
Bai min menerima hukuman cambuknya namun yang menghukum Bai min bukan mentri Huan secara langsung melainkan melalui bawahan milik nya, tetapi saat pukulan baru akan memasuki angka 15 tubuh Bai min sudah tidak sanggup menahan rasa sakit dari setiap hantaman cambuk yang mengenai tubuh nya sehingga membuat Bai min jatuh tak sadarkan diri sebelum hukuman nya selesai, hal itu terdengar sampai ke telinga Quin xie, segera Quin xie langsung pergi memohon kepada mentri Huan agar hukuman Bai min bisa di ringan kan, mau bagaimana pun Bai min merupakan permata kediaman mentri huan ini.
"Tuan, tubuh Bai min sangat lemah dia tidak dapat menerima hukuman cambuk itu lagi, mohon tuan berbelas hati untuk menghentikan nya dan biarkan dia menjalani hukuman di dalam ruang leluhur saja" kata Quin xie sambil memohon kepada mentri Huan.
Sedangkan mentri Huan tidak perduli dengan permohonan istri nya, dia tetap menyuruh bawahan nya untuk terus melanjutkan hukuman cambuknya hingga pas di angka 20 setelah itu baru boleh berhenti
"Aku tidak bisa menerima permohonan mu untuk meringankan hukuman anak pembuat onar ini, tetapi kau tenang saja, aku telah memerintahkan tabib untuk langsung mengobati nya." kata menteri Huan dengan datar.
Seperti nya Bai min benar benar membuat mentri Huan marah hingga tak dapat mentoleransi kesalahan Bai min.
"terimakasih tuan" ujar Quin xie dengan perasaan lega kala mendengar mentri Huan akan langsung mengobati luka putri kesayangannya itu.
Sedangkan di sisi lain, Arana merasa sangat muak dengan drama keluarga mentri Huan, hanya sebuah hukuman ringan saja Bai min sudah tidak sanggup menghadapi nya bagaimana jika Bai min harus merasakan hukuman yang selama ini Arana jalani, apakah gadis itu akan langsung mati di tempat?.
"Heh, dulu saat aku di hukum dan benar benar kehilangan banyak darah hingga tidak sadarkan diri selama dua pekan lama nya, kau tidak pernah sekalipun memohon pengampunan untuk ku atau bahkan mengkhawatirkan keadaan ku, memang yah, putri kesayangannya di perlakukan sangat jauh berbeda dari putri terbuang seperti diriku" sinis Arana kala mendengar informasi tentang Quin xie yang begitu mengkhawatirkan keadaan Bai min dan langsung datang memohon kepada mentri Huan agar hukuman Bai min dapat di ringan kan, dari Darxa yang di perintahkan oleh Arana untuk melihat Bai min yang sedang di beri hukuman.
Sebenarnya tak ada yang bisa benar benar mengerti isi hati Arana, termasuk Nobu sekalipun, jika Nobu hanya tahu nona muda yang dia rawat hidup dengan penuh dendam di dalam dirinya, dan orang lain menilai Arana dengan penilaian yang berbeda beda dalam setiap pertemuan, tetapi di antara mereka tidak ada yang benar benar memahami Arana yang sesungguhnya.
Jika boleh Arana berkata jujur, Arana bukan lah gadis kuat yang seperti Arana perlihatkan di luaran sana kala menghadapi semua orang (dingin dan acuh), Arana hanyalah gadis biasa, gadis kecil dengan hati yang sangat rapuh, begitu rapuhnya hingga Arana tak dapat mengekspresikan dirinya sendiri bahkan untuk mengeluarkan air mata pun Arana tidak sanggup.
Terlepas dari segala kejeniusan yang di miliki Arana sejak lahir, Arana lebih butuh kasih sayang dari keluarga nya, yah, Arana merasa iri kepada mereka yang dapat merasakan hangatnya pelukan serta cinta yang teramat dalam dari kedua orang tua nya, tetapi apa lah daya keadaan memaksa Arana untuk tumbuh menjadi gadis dingin dengan penuh dendam.
Sebenarnya keinginan Arana sangat sederhana hanya butuh kasih dan cinta yang tulus dari keluarga nya sendiri, namun Arana tahu dia tidak dapat mengharapkan itu semua, karena semakin arana berharap semakin sakit pula kala Arana tersadar dari kenyataan.
"Hah sudah lah" gumam Arana dengan senyum getir di wajah nya.
__ADS_1
Tak berselang lama utusan dari kerajaan datang berkunjung ke kediaman mentri Huan, utusan itu membawa dekrit pernikahan yang telah kaisar turunkan kepada putri kedua perdana menteri Huan (ARANA HANANXI) dengan pangeran ke enam kekaisaran Minday (JIKXI HAN) dengan begitu keduanya resmi menjadi pasangan dan tiga bulan kedepan acara pertunangan keduanya akan di gelar di dalam kerajaan.
Mentri Huan menerima dekrit pernikahan itu, hal ini memang telah ia tunggu setelah pangeran Jikxi mengatakan akan menikahi Arana, ada rasa senang dalam hati mentri Huan karena keluarga nya akan sangat di untungkan jika memiliki hubungan baik dengan pangeran Jikxi, tetapi ada juga yang mengganjal di hati mentri Huan sebab yang akan menikah dengan pangeran Jikxi bukan lah putri kesayangan nya melainkan Arana, putri yang selalu di abaikan oleh keluarga nya, mentri huan sedikit ragu namun keraguan nya segera di tepis dengan banyak nya pemikiran keuntungan dari mendapat menantu seperti pangeran Jikxi.
Mentri Huan berencana akan menggunakan Arana untuk memanfaatkan pangeran Jikxi sebaik mungkin, dengan begitu meski Bai min telah melakukan kesalahan fatal beberapa waktu lalu, dengan adanya dukungan dari pangeran Jikxi, status bangsawan mentri Huan akan jauh lebih tinggi dari yang lain nya, dengan hal itu bai min tetap bisa di nikahkan dengan terhormat dan bahkan mungkin saja bai min juga bisa menikah dengan salah seorang pangeran kerajaan yang lain.
Khayalan mentri Huan sangat lah indah, namun sepertinya keinginan milik nya itu tidak akan pernah terwujud sebab Arana sama sekali tidak tertarik untuk memanfaatkan pangeran Jikxi, Arana sedang berusaha agar dapat memutuskan hubungan nya sendiri, namun sampai detik ini orang yang arana harapkan untuk membantu dirinya, tidak kunjung datang menemui arana, hal itu sangat membuat Arana cemas.
"Apa kau sedang menunggu kedatangan ku, gadis kecil?" tanya seorang pria dengan suara berat yang entah sejak kapan telah berada di belakang Arana.
Arana menoleh dan melihat seorang pria misterius yang selalu datang dengan mengenakan baju serba hitam serta topeng yang selalu menutupi wajah nya.
"akhirnya kau datang" kata Arana dengan sangat lega.
"apa kau Begitu tak menyukai pertunangan ini?" tanya Jikxi sambil menatap Arana.
"aku memang tidak menyukai pertunangan ini, tapi tidak sepenuhnya" kata Arana dengan jujur.
"berikan aku penjelasan!" hardik Jikxi yang tak mengerti dengan perkataan Arana.
"sebenarnya akan sangat bagus jika bisa mendapatkan orang yang begitu berkuasa seperti pangeran Jikxi tetapi aku tak menginginkan kekuasaan kerajaan, aku hanya ingin hidup sesuai apa yang aku ingin kan" jelas Arana.
"tapi buka kah dengan kau bersama pangeran Jikxi, kau akan jauh lebih mudah mendapatkan apa pun yang kau mau, tanpa perlu lelah berusaha" tutur Jikxi.
"itu memang benar, tetapi kita tak bisa memprediksi masa depan, apa kau tahu kehidupan kerajaan begitu rumit, di luar nampak sangat indah namun begitu banyak darah di dalam nya" ujar Arana dengan tatapan sinis mengingat kehidupan di dalam kerajaan yang begitu banyak kemunafikan.
__ADS_1
"yang kau katakan memang benar, jadi apakah ketakutan mu terletak dalam persaingan kerajaan?" tanya Jikxi
"bukan, ketakutan ku lebih tertuju pada pangeran jikxi itu sendiri" kata Arana dengan jujur.
"mengapa?"
"karena dia seorang pangeran, masalah perebutan tahta siapapun yang terlahir di dalam kerajaan tidak akan pernah bisa menghindari nya, tetapi kehidupan wanita di dalam nya jauh lebih sulit dan Sakit, kita tak pernah tahu keinginan sesaat seorang pangeran akan bertahan hingga kapan, jika nanti dia telah bosan pada ku, sudah pasti aku hanya akan menjalani hidup seperti mati sama seperti yang saat ini ku jalani, dan semua itu akan terjadi lagi" ujar Arana dengan penuh luka di setiap perkataan nya.
"apa kau tidak percaya dengan niat pangeran Jikxi?" tanya Jikxi lagi.
"bagaimana aku percaya jika kita saja baru bertemu dan dia langsung menginginkan ku" kesal Arana.
"karena itu, coba kau berikan kesempatan untuk nya,mungkin saja apa yang kau takutkan itu tidak akan pernah terjadi" usul Jikxi dengan begitu keyakinan.
"tunggu, buka kah aku menyuruh mu kemari untuk membantu ku lepas dari pangeran menyebalkan itu, tapi mengapa aku malah merasa bahwa kau sedang ingin mendorong ku kedalam pelukan nya" hardik Arana dengan tatapan curiga.
"karena kekuatan ku tidak sebanding dengan dia, meski pun aku begitu menginginkan mu, ketika mendengar dia menginginkan mu, aku hanya bisa pasrah saja, aku tak ingin kehilangan semua yang telah aku miliki dan yang paling terpenting aku masih menyayangi kepalaku sendiri " ujar Jikxi terdengar sangat serius walau sebenarnya dia sedang berbohong.
"huh, dengan kata lain, aku memang tidak bisa lepas dari nya" ujar Arana dengan putus asa sambil menatap langit.
Jikxi tidak menjawab perkataan Arana yang terlihat putus asa di hadapan nya itu, ada berbagai hal yang sedang berkecamuk di dalam hati pangeran Jikxi saat ini.
"percayalah aku hanya ingin kau selalu bersama ku" ujar pangeran Jikxi dalam hati dengan tatapan yang tak dapat di artikan sama sekali.
🍁
__ADS_1