
Suasana ruang makan kediaman utama terasa hening, hanya ada suara alat makan yang saling beradu satu sama lain, tanpa ada satu orang pun yang mengeluarkan suaranya.
Berbeda jauh dari kediaman Arana, Arana kini tengah menikmati makan siang nya di halaman kediaman miliknya di temani oleh Nobu dan dua pelayan Arana lainnya, dua pelayan itu baru saja Arana angkat menjadi pelayannya, sebab sedari dulu kediaman Arana hanya ada Arana dan Nobu saja.
Saat Arana sedang dalam perjalanan kembali ke kediaman mentri Huan, Arana melihat seorang taun yang sedang menjual dua orang budak miliknya, Arana yang melihat potensi dari kedua budak itu langsung membeli keduanya dan membawa mereka kedalam kediaman miliknya.
"siapa namamu?." tanya Arana di tengah suapan makan nya.
Arana memang terbiasa makan bersama Nobu dan juga beberapa pelayan restoran miliknya tanpa membedakan kasta satu sama lain, karena Arana menilai jika mereka sama saja, toh Arana juga bukan seorang anak bangsawan yang perlu di banggakan (fikir Arana).
"Saya Darxa nona dan ini adik saya Xixi" jawab Darxa tegas.
"aku sangat menyukai mu." ujar Arana.
Arana tertarik kepada Darxa dan juga Xixi karena Arana tahu dua orang itu dapat di andalkan, Darxa yang datar dan tegas memiliki tubuh dengan besik ilmu bela diri, jika Arana mengasahnya sedikit lebih tajam lagi, Darxa akan menjadi orang yang dapat Arana andalkan dan hal itu akan sangat menguntungkan bagi arana nantinya.
Sedangkan Xixi meski gadis itu terlihat lemah lembut namun dapat terlihat jelas oleh Arana jika Xixi tak kalah hebat dari Darxa bila kemampuan nya di asah sama tajamnya dengan Darxa, wajah dan sifat Xixi yang dapat mengelabui semua orang agar tidak dapat melihat kemampuan asli yang di milikinya, membuat Arana jauh lebih tertarik untuk mengasah Xixi kembali, untuk di gunakan oleh Arana kemudian hari.
"Sebelumnya tolong maafkan hamba nona, sebenarnya apa yang membuat nona ingin membeli kami berdua?." tanya Darxa to the poin, sebab Darxa tak mengira akan semudah itu menarik perhatian Arana.
"karena bakat kalian." enteng Arana
"bakat kami?." tanya Xixi bingung.
"tak usah mengelak, aku tahu kalian memiliki seni dela diri yang mumpuni dan itu yang aku butuhkan saat ini, meski aku heran mengapa orang hebat seperti kalian berdua bisa di jual sebagai budak?." lugas Arana tanpa basa basi.
__ADS_1
Darxa dan juga Xixi tersentak kaget dengan jawaban Arana.
"gadis kecil ini bukan orang biasa, pantas saja dia dapat menarik perhatian tuan, bahkan telah mengisi ruang di hati nya." ujar keduanya di dalam hati sambil beradu pandang.
"Keluarga kami di bunuh oleh seorang bangsawan dan saat kami berusaha untuk melawan mereka, kami tertangkap oleh nya karena jumlah mereka lebih banyak dari kami berdua, sebab itu kami berakhir di perbudak." jelas Darxa, Darxa tak berbohong mengenai keluarga nya, tetapi dia berbohong soal perbudakan.
"hmmm masuk akal juga." sahut Arana sambil mengamati Darxa dan juga Xixi.
"nona Arana bukan lah orang yang seperti kalian berdua kira, dia hanya akan menyakiti orang yang mengkhianati nya dan akan sangat menghargai orang yang bersedia setia pada nya." ujar Nobu membuka suara, saat melihat suasana yang sedikit menegang di antara mereka.
"jika kalian bersedia mengikuti ku, aku akan menganggap kalian sebagai keluarga ku, namun jika tidak bersedia, kalian boleh pergi dari kediaman ini, kalian di bebaskan dari perbudakan." lugas Arana menambahkan perkataan Nobu yang membuat kedua gadis itu tercengang kagum kepada gadis muda di hadapan mereka.
" sungguh gadis ini sangat layak menjadi nona kami." pikir kedua nya.
"kami akan mengikuti anda nona dan bersedia setia kepada anda." tegas kedua gadis itu dengan penuh keyakinan.
"terimakasih nona telah bersedia menerima kami berdua." jawab kedua nya.
"tak perlu sungkan aku membutuhkan kalian dan lagian mungkin juga membutuhkan ku" kata Arana.
"ah iya, satu lagi kalian berdua harus ingat, di antara kita hanya ada kita berempat selebihnya bukan siapa siapa, jika ada orang lain di keluarga ini yang bertindak tak semestinya kepada kalian, kalian berhak melawan." tegas arana
"baik nona, akan kami ingat!."
Selebihnya mereka berempat melewati makan siang dengan canda tawa bersama, saling mengenal satu dengan yang lain nya, sedangkan sosok berbaju hitam tak jauh dari tempat para gadis berada, terus menatap Arana yang tengah tersenyum riang di sana, hal itu membuat pria itu ikut tersenyum sendiri melihat kebahagiaan Arana, sampai membuat pria lain yang ada di sebelah nya terbidik ngeri.
__ADS_1
Di sisi lain, setelah makan siang selesai, Quin xie bergegas menemui menteri Huan di ruang kerja milik nya, hati Quin xie terasa tak nyaman sedari bertemu dengan Arana di tempat leluhur keluarga, dia ingin mengutarakan isi hati nya kepada mentri Huan selaku suami dan juga ayah kandung Arana.
"Tuan, apa kah saya mengganggu pekerjaan anda?." tanya Quin xie saat sudah berada di hadapan suami nya.
Menteri Huan yang sedang membaca beberapa laporan langsung menghentikan aktivitas nya kala mendengar suara sang istrim
"tidak, kemarilah." kata menteri Huan sambil menunjuk tempat duduk di hadapan nya, Quin xie langsung bergegas duduk di sana.
" apa yang membuat kau datang kemari?." tanya menteri Huan yang melihat raut cemas terlihat jelas di wajah istri nya.
"ini mengenai Arana tuan." ujar Quin xie
"ada apa dengan anak itu? apa dia berbuat onar lagi?." tanya Mentri Huan yang terdengar sedikit terpancing emosi mendengar nama putri kedua nya, pasalnya di dalam kediaman ini, jika ada yang mengatakan nama Arana kepada mentri Huan, pasti karena Arana telah melakukan kesalahan dan itu sudah terjadi selama bertahun tahun hingga membuat Mentri Huan jengah di buat nya.
"tidak tuan." bantah Quin xie cepat.
"lalu?." tanya menteri Huan penasaran.
"tadi pagi saya telah membebaskan Arana dari masa hukuman yang waktu itu saya berikan kepada nya, tetapi sifat Arana kini sangat berbeda tuan dan hal itu membuat hati saya tak nyaman tuan." jelas Quin xie.
"dia tidak berubah, memang dia tumbuh dengan sifat nya yang keras kepala, entah dia menuruni sifat siap." keluh menteri Huan kala mengingat betapa keras kepala nya Arana sekarang bahkan tatapan nya pun sangat dingin seperti tak bisa di Sentuh oleh siapapun.
"bukan itu masalah nya tuan." elak Quin xie lagi.
"sudah lah tak perlu memikirkan anak itu lagi, lagi pula anak itu tidak membawa pengaruh besar bagi keluarga ini, lebih baik kau pikirkan saja masa depan putri pertama kita Bai min, kau ingat kan saat ini usia nya telah beranjak 15 tahun, 2 tahun kemudian dia akan segera menikah dengan seorang pria, dan kau sebagai ibu harus mempersiapkan nya mulai sekarang." ujar menteri Huan mengingat kan Quin xie
__ADS_1
Dengan berat hati yquin xie menyetujui Perkataan suami nya dan tak melanjutkan percakapan mereka lagi.
🍁