
Di sisi lain, Arana cukup mengacungkan jempol nya untuk drama yang baik min buat hari ini. Arana cukup senang karena Bai min bertindak lebih cepat dari dugaan nya, sebab jika Bai min bertindak lebih lambat bisa jadi calon putri mahkota akan lebih dulu memasuki kerajaan sebelum Bai min sempat masuk ke sana dan jika itu sampai terjadi maka bai min akan sangat sulit untuk bisa masuk kedalam nya karena calon putri mahkota pasti akan melakukan seribu cara untuk menggagalkan usaha bai min yang sedang berusaha untuk bisa mendapatkan hati putra mahkota.
Arana tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi, Bai min harus masuk kedalam kediaman putra mahkota sesegera mungkin, bukan untuk kebahagiaan nya melainkan untuk membayar hutang nya kepada arana selama kurang lebih 13 tahun lama nya.
"Aku tidak akan membiarkan rencana ku sampai gagal!." ujar Arana penuh kebencian.
"Bai min, aku akan membuat hidup mu selalu menderita, hutang yang kau berikan pada ku sepanjang umur hidup ku ini, akan aku tagih sedikit demi sedikit agar kau dapat menikmati nya lebih lama dari yang kau bayangkan" dingin Arana dengan aura membunuh.
Baru baru ini Arana mendapatkan informasi jika permaisuri sangat bertentangan dengan keluarga Huan, hal itu membuat Arana senang sebab saat Bai min berhasil memasuki kediaman putra mahkota bukan hanya putri Qesya saja yang akan menyiksa Bai min tanpa kenal ampun melainkan permaisuri juga. tetapi ada yang membuat Arana bingung, mengapa sampai saat ini permaisuri tidak pernah mencari masalah kepada Arana? bukan kah Arana juga termasuk keluarga hutan? dan juga Arana telah resmi menjadi calon permaisuri pangeran Jikxi anak dari permaisuri itu sendiri sungguh terasa aneh bagi Arana.
Lebih aneh nya lagi, mengapa mentri Huan sangat mendukung Arana untuk bisa bersama dengan pangeran Jikxi? mentri Huan juga selalu memaksa Arana agar bisa memanfaatkan pangeran Jikxi supaya berpihak kepada keluarga mereka, sikap mentri Huan yang seperti itu sangat ganjal di hati Arana, sangat jauh berbeda kepada Bai min saat menginginkan untuk bisa bersama dengan putra mahkota.
Bukan kah dukungan dari putra mahkota juga sangat besar terlebih pria itu juga merupakan calon pewaris tahta kaisar yang mungkin akan segera terwujud jika putra mahkota memiliki lebih banyak dukungan lagi.
Namun alih alih mendukung keputusan Bai min mentri huan justru melarang keras keinginan bai min berhubungan dengan putra mahkota apalagi sampai gadis itu memasuki kediaman putra mahkota? bukan kah kedua nya sama sama memiliki pengaruh yang besar sebab kedua pangeran itu terlahir dari rahim permaisuri bersama dengan kaisar.
Tapi apapun alasan di balik keanehan yang terasa sangat mengganjal itu, Arana tidak terlalu memperdulikan nya.
Lagi pula pangeran Jikxi memiliki kekuasaan yang cukup mumpuni untuk membungkam serta mencegah orang lain jika mereka berniat ingin menyakiti Arana, dengan begitu Arana mengira bahwa karena kekuasaan pangeran Jikxi lah mereka semua enggan mencari masalah kepada Arana.
Dan untuk mentri Huan, dia hanya ingin memanfaatkan Arana agar bisa mendapatkan pangeran Jikxi di pihak nya bisa di lihat dari kekuasaan pangeran Jikxi yang kian hari kian bertambah pesat siapa yang enggan untuk menarik pangeran itu supaya berada di pihak nya dan menjadi pendukung terkuat keluarga mereka, tetapi tentu saja Arana enggan untuk melakukan nya, pernikahan yang akan di laksanakan kurang lebih 2 tahun lagi saja masih menjadi hal yang meragukan bagi Arana, apa lagi ingin membuat pangeran Jikxi selalu berada di pihak nya, hal yang amat sangat mustahil sebab tujuan hidup arana pun ingin menghancurkan keluarga nya sendiri.
Tiba tiba Arana juga teringat akan sikap mentri Huan dan para anggota keluarga yang lain nya terhadap Bai min yang berubah menjadi cukup keras kepada Bai min saat gadis itu menolak untuk menerima perjodohan nya dengan pangeran Hanxi.
"apa alasan di balik sikap memaksa mereka? bukan kah selama ini mereka selalu mendukung apapun yang bai min ingin kan, tidak biasanya mereka bersikap seperti itu?" tanya Arana dalam hati melihat kejanggalan yang ada di keluarga nya saat ini.
"terlebih dukungan pangeran kedua lebih lemah dari putra mahkota mengapa mentri huan justru sangat berambisi jika Bai min harus menikah dengan pangeran itu dan bukan orang yang memiliki kekuasaan lebih seperti putra mahkota? dan lagi pula pangeran kedua juga merupakan anak kandung dari permaisuri juga, sungguh terasa sangat aneh, banyak kejanggalan yang ada di dalam nya, rahasia apa yang sedang mereka sembunyikan?" gumam arana berfikir.
"Darxa!" panggil Arana.
__ADS_1
"saya nona" ujar Darxa cepat tanggap langsung menghadap Arana.
"carikan informasi tentang apa yang sebenarnya terjadi akhir-akhir ini mengenai ketentraman keluarga ini!, aku rasa ada sesuatu yang menjanggal yang tidak aku ketahui" ujar Arana datar.
"baik nona" kata Darxa lalu pergi menghilang bagai di telan angin.
"huh, hari yang indah namun terselimuti awan gelap" gumam Arana sambil menatap langit cerah di luar sana.
Tak berselang lama mentri Huan datang menemui Arana di kediaman nya. meski Arana enggan untuk menyambut orang tua itu, tetapi gadis muda itu tetap pergi menemui pria tua yang seharusnya dia panggil dengan sebutan ayah itu.
"ada angin apa yang membuat tuan besar Huan datang mengunjungi kediaman kecil ku ini?" tanya Arana dingin dengan nada menyindir.
"apakah aku tidak boleh mengunjungi putri ku sendiri? lagi pula kediaman mu masih satu atap dengan kediaman ku." kata mentri Huan.
"bicara langsung pada intinya saja tuan, saya tidak ada waktu untuk basa basi dengan anda" dingin arana yang tidak menyukai jika mentri Huan mengatakan bahwa diri nya merupakan darah daging mentri Huan.
"tidak bisa!" singkat padat dan sangat jelas.
"huh" dengus Mentri Huan membuang nafas berat sambil memandang Arana dalam diam.
"jika tidak ada yang ingin anda bicarakan dengan saya, alangkah baik nya anda segera keluar dari kediaman ini, karena di sini tidak menerima kehadiran anda" sinis Arana mengusir Mentri Huan.
"Nobu antarkan tamu!." lanjut Arana
"tunggu" pekik mentri Huan, tak menyangka jika Arana berani mengusir nya dari kediaman yang masih satu rumah dengan dirinya, sungguh keberanian yang membuat darah mentri Huan mendidih.
"langsung pada intinya saja!." datar Arana tanpa memandang raut wajah mentri Huan yang terlihat sedang menahan amarah.
"baik baik, aku akan bicara langsung ke intinya" kata mentri Huan mencoba mengalah kepada putri dingin nya.
__ADS_1
"aku ingin kau menarik pangeran Jikxi agar mau berpihak pada keluarga kita, sebagai gantinya keluarga ini akan mendukung pangeran Jikxi sampai bisa menaiki tahta kerajaan" ujar mentri Huan serius.
"aku tidak berminat" singkat Arana.
"lancang!, kau tak berhak untuk menolak, apalagi kau masih menjadi bagian dari keluarga ku, keselamatan keluarga ini juga merupakan tanggung jawab mu!" geram mentri Huan yang sudah tidak bisa menahan amarah nya lagi.
"aku tak perduli tentang keluarga ini, dan untuk diriku yang masih menjadi bagian dari keluarga ini, kau tenang saja tuan, cepat atau lambat aku pun akan segera keluar dari keluarga ini" enteng Arana.
"dan perlu kau ingat juga, aku tak memiliki sepeserpun hutang pada keluarga mu, jadi kau tak ada hak untuk selalu memaksa ku" dingin Arana dengan aura kebencian yang melekat dalam dirinya.
"baik jika itu mau mu, maka kau harus segera bersiap hengkang dari kediaman ku tanpa membawa sepeserpun uang atau pun barang! dan sebelum itu aku akan menghukum sikap lancang mu terlebih dahulu" marah mentri Huan.
"pengawal bawa putri Araxi ketengah lapangan untuk segera di beri hukuman!" perintah mentri Huan dengan marah.
"tapi sayang nya aku tidak akan membiarkan mu menghukum gadis kecil ku, aku merasa bahwa untuk mengusir tunangan ku pun kau tidak akan pernah mampu untuk melakukan nya, sebab jika kau berani menjalankan rencana mu itu, ku pasti kan kediaman yang kau banggakan ini akan segera rata dengan tanah dalam sekejap!" ancam suara seorang pria yang terdengar berat dengan nada dingin di sertai aura membunuh di balik punggung mentri Huan.
"salam yang mulia" ucap Arana sambil membungkuk hormat yang membuat mentri Huan membeku.
Dengan keringat dingin yang mulai membasahi dahi nya, Mentri Huan memberanikan diri untuk menoleh ke arah sumber suara yang baru saja mengancam dirinya.
"mohon ampun yang mulia, hamba tidak akan berani untuk melakukan nya" ujar mentri Huan takut sambil bersujud memohon ampunan kala melihat wajah pangeran Jikxi yang terlihat sangat menyeramkan di hadapan nya, yah, suara pria yang terdengar berat di sertai dingin itu merupakan milik pangeran Jikxi yang datang untuk mengunjungi tunangan kecil nya.
"Jika aku melihat kau mengancam tunangan kecil ku lagi?! akan ku pastikan kan hari itu menjadi hari terakhir kau bisa melihat dunia ini!" ancam pangeran Jikxi dengan aura membunuh nya.
"hamba tidak berani, hamba tidak berani." kata mentri Huan ketakutan.
Siapa yang tidak mengenali kekejaman pangeran Jikxi yang amat terkenal sadis itu, jika pangeran Jikxi telah mengatakan nya maka itu berarti merupakan sebuah peringatan pertama dan tentu bukan hanya sekedar omong kosong belaka, dapat di pastikan perkataan pangeran Jikxi akan benar benar terjadi jika orang itu melakukan hal yang membuat pangeran kejam itu marah.
🍁
__ADS_1