PERMAISURI UNTUK PANGERAN

PERMAISURI UNTUK PANGERAN
CHAPTER 03


__ADS_3

Mentri Huan yang menarik paksa tangan Arana dengan tatapan menakutkan, di lihat oleh semua orang yang berdua lewati di sepanjang jalan.


Semua orang menebak nebak nebak apa kesalahan yang telah Arana perbuat kali ini?, sehingga membuat metri huan terlihat sangat marah kepada Nya?.


Walau bukan kali pertama mereka menyaksikan adegan itu, namun rasa penasaran tetap menyelimuti hati dan fikiran mereka, semua orang menerka_nerka, kira kira kesalahan apa yang telah Arana lakukan kali ini?, sampai saat melihat Bai min yang di bawa oleh beberapa pelayan dengan tubuh yang basah kuyup, semua rasa penasaran dari mereka semua langsung terobati.


Mereka menebak jika Bai min berkaitan dengan kemarahan mentri Huan kepada Arana barusan.


Mentri Huan menarik Arana ke tengah lapangan kediaman, lapangan itu tempat biasa orang di hukum oleh mentri Huan jika ada yang melakukan sebuah kesalahan, dan hal ini juga bukan hal pertama yang Arana alami, sebab Gadis kecil itu terlampau sering di bawa kesitu, dan tentu saja hal itu di sebabkan oleh ulah Bai min kakaknya.


Berbagai macam siksaan sudah pernah Arana rasakan, hanya saja Arana masih tidak menyangka jika karena keteledoran nya hari ini, dia akan berdiri lagi di lapangan itu.


"aku benar benar bodoh hari ini." umpat Arana menyesali keputusan nya untuk menemui Bai min di pinggir kolam kediaman milik Nya hari ini, jika saja Arana tetap kokoh menolak mungkin hari ini tidak akan terjadi kesialan seperti ini.


tapi apa lah daya nasi sudah menjadi bubur


Sesaat mentri Huan meninggalkan Arana di tengah lapangan lalu kembali dengan sebuah cambuk di tangan Nya, dengan tanpa berperasaan Dia langsung melayangkan cambukNya itu ke tubuh mungil Arana.


"Apa kau tidak ingin mengakui kesalahan mu kali ini hah?!." hardik mentri Huan di tengah siksaan nya kepada Arana.


"aku tidak melakukan nya!." kekeh Arana dengan tatapan dingin kepada Ayah nya.


tak ada raut wajah kesakitan atau penyesalan pada diri Arana saat ini hanya ekspresi datar dan dingin yang menghiasi wajah cantik gadis kecil itu.


Mentri Huan yang geram dengan jawaban Arana langsung melayangkan cambuk nya beberapa kali.


Tak berselang lama saat Arana sedang menerima hukuman yang bukan karena di sebabkan oleh kesalahannya, Bai min yang telah berpakaian rapih nan bersih serta wajah yang telah di poles sempurna datang menghampiri lokasi Arana di hukum.


Bai min ingin melihat wajah kesakitan Arana karena hukuman yang sedang di berikan sang Ayah kepada Arana, namun sayang nya Bai min mungkin akan kecewa, karena bukan raut wajah yang sedang kesakitan yang Arana perlihatkan, melainkan wajah acuh nan datar dengan suasana dingin yang di saksikan oleh semua orang yang berada di sana.


"Ck, kita lihat saja seberapa jauh kau bisa bertahan!." umpat Bai min kesal dengan ekspresi datar Arana yang seolah olah hukuman cambuk yang di berikan oleh Ayah nya itu bukanlah hal yang besar bagi Arana.


meski begitu Bai min tetap menikmati hukuman cambuk yang sedang Ayahnya berikan kepada Arana saat ini.

__ADS_1


Arana melihat ke sekelilingnya, seperti biasa banyak orang yang sedang menyaksikan penderitaan Nya, seolah penderita Arana merupakan sebuah hiburan di dalam kediaman mentri Huan.


Melihat hal itu raut wajah Arana menjadi semakin dingin dan datar, aura dalam tubuhNya pun semakin menggelap hingga mampu membuat semua orang yang berada di sana terbidik ngeri kala melihat Arana.


Hanya saja kali ini penontonnya kurang satu orang, nyonya kediaman perdana mentri Huan, Ibu Bai min dan juga Arana sedang tidak berada di kediaman, jika Dia ada mungkin Dia akan sangat bersemangat untuk menambah hukuman yang lebih berat lagi untuk Arana, mengingat hal itu membuat hati Arana terluka, Arana merasa miris mengingat nasib buruk Nya yang harus terlahir dari keluarga yang tak pernah mau menerima kehadiran nya.


Walau sekujur tubuh Arana terasa sangat pedih nan nyeri, tapi tak ada satu kata memohon pun yang keluar dari mulut manisNya, Arana lebih memilih menahan rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya dari pada harus memohon belas kasihan ataupun meminta maaf kepada Ayah nya yang sedang memberi hukuman saat ini.


"Suatu hari nanti! aku pasti akan membalaskan setiap rasa sakit ini! pasti!." tekad Arana dalam hati, merasakan setiap rasa nyeri di setiap luka yang telah terbentuk sempurna di tubuhnya.


Arana yang kerap kali di siksa bukan tak mungkin tumbuh besar dengan rasa dendam yang teramat dalam di hati Nya.


Sebab bukan kali pertama Arana mendapatkan hukuman menyakitkan seperti saat ini, bahkan hukuman yang Arana jalani dulu bisa lebih kejam dari sebuah pukulan cambuk saja, berbagai macam siksaan telah Arana rasakan di usinya yang masih sangat muda.


Dulu arana pernah memohon belas kasihan kepada Ayah dan Ibunya saat sedang di beri hukuman tanpa sebab yang jelas. namun semua yang dia lakukan hanya berakhir dengan sia sia, Ayah dan Ibu nya hanya akan percaya dengan apa yang di katakan Kakak nya saja di banding dengan apa yang arana katakan.


Sejak saat itu setiap kali Arana di permainan oleh Kakak nya, Arana tak pernah lagi mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi atau bahkan berusaha untuk membela dirinya sendiri karena semuanya hanya akan berakhir sia sia, Ayah dan Ibu nya hanya akan percaya dengan apa yang Bai min katakan saja.


Dan sejak saat itu juga Arana yang dulu berwajah polos nan manis serta murah senyum kepada semua orang bahkan orang yang telah menyakitinya sekalipun, berubah menjadi gadis berekspresi datar nan dingin dan hanya tertolong oleh wajah cantiknya yang terlihat bak dewi di antara lautan manusia.


Satu hal yang pasti, apa pun yang telah keluarga perdana menteri Huan perbuat kepada Arana mau itu dulu atau pun sekarang, Arana akan membalas semua nya tanpa akan ada yang terlewatkan.


Melihat Arana yang hanya menatap datar siksaan dari Ayah nya, membuat Bai min tidak merasa puas dan memutuskan untuk memprovokasi Ayah nya kembali.


"Ayah lihat lah tatapan adik pada ku, aku sungguh sangat merasa bersalah kepadanya Ayah, tolong hentikan saja hukuman nya ini." kata Bai min dengan suara sedu yang di sengaja untuk memprovokasi Ayah nya agar Ayahnya menambah hukuman Nya kepada Arana.


"apa apaan dengan tatapan mu itu?! apa kau tidak mau mengakui kesalahan mu hah?!." bentak mentri Huan yang melihat tatapan dingin Arana.


"lihat lah kaka mu, dia telah banyak di lukai oleh dirimu tapi masih saja merasa bersalah untuk mu." lanjut mentri Huan membandingkan Bai min dengan Arana yang membuat Bai min tersenyum puas ke arah Arana.


"Aku tidak bersalah, mengapa aku harus mengakui hal yang tidak pernah aku lakukan." ketus Arana tanpa ada rasa takut sedikitpun di wajah cantik nya, meski tubuh Arana kini telah di penuhi darah segar yang telah mulai mengalir dari sela luka bekas cambuk Ayah nya, tetapi ekspresi Arana sedari awal hingga sekarang masih dalam keadaan yang sama tidak ada yang berubah yakni datar.


Arana lebih memilih terus di hukum dari pada harus meminta maaf atas apa yang tidak pernah Arana perbuat, apa lagi melihat permainan Bai min yang sangat memuakkan bagi Arana, membuat Arana enggan untuk meminta maaf kepada Nya.

__ADS_1


"Kalo begitu aku tidak akan sungkan!." ujar mentri Huan menatap penuh amarah kepada Arana yang sangat keras kepala.


Cambuk kembali mentri Huan layangkan kepada tubuh Arana.


mentri Huan tak habis pikir kepada putri kedua nya itu, apa susahnya mengakui kesalahan yang telah Arana perbuat sendiri?, lagi pula Mentri Huan juga berniat akan mengampuni putri kedua Nya itu jika Dia mau mengakui kesalahan nya dan bertanggung jawab atas apa yang telah Arana perbuat.


Namun karena Arana sangat keras kepala, mau tidak mau mentri Huan harus kembali menghukum anak nakal itu agar dia mau mengakui kesalahan nya.


Sampai tanpa Ia sadari, Arana telah kehabisan tenaganya untuk bertahan dan telah kehilangan kesadaran nya sedari tadi.


Nobu pengasuh Arana sejak kecil, sudah tidak sanggup melihat nona nya yang terus di hukum dengan begitu brutal oleh menteri Huan, apa lagi saat melihat kondisi Arana yang sudah sangat buruk hingga tak sadarkan diri setelah di cambuk berulang kali.


Entah sudah cambukan ke berapa yang telah mentri Huan berikan untuk Arana yang pasti tubuh Arana sudah terlihat sahabat mengerikan saat ini, telah banyak darah yang memenuhi tubuh mungil itu, darah segar pun tanpa henti terus mengalir di sekujur tubuh Arana.


Melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hati Nobu itu, Dia merasa sudah tidak sanggup untuk menyaksikan penderitaan nona nya lagi.


Nobu langsung bergegas lari ketempat Arana di hukum dan langsung bersujud memohon kepada mentri Huan agar mau mengampuni Arana yang sudah sangat kritis.


"tuan hamba mohon tolong kasihanilah nona Arana tuan, Dia sudah sangat lemah sekarang tuan, hamba mohon, jika anda terus menghukum nya, saya pastikan nona Arana akan dalam bahaya tuan, hamba mohon kemurahan hati anda untuk nona Arana tuan" kata nobu sembari menangis dalam sujudnya berharap mentri Huan mau melepaskan Arana.


Mendengar perkataan Nobu mentri Huan baru menyadari jika Arana sudah tidak sadarkan diri, entah sudah berapa banyak cambukan yang telah dia layangkan kepada putri kedua nya itu?, yang pasti tubuh arana sudah terlihat sangat memprihatikan sekali.


"hm! bawa dia! dan obati lukanya." dingin metri Huan lalu berjalan pergi meninggalkan Arana yang tergeletak di tanah begitu saja.


Tak hanya metri Huan saja yang langsung pergi meninggalkan Arana begitu saja, semua orang yang sedari tadi menyaksikan Arana di hukum pun ikut berlalu pergi meninggalkan lapangan tanpa memiliki sedikit pun rasa iba kepada Arana yang sudah sangat kritis.


Hanya Nobu saja yang selalu setia menemani Arana, Dia langsung membawa tubuh kecil Arana kembali ke kediaman mereka.


"sungguh malang nasib mu nona" ujar nobu merasa iba dengan nasib arana.


Nobu langsung bergegas membawa tubuh Arana berlalu pergi untuk segera di obati oleh tabib.


🍁

__ADS_1


__ADS_2