PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 40


__ADS_3

Arana terlihat begitu cantik kala menatap pemandangan di luar jendela kereta dengan begitu tenang, sampai membuat pangeran Jikxi tidak dapat menahan diri untuk tidak meraih tangan arana dan menggenggam nya dengan erat.


"Ada apa?" tanya Arana kala merasakan tangan nya yang tiba tiba di genggam erat oleh pangeran Jikxi


"tidak ada, hanya ingin menggenggam tangan mu saja" kata pangeran Jikxi sambil mendekatkan diri lebih dekat lagi dari posisi duduk Arana


"bisakah tidak sedekat ini, kereta kuda mu ini masih sangat luas untuk kau duduk" dingin Arana sambil berusaha mendorong tubuh pangeran Jikxi agar menjauh dari dirinya, tetapi seperti nya usaha arana sia sia karena tubuh pangeran Jikxi tidak bergeser sedikit pun.


Pangeran Jikxi justru menarik tubuh Arana kedalam pelukan nya dan menyenderkan kepala Arana di bahu pangeran Jikxi.


"diam lah, aku hanya ingin sedekat ini dengan mu" lembut pangeran Jikxi.


Awalnya Arana ingin memberontak tetapi entah mengapa bahu pangeran Jikxi terasa begitu nyaman untuk bersandar, apa lagi tangan mereka sedari tadi saling berpegangan dengan erat, Arana merasa enggan untuk melepaskan nya.


"Jika suatu hari nanti seluruh keluarga mu di takdir kan untuk mati dan hanya menyisakan kau seorang diri, apa kau akan bersedih?" tanya pangeran Jikxi secara tiba tiba yang membuat Arana tercengang sepersekian detik.


"tidak, justru hal itu akan jauh lebih baik dari pada harus hidup bersama dengan mereka seperti sekarang" jawab Arana mantap beberapa detik kemudian.


Tetapi pangeran Jikxi tidak melanjutkan perkataannya lagi, dan hanya menikmati suasana hangat di kereta, dapat memeluk dan menggenggam erat tangan Arana walau hanya sesaat saja itu sudah sangat cukup bagi pangeran Jikxi, terlebih pangeran Jikxi masih tidak tega memberitahukan mengenai masalah kejahatan mentri Huan yang ternyata jauh lebih besar dari yang sebelumnya pangeran Jikxi perkiraan di saat hari pertunangan Arana dan juga dirinya.

__ADS_1


"biarlah sesaat berjalan seperti ini" kata pangeran Jikxi dalam hati sambil mengecup ujung kepala Arana.


Sedangkan Arana dia tidak bertanya mengapa pangeran Jikxi menanyakan hal itu, toh Arana memang tidak perduli akan hidup dan mati keluarga itu, hanya dengan Arana bisa terus hidup dengan baik tanpa di ganggu saja, itu sudah sangat cukup untuk Arana, tapi apakah Arana benar tidak akan sedih? jawaban nya tentu saja Arana akan merasa sedih hanya saja tidak sampai membuat Arana berpikir ke hal yang negatif, setidaknya Arana hanya akan bersedih sesaat tetapi bisa di pastikan jika Arana akan lebih cepat pulih dari kebanyakan orang yang di tinggal oleh kerabat mereka.


Di sisi lain, Bai min masih bersama dengan putra mahkota setelah penjamuan minum teh di kediaman selir Huan xi, bai min mengajak putra mahkota untuk minum teh bersama di kediaman nya sesuai janji mereka kala Bai min saat sedang terluka di hari itu.


"Yang mulia terimakasih karena telah menolong dan mengantarkan saya di hari itu, saya sangat berhutang budi kepada anda" kata Bai min sambil tersenyum lembut berusaha terlihat setulus dan selembut mungkin.


"kau terlalu sungkan nona, lagi pula kau memang patut untuk di bantu mengingat kau merupakan korban di hari itu" ujar putra mahkota.


"anda memang orang sangat baik yang mulia" puji Bai min.


"mau bagaimana pun putri Araxi merupakan adik kandung saya yang mulia, saya sangat memaklumi sifat kekanakannya apa lagi umur putri Araxi masih sangat kecil, saya yang lebih dewasa harus bisa memaklumi dirinya" ujar Bai min berusaha terlihat seperhatian mungkin di depan putra mahkota.


"tapi jika kau terus bersikap dan berfikir seperti itu kepada adik mu, kau akan terus di sakiti oleh nya nona, akan lebih baik jika nona sesekali memberikan hukuman kepada putri araxi, sebagai bentuk pembelajaran agar kedepannya putri Araxi tidak bersikap seperti itu lagi di kemudian hari" saran putra mahkota memberi nasehat kepada Bai min.


"terimakasih atas perhatian anda yang mulia, tetapi saya tidak sampai hati untuk menghukum nya, mau bagaimana pun saya sangat menyayangi adik saya itu, jika nanti dia terluka karena saya, saya akan merasa sangat bersalah terhadap nya" kata Bai min sendu


"hah sudah lah, kau memang gadis yang sangat baik" ujar putra mahkota menyerah untuk berdebat dengan Bai min.

__ADS_1


Putra mahkota sangat mengagumi kebaikan serta kelembutan Bai min, apa lagi etika saat bai min menyeduh kan teh untuk putra mahkota hari ini, terlihat bai min begitu terampil dan sangat terpelajar dalam melakukan nya, seketika terbesit dalam pikiran putra mahkota untuk menjadikan bai min sebagai salah satu selir di kediaman miliknya di kemudian hari.


ya hanya sebatas selir bukan calon putri mahkota, sebab sebenarnya putra mahkota telah memiliki calon putri mahkota masa depan, hal ini tidak di ketahui oleh rakyat kekaisaran sebab acara pertunangan putra mahkota dengan calon putri mahkota di adakan kala mereka masih sangat sangat kecil dan hanya anggota kerajaan saja yang mengetahui siapa calon putri mahkota masa depan kekaisaran Minday itu, yang pasti kekuasaan milik calon putri mahkota kerajaan Minday sangat besar dan dapat mempengaruhi posisi putra mahkota untuk terus berjalan menuju tahta, dalam masa perebutan tahta di kemudian hari.


Sedangkan Bai min, dia sudah berasa kegeeran di saat melihat ketertarikan putra mahkota kala melihat dirinya, Bai min begitu percaya diri jika kelak bai min bisa mendapatkan posisi putri mahkota dan akan menikah dengan putra mahkota melalui jalur depan (istri sah) bukan jalur belakang (selir), namun mimpi yang terlampau tinggi menang akan terasa sakit kala terjatuh.


Di satu sisi selir Huan xi sedang memikirkan cara agar Bai min tetap akan menikah dengan pangeran Hanxi dengan cara apapun, selir Huan xi harus bisa menjodohkan kedua muda mudi itu, agar apa yang sedang selir Huan xi rencanakan untuk masa depan nya dapat segera terwujud lebih cepat dari yang di harapkan oleh nya.


Bai min terlalu berterus terang dalam menolak perjodohan yang di rencanakan oleh selir Huan xi sebelum nya, apa lagi dapat di lihat dengan jelas oleh selir Huan xi jika Bai min sangat berambisi dengan putra mahkota, tentu saja selir Huan xi hal itu membuat selir Huan xi tidak merasa senang.


Selir Huan xi tak ingin jika sampai keluarga nya mendukung permaisuri, dan yang paling selir huan salahkan jika sampai hal itu terjadi itu keponakan bodohnya (Bai min) yang dengan bodohnya mengharapkan putra mahkota yang tidak bisa di andalkan itu.


Segera selir Huan xi memberi tahu keluarga mentri Huan Tentang masalah hari ini melalui surat yang dia kirimkan ke kediaman huan, selir Huan xi meminta kepada nyonya besar Huan agar segera mendisiplinkan Bai min untuk memuaskan hati selir Huan xi, sebab gadis kecil itu telah membuat marah selir Huan xi hari ini, karena yang telah secara terang terangan menolak keinginan selir Huan xi yang berarti jika Bai min tidak menghormati kedudukan selir Huan xi saat ini.


Dan lagi, selir Huan xi tidak ingin di berikan penolakan oleh Bai min lagi, atau keluarga mentri Huan akan hancur dalam sekejap di tangan selir Huan xi.


Bai min yang tidak tahu menahu tentang kemarahan selir Huan xi, setelah kepergian putra mahkota dari kediaman nya, langsung di panggil oleh utusan mentri Huan agar segera menghadap para orang tua di aula utama kediaman.


Dengan perasaan gugup bai min melangkah maju memasuki aula keluarga, bisa Bai min lihat dari sorotan tajam pada mata para orang tua jika dirinya di panggil hari ini karena suatu masalah yang tidak sederhana.

__ADS_1


🍁


__ADS_2