
Bai min begitu mengkhawatirkan kondisi nenek kesayangan nya akan tetapi dia juga sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada keluarga nya, sikap ayah dan ibu nya barusan begitu mencurigakan, apa lagi ayah nya yang secara tiba tiba menginginkan rapat keluarga dengan nada marah yang sangat menakutkan, terlihat jelas jika kondisi keluarga huan saat ini sedang tidak baik baik saja.
"apa yang sebenarnya terjadi? apa kah penyakit nenek bukan hanya sekedar kambuh biasa saja?" tanya Bai min dalam hati sambil melirik nenek nya yang masih terbaring lemah.
"aku harus memeriksa nya" lanjut nya.
"Kumie" Bai min memanggil pelayan pribadi nya.
"saya nona" jawab Kumie yang berada tidak jauh dari Bai min.
"kau masuk lah kedalam ruang rapat keluarga, cari tahu apa yang sebenarnya sedang tejadi dalam keluarga ku ini?." perintah Bai min.
"baik nona" jawab Kumie yang langsung pergi menuju ruang rapat keluarga.
Di dalam ruang rapat terlihat kondisinya sangat suram dan begitu mencekam sebab permasalahan yang besar sedang menimpa keluarga mereka terlebih kesehatan nyonya besar menjadi buruk karena permasalahan ini, hal ini tidak bisa di biarkan lebih lama lagi atau kehancuran akan segera menjumpai keluarga Huan.
"kita harus segera bertindak kaka" ujar adik mentri Huan.
"aku telah mengutus anak buah ku untuk mencari dalang di balik ini semua? saat orang itu berhasil di temukan! akan aku pastikan dia akan mendapatkan hukuman yang setimpal! tak akan pernah ku ampuni orang itu!" marah mentri Huan.
"itu bangus ka, kita tidak boleh mengampuni dia!" timpal saudara yang lain
"tetapi kita juga harus menemukan solusi untuk bisnis kita yang mulai menurun, atau kondisi nya akan lebih buruk lagi dari hari ini" ujar mentri Huan mengingat kondisi bisnisnya.
"kaka tenang saja, aku dan para saudara yang lain nya akan ikut membantu dalam menangani masalah bisnis keluarga kita" kata adik mentri Huan
"kalian memang saudara ku yang paling hebat" puji mentri Huan.
__ADS_1
Sedangkan Arana hanya berekspresi datar nan dingin sedari awal hingga akhir tanpa ada satu kata pun yang terucap dari bibir manis nya, hanya hati arana yang terus menjawab perkataan orang di sekelilingnya dengan senyum sinis nan mengejek akan kebodohan mereka semua.
"teruslah marah dan merasa khawatir sepanjang hari, akan sangat menyenangkan jika kalian terus seperti ini" sinis Arana dalam hati.
Tak berselang lama rapat keluarga pun berakhir, beberapa orang telah meninggalkan ruang rapat dan hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk Arana, sebenarnya Arana sudah ingin pergi terlebih dahulu dari semua orang namun langkah nya di cegah oleh mentri Huan dan juga Quin xie Karen mereka ingin berbicara serius dengan Arana.
"Langsung pada intinya saja!" dingin Arana yang tidak ingin terlalu lama bersama dengan mentri huan serta istri nya itu.
"Arana! tidak bisa kah kau lebih sopan kepada kami?! mau bagaimana pun kami ini orang tua kandung mu!." hardik Quin xie yang tidak menyukai nada bicara Arana kepada mereka berdua. (Mentri Huan & Quin xie)
"aku tidak ada waktu untuk melayani kalian basa Basi jika tidak ada yang ingin di katakan, aku pamit undur diri" dingin Arana tanpa menanggapi perkataan ibu nya.
"Arana di mana sopan santun mu?!" marah Quin xie tidak sabar menghadapi sifat dingin Arana yang selalu mengacuhkan perkataan nya.
"apa kau lupa nyonya? aku tidak pernah di didik oleh siapapun, tidak ada yang mengajariku apa itu sopan santun, guru untuk mengajar kan menulis dan membaca pun tidak ada, ku ingat kan itu jika kau melupakan nya nyonya." kata Arana dengan santai namun masih dalam posisi semula dingin.
Orang yang di suruh untuk menjadi pengasuh Arana pun hanya seorang bocah berumur 5 tahun kala itu. sebab seluruh anggota keluarga Huan tidak mengharapkan Arana bisa hidup lebih lama, namun siapa yang akan menyangka jika Nobu gadis kecil berusia 5 tahun itu mampu merawat Arana dengan baik bahkan sangat menyayangi majikan kecil nya hingga Arana bisa tumbuh besar sampai sekarang.
Tapi Arana yang tumbuh di bawah asuhan pelayan kecil yang sama tidak terpelajar sejak dini itu pun tentu saja tidak bisa mengajarkan apapun kepada Arana, mengingat semua itu ada rasa bersalah yang muncul di dalam benak Quin xie kepada putri kedua nya itu.
"sudah lah istri ku. kita memanggil Arana untuk membahas masalah yang penting bukan untuk bertengkar " kata mentri Huan menengahi ibu dan anak yang terlihat mulai bersitegang di hadapan nya.
"masalah apa?" tanya Arana dingin.
"kami..." belum juga mentri Huan menjawab Arana lebih dulu membuka bibir mungil nya.
"jangan katakan kalian ingin aku membujuk pangeran Jikxi untuk membantu persoalan yang sedang kalian alami sekarang ini?!" sinis Arana dengan penuh curiga menatap mentri Huan dan juga Quin xie secara bersamaan.
__ADS_1
"jika benar itu yang kalian inginkan. maaf aku menolak dengan tegas" lanjut nya dengan nada mengejek.
"tapi kau tidak ada hak untuk menolak permintaan kami Arana! karena ini merupakan kewajiban mu sebagai putri di kediaman ini!" tegas mentri Huan.
"haha putri?!." tawa getir Arana.
"sejak kapan aku menjadi putri di dalam keluarga ini tuan Huan yang terhormat?! bukan kah putri keluarga ini hanya ada satu orang saja? mengapa kalian tidak datang saja kepada nya untuk secepatnya mendapatkan seorang pria dengan posisi tinggi di kerajaan saja?! agar Bai min dapat membantu persoalan keluarga kalian." kata Arana dengan nada mengejek.
"cukup Arana! mau bagaimana pun kau telah hidup dan tumbuh di dalam keluarga ini! ini sudah menjadi kewajiban mu untuk membantu kesusahan keluarga ini!" hardik Quin xie tegas.
"haha nyonya... nyonya... apa yang perlu di banggakan dari bisa hidup di dalam keluarga ini hah? jika aku dan Nobu saja masih harus berjuang mencari makan sendiri di luar sana untuk bisa bertahan hidup di setiap hari nya." sinis Arana menatap jengah Quin xie.
"ingat nyonya aku dan Nobu tidak ada Sedikit pun hutang budi pada keluarga ini!." dingin Arana.
"Kau terlahir dari keluarga ini Arana! dan itu sudah mejadi takdir mu! mau bagaimana pun kau merupakan putri kediaman ini dan hal itu tidak akan pernah bisa di ubah selamanya!" marah mentri Huan.
"ingat ini tuan perdana mentri yang terhormat! mulai hari ini dan seterusnya aku memutuskan untuk pisah rumah dari keluarga ini! dan aku bukan lagi bagian dari keluarga ini! mulai Detik ini kita tidak ada lagi hubungan darah sama sekali! aku menginginkan pisah rumah secepat mungkin!" tegas Arana.
"tolong urus secepat mungkin karena aku tidak sudi tinggal bersama dengan kalian lagi! aku muak dan sangat membenci kalian semua!" lanjut Arana dengan tatapan marah penuh kebencian.
"kau anak yang tidak tau di untung! dasar gadis sialan!" marah mentri huayn mendengar perkataan Arana yang menginginkan pisah rumah dari nya.
"ingat juga ini gadis sialan! sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa terlepas dari keluarga ini!" ancam mentri Huan dengan penuh penekanan.
Jika saja Arana belum bertunangan dengan pangeran Jikxi tentu saja dia akan sangat senang hati kala Arana menginginkan pisah rumah dari dirinya tetapi kondisi saat ini berbeda, arana merupakan harapan bagi keluarga huan untuk bisa bangkit dari keterpurukan menjadi kejayaan.
Dengan adanya dukungan dari pangeran Jikxi keluarga Huan akan bisa dengan mudah terlepas dari berbagai masalah yang sedang menimpa keluarga. entah permasalahan itu kecil atau pun sangat besar sekali pun, jika ada pangeran Jikxi di belakang keluarga Huan semua permasalahan itu akan terselesaikan dengan sangat mudah, mengetahui hal itu tentu saja mentri Huan tidak akan pernah mau melepaskan gadis kecil itu, bagaimana pun cara nya mentri Huan harus bisa membujuk Arana agar bisa memanfaatkan kekuasaan pangeran Jikxi untuk keuntungan keluarga Huan.
__ADS_1
🍁