PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 59


__ADS_3

Setelah mengalami begitu banyak Duka serta penderitaan Arana telah lelah mengharapkan cinta kasih dari keluarga nya. cinta kasih yang di idam idam kan Arana sedari kecil hanyalah secercah debu kotor di hadapan seluruh anggota keluarga Huan. mereka semua tak pernah menginginkan akan kehadiran Arana, itu lah yang membukakan mata dan hati Arana untuk berhenti mengharapkan sesuatu yang tidak seharusnya Arana inginkan.


Arana kecil tumbuh besar menjadi seorang gadis yang sangat dingin dan tak pernah lagi berharap kepada siapapun. Arana hanya akan berusaha sendiri jika dia menginginkan sesuatu, segalanya tentang Arana telah berubah semenjak hari itu. Arana yang dulu akan bersikap lembut kala bertemu dengan ayah ibu nya meski tidak pernah di anggap oleh mereka kini berubah mengacuhkan mereka berdua, bukan hanya itu bahkan kata ayah dan ibu yang dulu Arana sebut dengan begitu mesra di selimuti banyak cinta dan kerinduan kini tak pernah lagi terdengar dari bibir manis nya, hanya kedinginan yang ada dalam diri Arana kala bersama dengan anggota keluarga nya, hanya satu yang tidak pernah berubah dari Arana yaitu kasih sayangnya kepada Nobu pelayanan pribadi nya tak pernah berubah walau hanya sedikit saja.


Arana telah lelah akan sikap bodoh nya yang dulu selalu berharap akan adanya perubahan dari sikap acuh kedua orang tua nya. kini semua harapan dan cinta yang ada dalam diri Arana berubah menjadi kebencian yang amat sangat mendalam. walau tak dapat di pungkiri dalam lubuk hati Arana yang terdalam masih ada sedikit harapan (akan cinta dari kedua orang tua nya) meski hanya sedikit saja yang tersisa di sana.


Setiap kali Arana melihat bagaimana mereka memperlakukan Arana dan Nobu rasa benci di dalam hati Arana akan semakin tumbuh membesar di setiap hari nya. tapi entah mengapa sampai hari ini Arana masih belum bisa membalas perbuatan mereka secara langsung.


"aku tidak bisa terus seperti ini! aku harus bisa keluar dari kediaman ini agar hati ku tidak mudah untuk tergoyahkan saat melihat mereka semua!" gumam Arana sambil menggenggam erat tangan nya, kala menyadari hati nya yang begitu rapuh karena terlalu menyayangi keluarga nya namun juga sangat membenci mereka semua.


Arana ingin pergi sejauh mungkin dari keluarga mentri Huan, agar Arana tidak perlu lagi melihat para anggota keluarga nya, dendam yang ada di dalam hati Arana mungkin akan terasa jauh lebih mudah kala membalas nya di luar sana. sebab jika terus berada di kediaman mentri huan hati Arana akan terus rapuh dan Arana tidak menginginkan hal itu jika sampai terjadi.


Walau pun mungkin saja suatu hari nanti Arana akan bisa memaafkan kesalahan anggota keluarga nya dulu. Arana masih tidak menginginkan hal itu setidaknya untuk saat ini, Arana ingin membalas perbuatan mereka semua agar para anggota keluarga nya sadar betapa sakitnya di sakiti oleh keluarga mereka sendiri. Arana ingin mereka merasakan apa yang Arana rasakan, jika perihal kata maaf itu bisa di bahas nanti setelah Arana selesai mengungkapkan kebencian yang ada di dalam hati nya kepada seluruh anggota keluarga nya.


Jadi alangkah baik nya jika Arana bisa pergi meninggalkan kediaman mentri Huan secepat mungkin, berpisah rumah dengan mereka orang yang Arana benci dengan baik baik membalas setiap perbuatan mereka semua. mungkin di saat semua dendam yang ada di dalam Arana tersampaikan kata memaafkan akan terdengar di telinga para musuh nya, tetapi setelah mereka semua tersiksa tentunya.


Di dalam ruang rapat, Quin xie mencoba menenangkan hati suami nya yang sedang sangat marah setelah kepergian Arana yang sangat tidak sopan kepada mereka barusan, meski Quin xie terlihat sama marahnya dengan mentri Huan kala melihat Arana yang sangat kurang ajar kepada dirinya, dalam lubuk hati Quin xie yang terdalam, hatinya merasa terusik kala melihat sorot kebencian dari Arana untuk dirinya yang terlihat begitu mendalam bahkan sangat mengerikan kala menatap sorot mata Arana kala itu.


"apakah dia sebenci itu kepada ku?" tanya Quin xie gelisah dalam hati. entah mengapa perasaan nya sangat tidak nyaman mengetahui anak kandung nya sendiri membenci dirinya. tetapi apa boleh buat semua ini juga telah terjadi, dan lagi Quin xie merupakan menantu kediaman Huan, kemakmuran keluarga Huan merupakan prioritas utama bagi nya.

__ADS_1


"Kau harus bisa membujuk anak sialan itu! agar mau menarik pangeran Jikxi kedalam satu pihak dengan kita!" marah mentri Huan yang langsung membuyarkan lamunan Quin xie.


"anda tenang saja tuan, aku pasti akan segera membujuk nya." kata Quin xie lembut sambil memijit bahu suami nya agar lebih rileks.


"lakukan apapun untuk memaksa nya jika dia tidak mau menurut! anak sialan itu harus tau di mana posisinya berada! baru menjadi calon pangeran Jikxi saja sudah berani bersikap seperti itu! sungguh lancang anak tak tau di untung itu!" geram mentri Huan.


"baik tuan aku pasti akan melakukan apa yang tuan katakan, Sekarang tuan harus istirahat atau kesehatan tuan akan menjadi buruk, ibu masih membutuhkan tuan untuk menjaga kediaman ini di saat dia sedang tidak bisa mengurusnya." kata Quin xie lembut mengingat kan tugas mentri Huan.


"aku tahu itu, aku akan pergi mengunjungi ibu terlebih dahulu sebelum Istirahat." kata mentri Huan lalu pergi meninggalkan ruang rapat. sedangkan Quin xie beranjak pergi menuju kediaman Arana tanpa menjawab perkataan mentri Huan yang memang sudah lebih dulu meninggalkan nya.


Sesampainya Arana di kediamannya, Arana langsung memerintahkan Darxa dan juga Xixi untuk menutup pintu masuk kediaman mereka, dan juga memberi perintah kepada Darxa untuk mencegah siapa saja yang mencoba memaksa masuk kedalam kediamannya.


"baik nona" jawab Darxa dan juga Xixi secara bersamaan.


Tak berselang lama kemudian Quin xie telah sampai di kediaman Arana, namun kedatangan nya langsung di sambut oleh Darxa dan juga Xixi yang langsung menghalangi Quin xie saat hendak membuka pintu kediaman Arana untuk masuk kedalam.


"lancang! apa kalian tau siapa saya?!" hardik Quin xie marah melihat Darxa dan Xixi yang sedang mencoba untuk menghalangi dirinya.


"maaf nyonya, untuk saat ini nona tidak mengizinkan siapapun masuk kedalam kediaman ini!." tegas Darxa.

__ADS_1


"berani beraninya dia berbuat seperti itu! katakan kepada nona mu jika aku yang ingin bertemu dengan nya! aku tidak percaya dia akan menolak!" marah Quin xie dengan angkuhnya.


"sekali lagi maaf nyonya, sebaiknya anda segera pergi dari kediaman ini, karena kediaman nona ku tidak menerima orang lain untuk saat ini." ujar Xixi dingin.


"lancang! beraninya pelayan rendahan seperti mu berbicara seperti itu kepadaku!." marah Quin xie ingin menampar pipi Xixi namun di cegah oleh Darxa.


"kalian!" geram Quin xie melihat kedua pelayan Arana yang sama dinginnya dengan nona mereka.


"maaf nyonya kami benar benar tidak bisa membiarkan anda untuk masuk kedalam! ini merupakan perintah langsung dari nona kami!" tegas Darxa sambil melepaskan tangan Quin xie.


"sebaiknya anda kembali ke kediaman anda sendiri nyonya." kata Xixi dingin.


"kalian ingin mengusir ku?! apa kalian sudah bosan bekerja di sini?!." marah Quin xie.


"kami tidak pernah takut kepada anda nyonya. kami berdua hanya menghormati anda sebab anda merupakan ibu dari nona kami, meski begitu anda juga tidak akan pernah bisa mengusir kami berdua dari sisi nona Arana nyonya. sebab kami berdua di sini bekerja untuk melayani nona kami dan bukan untuk keluarga kalian." jelas Xixi.


"dan perlu anda ingat juga nyonya!. yang membayar kami murni nona kami sendiri dan bukan keluarga anda ini!." timpal Darxa.


"kalian!" Quin xie sangat geram dengan kedua pelayan setia Arana itu. tetapi apa yang mereka katakan memang merupakan hal yang sebenarnya. Arana sedari lahir tidak pernah sedikitpun di biyayai oleh kediaman ini, semua yang Arana miliki di dalam kediaman nya merupakan jeri payah nya sendiri bekerja di luar kediaman perdana mentri. tapi meski begitu mereka semua masih tinggal di dalam kediaman perdana mentri, seharusnya mereka juga menuruti apa yang di katakan oleh tuan rumah bukan hanya tuan yang menggaji mereka saja,pikir Quin xie tidak terima.

__ADS_1


__ADS_2