PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 37


__ADS_3

Arana berjalan dengan langkah tegas nan tegak menuju titik tengah perkumpulan para orang tua itu, tanpa menundukkan kepala dan tanpa ada sedikit pun ketakutan di wajah Arana.


"Ada hal apa kalian memanggil ku kemari?." tanya Arana dingin.


"lancang! siapa yang memberimu keberanian untuk tidak menghormati kami?!" marah nyonya besar yang sedari tadi dia tahan. tetapi kala melihat Arana yang bahkan tidak memberi salam saat menemui keluarga nya, amarah nyonya besar tidak dapat terpendam lagi.


"heh, apakah kalian semua lupa, seharusnya kalian yang memberi salam kepada ku, ingat statusku saat ini bukan lagi nona kedua kediaman ini, tetapi putri dari kekaisaran Minday!" ujar Arana lantang.


"cih sombong sekali dia mentang mentang sudah resmi menjadi seorang putri! tetapi kan dia belum menikah dengan pangeran bisa saja suatu hari nanti posisi nya akan berubah" sinis sepupu Arana.


"iya kau benar" timpal yang lain nya.


"cukup Arana! kau sungguh keterlaluan!. apa begini sikap mu kepada orang yang lebih tua dari mu?! apa lagi yang berbicara dengan mu itu adalah nenek kandung mu!." geram mentri Huan kala melihat sifat putri kedua nya yang sangat keterlaluan hari ini.


"ck, nenek kau bilang, tuan apa kau tidak salah berucap? sejak kapan aku memiliki hubungan yang begitu dekat seperti itu di kediaman ini hem?" kata Arana sinis.


"cukup Arana! hentikan sikap tidak sopan mu itu!" marah Quin xie menatap tajam Arana.


"sudah lah, katakan apa yang ingin kalian ucapan? tidak perlu membuang waktu langsung pada intinya saja." jengah Arana dengan dingin.


"Kau sungguh anak yang tidak tahu di untung, sungguh sial keluarga ku memiliki keturunan seperti dirimu." ujar nyonya besar dengan benci.


"aku pun sangat membenci takdir ini" sinis Arana jengah.


"kau!"


"sudah lah ibu, kita di sini untuk menanyakan apa yang telah dia lakukan kepada Bai min hari ini" ujar menteri Huan.


"untuk apa bertanya? langsung beri hukuman saja, lihat lah dia yang tumbuh menjadi gadis liar dan kasar, sudah pasti apa yang menimpa cucu kesayangan ku, dialah yang melakukan nya" sinis nyonya besar.


" yang ibu katakan benar tuan" timpal Quin xie.


"Arana, apa ada hal yang ingin kau katakan?" tanya Mentri Huan


"tidak ada" datar Arana


"berarti kau mengakui jika apa yang menimpa bai min hari ini, itu merupakan ulah mu yang iri kepada nya?." kata mentri Huan lagi.

__ADS_1


"tidak!" singkat Arana dingin


"bagaimana mungkin kau bisa mengatakan tidak, jika yang mulia putra mahkota saja melihat apa yang telah kau lakukan pada saudara mu sendiri" geram Quin xie yang sudah tidak dapat bersabar lagi.


"mata bisa di tipu tetapi kebenaran tidak lah buta." sinis Arana.


"kau tidak bisa mengelak lagi Arana! kau harus di hukum akibat dari perbuatan mu itu!" geram mentri Huan yang tidak tahan menghadapi kesombongan Arana lagi.


Tentu saja mentri Huan sangat mengetahui sifat Arana yang enggan mengakui segala kesalahan yang telah Arana perbuat sendiri. sebab sedari dulu Arana selalu bersikap seperti itu kala kejahatan nya di ketahui oleh Mentri Huan. karena hal itu mentri Huan mengharuskan untuk terus menghukum Arana agar mau mengakui kesalahan nya. tetapi sayang nya gadis kecil itu tidak pernah mau mengakui semua kesalahan yang telah dia perbuat.


"Siapa yang berani ingin menghukum calon istri ku?!." tanya seorang pria dengan aura dingin yang tiba tiba hadir di tengah tengah perkumpulan keluarga Huan, tanpa ada yang menyadari keberadaannya sebelum nya.


Aura mendominasi dengan tatapan mata membunuh membuat tubuh semua orang gemetar dan langsung membungkuk hormat.


"salam yang mulia, semoga di berkahi langit dan bumi, semoga panjang umur dan sehat selalu" kata semua orang serempak.


Sedangkan Arana langsung menoleh ke arah pria itu yang ternyata pangeran Jikxi calon suami nya.


"mengapa kau masih di sini dan belum kembali?" tanya Arana melihat kehadiran pangeran Jikxi.


Sebenarnya Arana tidak mengharapkan kehadiran pria itu di tempat perkumpulan ini. sebab Arana enggan berhutang budi kepada orang lain terlalu dalam walau pun orang yang membantu nya itu merupakan pria yang akan menjadi suami nya kelak.


"alasan!." sinis Arana yang tahu jika hiasan rambut itu bukan milik nya dan terlihat sangat jelas jika pangeran Jikxi memang sengaja datang untuk membela Arana.


Tetapi pangeran Jikxi hanya tersenyum tanpa menjawab tatapan membunuh Arana, malah mengalihkan pandangan nya kepada seluruh anggota keluarga mentri Huan dan menatap tajam semua orang yang ada di sana.


"Mentri Huan! apa kau berani menghukum gadis kecil ku?!" hardik pangeran Jikxi dengan aura yang sangat menakutkan.


"mohon ampun yang mulia, tetapi hari ini putri kedua hamba ini telah melakukan kesalahan yang mulia. jadi dia harus di beri hukuman agar tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi di kemudian hari." tegas Mentri Huan dengan begitu percaya diri jika pangeran Jikxi akan mempercayai perkataan nya.


"kesalahan apa yang gadis kecil ku ini lakukan?" tanya pangeran Jikxi dengan begitu mendominasi.


"dia telah melukai kaka nya sendiri yang mulia, hamba harap anda bisa bersikap adil dan membiarkan kami untuk mendidik anak nakal ini" ujar nyonya besar dengan berapi api.


"apa itu benar Ra'er?" tanya pangeran Jikxi dengan lembut.


"kau lebih mengetahui nya." singkat Arana yang membuat semua orang tercengang kala mendengar jawaban Arana. pangeran Jikxi mengetahui nya? bukan kah itu pertanda jika pangeran Jikxi juga berada di sana, tetapi mengapa bisa seperti itu? sedangkan Bai min saja pulang bersama putra mahkota? begitu lah isi pemikiran semua orang yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Mohon ampun yang mulia, apakah anda berada di sana?." tanya mentri Huan dengan hati hati.


"ya, aku berada di sana." datar pangeran Jikxi.


"lalu mengapa anda masih membela putri nakal kami ini jika anda telah melihat semua nya yang mulia?" tanya Mentri huan dengan perasaan tidak terima.


"apa seorang menteri seperti mu pantas mempertanyakan pertanyaan seperti itu pada ku!" marah pangeran Jikxi.


"mohon ampun yang mulia, suami ku tidak bermaksud seperti itu" ujar Quin xie membela suami nya.


"sudah lah, aku telah melihat semua nya, dan aku pasti kan gadis kecil ku ini tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan itu, aku bisa menjadi saksi nyata dalam kejadian ini. dan untuk putra mahkota, penglihatan dia sedang ada masalah hingga tidak dapat melihat dengan jelas hal yang sebenarnya terjadi." tegas pangeran Jikxi tanpa ingin di bantah sedikit pun.


Sidang keluarga itu berakhir dengan begitu saja, meskipun banyak pihak yang tidak merasa puas dengan hasil akhirnya, terutama Bai min yang sangat geram karena pangeran Jikxi datang untuk membantu Arana lagi. namun apa boleh buat? pangeran Jikxi merupakan orang yang memiliki pengaruh besar di dalam kekaisaran ini, belum ada satu orang pun yang bisa menandingi dirinya.


Arana mengajak pangeran Jikxi untuk meminum teh di dalam paviliun milik nya di temani dengan sepiring kue bulan yang masih hangat di sana.


"terimakasih atas bantuan mu lagi, tetapi aku bisa menyelesaikan nya sendiri, akan lebih baik jika kedepannya kau tidak sering ikut campur dalam masalah ku." datar Arana.


"mengapa bisa seperti itu hmm? aku adalah calon suami mu, apapun masalahmu adalah hal yang sangat penting bagi ku, tentu saja aku akan sering ambil andil di dalam nya juga." kata pangeran Jikxi.


"tetapi aku tidak menyukai hal itu yang mulia. dan lagi pernikahan kita ini tanpa di dasari apapun, jadi berhentilah bertingkah seolah pernikahan kita ini di karenakan cinta yang mendalam." kata Arana dengan ketidaksukaan.


"mengapa? para wanita lain begitu bahagia kala di bela oleh pasangan nya." tanya pangeran Jikxi


"lagi pula siapa bilang pernikahan kita tidak di dasari cinta yang mendalam?" lanjutnya


"karena aku tidak ingin tergantung pada siapapun. dan memang dalam hubungan kita tidak ada cinta yang mulia." jelas Arana.


"aku tahu kau gadis mandiri, tetapi kau tidak bisa menghalangi ku! dan juga aku tegaskan sekali lagi, dalam hubungan kita bukan tidak ada cinta tetapi belum tumbuh saja." tegas pangeran Jikxi.


"iya terserah apa mau mu" pasrah Arana yang tidak bisa berbuat apa pun pada tunangan nya itu.


Siapa suruh Arana bertunangan dengan pria yang begitu mendominasi semua orang, dan pemegang kekuasaan tinggi di kekaisaran, siapa yang akan berani membantah setiap perkataan nya😪


Hanya saja Arana beruntung karena pangeran Jikxi bersama dengan nya karena cinta, walau pun Arana sendiri tidak mengetahui hal itu.


Sebab Arana selalu beranggapan jika pangeran Jikxi hanya tertarik sesaat kepada dirinya, dan jika nanti pangeran Jikxi telah bosan bisa saja Arana di buang entah kemana, untuk hal itu Arana tidak pernah berharap banyak kepada pangeran Jikxi, agar kelak saat pangeran Jikxi tidak lagi membutuhkan Arana, Arana tidak merasakan jatuh yang teramat sakit.

__ADS_1


Walau sebenarnya, apa yang arana takutkan itu tidak akan pernah terjadi.😁


🍁


__ADS_2