
"Terimakasih yang mulia karena telah membantu hamba." ujar Bai min yang telah sampai di kediaman mentri Huan dan langsung di obati oleh tabib yang di perintahkan oleh putra mahkota.
"sama sama." kata putra mahkota dengan lembut.
"yang mulia keluarga hamba berhutang budi kepada anda karena telah menolong cucu pertama ku ini. dan nanti ketika cucu pembangkangan ku itu kembali, aku akan langsung turun tangan untuk memberi bimbingan kepadanya" ujar nyonya besar dengan penuh emosi.
"benar yang mulia terimakasih atas kebaikan anda karena telah menyelamatkan putri pertama hamba. dan mohon maafkan kesalahan putri kedua hamba, hamba berjanji akan membimbingnya nanti." timpal Quin xie
"sama sama nyonya, nona Bai min merupakan gadis baik, sudah seharusnya saya menolong nya. dan untuk putri Araxi harus merepotkan anda untuk mendisiplinkan nya." tutur putra mahkota ramah.
"hamba pasti akan mengajar anak itu dengan baik yang mulia" ujar nyonya besar.
Beberapa orang itu terus berbincang bincang dengan putra mahkota, dan Bai min sendiri berinisiatif untuk mengundang putra mahkota meminum teh bersama dengan nya di paviliun milik Bai min. ketika nanti Bai min telah sembuh dari luka nya nanti untuk menunjukan rasa terima atas bai min atas bantuan putra mahkota hari ini.
Di sisi lain, Arana sedang jalan jalan bersama dengan pangeran Jikxi. pangeran Jikxi tahu jika mood Arana menjadi buruk hari ini karena ulah Bai min yang telah berani memfitnah gadis kecil nya itu.
Pangeran Jikxi mengetahui segala hal tentang arana, karena Arana selalu dalam pantauan nya.
" Aku pernah mendengar jika bermain pedang bisa menenangkan hati seseorang orang kala sedang dalam mood yang buruk." kata pangeran jikyxi berbisik di telinga Arana
"iya itu memang benar." kata Arana mengiyakan perkataan pangeran Jikxi.
"lalu apa kau ingin bermain pedang dengan ku?." tanya pangeran Jikxi.
"dengan senang hati. tapi jangan salahkan aku jika nanti kau kalah saat bermain dengan ku" enteng Arana.
"sungguh gadis kecil yang sangat arogan. tapi aku suka" ujar pangeran Jikxi.
"enyah lah" desik Arana malas.
Pangeran Jikxi berlalu pergi untuk mengambil pedang yang akan di gunakan oleh Arana, tak berselang lama pangeran Jikxi kembali dengan dua pedang di tangan nya.
"mengapa kau mengambil 2 pedang? bukan kah kau sudah ada satu pedang?" tanya Arana yang bingung melihat pangeran Jikxi membawa dua pedang, sedangkan pangeran Jikxi sudah memiliki satu pedang yaitu pedang kesayangan.
"aku tidak mungkin menggunakan pedang ini untuk bermain dengan mu. aku tak ingin kau terluka" kata pangeran Jikxi.
"cih, aku tidak selemah itu. dan lagi aku sangat yakin permainan pedang ku tidak lebih buruk dari dirimu." sinis Arana.
__ADS_1
"aku tau itu, tetapi tetap saja pedang kesayangan ku ini tidak di perbolehkan untuk menyerang wanita kesayangan ku, dia hanya untuk membunuh musuh bukan untuk melukai orang tercinta ku" goda pangeran Jikxi sambil menatap lembut Arana. hal itu membuat jantung Arana berdegup kencang.
"ada apa dengan jantung ku?. apa kah aku tiba tiba terkena serangan jantung?." tanya Arana dalam hati sambil memegang dada nya yang terasa tidak nyaman.
"hei, kau kenapa?" tanya pangeran Jikxi yang terlihat panik kala Arana hanya diam sambil memegangi dada nya.
"tidak ada." singkat Arana saat tersadar dari lamunannya
"jangan berbohong! jika ada yang tidak enak katakan pada ku?." ujar pangeran Jikxi masih khawatir.
"sungguh tidak apa apa yang mulia. oh iya aku lupa, aku belum mengucapkan terimakasih pada mu" kata Arana sambil tersenyum tulus yang terlihat begitu cantik di mata pangeran Jikxi.
"jika kau sudah memasuki usia menikah aku akan langsung memakan mu Arana. sayang nya kau masih anak kecil saat ini. Jikxi kau harus bisa lebih bersabar lagi, menunggu gadis kecil mu ini sampai dewasa." keluh pangeran Jikxi dalam hati sambil terus menatap Arana.
"ada apa?" tanya Arana sambil memiringkan kepalanya, terlihat sangat imut yang membuat pangeran Jikxi tidak tahan ingin mencubit pipi mulus arana.
"ehem, terimakasih untuk apa?." tanya pangeran Jikxi berusaha menetralkan dirinya.
"terimakasih karena telah percaya pada ku tanpa perlu banyak penjelasan." kata Arana yang terdengar perih saat mengucapkan nya.
"tapi sayang, aku tidak menerima rasa terimakasih yang hanya di ucapkan oleh lisan. aku lebih suka jika kau melakukan nya melalui tindakan." ujar pangeran Jikxi sambil berbisik di telinga Arana.
Tangan kanan nakal pangeran Jikxi langsung meraih dagu arayna dan langsung mendarat kan benda kenyal nan dingin di bibir Arana. pangeran Jikxi memaksa Arana untuk membuka mulutnya. dan kala Arana membuka nya tanpa menunggu lama pangeran Jikxi langsung memasukkan lidah nya dan langsung menjelajahi isi di dalam mulut kecil Arana dengan ganas nya.
Ciuman pangeran Jikxi sedikit kasar namun entah mengapa Arana bisa menikmati nya dan bahkan Arana membalasnya tanpa di sengaja. entah sudah berapa lama mereka saling berciuman tanpa melepaskan tautan mereka satu sama lain, tidak ada yang tahu?.
Setelah Arana terlihat kehabisan nafas, barulah pangeran Jikxi melepaskan tautan bibir mereka, agar Arana dapat menghirup udara lagi.
"Manis" kata pangeran Jikxi sambil mengusap bibir mungil Arana dengan ibu jari nya.
"huh! dasar mesum!" marah Arana yang langsung menepis tangan pangeran Jikxi dengan kasar.
Arana merasa malu karena dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri saat pangeran Jikxi mencium nya.
Awalnya Arana marah dan ingin langsung menyerang Pangeran Jikxi karena telah merampas ciuman pertamanya tapi entah mengapa? tubuh Arana tidak ingin menghentikan pangeran Jikxi malah sebaliknya tubuh nya menyuruh Arana untuk membalas ciuman pangeran Jikxi.
"sudah lah, tidak perlu marah seperti itu. lagi pula cepat atau lambat aku juga akan mendapatkannya, bukan hanya bibir saja tetapi seluruh tubuhmu akan menjadi milik ku tanpa terkecuali." ujar pangeran Jikxi dengan santai.
__ADS_1
"cih, ini bahkan belum sampai kata cepat atau lambat yang kau sebutkan itu!" sinis Arana.
"iya iya aku tahu aku salah, jadi apa yang harus aku lakukan agar bisa mendapatkan maaf dari putri araxi ini hmmm?." bujuk pangeran Jikxi sambil menahan wajah Arana agar menatap ke arah nya.
"ayo bermain pedang, aku ingin melawan mu sampai mati" ketus Arana menatap tajam pangeran Jikxi.
"huh, kau boleh melawan ku tapi jangan sampai membunuhku ya sayang. memangnya kau mau menjadi seorang janda yang bahkan di saat kau sendiri belum menikah dengan ku?." kata pangeran Jikxi memelas.
"aku tidak perduli" dingin Arana
"tapi aku perduli, aku tidak akan pernah membiarkan wanita ku menjalani hidup kesepian seumur hidupnya karena aku yang tidak becus untuk terus bersama dengannya." kata pangeran Jikxi tulus sambil mencium rambut Arana.
"sudah lah hentikan omong kosong itu, mari lawan aku" ketus Arana.
Lalu keduanya berlatih pedang bersama hingga sore menjelang, setelah lelah berlatih pangeran Jikxi mengantarkan Arana kembali ke kediaman mentri Huan.
"Huh! aku tidak ingin kembali ke sana." gumam Arana dengan suara yang sangat kecil kala melihat bangunan megah di hadapan nya.
"kau berkata apa barusan?." tanya pangeran Jikxi yang tidak terlalu mendengar perkataan Arana.
"tidak ada, terimakasih telah mengantar ku." ucap Arana tulus.
"sama sama, beristirahat lah, aku tahu kau sangat lelah hari ini." kata pangeran Jikxi dengan lembut.
"kau juga cepat kembali dan segera lah beristirahat." balas Arana lalu turun dari kereta kuda pangeran Jikxi dan langsung memasuki kediaman mentri Huan.
Di aula kediaman mentri Huan, para orang tua sedang berkumpul bersama dan sedang menunggu kedatangan Arana untuk membahas kejadian hari ini yang menyebabkan putri kebanggaan keluarga huan menjadi terluka.
"Lapor tuan, Nona kedua telah kembali dan dia sudah berada di dalam paviliun milik nya." ujar seorang penjaga yang langsung melapor ke Mentri Huan kala melihat Arana yang telah kembali dan langsung pergi menuju paviliun.
"panggil dia kemari! anak itu semakin hari semakin tidak tahu sopan santun!." geram mentri Huan dengan amarah yang memuncak.
"baik tuan"
Tak berselang lama Arana muncul setelah mengganti pakaian milik nya terlebih dahulu, para orang tua langsung menatap tajam kehadiran Arana di tengah tengah aula kediaman itu, begitu juga dengan para anak muda kerabat mentri Huan yang juga hadir di sana.
Di tatap penuh aura kebencian di sertai keinginan untuk membunuh, Arana hanya bersikap acuh menghadapi seluruh orang yang seharusnya di sebut sebagai keluarga dekat Arana, tetapi faktanya mereka tidak lebih hanya sebatas orang asing di dalam kehidupan Arana.
__ADS_1
"Huh drama akan segera di mulai, aku sungguh bosan dengan drama seperti ini yang terus di ulang ulang tanpa henti oleh Bai min, sangat memuakkan mata!. tetapi aneh nya mereka semua masih saja bodoh dari dulu hingga sekarang." gumam Arana sambil menatap sinis semua orang yang ada di aula itu.
🍁