran Jikxi terlebih dahulu, karena untuk saat ini hanya pangeran Jikxi saja yang mampu membuat kedudukan ku lebih tinggi dari para pejabat yang lain." keputusan mentri Huan sudah bulat dan tidak bisa di bantah oleh siapapun termasuk ibu kandung nya sendiri itu.
🍁