
Bukan Arana tidak ingin turun tangan langsung dalam menangani Bai min, tetapi karena Arana tahu waktu untuk menyiksa Bai min hanya menyisakan waktu sebentar saja, yakni Waktu sebelum Bai min menikah dan terlepas dari kediaman mentri Huan ini. lagi pula meminjam tangan orang lain untuk menggantikan tangan Arana juga tidak terlihat buruk malah justru akan jauh lebih baik, karena siksaan nya akan berjalan seumur hidup Bai min sampai gadis itu meregang nyawa. untuk itu Arana mencari pengganti untuk menggantikan dirinya berurusan dengan Bai min, supaya meski Bai min telah lepas dari kediaman mentri Huan, Bai min tetap merasakan timpal balik dari perbuatan kejam nya selama ini kepada Arana.
Di satu sisi Arana jadi ingin berhubungan baik dengan calon putri mahkota masa depan itu, tetapi saat mengingat putra mahkota merupakan musuh/pihak lain yang bertentangan dengan pangeran Jikxi Arana mengurungkan niat nya. sebab meski Arana tidak melakukan kesalahan pun, putri Qesya sudah pasti akan menargetkan dirinya kala mengetahui jika Arana merupakan calon permaisuri pangeran Jikxi (untuk apa lagi? ya karena pangeran Jikxi merupakan penghalang besar bagi putra mahkota yang akan menaiki tahta kaisar) dan karena itu pasti putri Qesya akan membantu putra mahkota untuk menyingkirkan semua orang yang ingin menghalangi jalan putra mahkota naik tahta.
Meski Arana sendiri tahu jika pangeran Jikxi tidak tertarik dengan tahta itu, setelah beberapa bulan mereka bersama (berhubungan baik) tetapi karena pangeran Jikxi memiliki kekuasaan besar di kerajaan ini, membuat pangeran Jikxi menjadi sasaran empuk banyak orang, dan karena itu juga kelak atau memang sudah terjadi, arana telah memiliki banyak musuh tanpa Arana melakukan apa pun.
"Takdir memang selalu seperti itu, sangat merepotkan!." kata Arana dengan nafas berat mengingat nasib buruk nya yang tidak bisa lepas dari mata penuh permusuhan di mana mana.
Di sisi lain, setelah seminggu lama nya Bai min berada di ruang leluhur untuk merenungkan diri atas kesalahannya, Quin xie memutuskan untuk mengunjungi anak kesayangan nya itu, dan berniat ingin memberikan pengertian keada putri nya supaya mau di jodohkan dengan pangeran Hanxi sesuai rencana keluarga.
"Sayang, apa kau baik baik saja?." tanya Quin xie lembut saat datang ke ruang leluhur dan mendapati Bai min sedang tertidur di depan leluhur keluarga mereka.
"emmm, baik Ibunda." erang Bai min karena terbangun dari tidurnya.
"bisakah kita bicara sayang?" tanya Quin xie yang melihat Bai min masih setengah sadar.
"bisa" jawab Bai min sambil berusaha menyadarkan diri.
Sebenarnya Quin xie sangat tidak tega melihat kondisi putri pertama nya yang terlihat tidak terlalu baik di dalam ruang leluhur keluarga mereka, tetapi apa boleh buat semua ini untuk kebaikan Bai min sendiri, dan agar Bai min bisa menyadari rencana bodohnya yang ingin bersama dengan putra mahkota.
"Sayang, bisa kah kau menerima perjodohan mu dengan pangeran Hanxi?, ini semua untuk kebaikan mu sayang." kata Quin xie dengan lembut namun penuh harapan.
__ADS_1
"tapi ibunda aku tidak mencintai pria menyebalkan itu, dan juga pria yang aku ingin kan saat ini hanya putra mahkota saja, setelah gagal mendapatkan pangeran Jikxi." ujar Bai min keras kepala.
"sayang sadarlah selamanya kau tidak akan pernah bisa mendapatkan putra mahkota, percaya pada ibunda! menikah dengan pangeran Hanxi merupakan keputusan terbaik untuk dirimu!" ujar Quin xie masih dengan nada penuh pengertian.
"tidak ibunda, aku pasti akan bisa mendapatkan hati putra mahkota! aku juga tak ingin gagal untuk yang kedua kalinya, yang harus merelakan pria yang ingin kan kepada orang lain." kekeh Bai min penuh keyakinan.
Setelah Bai min tidak bisa mendapatkan pangeran Jikxi dirinya bertekad kuat ingin bisa memiliki putra mahkota apapun caranya. agar dapat membalaskan penghinaan pangeran Jikxi terhadap dirinya saat malam perayaan waktu itu. serta agar dirinya bisa melampaui posisi Arana yang telah merebut posisi permaisuri pangeran Jikxi dari dirinya (Bai min) dan meski seluruh keluarga nya menolak keinginan nya untuk tetap bersama dengan putra mahkota sekali pun, Bai min tidak ingin mundur lagi, sudah cukup Bai min mengalah untuk menyerahkan pangeran Jikxi kepada Arana. kali ini Bai min harus bisa mendapatkan putra mahkota dan menjadi penguasa kediaman putra mahkota di kemudian hari.
"Hentikan obsesi gila mu itu Bai min! apa kau tahu bahaya apa yang sedang kau coba masuki itu?! aku tidak mau tahu kau harus menikah dengan pangeran Hanxi! dan aku tidak ingin ada bantahan dari mu! atau kau bukan lagi putri ku!" marah Quin xie melihat sikap keras kepala Bai min.
"aku tidak perduli ibunda! aku hanya ingin bersama dengan putra mahkota dan hanya putra mahkota yang pantas menjadi milik ku!." kekeh ybai min keras kepala.
"Kunci pintu ini dan masuk ketika waktu jam makan saja! jangan biarkan dia keluar dari sini sampai dia menyadari kebodohannya itu!" kata Quin xie kepada penjaga pintu leluhur dengan penuh amarah.
"baik nyonya" jawab penjaga pintu.
"ibunda kau sangat keterlaluan!" teriak Bai min dari dalam ruang leluhur.
Bai min tidak menyangka jika ibu yang sangat menyayangi nya bisa setega ini kepada dirinya, hanya karena berbeda pendapat saja, quin xie bisa sampai mengatakan tidak menganggap nya putri lagi dan lagi masih berniat mengurung Bai min di ruang leluhur, jika sampai hal ini terus berlanjut bukan kah itu berarti bai min tidak bisa bertemu dengan putra mahkota seterusnya.
"ini tidak boleh tejadi, aku harus mencari cara" pikir Bai min yang kecewa kepada ibu kandung nya itu.
__ADS_1
Namun teriakan Bai min tidak di gubris oleh Quin xie, dia lebih memilih meninggalkan Bai min dari pada terus melihat sikap keras kepala putri bodoh nya itu.
"bagaimana bisa aku melahirkan anak bodoh seperti dia" gumam Quin xie dengan penuh amarah.
Karena krisis keluarga mentri Huan membuat Quin xie harus memaksa Bai min untuk mengerti situasi nya, tetapi bahkan sebelum Quin xie mengatakan situasi keluarga mereka kepada putri pertama nya itu, Bai mi telah menunjukkan sikap keras kepalanya terlebih dahulu, membuat Quin xie sangat marah kepada Bai min yang sangat bodoh karena di butakan oleh cinta nya itu.
"Apa kau sudah berhasil membujuknya?" tanya mentri Huan saat melihat istrinya lebih cepat kembali ke kamar mereka setelah berencana ingin membujuk putri kesayangannya yang sedang di hukum di ruang leluhur.
"dia sangat keras kepala" marah Quin xie.
"huh, anak bodoh itu sudah terbiasa di manja oleh kita sehingga memiliki pemikiran sempit seperti itu" kesal mentri Huan mengerti kemarahan istri nya.
"kau benar seperti nya kita harus mulai bersikap keras kepada nya atau dia akan berbuat hal gila di kemudian hari" kata Quin xie serius.
Kedua orang tua itu sangat kecewa dengan sikap keras kepala putri yang selalu menjadi kebanggaan mereka selama ini, bukan hanya tidak menuruti keinginan mereka untuk menikah dengan pangeran Hanxi, malah berniat ingin bersama dengan putra mahkota yang merupakan anak dari musuh keluarga huan sendiri, hal itu sama saja dengan Bai min mengantarkan nyawanya sendiri masuk kedalam kandang singa.
Sedangkan Arana sudah mulai menyusun rencana nya untuk menjodohkan Bai min dengan putra mahkota saat acara pemilihan calon permaisuri para pangeran, untunglah Arana telah menjadi putri kekaisaran jadi dia tidak harus merasakan perselisihan di dalam acara pemilihan itu, yang pasti akan banyak wanita yang merasa harus menjadi musuh lawan yang ingin menjadi wanita pria incaran mereka, dan hal itu sangat memuakkan bagi Arana.
Perselisihan di antara wanita lebih merepotkan di banding kan dengan latihan pedang atau pun bertarung, karena hal itu lah Arana sangat membenci perselisihan di antar para wanita dalam percintaan karena mereka dapat melakukan segala cara untuk memusnahkan musuh nya dan lagi pula arana juga belum mengetahui apa itu cinta yang sesungguhnya, karena dia bertunangan dengan pangeran Jikxi pun di landaskan keterpaksaan, bukan suka sama suka.
🍁
__ADS_1